
🍒Asmara
Kubuka mataku perlahan, rasa berat yang melanda kepalaku membuat seluruh tubuh pun menjadi ikut sakit. Ku tatap tembok merah muda di sekelilingku, selimut hangat yang menutupi tubuhku serta wangi aroma therapy yang memenuhi seluruh ruangan pun terendus oleh hidungku. Aku membangunkan tidurku dan menyandar pada kepala ranjang tempatku berbaring saat ini.
"Bintang??? Dimana anakku?" Hal pertama yang ku cari, bintang.
"Bintang!!!!!!!!" Aku terus berteriak berharap ada seseorang yang mendengarkanku.
Ku langkahkan kaki ku menuju pintu disana, kuputar knop pintu kemudian menelisik seluruh ruangan di luar kamar asalku.
"Bintang..... Bintang......." Aku tak menemukan seorang pun disana. Telah ku telusuri semua ruangan hingga aku menemukan anak tangga dan melihat masih ada lantai dasar di tempat ini.
Dengan cepat ku langkahkan kaki menuruni beberapa anak tangga, dan setelah itu aku menemukan kehidupan di tempat ini..
"Bintang??" Ku lihat bintang sedang bermain dengan seorang lelaki yang ku kenal.
"Mara?? kamu sudah sadar?" Tanya abi malik.
"Abi malik??" Ku telan salivaku, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi padaku dan juga bintang.
"Mammmma...." Bintang berjalan cepat kearahku, ia memelukku erat dengan wajah yang memperlihatkan sebuah kerinduan.
"Sudah dua hari kamu tidak sadar mara, apa kini kondisimu baik-baik saja?" Tanya abi malik kepadaku.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa disini dan abi......"
"Benarkah dia bintang cucuku?" Potong abi malik tanpa menjawab pertanyaanku.
"Iya.. Dia bintang cucu abi." Spontan ku jawab pertanyaan abi tak ingin berbohong.
"Aku bahagia, ternyata bintang bersamamu mara. Terimakasih sudah menjaganya." Jelas abi malik, aku fikir ia akan marah namun malah sebaliknya.
"Aku sudah tahu semua yang terjadi padamu, termasuk kasus penculikan bintang." Lanjut abi malik.
__ADS_1
"Tentang itu aku....."
"Abi tahu kamu tidak bersalah mara, karena antek-antek afrizal sudah di tangkap dan memberikan penjelasan. Abi tahu kau juga hanya korban.." Jelas abi malik.
"Korban? Maksud abi?"
"Steven hanya memanfaatkanmu mara. Penculikan bintang memang keinginan afrizal ayah agatha, tapi setelah kepergian beliau steven mengubah semua keinginan afrizal. Ia sengaja memanfaatkanmu agar menjaga bintang, sementara semua harta warisan afrizal dikuasai olehnya..."
"Steve?? Tidak mungkin abi... Steven tak mungkin serendah itu...." Aku merasa tak percaya akan penjelasan abi malik.
"Mara, kau masih terlalu polos. Kau akan melihat bukti-buktinya nanti saat pengacara abi datang. Ada hal yang lebih penting dari ini, kau dan bintang harus ikut dengan abi ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Ada apa abi? Siapa yang sakit?" Begitu banyaknya pertanyaan yang aku lontarkan kepada abi malik. Sungguh keingintahuanku menggebu-gebu.
"Byan, sudah satu bulan dia koma mara." Jawab abi malik lirih sembari menatap lekat kearahku dan juga bintang.
"Apa? Mas byan koma?" Alangkah terkejutnya aku mendengar penuturan abi malik.
"Ya, ayo mara kita pergi ke rumah sakit sekarang.." Ajak abi malik padaku.
"Apa? Benarkah umi?? Alhamdulillah......" Abi malik menjawab panggilan teleponnya yang menurutku itu adalah umi andryani.
[...]
"Ya umi, abi sedang dalam perjalanan dan sesegera mungkin tiba di rumah sakit." Abi malik pun menutup panggilan teleponnya.
Selang beberapa menit, kendaraan yang kami tu.pangi pun tiba di pelataran rumah sakit tempat byan di rawat selama ini.
Aku menggendong bintang mengikuti langkah abi malik dari belakang. Karena hari ini aku tak membawa stroller, bintang selalu berada di gendonganku.
Hingga langkah abi malik pun terhenti setelah beberapa saat menelusuri lorong di rumah sakit.
Kami kini sudah berada di depan sebuah ruangan VIP tempat byan di rawat. Aku mengumpulkan segala keberanianku jika nanti akan bertemu byan dan mantan ibu mertuaku yaitu umi andryani.
__ADS_1
Aku terus saja mengingat hujatan yang ia lontarkan terhadapku terakhir kali kami bertemu. Sakit, hingga saat ini pun masih terasa. Namun aku tak ingin terus mengingat itu semua. Karena yang ku pikirkan saat ini adalah byan. Aku sungguh ingin melihat keadaanya.
"Mara, ayo masuk..." Ajak abi malik padaku.
Aku hanya mengangguk pelan, mendekap bintang dalam gendonganku mengikuti jejak abi malik di depanku yang telah membuka pintu ruangan.
Setelah di dalam ruangan, dapat aku lihat jelas umi andryani berada di sana sedang menemani byan yang terbaring lemah dengan beberapa alat dan selang terpasang pada tubuhnya.
"Maraaa?" Sapa umi andryani padaku dengan mata yang berkaca-kaca. "Maraa, terimakasih sudah datang... Terimakasih mara. Maafkan umi, umi telah berbuat salah padamu." Umi andryani berhambur memeluk tubuhku mengucapkan kata maaf.
"Umi...... Aku sudah memaafkan umi." aku hanya menjawab seadanya saja.
"Mara, ini siapa??" Tanya umi andryani menatap heran bocah yang ada di gendonganku.
"Ini bintang umi.. Bintang cucu umi." ucapku langsung tak ingin berbelit-belit.
"Apa? Bintang? Cucuku...." Umi andryani pun langsung mengambil bintang dari gendonganku. Ia terus menciumi wajah gembul bintang dengan tangisan harunya.
Abi malik dan aku hanya menjadi saksi kerinduan umi andryani terhadap bintang. Karena bintang tak menangis, aku pun segera melangkah mendekatkan posisiku dengan brankar rumah sakit.
Ku tatap lekat tubuh byan yang kian kurus, bahkan byan telah berbeda menurutku. Wajah pucat dan bibirnya yang terlihat kering pun dapat terlihat jelas di mataku.
"Mas byan? Aku asmara. Apakah kau dapat mendengarku?" Seperti orang bodoh, aku berbicara pada byan yang jelas-jelas sedang tidak sadarkan diri.
"Mas, kau benar-benar sakit? Apakah kau tidak lelah? Sadarlah mas byan... Aku disini membawa bintang bersamaku. Bintang pasti merindukanmu, bukankah kau pun begitu??" Ku usap kasar air mata yang tiba-tiba sudah jatuh, sembari terus menatap iba kearah byan.
"Mara, maafkanlah kesalahan byan... Meskipun dia sudah banyak menyakitimu, abi harap kau mau memaafkannya untuk meringankan sakit yang ia derita saat ini." Ucap abi malik dengan suara lirihnya.
"Iya mara, atas nama byan umi minta maaf padamu dengan tulus...." Umi andryani pun menyambung pembicaraan abi malik.
"Abi, umi..." Ku tatap secara bergantian kedua mantan mertuaku itu. "Mara sudah memaafkan mas byan. Sudah sejak jauh-jauh hari mara memaafkan semua perlakuannya. Itu semua masa lalu, meskipun aku tak bisa melupakan kesakitan yang telah diberikan oleh mas byan, tapi aku sudah mengikhlaskan dan memaafkannya."
Jelasku sembari terus menatap byan yang semakin terlihat lemah disana. Kupegang pelan tangan kanan byan, kuusap lembut tangan yang mengurus itu.
__ADS_1
"Mas, sadarlah... Aku sudah memaafkanmu. Apapun itu, sadarlah mas. Kami semua disini menunggumu."