Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
53. Penyakit Mario


__ADS_3

"Aku tau kau menolongku kemarin, tapi tolong jangan membicarakan hal bodoh itu di depan semua orang" Tutur lembut Bela mohon pada Sela agar merahasiakan kejadian itu.


Mereka berdua berbicara empat mata di belakang sekolah yang kosong dan tidak ada seorangpun mendengarnya. Bela ingin meminta hal itu dirahasiakan oleh Sela agar dia tidak di cap sebagai wanita lemah karena memilih untuk melakukan percobaan b*nuh d*ri kemarin.


Sebenarnya Bela ingin menjelaskan semua tentang kekhilafan dirinya kemarin, namun dia menghentikan niatnya agar tidak terjadi banyak masalah yang akan semakin rumit.


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan itu. Karena mulutku bukanlah mulut ember" Sahut Sela dengan santai sambil tersenyum.


Padahal wajah Bela sedang menampakkan kepanikan dan ketakutan. Dia takut orang-orang disekitarnya mengetahui kebodohan Bela yang hampir mengakhiri hidupnya sendiri.


"Baguslah, aku rasa kau harus memegang janjimu itu" Ujar Bela pada Sela, walau hatinya masih sedikit percaya dengan ucapan itu.


"Boleh, tapi ada syaratnya" Sahut Sela sambil mendekatkan diri pada wajah Bela.


"Apa? Katakan saja" Bela ingin memenuhi syarat itu. Karena yang paling penting baginya adalah tentang dirinya. Dia tidak ingin disekolah hanya menjadi bahan olok-olok saja yang disebabkan oleh kebodohannya sendiri.


"Aku ingin menjadi sahabatmu" Ujar Sela sambil memegang tangan Bela.


Bela tidak tau mengapa Sela ingin menjadi sahabatnya, padahal dia adalah salah satu siswa yang tidak banyak bicara di dalam kelas dan tidak banyak bersosialisasi dengan siswa lain. Tapi mengapa Sela tiba-tiba ingin berteman dengan Bela.


Sejenak Bela terdiam, menatap lekat mata Sela yang membacakan keseriusan. Sepertinya Bela sudah membaca bahwa Sela benar-benar ingin menjadi sahabatnya walaupun dia tidak tau apa tujuan utama Sela mengajukan hal tersebut secara tiba-tiba.


"Mengapa kau ingin..... " Pertanyaan dari Bela yang belum dia selesaikan tapi Sela langsung menutup mulut Bela dengan jari telunjuk.


"Persahabatan tidak perlu alasan, tapi yang pasti aku akan menjadi sahabatmu. Dan aku ingin kita saling mengisi kehidupan" Perkataan Sela ada benarnya.


Bela mencoba meresapi dan memahami apa yang ingin Sela sampaikan dalam hal tersirat. Dan sekarang Bela mengerti bahwa Sela benar-benar ingin menjadi sahabatnya dengan tulus.


Bela mengangguk dan setuju, lalu dia pergi meninggalkan Sela sendiri dan masuk ke dalam kelas. Sedangkan Sela hanya bisa tersenyum dengan persetujuan itu, sambil menatap langkah Bela yang perlahan menghilang.


"Aku akan menjagamu sahabatku" Ucapan dari hati keluar dari mulut sela.


Dia sengaja mengajukan dirinya untuk menjadi sahabat Bela. Karena dia tau bahwa Bela hanya memiliki sahabat lelaki yaitu amario dan Brandon. Jadi sangat sulit jika bercerita tentang masalah hidup yang berkaitan dengan perempuan.


Sela hanya ingin menjadi sandaran di kehidupan Bela. Dia juga sudah memperhatikan Bela yang selalu ingin disakiti oleh Dira. Jadi dia memiliki tekad untuk melindungi Bela dari Dira yang menyebalkan dan sekaligus melindungi dari kebodohannya yang sudah menemukan jalan buntu saat itu.


Terkadang kita tidak punya tempat untuk menceritakan masalah hidup sehingga rasanya jalan sudah tertutup dan tidak ada lagi yang harus dilalui. Oleh karena itu hanya kematian yang sudah menjadikan pedoman bagi mereka yang rapuh dengan keadaan itu.


Bukan karena tidak ingin bercerita, hanya saja belum menemukan tempat yang pas untuk menyandarkan lelah. Karena menemukan orang yang tulus lebih sulit dibandingkan menemukan orang yang pura-pura tulus hanya untuk menelusuri kehidupan tanpa memberikan solusi.


"Mawar, punya siapa ini? " Tanya Bela saat dirinya kembali memasuki kelas.


Dia menemukan setangkai mawar merah di mejanya, mawar yang sangat dia sukai tapi tidak tau siapa yang mengirimkan mawar itu. Saat melihat sekitar, tidak ada yang mengakui mawar di tangannya.


Tiba-tiba Mario datang dan merampas mawar itu lalu membuangnya ke tempat smapah. Sontak membuat Bela terkejut dengan kedatangan Mario serta perilakunya yang datang secara tiba-tiba.


"Kenapa kau membuangnya? " Tanya Bela dengan kesal.


"Jangan menerima apapun dari orang yang tidak kita ketahui" Jelas Mario.


"Tapi itu pemberian seseorang, aku ingin menyimpannya. Kenapa kau buang Mario? " Teriak Bela dengan kesal.


Mawar merah adalah kesukaannya, walaupun dia tidak tau siapa pengiriman mawar itu tapi hatinya sangat senang bila mengenggam sebuah mawar merah.


Akan tetapi Mario membuang mawar itu tanpa persetujuan Bela. Dengan rasa marah, Bela mengobrak-abrik tempat sampah dan mengambil mawar itu serta merapikannya kembali.

__ADS_1


"Kenapa kau mengambilnya lagi, buanglah" Ujar Mario yang tidak setuju dengan tindakan Bela.


"Tidak, aku akan menyimpannya. Bagaimana jika pemiliknya sedih jika bunga ini di buang? Jadi lebih baik aku menyimpannya walau nanti dia akan layu dengan sendirinya" Ketus Bela penuh penekanan.


Pagi itu mereka berdua berbeda pendapat, Brandon yang melihat hal itu tidak bisa melerainya karena dia tidak ingin merusak persahabatan mereka bertiga dan menjadi berantakan.


Selama jam pelajaran, Mario dan Bela hanya berdiam diri saja. Tidak ada interaksi dalam pembicaraan seperti biasanya. Seakan bangku mereka terlihat sunyi.


Dira yang mengetahui hal itu merasa sabagt bahagia. Karena baginya kebencian diantara mereka berdua adalah ketenangan dalam dirinya.


Berbeda dengan Brandon, dia merasa sangat menderita dengan pertengkaran Bela dan Mario hanya karena setangkai mawar. Brandon hanya bisa mendekat dan berbisik pada Mario untuk menerima keputusan Bela sekali saja. Lagipula bunga itu tidak beracun dan tidak akan menyakiti Bela.


Akhinya Mario menyetujuinya dan meminta maaf pada Bela pada jam istirahat.


"Maaf, karena sudah membuang bungamu" Ucapan yang tulus dari Mario setelah pelajaran selesai dan istirahat dimulai.


"Sudahlah lupakan, aku sudah menyimpan bunga itu" Sahut Bela tanpa menatap Mario.


Bela mencoba menyibukkan diri dan tidak ingin berbicara pada Mario. Rasanya sangat kesal karena mario melakukan hal itu seenak pikirannya sendiri tanpa persetujuan Bela.


"Tolong jangan marah, aku hanya takut bunga itu dari orang yang membencimu" Jelas Mario.


"Bunga itu tidak beracun, andai kau tau jika aku sangat menyukai mawar merah. Lalu kau membuangnya? Dan perilakumu benar-benar membuatku sangat marah mario " Batin Bela berseru.


Sebenernya Bela ingin marah pada Mario, tapi rasanya sangat sulit.


Kemarahan Bela mendadak hilang saat melihat wajah Mario yang berkata dengan tulus. Tatapannya seakan mengatakan dari lubuk hati yang paling dalam bahwa dia telah bersalah melakukan hal itu pada Bela karena emosi yang tidak terkontrol dalam diri Mario.


Wajah dingin mendadak berubah menjadi wajah yang biasa seperti anak pada usianya. Mario yang dulu kini berubah menjadi hangat di hadapan Bela.


"Aku sudah memaafkanmu, aku harap kau tidak mengulanginya lagi" Ujar Bela mencoba menenangkan Mario.


"Hei tenanglah Mario, aku tidak marah denganmu" Ujar Bela sekali lagi sambil mengenggam tangan Mario. Bela mencoba memenangkan Mario dengan mengelus lembut tangannya agar kepanikan dalam diri Mario menghilang.


"Apa yang kau lakukan pada Mario? " Bentak Dira sambil menjambak rambut Bela dari belakang. Hal itu semakin membuat kekacauan yang disebabkan oleh kecemburuan Dira


Dira sudah memperhatikan Bela dari tadi, mulai saat memarahi Mario hanya karena sebuah bunga yang ada di mejanya dibuang oleh amario.


Dan yang paling membuatnya muak adalah di saat Bela membentak Mario sehingga ia memberikan ekspresi ketakutan dan kepanikan dalam dirinya. Bibir Mario terus berseru dan memohon ampun pada Bela.


"Aaa, apa maumu. Lepaskan rambutku" Teriak Bela dengan kesal.


"Tidak akan, kau pikir dirimu itu ratu yang bisa membuat Mario memohon ampun padamu ha? " Dira kembali menggila. Tangannya semakin mencengkeram rambut Bela dengan kuat dan tidak ada niat untuk melepaskannya.


*brakk*


Bela berhasil melemparkan Dira sehingga dia terjatuh dan menabrak kursi kelas. Bela sudah geram melihat kelakuan Dira, padahal di hari kemarin dia masih bisa menahan emosinya tapi tidak kali ini karena Dira sudah keterlaluan.


Otaknya seakan tidak dapat berfikir jernih, Bela ingin memukul Dira karena kelakuannya yang selama ini menjadi preman kelas. Tapi beberapa teman geng Dira menghadangnya dan mencari ribut dengan Bela.


Mereka terus memegangi Bela dan mengeroyoknya untuk menghabisi Bela di kelas. Akan tetapi mereka bukan tandingan Bela, karena secara tiba-tiba Bela mendapatkan kekuatannya kembali untuk menjadi pribadi yang kuat seperti dulu.


*brak, brak*


"Aku tidak akan memukul kalian jika kalian tidak menyerang ku terlebih dahulu" Teriak Bela dengan kesal.

__ADS_1


"Aaa, sial" Hardik Dira pada dirinya sendiri dengan penuh penyesalan.


"Mario, ayo ikut denganku" Bela segera menyeret tangan Mario yang masih berperilaku sama. Beberapa siswa dikelas sedang memperhatikannya, dan Bela segera membawa Mario agar tidak menjadi bahan perhatian dengan tatapan buruk.


Sedangkan Brandon yang baru saja datang dari kantin langsung mengikuti Bela bersama MMario yang berjalan cepat, entah kemana tujuan itu tapi Brandon tetap mengikutinya.


Brandon tidak tau apa yang sedang terjadi, yang dia tau sekarang adalah kedua sahabatnya sedang menuju ke suatu tempat. Sela juga melihat hal yang sama, jadi dia juga mengikuti mereka.


Sedangkan Dira hanya bisa mwringis kesakitan bersama gengnya. Dia yang berbuat onar dan dia juga yang memanen kemarahan dari seorang Bela yang selalu mereka anggap lemah.


Sedangkan Bela sudah sampai di taman belakang yang sepi, hanya ada mereka berdua. Brandon yang mengikuti berhenti dan bersembunyi, begitu juga dengan Sela ikut bersembunyi.


"Tenanglah Mario, aku tidak akan memarahimu. Kau jangan cemas lagi" Tutur lembut bela mencoba menengkan jiwa yang belum stabil dan Bela juga langsung memeluk Mario.


Wajah Mario masih terlihat sangat cemas, Bela juga tidak mengerti penyakit apa yang ada pada tubuh Mario. Karena Bela hanya mengetahui jika Mario memiliki sifat dingin dan tidak banyak bicara. Tapi hari ini mario terlihat cemas yang berlebihan.


Bela tidak melepaskan pelukan itu hingga Mario merasa tenang. Brandon yang melihat hal itu terkejut karena Bela memeluk sahabatnya, tapi yang lebih terkejut lagi melihat sikap cemas yang berlebihan dari mario. Karena selama ini mereka hanya mengenal Mario dengan sifat dinginnya dan selalu menyendiri.


"Maaf Bel karena aku memiliki penyakit Anxiety disorder (gangguan kecemasan berlebihan) " Pekik Mario sembari melepaskan pelukan Bela.


Bela benar-benar terkejut dengan hal itu, karena yang Bela tau penyakit itu mengakibatkan si penderita akan mengalami kecemaaan dan ketakutan secara berlebihan. Sedangkan saat ini dia mengenal Mario seperti orang normal.


Sikap Mario seperti biasa saja, tidak banyak bicara dan pendiam. Tidak pernah menampakkan kecemaaan berlebih seperti tadi. Sungguh benar-benar kejutan bagi Bela.


"Bagaimana bisa akau miliki penyakit itu? Apakah dari kau lahir? " Tanya Bela penasaran.


Mario menceritakan bahwa kecemasan itu ada setelah Denada meninggal. Dia merasa kesepian, trauma, cemas dan ketakutan yang anggota tinggi.


Hal itulah yang menjadi alasan Mario sangat benci bergaul dengan orang lain karena dirinya tidak bisa menyesuaikan hal tersebut. Mario juga takut jika penyakitnya kambuh saat dia bersama teman-teman lain.


Mario juga tidak suka keluar dari kamarnya, karena dia sangat suka dengan kesunyian semenjak kepergian Denada. Dalam diri Mario hanya membutuhkan ketenangan tanpa hal-hal buruk yang menyebabkan rasa cemas berlebihan datang tanpa diundang.


"Jadi kau memiliki penyakit ini 2 tahun yang lalu semenjak kematian Denada? " Tanya Bela dengan rasa ingin taunya yang tinggi.


"Benar, sudah lama. Dan baru kali ini penyakit itu kambuh karena aku takut jika kau membenciku Bela" Jelas Mario.


Penyakitnya kambuh saat Bela terlihat marah pada Mario. Dia takut jika Bela tidak ingin menjadi sahabatnya lagi, karena selama ini Mario sangat nyaman berada di sisi Bela. Rasanya tidak ingin pergi.


"Apakah Bara tau? " Bela mencoba menyinggung nama saudara Mario yaitu Bara.


"Tidak, semua orang di rumah tidak ada yang tau. Aku menyembunyikan semuanya" Penjelasan Mario membuat mereka terkejut.


Tidak ada yang tau jika Mario memiliki penyakit itu. Padahal penyakit mental sangat berbahaya bagi kehidupan Mario apabila dia tidak bisa mengendalikannya.


Mario membutuhkan perhatian yang lebih, dia perlu melakukan penyembuhan mentalnya dan dengan caranya sendiri. Tapi sangat di sayangkan jika tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Mario sendiri.


"Apa kau sudah berobat? "


"Sudah, aku pergi ke psikolog untuk melakukan terapi. Dan sudah lama tidak kambuh, baru kali ini penyakit itu kambuh kembali" Jelas Mario.


Sungguh prihatin, pria setampan dan sepintar Mario harus menelan luka pahit itu sendirian. Bela baru menyadari, ternyata dirinya merasakan bahwa ada hal yang lebih menyakitkan dari kehidupannya.


Tapi sekarang dia sudah mengetahui hal itu, jadi Bela berharap dirinya bisa menjaga Mario dengan baik dari trauma yang berkepanjangan sehingga membuat rasa kecemasan berlebihan timbul dalam dirinya.


Belum selesai mereka berbicara, Brandon menghampiri mereka. Tapi dia tidak berkata apapun hanya saja langkahnya mendekat dan langsung memeluk Mario.

__ADS_1


Persahabatan mereka akan tetap selamanya menjadi satu walaupun dalam diri masing-masing belum mengenal sepenuhnya sifat dan masa lalu dari mereka. Yang dapat diketahui sekarang hanyalah satu bahwa mereka adalah sahabat untuk selamanya.



__ADS_2