Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Dimana Bintang?


__ADS_3

6 Bulan berlalu...


Rumah tanggaku bersama byan terasa baik-baik saja. Keluarga byan juga teramat baik untukku. Bintang, gadis kecilku ini tumbuh dengan sangat pintar. Keaktifannya makin hari kian bertambah.


Bintang pun kini sudah bisa menyebut maamma pappaa.. Hal ini membuat aku semakin gemas dengannya.


Aku meminta pada byan untuk tak menggunakan jasa baby sister lagi, karena aku akan sanggup merawat bintang sendiri.


Meskipun tadinya byan tak mengizinkan karena takut aku akan kelelahan jika mengurus bintang sendiri, setelah aku membujuknya akhirnya byan pun mengizinkan.


Untuk asisten rumah tangga, kami masih membutuhkan bantuannya. Karena hingga saat ini aku pun belum bisa memasak. Byan memakluminya, namun perlahan aku akan belajar memasak dengan baik.


"Sayang....." Byan menghampiriku yang sedang mengganti popok untuk bintang.


"Ya, hari ini apakah tidak ke kantor?" Aku melihat byan memakai pakaian santai ala rumahan dengan kaos putih oblong dan celana chino pendek cokelat muda andalannya. Biasanya pagi-pagi begini byan sudah rapi dengan kemeja dan jasnya.


"Tidak, hari ini aku mengambil cuti." Byan tersenyum ke arah bintang yang sedang memainkan jemarinya.


"Cuti? Dalam rangka apa mas?" Tanya ku lagi.


"Aku ingin mengajak ibu rumah tangga satu ini keluar agar tidak suntuk." Byan menoel puncak hidungku dengan jari telunjuknya.


"Hmm, keluar kemana mas?" Tanya ku lagi, memang kemarin aku sempat berbicara padanya jika aku ingin pergi mengajak bintang jalan-jalan bersama.


"Kita jalan-jalan sayang... Kita bertiga keluar, siapkan dirimu aku akan menyiapkan segala keperluan bintang." Byan meraih babybag milik bintang, mempersiapkan segala kebutuhan bintang untuk keluar.


"Terimakasih mas.. Aku siap-siap dulu." Aku bangkit dari dudukku, lalu mencium pipi kiri suamiku.


"Yang cantik ya mama..." Byan menirukan suara ala anak kecil, menandakan jika bintang yang berbicara. Aku hanya terkikik geli mendengarkan byan.


Memang setelah pernikahanku dengan byan selama enam bulan ini, kami belum sempat Family time bersama. Byan selalu disibukkan dengan urusan kantor, sedangkan aku disibukkan dengan mengurus bintang.


Bisnis peninggalan rayhan di korea pun kini byan yang menangani. Setiap bulan byan pergi ke luar negri. Karena abi malik sibuk mengurus perusahaannya di jakarta.


Saat byan pulang pasti sudah larut malam, aku dan bintang pun sudah terlelap. Hingga saat ini pun byan belum pernah menyentuhku.


Itu semua mungkin karena kesibukan kami masing-masing, byan juga sering terlihat kelelahan. Hingga waktu bersama untuk kami sangatlah langka. Karena kesibukan aku juga tak sempat melakukan perawatan diri.

__ADS_1


Terkadang jika aku bosan, aku mengajak bintang ke rumah ibu. Randy pun sangat senang jika bermain dengan bintang. Namun aku merasa berbeda saat bertemu dengan ibuku. Ibu slalu membanding-bandingkan keadaanku sekarang dengan yang dulu. Mendengar ibu mengomentari kehidupan rumah tanggaku, membuat aku tak betah berlama-lama disana.


***


Di sebuah taman, byan mendorong stroller bintang. Kami berkeliling taman yang sejuk nan indah ini. Sesekali kami pun berfoto, seolah menunjukkan jika kami adalah keluarga yang lengkap dan bahagia.


"Sayang, tunggu disini dulu ya.. Aku mau membeli makanan ringan di seberang sana. Jaga bintang." Pesan byan padaku.


"Iya mas, kamu jangan khawatir. Jangan lupa beliakan aku teh dingin ya mas.." Pinta ku yang disetujui byan dengan anggukan.


Setelah byan pergi, aku melihat ada seorang pedagang balon. Melihat itu aku menjadi teringat bintang hingga aku berniat membelikannya.


Ku coba memanggil pedagang itu, namun karena banyak anak-anak kecil yang sedang mengerumuninya hingga ia tak mendengarku.


Aku pun berniat menghampirinya saja.


"Bintang anak pintar mama, tunggu sebentar ya disini. Mama membeli balon dulu disana buat bintang." Aku pun mengunci roda stroller bintang, dan mengahampiri pedagang balon itu. Jarak aku dan pedagang balon menurutku tak terlalu jauh, hanya sekitar 15 meter saja. Jadi aku masih bisa memantau bintang dari kejauhan.


Aku membeli tiga balon untuk bintang, ada warna merah, kuning dan ungu. Setelah selesai membayar aku pun kembali kepada bintang. Namun kulihat mas byan sudah ada disana.


"Iya, bintang dimana?" Byan celingukan mencari keberadaan bintang.


"Bintang tadi ada di stroller mas?" Jawabku.


"Tidak ada bintang disini mara, aku fikir bintang bersamamu."


"Tidak mas, tadi aku meninggalkannya disini untuk membeli balon."


"Mara jangan bercanda!" Byan kini menggertakku.


"Bintang.... Bintang....." Aku pun berkeliling mencari bintang, namun hanya stroller kosong yang tertinggal.


"Mara, bagaimana ini bisa terjadi.." Byan meraup wajahnya dengan tangan. Terlihat kekhawatiran padanya.


"Mas, aku tidak tahu.. Sungguh..." Aku pun mulai panik, hingga mataku ini sudah berkaca-kaca.


"Kau cari kesana, dan aku akan mencari kearah sana. Jangan lupa kabari aku jika sudah menemukannya." Byan berlari berlawan arah dariku untuk mencari bintang. Aku pun segera mencari bintang dari arah yang lain.

__ADS_1


Aku mengitari taman, menanyakan keberadaan bintang pada orang-orang yang berada di taman ini. Namun tak ada yang tahu bintang dimana.


Bintang.... Dimana kamu nak, jangan membuat mama khawatir.. Aku terus berdoa mudah-mudahan byan dapat menemukannya.


Pencarian kami mengelilingi taman pun selesai, aku tak menemukan keberadaan bintang. Aku pun sudah melaporkan kejadian ini pada pihak pengelola taman, namun karena taman out door, pihak pengelola tak memasang kamera cctv sehingga keberadaan bintang tak bisa dilacak.


"Bagaimana ini mas..." Aku menangis dipelukan byan, sementara byan hanya diam saja tak menanggapi. Aku tahu byan kini sangat panik dan pusing memikirkan kejadian ini.


"Mas, maafkan aku ini semua salahku..."


"Sudahlah mara, lebih baik kita mencari bintang dari pada saling menyalahkan seperti ini." Byan mencoba menguatkan diri.


"Mas, ini sudah malam. Kita lanjut besok saja ya.." Pintaku pada byan, karena sekarang ini sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Mara bagaimana bisa kau seperti itu! Apa kau benar-benar tak punya hati, bintang anakku. Apakah aku harus diam saja ketika anakku hilang? Ayah macam apa aku? Oh, ya aku tahu. Bintang bukan anakmu, jadi wajar saja jika kau bersikap santai!!!"


Deg! kata-kata byan menancapkan luka dihatiku. Bukan begitu maksudku... Mengapa byan bisa menyimpulkan hal seperti itu.


"Mas byan, maksudku bukan seperti itu." Hatiku sangat sakit menerima penuturan byan, namun aku mengerti byan saat ini sedang kalut. Wajar saja jika ia marah dan tersulut emosi seperti ini.


"Kau pulanglah mara, biar aku yang mencari bintang." Byan sudah terlihat sangat putus asa.


"Mas, kita tunggu saja kabar dari kepolisian.. Kau juga butuh istirahat mas."


"Jika kau ingin pulang maka pulanglah sendiri! Aku takkan pulang sebelum menemukan anakku!" Byan meninggalkanku sendiri. Ia pergi entah kemana untuk mencari bintang.


Aku kembali ke apartement sendiri dengan tangis yang masih sesegukan. Aku sangat merasa bersalah, andai saja aku tak meminta byan untuk mengajak kami berlibur pasti situasinya takkan seperti ini. Andai juga aku tak meninggalkan bintang sendiri, ini pasti takkan terjadi. Apa yang harus aku lakukan? Mas byan pasti sangat kecewa dan marah padaku.


*🍒 Hai readers yang masih setia baca karya othor, thor ucapin terimakasih banyak yaa..


Thor mau sedikit curhat nih,😀 Jika memang alur cerita yang thor buat ini tidak sesuai keinginan readers, thor minta maaf ya. Thor memang sudah menyusun alurnya sesuai rencana thor sendiri..


Kalaupun bacaan yang thor buat ini tidak disukai, dan readers memilih pergi maka thor bisa apa?? Othor tidak mau memaksakan orang lain untuk tetap tinggal, karena setiap orang itu punya hak masing².


Mohon maaf jika thor telah mengecewakan kalian, tapi ketahuilah thor juga menulis ini dengan penuh perjuangan dan usaha yang tiada hentinya.


Tetap semangat semuanya... Selamat menunaikan ibadah puasa readers .... 💪🤗*

__ADS_1


__ADS_2