Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Dimana kamu?


__ADS_3

Sudah dua hari byan berada dijakarta, byan memikirkan keadaan rumah yang semakin membuatnya pusing karna perjodohannya dengan agatha. Sementara disana, byan memikirkan wanita yang selama ini dirindukannya.


Byan meraih ponsel diatas nakas, diperiksa satu persatu pesan masuk pada aplikasi whatsappnya. Byan tertuju pada satu nama.


"Sungguh tak pernah kusangka mara akan mengirim pesan untukku.?" Dengan rasa penasaran byan membuka pesan dari mara.


"Asmara... " Byan merebahkan tubuhnya pada kasur empuknya. Senyum bahagia byan terpancar begitu tahu mara mengirimkan pesan padanya. Selama ini tak pernah ada komunikasi via ponsel diantara mereka. Byan segera menekan tombol panggilan kepada mara. Namun sepertinya ponsel mara diluar jangkauan.


"Huft,.." Byan menghembuskan nafas panjang. Apakah ini tanda kecewa?


"Mungkin aku balas pesannya saja". Sembari mengetik pesan.


[Sama-sama, pakailah itu saat bekerja jika kau menyukainya]


Hati byan kini menjadi lega, byan sangat berharap asmara adalah wanita yang memiliki perasaan sama sepertinya.


"Mungkinkah mara menyukaiku? Apakah harus aku ungkapkan secepat ini? Wanita ini penuh dengan keunikan! Aku sungguh penasaran" Gumam byan dalam hati.


***


Hari senin telah tiba, hari dimulainya para pencari rupiah untuk kembali bekerja. Begitu pula dengan Asmara..


Sungguh hari ini berbeda? Apa yang kurang? hmmm..


Aku melangkahkan kakiku menuju ruangan. Kulihat disana Juna seniorku sudah duduk didepan komputer. Sementara rekan kerja yang lain belum terlihat.


"Pagi pak juna" Sapaku sembari menarik kursi dan memberaihkan meja kerjaku dari debu.

__ADS_1


Juna hanya menganggukkan kepala. Sebenarnya aku sungguh malas menyapa orang-orang disini. Tapi, aku sadar aku adalah karyawan baru. Tentunya aku harus lebih bersikap sopan pada mereka.


"Juna!! Gawattt.....!" Hesty lari dengan nafas terengah-engah menghampiri juna menuju meja kerjanya.


"Apa?" Jawab juna singkat.


"Produk yang akan launching minggu ini, apakah kamu sudah menyelesaikan orderannya?" Hesty membelalakkan matanya menatap juna.


"Astaga!" Juna langsung membuka file dimejanya.


"Ya ampunnnnnnnnn juna! apa yang kau lakukan? OMG!!!!!" Hesty menatap juna dengan lebih serius.


"Juna! kamu tidak pernah melupakan apapun! harusnya minggu kemarin kamu sudah menyelesaikannya! Apaa yang akan dilakukan BOSS nanti jika dia tau! Sementara BOSS sedang pergi ke kantor pusat dijakarta!."


"Aku tak mengerti, apa sebenarnya yang mengganggu fikiranmu itu!"


Pak arman belum terlihat pagi ini. Mungkin saja itu pak arman.


Tapi byan? bagaiman dengannya? dimana dia? Hmmmm hatiku sungguh sangat ingin tahu.


"Aku akan selesaikan hari ini juga. Mara tolong lihat e-mail dariku." Juna bangun dari tempat duduknya dan langsung menuju kearahku.


"Bantu aku selesaikan ini, jam 10 kita harus segera konfirmasi pada supplier!"


"Baik pak!" Jawabku singkat. Aku langsung membuka data yang dikirimkan juna dan mengerjakannya. Sungguh mataku pasti akan begitu lelah sekali. Begitu banayknya tugas yang harus diselesaikan.


"Apakah kau yakin juna? Apa dia bisa???" Hesty memandangku sinis. Kulirik dia menatapku seperti tak suka, bahkan sinis sekali tatapan matanya yang terlihat garang karna bulu mata palsunya yang begitu tebal. Aku berfikir, apakah tak berat matanya?? Apakah matanya tak terganggu? Atau bahkan matanya masih bisa melihat?Hihiiii... aku terkikik pelan.. Penampilan hesty begitu aneh menurutku.

__ADS_1


"Kau akan tahu hasilnya nanti ibu hesty," Kulirik dia dan melontarkan senyum tipis padanya.


Sungguh aku sebenarnya sangat tak suka berbasa-basi.


Hesty memonyongkan bibirnya, ia menghentak-hentakkan kakinya dilantai sembari berjalan kearah mejanya.


"Dasar anak baru! Bisa-bisanya dia panggil aku ibu??"


"Aku ini masih muda! Matanya buta, tak bisa melihat AURA kecantikanku ini!" Hesty menggerutu tak suka pada mara yang menyebutnya dengan panggilan ibu hesty. Diraihnya cermin kecil dimeja sembari melapisi wajahnya dengan bedak padat merk w****h andalannya..


Pak arman tiba disusul dengan didit juga yongki dibelakangnya.


"Hari bebas selama dua hari, pria dingin itu takkan menampakkan wajahnya didepanku" Pak arman berkata sembari senyum dan sedikit tertawa kecil.


"Tak ada hari bebas pak, lihatlah juna!" Rupanya hesty mengadu.


"Juna? ada apa?" tanya pak arman.


"Ada tugas yang belum saya selesaikan pak, tapi saya janji jam 10 akan segera selesai." Sambung juna dengan sikap santai.


"Aku percaya padamu juna! Jangan lupa libatkan juga gadis cantik disebelahmu! Sepertinya kalian akan menjadi partner yang cocok!" Pak arman menatap mara dengan senyum lebar.


Aku tak begitu menanggapi ucapan pak arman, Jika aku dan juna tak menjadi partner yang cocokpun aku sungguh tak masalah.


Aku lebih fokus dengan pekerjaan yang menumpuk dan harus segera selesai sebelum jam 10. Ya Allah, ingin patah rasanya jemariku ini..


Namun, hatiku tetap memikirkan dan mencari-cari keberadaan byan.. Sedang apa byan dijakarta? bersama siapa? mengapa dia tak mengabariku? Aku bahkan tak tahu tentang kepergiannya..

__ADS_1


"Dimana kamu?"


__ADS_2