Antara Cinta Dan Mafia

Antara Cinta Dan Mafia
42. Operasi


__ADS_3

Brandon datang dan mengejutkan Bela yang berdiam diri pagi itu karena mengingat bahwa Mario akan segera melakukan Olimpiadenya.


"Ah kau ini, aku dan Mario sudah di dalam sekolah. Bagaimana bisa kau menunggu kami di depan gerbang" Seru Bela pada Brandon.


"Karena aku asisten satpam" Sahut Brandon dengan wajah konyolnya.


"Hahahha" Hal seru dan kocak selalu diciptakan oleh Brandon yang membuat Bela tertawa keras bersamanya.


Sedangkan Mario hanya tersenyum kecil saja, karena dia sangat susah untuk membuka mulut dan tertawa terbahak-bahak seperti Brandon dan Bela.




Sementara itu di lain tempat, Bara sedang menghadapi sebuah masalah. Lagi-lagi tentang penghianatan. Ada beberapa orang yang sengaja mengeluarkan semua rahasia letak area penyimpanan persenjataannya pada para musuh.



Alex dan Bara menghadapi sebuah awal dari peperangan. Pantas saja Bara berangkat sangat pagi sekali agar Bela tidak mengetahui hal yang sedang dia sembunyikan selama ini.



"Jagalah dengan baik, jangan sampai mereka menembus pertahanan ini" Bara memperingati alex untuk tetap waspada, karena hal ini tidak akan mudah dilewati. Sebab pasukan musuh semakin banyak.



"tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik" Alex akan berjuang mati-matian demi keamanan yang ada.



Mereka kembali menghadapi serangan musuh yang sedang membabi buta. Tidak ada belas kasih slama sebuah perorangan, yang ada dipikiran mereka adalah menang atau mati. Karena mereka hanya menginginkan kekuasaan dan kemenangan demi kesejahteraan yang sedang dikejar.



Peperangan cukup sengit ada baku tembak yang terjadi. Suasana semakin mencekam karena tim musuh terus melawan hanya untuk bisa merebut kekuasaan yang Bara miliki.



\*Dor\*



"Alex, minggir lah" Tariak Bara dengan keras.



Saat Alex terjatuh, Bara mengorbankan diri untuk menyelamatkan sahabatnya dengan menjadi tameng dari tembakan yang sedang mengarah pada Alex. Baku tembak terjadi sangat sengit sehingga lengan kiri Bara tertembak oleh timah panas yang bersarang cukup ganas.



Untung saja bala bantuan datang dengan cepat sehingga anggota lawan dapat dilumpuhkan dan mereka memilih untuk kabur dari peperangan yang mereka sebabkan sendiri.



"Ayolah, kita harus cepat pergi ke rumah sakit" wajah Alex terlihat sangat panik.



Bagaimanapun juga mereka berdua adalah satu tim yang harus melindungi satu sama lain, tidka akan rela bila salah stau terluka maka Alex dnegan sigap berseru untuk membawa bara ke rumah sakit.



Alex segera mengantarkan Bara ke rumah sakit, akan tetapi Bara menolaknya. Dia memilih untuk pulang dan memanggil dokter pribadi, sebab jika dia di rumah sakit maka keberadaannya masih dalam intaian musuh.



"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Bara pada Alex.



"Bodoh, seharusnya aku yang bertanya padamu. Lenganmu yang terluka bukan lenganku" sahut Alex saat mereka berada di dalam mobil.



"Tenanglah, ini luka biasa. Aku sudah merasakannya lebih dari ini" Wajah Bara terlihat sangat tenang menahan rasa sakit itu.



"Kau sungguh keras kepala, dan selalu merasa baik-baik saja. Itu timah panas Bara, bukan kerikil"



Masih sempat-sempatnya Alex melawak sedangkan hatinya kesal pada Bara yang bersifat keras kepala. Di bawa ke rumah sakit tidak mau dan masih berkata bahwa baik-baik saja padahal terluka parah.



"Maafkan aku" ucap Alex dalam tatapan bersalah.



"Ternyata kau masih sama bodoh, kita tim. Mengapa kau meminta maaf?" Ketus Bara.



Bara tidak ingin menerima ucapan maaf dari Alex, sebab dirinya selalu menganggap Alex sebagai keluarganya dan tidak ingin terluka sedikitpun lada Alex. Jika itu terjadi, maka Bara akan menyalahkan dirinya sendiri.



"Aku telah membuatmu terluka" Wajah Alex kembali memberikan rasa bersalah yang cukup dalam.



"Ini luka kecil, lagipula aku akan melindungi mu dalam bahaya apapun. Dan kita harus melewatinya bersama-sama" Bara memberikan senyum baik-baik saja, walaupun tangannya menahan rasa sakit yang besar. Karena Bara tidak ingin membuat orang terdekatnya khawatir.



Pengorbanan sahabat yang sangat besar, bagaimana bisa Bara meninggalkan Alex yang sudah dalam kepungan musuh seperti tadi, sedangkan Bara masih dalam keadaan aman.



Alex tidak akan dalam kesulitan jika saja senjata yang dia gunakan tidak macet dan bermasalah. Mungkin dia akan menghabisi garda terdepan dari musuh.



Namun sayang dia terjatuh dan senjatanya tidak berfungsi dengan baik sehingga nyawanya nyaris melayang jika Bara tidak dengan sigap menolong saat melihat sahabatnya yang sedang terkapar.



"Sudahlah, cepat bawa aku pulang" Bara hanya membutuhkan istirahat saja.



"Sabar bos, aku fokus menyetir"



Tidak lama kemudian mereka berdua sampai ke rumah Bara dengan beberapa pengawalan yang ketat.


__ADS_1


\*Ceklek\*



"Tuan kau sudah pulang" Bela menyambutnya.



"Eh ada kak Alex juga" Sapa Bela dengan ramah.



"Kak Alex?" Bara heran saat mendengar Bela memanggil sahabatnya dengan sebutan Kakak.



"Kau belum tau?" Alex tersenyum kecil.



"Aku yang menyuruhnya untuk memanggil kakak, agar kita terlihat sangat akrab" Jelas Alex sambil tersenyum.



"Jangan macam-macam dengan istriku" bisik Bara dengan penuh penekanan.



\*Brak\*



"Cuci bajuku" Bara melemparkan jaketnya tepat ke wajah Bela.



"Hmm baiklah" tanpa banyak bicara lagi Bela langsung mengambil jaket itu dan membawanya ke dapur.



"Biarkan saja aku dekat dengannya, lagipula kalian menikah palsu" Ujar Alex sambil mengejek Bara.



"Walaupun pernikahan itu palsu, tetap saja kau tidak boleh mendekatinya untuk menjadi simpananmu. Karena takut bila oma mengetahuinya" Seru Bala menegaskan tentang sandiwara itu.



"Oma atau tentang kau" Alex tersenyum licik. Dia sangat senang menggoda sahabatnya itu, karena Alex mengerti walaupun mereka menikah palsu namun wajah Bara terlihat sangat berbeda bila


menatap gadis itu.



"Sudahlah, kau membosankan" Bara memilih tidak mendengarkan, namun perasaannya sedang campur aduk di dalam hatinya.



Sementara itu saat Bela ingin memasukkan Jaket Bara ke dalam mesin cuci, hidungnya mencium aroma anyir. Dia terus mengendus hingga menemukan titik aroma anyir itu.



Bau itu tidak lain berasal dari darah Bara yang mengalir karena luka tembak yang dialami olehnya. Bela terkejut saat melihat jaket Bara berlubang serta mendapati darah yang cukup banyak.



"Darah? Apa ini" wajahnya penuh dengan kecemasan dan kebingungan menjadi satu. Dia segera keluar kembali dan menghampiri Bara.




"Kau ini, aku hanya membutuhkannya untuk menjadi pelayan ku bukan pendamping hidupku" Sahut Bara dengan tenang.



"Tapi dia terlalu kecil untuk kau jadikan budak, lebih baik jadi simpananmu saja" Alex kembali memggodanya dengan senyuman yang dia tampakkan pada sahabatnya.



"Tenang saja Lex, dia tidak akan pergi dari jeratan ku. Dan ingat bahwa dia tetap istriku dan tidak akan rela ku berikan untuk menjadi simpananmu" Bara kembali menegaskan hal itu pada Alex.



Walaupun Bara menjadikan Bela sebagai budak, tapi Bara tidak rela bila gadis kecilnya dijadikan simpanan sahabatnya yang berganti-ganti wanita.



Tanpa mereka sadari, Bela mendengar percakapan itu dari balik dinding. Ucapan Bara yang begitu menyakitkan telah merusak hati Bela saat mendengar bahwa dirinya hanya dianggap sebagai budak oleh Bara.



Dirinya tidak menyangka bahwa dia telah mendengar kenyataan yang sangat jelas dan datang langsung dari mulut Bara


Tapi memang itu adalah kebenaran, dan Bela tidak bisa menyangkalnya.



Dia hanya menjadi istri kontrak dan hidup numpang pada Bara. Jadi dirinya harus sadar diri untuk membalas budi atas apa yang telah Bara berikan selama ini. Tempat tinggal, kehidupan dan juga sekolah.



"Dia benar, aku hanyalah pelayannya. Eh sebentar, aku harus segera mengambil obat" Bela menghilangkan pikirannya dan kembali mengingat tentang apa yang ingin dia lakukan yaitu mengambil obat.



Bela tidak mempermasalahkan obrolan itu lagi walaupun hatinya sedang sakit saat mendengar kenyataan itu. Dia segera mencari obat P3K untuk membantu Bara mengobati lukanya.



Memang perban tidak dapat menyembuhkan, tapi setidaknya dia mampu menutupi luka itu agar tidak terinfeksi oleh debu yang berterbangan bebas.



"Tuan, mana lenganmu" Bela segera datang dengan membawa kotak P3K.



"Ada apa?" Tanya Bara dengan tatapan heran.



Tanpa menjawab pertanyaan Bara, Bela langsung menarik lengan Bara. Dia membersihkannya dengan antiseptik agar tidak tetanus. Lalu memberikan perban dengan baik.



Alex di sampingnya melihat dengan kagum kesigapan Bela. Tanpa memberitahunya bahwa Bara terluka, Bela langsung tau sendiri dan langsung mengobatinya meski hanya sementara.


__ADS_1


"Ini sudah ku perban, mungkin aku akan menelpon dokter untukmu" Ucap Bela.



"Tidak usah Bela, aku sudah menelpon dokter" sahut Alex mencegah Bela memanggil dokter karena dia sudah menelponnya dari tadi. Dan dokter sudah dalam perjalanan ke rumah Bara.



"Baiklah kak terima kasih, oh iya jika kakak lapar makan saja di sana. Aku sudah memasaknya dan begitu juga denganmu tuan, jangan lupa memasak" Bela berbicara selama dirinya baik-baik saja. Padahal hatinya sedang terluka.



"Baiklah terima kasih Bela" kekaguman Alex semakin bertambah pada gadis kecil itu. Bibirnya tersenyum sendiri saat melihat Bela.



"Aku ke kamar dulu, karena masih banyak tugas"



Bela pergi ke dalam kamar untuk menenangkan dirinya dalam sunyi. Dia tidak ingin berbicara apapun karena hatinya masih dalam keadaan kacau.



Matanya pilu menatap langit-langit, dia tidak tau kemana lagi harus pergi. Rasanya di setiap tempat selalu saja bertemu dengan orang yang tidak punya hati. Salah satunya adalah Bara.



Saat dia sudah menemukan tempat yang baik yaitu rumah keluarga Baratha yang dulu, Bara memaksanya untuk keluar dan kembali membuat Bela sakit hati.



"Memang aku tidak pernah pantas untuk di cintai oleh siapapun kecuali mama"



Gadis itu meringkuk di dekat jendela sambil memandangi langit yang begitu cerah. Tidak banyak kata-kata yang terucap namun hanya air mata yang menandakan bahwa jiwanya tidak tenang.



Beberapa menit kemudian dia bangkit dari rasa terpuruknya. Hatinya berkata bahwa tidak ada gunanya menangis, lalu Bela segera mencari sesuatu.



"Aku rindu dengan Roy" ucapnya sambil mencari buku dan bolpoin.



Dia mengingat tempat ini dan juga nama sekolahnya. Lalu menggambar rute perjalanan yang akan dia tempuh untuk kembali ke rumah lamanya.



Untung saja ada ponsel yang dapat membantu bela mencari tempat asalnya. Ternyata jaraknya sangat jauh dari yang dia duga. Sedikit uang yang dia tabung tidak akan cukup. Oleh karena itu Bela akan mencari cara untuk mendapatkan uang yang cukup.



"Roy, aku akan menemui mu. Aku rindu" kerinduan yang cukup mencekam dalam hatinya. Dia memang memilih untuk mendapatkan kebebasan, tapi dia tidak memilih untuk meninggalkan tempat lahirnya.



Bela tidak mengetahui bahwa semua orang telah menganggapnya mati. Sedangkan Bela masih merasa bahwa dia hilang dan tidak pernah dicari oleh ayahnya, padahal keluarga Prabu telah melakukan pemakaman terbaik untuk Bela walaupun tanpa jasadnya.



Karena mereka pikir Bela telah menjadi abu dan hanya barang-barangnya saja yang utuh. Lalu Abu itu sudah diarungkan di tengah lautan.



Kesedihan kembali larut saat mengingat kenangan masa-masa itu. Dan Bela mencari alamat rumahnya dengan pasti untuk menemukan jalan pulang agar bisa bertemu dengan Roy serta bi Siti.



"Aku akan menemui kalian, kalian pasti lelah mencariku" Ujarnya sambil mencatat alamat yang telah dia temukan.



Dia sangat mudah menemukan alamat rumahnya di internet karena ayahnya adalah CEO yang sangat sukses di kota itu. Jarak tempuh yang harus Bela lalui cukup panjang, jadi dia akan mempersiapkan perjalannya segera.



Setelah itu dia sandarkan tubuhnya untuk menghilangkan lelah. Tidak peduli lagi dengan Bara karena dia mendengar bahwa dokter sudah datang dan menangani luka Bara.



Di ruang Tengah.



Kedatangan dokter membuat ketenangan pada hati Alex yang saat itu sedang cemas dengan luka Bara karena takut akan terlambat jika tidak ditangani dengan segera.



"Luka ini cukup serius dan harus dilakukan operasi tuan" Dokter memberikan saran untuk operasi pada Bara.



"Baiklah, lakukan operasi disini saja" Bara menyetujuinya namun dia memilih untuk operasi di rumah saja.



Operasi dilakukan untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang di tubuh Bara. Para pengawal menjaga keamanan rumah Bara untuk berlangsungnya operasi dengan baik dan tenang.



Operasi berlangsung cukup lama. Bela yang tidak mengetahui hal itu, dia keluar dari kamar dengan santai. Lalu matanya terkejut setelah mengetahui ada operasi yang dilakukan di rumahnya.



"Dia di operasi? " Matanya terpaku menatap pemandangan di depannya. Sesekali Bela mengucek matanya seakan tidak percaya bahwa operasi di lakukan di rumahnya.



Ruangan yang di desain sementara dan hampir sama persis seperti yang ada di rumah sakit. Sungguh kekuasaan yang besar sehingga Bara bisa melakukan operasi di rumahnya sendiri.



"Masuklah" Perintah Alex saat dirinya mendapati Bela keluar dari kamar.



"Kenapa kak? " Bela terkejut saat Alex mengenggam tangannya dan menarik Bela masuk kembali ke dalam kamarnya.



Dia tidak tau kenapa Alex melakukan hal itu, padahal Bela ingin keluar dan melihat jelas operasi yang sedang berjalan. Hatinya juga sedikit khawatir dengan keadaan tuannya yang terbaru di meja operasi dadakan.



Alex juga mengunci pintu yang membuat Bela semakin heran dengan kelakuan sahabat suaminya itu. Baru kali ini Bela dan Alex terlihat sangat dekat bahkan berada dalam satu kamar.

__ADS_1



~~~~ BERSAMBUNG ~~~~


__ADS_2