Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Perkenalan


__ADS_3

πŸ’ Mau perkenalan dulu ya readers, model ini hanya gambaran aku aja ya.. Dibayangin aja du deh wajah-wajah modelnya..




Asmara arsytanti (Model: Sthepani putri)





Agatha putri afrizal (Model: Amanda rawless)





Fabyan alfarizi malik (Model: Billy davidson)





Arjuna Wiranata (Model: Junior robert)



πŸ’Nah... kalo dah pada kenal kan enak yaa readers? hihiihiii... Untuk tokoh yang lain bisa kasih saran ya ke aku, langsung komen!!!


Thankkkyouuuuuuuu......


Udah ya kenalannya, jangan lama-lama... Kita lanjut lagi yukk ceritanya...


***


#Byan


Byan masih bingung dengan sikap asmara yang mendiamkannya dan tak menjawab pertanyaannya. Byan melajukan mobilnya menuju apartementnya.


"Mara, kita ke apartementku dulu ya,.."


Mengapa mara diam saja? apakah tanda setuju atau menolak? Rasanya semua wanita sama saja, susah sekali dimengerti.

__ADS_1


Tidak asmara, begitupun dengan agatha!


Astaga, agatha... Sudah seminggu aku dan agatha tak saling memberi kabar.Apakah agatha benar-benar marah padaku?


Ah sudahlah, agatha pasti akan mengerti. Aku hanya perlu menenangkan asmara dahulu. Mungkin kali ini asmara benar-benar butuh teman untuk berbagi.


Aku sengaja membawa mara keapartement ku karena mungkin mara akan lebih leluasa bercerita apapun daripada dirumahnya sendiri karena ada ibu dan adiknya..


Tak ada niat buruk dalam diriku. Semoga setelah ini mara mau berbagi cerita padaku.


Setelah sampai diapartement byan, Aku dan byan masih saling diam.


"Mara masuklah.." Byan membukakan pintu mempersilahkan masuk.


Aku memandangi ruangan apartement nya yang begitu rapih, wangi, dan rasanya ruang tamu ini lebih luas dari ruang tamu dirumahku.


"Aku ganti baju dulu, kamu bisa pakai kamar mandi dikamar tamu untuk membersihkan dirimu." Byan mengantarku pada kamar tamu.


Setelah aku masuk, byan menutup pintu kamar dan meninggalkanku.


Aku membersihkan diri, mencoba menyiapkan lagi keberanianku yang sedari tadi sudah perlahan surut..


Setelah beberapa menit, byan mengetuk pintu kamar. Namun aku masih berada dikamar mandi.


"Mara, pakailah baju ini. Bajumu basah." Suara byan menjelaskan dari luar pintu.


Aku tak menjawab apapun, setelah selesai, aku memakai baju yang disiapkan oleh byan. Byan menyiapkan kaos putih polos yang sedikit kebesaran menurutku. Bahkan ini bisa menjadi daster. Hihihi


Byan sudah duduk dengan dua gelas teh hangat di meja.


"Mara duduklah," Pinta byan.


"He'emm.." Jawabku sembari menghampiri byan.


"Minumlah.. Agar tubuhmu sedikit hangat!" Byan menyodorkan teh hangat kepadaku.


"Terimakasih mas byan.." Aku meneguk beberapa kali teh hangat buatannya.


"Apa perasaanmu sudah cukup membaik?" Tanya byan.


"Ya..." Timpalku masih dengan gelas teh ditanganku.


"Kau sudah siap bercerita mara?" Tanya byan lagi.


"Aku tak ingin bercerita.."


"Tapi ingin mengungkapkan sesuatu? Benar?" Potong byan menyela perkataanku yang belum selesai.


Aku hanya tersenyum mendapati tanggapan byan.

__ADS_1


"Mara, kau manis jika tersenyum.. Teruslah seperti itu didepanku.." Byan berkata lirih sembari terus menatapku.


"Mas byan, sebenarnya aku..." Aku masih belum mengumpulkan keberanianku.


"Yaaa??" Byan menungguku dengan mengangkat kedua alisnya.


"Bagaimana jika kita duduk disofa itu saja sambil menonton film? Kau terlihat kaku dan tak nyaman!" Byan pun mengarahkan langkahnya menuju sofa dan menyalakan tv. Aku menyusulnya dari belakang. Kini kami dudukpun sudah bersebelahan hanya berjarak beberapa jengkal saja.


"Mas?" Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara padanya.


"Yaa mara?" Byan masih sibuk dengan remote tv mencari program yang bagus tanpa memandang kearahku.


"Mas, aku sebenarnya menyukaimu!!!" Aku mengatakan itu dengan menutup kedua mataku. Aku tak punya keberanian lagi Membukanya dan menatap byan.


Byan yang mendengar pengakuan asmara sintak terkejut. Tanpa sepatah katapun byan mengeluarkan suara.


Dipandanginya wajah asmara dari dekat yang tampak memerah dengan mata terpejam.. Sungguh cantik yang alami, masih muda, mandiri, menggemaskan bagi byan.


"Mengapa baru sekarang mara kau mengatakannya setelah aku memiliki tunangan" Gumam byan dalam hati.


"Mara..."


"Mas, tak apa jika memang mas byan tidak memiliki rasa yang sama sepertiku. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang mengvanjal dihatiku selama ini! Tak perlu membalasnya maass...." Mara belum selesai berbicara byan sudah meraih tubuh mara didekapannya.


"Mara maafkan aku..." Byan mengusap lembut puncak kepala mara.


"Mas, ini bukan hanya sekedar rasa suka. Tapi aku benar-benar jatuh cinta sama kamu mas.." Mara menarik nafasnya panjang dan memeluk erat pelukan byan.


***


Agatha yang sudah tau kode pintu apartement byan langsung masuk begitu saja. Namun, langkah agatha terhenti disana ketika mendapati dua orang sedang berpelukan.


"Mas byyyan?...." Agatha tersentak, rasanya sangat sakit. Tak terasa air bening mengalir dari wajahnya.


"A...atha?" Mendengar ada suara agatha, byan melepaskan pelukannya pada asmara.


"Maaf, rupanya aku tidak tepat waktu." Agatha melangkahkan kakinya dengan cepat dan keluar dari apartementnya.


Melihat wanita itu keluar mara menjadi bingung. Siapakah wanita yang tiba-tiba masuk **itu?


"Arghhhhh...." Byan bangun dari kursinya, mengacak rambutnya dengan kedua tangannya**.


"Mas? ada apa? siaapa wanita itu?" Tanyaku pada mas byan yang terlihat prustasi.


"Mara, maafkan aku.. Aku harus mengejarnya." Byan meraih jaket pada kursi ruang tamu.


"Mas tapi aku....."


"Aku akan menelpon juna untuk menjemputmu. Gantilah pakaianmu. Agar tak bertambah lagi orang yang salah faham." Byan menuju keluar pintu meninggalkanku.

__ADS_1


"Siapa wanita itu, mengapa dia menangis? Mengapa mas byan mengejarnya dan terlihat tidak baik-baik saja?"


__ADS_2