
Wanita itu benar-benar sendirian karena kekasihnya telah pergi setelah menikmati tubuhnya. Bukan hanya satu lelaki yang berlaku demikian, melainkan beberapa lelaki yang sudha menjalani tubuhnya.
"William.... " Teriak Sisil dengan keras setelah dia sadar bahwa kekasihnya telah pergi setelah menikmati tubuhnya.
"Kurang ajar, mengapa mereka selalu pergi setelah menikmati tubuhku" kekesalan terlintas dalam benak Sisil.
Dirinya selalu dikelilingi pikiran penuh sehingga membuatnya stres. Namun stres itu akan menghilang dalam sejenak setelah ada panggilan telepon dari manajer untuk segera datang dan melakukan pemotretan.
*dretttt* (sering telepon)
Dering telepon di atas nakas menghilangkan kekesalan Sisil pagi ini sejenak usai setelah mengetahui yang menaggilnya adalah Mr. Leo sang manajer yang mengurusi pekerjaannya sebagai seorang model.
"Halo Mr. Leo"
"Sisil, cepatlah bersiap diri karena jadwal kita padat untuk hari ini dan besok. Karena lusa kita akan menandatangani kontrak baru" Jelasnya.
"Kontrak baru? Dimana? "
"Sudahlah cepat bersiap diri agar kontrak itu tidak jatuh ke tangan seseorang"
"Oke Mr. Terima kasih atas informasinya" Ucap Sisil dengan gembira.
Terlintas senyum kebahagiaan pada wajahnya Sisil. Kini pikirnya tidak peduli lagi dengan William karena dia merasa kesedihan itu telah menghilang bersama perginya William.
Apalagi ada kabar baru yang menyatakan tentang kontrak. Dia tidak tau jika kontrak itu akan kembali membawanya ke Indonesia.
Di Butik
"Tuan" Panggil Bela pada Bara yang fokus dengan ponselnya.
Bara terdiam dan matanya terpaku menatap Bela yang sangat anggun dengan gaun berwarna putih. Matanya tidak berkedip sedikitpun saat melihat kecantikan gadis yang ada di depannya.
Dia tidak tau mengapa mulutnya ingin memuji gadis itu, tapi hatinya menahan untuk tidak mengeluarkan kata-kata konyol saat ini.
"Baru pertama kali aku melihat gadis secantik ini. Apakah benar ini dia? " Batin Bara menyeru kagum melihat keindahan yang tersedia didepannya.
Terlihat sederhana namun istimewa. Sungguh pemandangan yang tidak baik untuk disia-siakan karena terlihat sangat cantik.
Gaun itu menutupi tubuh Bela dengan baik. Bahkan belahan dadanya juga tidak terlihat karena semua benar-benar tertutup. Namun hal itu membuat mata Bara tidak bisa tertutup.
"Tuan, tuan ada apa?" Bara terbangun dari lamuannya sebelah mendapat sentuhan kecil tangan Bela.
Dia segera membuang lamuannya dan melanjutkan pembicaraan yang Bela berikan. Benar-benar di luar dugaan karena Bara sangat terkejut melihat sebuah kecantikan untuk pertama kalinya.
"Apakah baju ini tidak pantas untukku? " Tutur Bela bertanya tentang tidak kesesuaian.
"Tidak, gaun ini sangat indah dan bagus" Ucap Bara singkat tanpa harus membicarakan kekaguman di benaknya yang ingin dia katakan pada Bela. Bara menyetujui baju yang dipakai Bela dan langsung membungkusnya.
Padahal baru satu baju yang dia coba namun sudah terlihat sangat mempesona. Membuat bibir sang mafia tidak bisa berkutik sedikitpun saat menatap keindahannya.
Wajah mungil dan lekuk tubuh terlihat anggun. Berbanding terbalik dengan Bela yang sangat tomboy. Dia memang tidak nyaman memakai gaun namun dia juga tidak bisa menolaknya.
"Kemana lagi kita akan pergi tuan? " Tanya Bela saat mobil itu dilakukan dengan cepat mengarah ke pusat kota.
"Ke mall" Sahutnya singkat dan kembali diam.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah mall besar. Bara berjalan di depan Bela untuk menuju ke toko pakaian. Sedangkan Bela mengekorinya dari belakang.
Sampailah mereka berdua di sebuah toko barang-barang branded dengan bandrol harga yang lumayan mahal. Bela tercengang melihatnya karena selama hidup dia tidak pernah memakai barang branded walaupun terlahir di keluarga kaya.
"Pilihlah yang kau mau. Aku tidak ingin kau menggunakan barang Denada lagi" Ujarnya.
Bela langsung mengambil beberapa baju yang dia inginkan. Karena sudah dari awal dia tau bahwa Bara tidak ingin Bela memakai barang Denada.
"Mungkin 4 setel sudah cukup" Gumamnya. Dia suka dengan gaya pakaian seperti lelaki. Memakai kaos, celana jeans pendek dan panjang, serta kemeja dan beberapa ada yang bermotif perempuan.
"Sepertinya ini bagus juga untuk tuan Bara" Sepasang kemeja untuk lelaki dan perempuan dengan motif yang sama. Cocok untuk sepasang kekasih, dan Bela ingin membelinya.
"Tuan, lihatlah kemeja ini apakah kau suka? " Tanya Bela.
__ADS_1
"Aku menyuruhmu untuk memilih baju bukan untukku" Ketus Bara dan wajah dia kembali menatap ponsel.
"Tapi aku ingin anda memakai kemeja ini, lagipula anda tidak memiliki koleksi kemeja bukan?" Bela tetap dengan kemauannya.
"Baiklah, terserah kau saja" Sahut Bara pasrah.
Dia mengikuti kemauan gadis itu saat asik memilih baju. Banyak kemeja untuk lelaki yang Bela sukai dan bagus untuk tubuh Bara yang kekar.
Karena yang dia tau Bara hanya memiliki baju dengan model sama serta warna hitam saja di lemarinya. Sungguh snagat membosankan karena tidak mengikuti tren masa kini.
"Tuan, aku sudah membelinya dan sekarang tinggal membayar" Bela memperlihatkan beberapa baju yang dia beli pada Bara.
Tanpa banyak bicara Bara langsung membayarnya dan mengeluarkan kartu black card yang dia miliki. Bela tercengang melihatnya, dia tidak menyangka bahwa lelaki di hadapannya memiliki banyak uang.
"Sedikit sekali bajumu? " Tanya Bara.
"Tenaglah, 4 setel ini sangat cukup" Sahutnya sambil tersenyum.
"Cepat ambil lagi, karena kau benar-benar tidak memiliki baju" Perintah Bara. Bela hanya terdiam dan mematung menatap tingkah laku tuannya itu.
"Tapi tuan ini.... "
"Jika kau tidak mau maka bayarlah sendiri baju yang kau bawa ini" Tutur Bara mulai penuh penekanan.
Bara sangat suka mengancam sehingga membuat Bela tidak bisa berkutik. Dia harus menuruti semua kemauannya, kalau tidak maka dia akan mengancam dan marah.
Dan selalu saja seperti itu, seakan hidupnya penuh dengan amarah dan kesabarannya setipis tisu itupun harus di bagi dua.
"Baiklah" Bela kembali memilih kemeja dan kaos dengan jumlah cukup banyak dari sebelumnya.
Dirinya juga kesal dnegan perintah bara, sekaligus untuk mengerjai tuannya yang pemarah.
"Sudah" Bela tersenyum smbil mengangkat kedua alis dengan rasa bahagia.
"Dasar gadis kecil, tadi saja tidak mau dan sekarang dia memborong toko ini" Batin bara tidak setuju melihat kelakuan Bela.
Namun dia juga tidak bisa menolak karena semua perintah darinya agar Bela membeli baju lebih banyak lagi. Karena dia tidak ingin melihat Bela menggunakan barang-barang Denada seperti kemarin.
"Berat sekali, dia tidak memiliki inisiatif untuk membantuku. Untung saja aku memiliki otot kawat tulang besi" Gumam Bela yang berjalan di belakang Bara smabil memegang barang belanjaan yang cukup banyak.
"Awas saja nanti kalau jadi suamiku akan aku kerjain dia" Batinnya kembali menatap kesal pada Bara yang berjalan santai di depannya.
Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil dan bergegas ingin pulang. Sedangkan wajah Bara masih sama dingin seperti biasa dan tidak ada perkataan apapun.
*groook, groook* bunyi suara perut Bela terdengar keras.
"Kau lapar? " Tanya Bara.
Bela hanya mengangguk sambil tersenyum. Dan tangannya memegang perut yang menahan lapar.
Bagaimana tidak lapar jika mereka berdua pergi siang hari dan pulang hingga malam hari. Sampai-sampai mereka berdua lupa untuk mengisi perutnya.
"Turunlah" Perintahnya.
Bela segera turun saat Bara membawanya ke tempat resto yang cukup besar. Mereka memesan beberapa makanan dan minuman lalu menyantapnya tanpa sedikit kata yang terucap.
Sementara itu........
Di atas balkon.
Roy duduk menyendiri sambil menatap langit. Dia selalu berbicara pada bintang dan rembulan karena menganggapnya sebagai Bela yang telah lama pergi.
"Bel, aku rindu suaramu. Aku rindu bolos bersama dan rindu segalanya" Hidupnya terasa hampa saat Bela pergi meninggalkannya.
Tidak ada lagi teman yang dapat diajak untuk tertawa, kabur dari sekolah, berlari kesana kemari dan duduk berdua di bahu jalanan menatap kerasnya kehidupan smabil bercerita banyak hal.
Roy tidka menyalahkan waktu ataupun menyalahkan Bela. Karena yang dia jalani saat ini adalah jalan kehidupan melalui takdir. Dan semua harus diterima dnegan lapang dada walau tidka sepenuhnya.
"Aku baru tau jika kamu anak orang kaya, tapi mengapa kamu merahasiakan itu semua Bel? " Pertanyaan itu yang terus berputar dalam pikiran Roy.
__ADS_1
Selama ini bela berpenampilan seperti orang biasa dengan hidup yang sederhana. Dia bergaul dengan Roy yang berstatus sebagai anak panti asuhan. Sedangkan Bela salah satu anak konglomerat yang bergelimang harta.
"Andai aku bisa memutar kembali waktu yang hilang, maka aku akan memutarnya semua Bel" Ucap Roy sekali lagi. Hampir setiap malam mengadu pada langit liar.
"Aku kesepian disini, aku sendiri Bela" Teriaknya hingga terdengar dari lantai bawah.
Ibu panti tidak pernah menegurnya karena dia tau bahwa Roy saat ini telah berubah. Semenjak kehilangan sahabat yang bernama Bela, Roy menjadi pendiam dan tidak banyak berbicara. Bahkan senyumnya telah menghilang.
****
Dear bela,
Biarkanlah pesawat kertas ini terbang tidak tinggi membawa kenangan-kenangan yang terangkai indah. Walau telah menjadi misteri dalam diam yang tak berkutik. Biarkan aku menjadi pena dalam rindu. Menuliskan aksara yang diselimut kelabu agar kau tersenyum di atas langit. Berpegang erat bersama bintang-bintang
****
Pesawat kertas kembali meluncur berisi cuitan puisi yang selalu Roy tulis. Dia sangat pandai merangkai kata bahkan saat Bela bersamanya dia selalu menuliskan untuk Bela dan mampu menghapus tangisnya.
"Bela, aku harap kau membaca pesawat kertas yang telah terbang menembus awan" Tutur Roy patah dalam sebuah hayalan yang tak nyata.
Sudah banyak pesawat kertas yang di luncurkan setiap malam oleh Roy. Semenjak kematian Bela di umumkan, setiap malam pula dia mengirimkan pesawat kertas dan merasa sangat kehilangan.
Pesawat itu tidak terbang tinggi namun hinggap di genteng tetangga. Menghilang begitu saja terkena derasnya air hujan atau lapuk karena mentari.
Sementara itu di malam yang sama.......
Kediaaman Keluarga Prakasa
"Kak, semenjak kematian kak Bela dirimu selalu termenung. Apakah engkau memikirkannya? " Tanya El.
El membuka pembicaraan saat melihat kakak tertua termenung di setiap malam. Padahal dirinya yang selalu berantusias untuk menyingkirkan Bela dari keluarga Prakasa agar mendapatkan harta yang lebih banyak.
"Aku memikirkannya karena saat mengingat masa kecil kami, rasanya aku ingin kembali bersama Bela. Dari dulu aku tidak pernah akur dengannya" Jelas Ana.
El terdiam mendengar penjelasan itu. Karena saat itu dia belum mengerti apa-apa karena terlalu kecil walau beda umur hanya satu tahun.
"Bukankah kak Ana ingin menyingkirkan kak Bela dari keluarga ini? " Tanya El lagi.
"Benar, aku ingin menyingkirkan Bela tapi bukan untuk membunuhnya" Keheningan kembali terjadi. El tidak ingin bertanya lagi karena kakaknya selalu merasa sedih.
El juga merasa kesepian saat Bela tiada. Karena setiap hari Bela akan berbuat ulah dan membuat gaduh rumah ini. Namun semenjak Bela tiada, rumah ini sepi bahkan di meja makan ayah jarang turun untuk makan bersama.
Terasa sangat jelas keheningan yang tercipta bila seseorang telah tiada di sisinya. Namun saat dia masih hidup, mereka benar-benar menyia-nyiakannya seperti sampah.
"Aku juga rindu dengan mama, wajah Bela hampir mirip dengan mama namun perilakunya sangat jauh berbeda" Ucapnya mengusir keheningan.
Ana merebahkan diri sambil meletakkan tangannya di bawah kepala. Tatapannya menatap langit-langit kamar yang penuh lampu warna-warni.
"Bel, maafin aku karena tidak menjadi kakak yang baik untukmu" Batinnya berseru dan matanya berkaca-kaca.
El juga merasa sedih saat melihat raut wajah Ana tak ceria seperti dulu. Hari-harinya terus berkabung semenjak kematian Bela. Bahkan dia melihat sosok Ana yang dulu telah menghilang.
Tawa, ceria, cerewet kini telah menjadi pendiam. Pemurung dan tidak pernah terlihat tersenyum lagi. Ternyata kehilangan adik pertama yaitu Bela tidak semudah yang ada di pikiran Ana. Ternyata dia sangat terpukul akan kehilangan tersebut.
"Aku kembali ke kamar dulu ya kak" Ana hanya terdiam dan menatap dengan lamunan. El mengerti dan dia bergegas pergi dan kamar Ana.
*klek*
Pintu tertutup dan Ana akan menangis dalam diam dan sendirian. Memeluk guling hingga matanya terpejam dan memikirkan Bela agar dia bisa masuk dalam mimpinya.
Sedangkan bi Siti juga merasakan yang sama. Semenjak kepergian pak Taryo sebagai teman kerjanya, dia juga kehilangan majikan yang sudah dianggapnga anak sedari kecil.
"Nak Bela, bibi rindu denganmu. Biasanya setiap pagi kamu akan meminta ini dan itu tapi tidak pernah menyusahkan bibi" Gumamnya sambil memegang foto yang dia simpan sendiri.
Bi Siti juga merindukan pak Taryo, yang berprofesi sebagai rekan kerjanya. Pak Taryo adalah seorang duda yang tidak memiliki anak.
"Mas, padahal baru saja mbak Iyem meninggal dan sekarang kamu juga pergi" Kesedihan larut di wajahnya setelah mengingat bahwa rekan kerjanya pak Taryo dan bi Iyem sudah pergi menghadap Tuhan.
Baru 3 bulan kemarin istrinya meninggal dan selanjutnya pak Taryo menyusul. Pak Taryo sendiri kaka ipar bi Siti dan bi Iyem adalah kaka kandung satu-satunya.
__ADS_1
Mereka semua mengabdi pada keluarga Prakasa sudah dari lama. Sebelum bela lahir hingga sekarang namun hanya bi siti yang masih bertahan.