
Pagi ini agatha sudah kembali bekerja di butiknya. Kedatangan agatha disambut pelukan hangat oleh ayu sahabat sekaligus asistennya.
"Uch... Kangen bangett ama kamuu tha.." Ayu melepaskan pelukannya menatap agatha.
"Aku ada oleh-oleh buat kamu ay.." Agatha segera melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya namun tiba-tiba agatha terhenti.
"Hari ini jangan terima tamu dulu ya ay, aku tak ingin diganggu!"
"Tapi tha..." Sebelum ayu bisa menyelesaikan ucapannya, agatha langsung bergegas menuju ruangannya.
"Maaf tha, didalam sudah ada pak byan. Sebenarnya ada apa denganmu? kamu tak terlihat baik-baik saja. Matamupun sembab." Ayu bermonolog heran dengan sikap agatha.
Agatha membuka pintu ruang kerjanya, namun begitu terkejutnya agatha setelah menutup pintu dan menguncinya.
"Tha..." Byan sudah duduk di sofa menunggu agatha dari pagi.
"Ada apa lagi mas?" Agatha melangkah menuju meja kerjanya.
"Tha, maafkan aku.." lirih byan. Ingin rasanya byan beranjak dari duduknya dan memeluk agatha.
"Aku sudah memaafkanmu mas. Pergilah hari ini aku sibuk!" Agatha membuka laptopnya mencoba mengalihkan pandangan dari byan.
"Tha, izinkan aku menjelaskan dulu......"
"Tak perlu mas. Semua sudah jelas! Silahkan keluar dari ruanganku. Banyak pekerjaanku yang tertunda." Agatha memotong ucapan byan. Namun byan tak menyerah begitu saja. Byan memberanikan diri untuk menjelaskan kesalahpahaman antara mereka. Byan bangun dari duduknya menuju meja kerja agatha dan kini mereka berhadapan.
"Wanita itu bernama asmara, dia bekerja di kantorku. Aku menolongnya karena dia tak memiliki ayah lagi dan dia ingin bekerja. Aku memang sempat menyukainya, tapi setelah aku melihatmu aku sudah melupakan asmara. Percayalah... Aku hanya ingin menikah denganmu tha, beri aku kesempatan aku akan berubah dan aku akan berusaha untuk mencintaimu tha.." Jelas byan.
"Terimakasih mas sudah menjelaskan, tapi keputusanku takkan berubah. Maaf mas." Agatha merasakan sakit dihatinya. Sungguh agatha tak ingin lagi percaya pada byan.
"Tha, mengertilah aku hanya menolong asmara. Aku yakin hatimu begitu tulus dan tidak bisa melihat orang lain menderita? Aku yakin kau akan memberi kesempatan padaku.. Tolong tha demi umi, umi sangat menyayangimu!" Byan meraupi wajahnya dengan tangannya.
"Umi yang mencintaiku, tapi kau mencintai wanita yang bernama asmara.. Heeh" Agatha tersenyum sakit.
__ADS_1
"Tha.. Maksudku bujan begitu. Aku yakin seiring berjalannya waktu cintaku padamu akan tumbuh! Dan aku tak memiliki perasaan apapun pada asmara. Percayalah.." Byan memohon lagi.
"Istighfar mas, kita tidak berjodoh. Barangkali jodoh mas byan adalah asmara." Agatha menahan sakit pada hatinya. Sangat tak percaya jika sampai saat ini byan ternyata belum juga bisa mencintainya.
"Agatha, bantu aku untuk mencintaimu.. Aku mohon!" Byan memohon lagi.
"Penjelasan mas byan sudah selesai kan? Terimalah keputusan ku. Aku yakin ini yang terbaik untuk kita." Agatha bangkit dari duduknya dan menuju keluar ruangannya. Sungguh air matanya tak dapat dibendung lagi.
Byan terkulai lemah, segala cara telah dicoba untuk membujuk agatha. Namun wanita yang terkenal lemah lembut itu tak juga merubah keputusannya.
Byan menuju keluar ruangan hendak menyusul agatha. Namun byan kehilangan jejak agatha.
Agatha sudah pergi hanya mobilnya saja yang terlihat semakin menjauh.
Menyaksikan agatha yang berlari keluar dan byan menyusulnya ayu semakin bertanya-tanya ingin tahu. Tak pernah agatha seperti ini.
***
Di tinggal oleh bossnya ke jakarta, juna kini sedang bergelut dengan banyaknya berkas yang harus diperiksanya. Sudah tiga jam lamanya juna akhirnya menyelesaikan tugasnya itu.
Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan saat berpapasan dengan juna. Junapun sama dia hanya mengganggukkan kepalanya pelan.
Setelah kejadian kemarin, juna menjemputku di apartement byan. Namun diperjalanan kami tak berbicara sepatah katapun. Juna hanya diam, akupun begitu. Bahkan saat aku sudah sampai aku tak sempat mengucapkan terimakasih pada juna yang telah mengantarku. FIkiranku terlalu fokus pada mas byan dan wanita yang dikejarnya itu. Aku sungguh penasaran, ada hubungan apa mereka? Siapa sebenarnya wanita itu?
Hari ini aku tahu, mas byan tidak masuk ke kantor. Aku ingin meneleponnya namun aku tak memiliki keberanian sedikitpun.
Saat jam makan siang, kulihat disana juna duduk sendirian. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Berharap aku akan dapat info tentang mas byan.
"Pak juna, boleh aku duduk disini?" Aku meminta izin.
"Silahkan..." Jawab juna sambil terus menyeruput kopi hitamnya.
"Emmm... Sebelumnya aku mau ucapkan terimakasih kemarin bapak sudah mengantarku pulang." Aku tertatih menyembunyikan rasa malu.
__ADS_1
Juna hanya mengangguk pelan.
"Dan... Aku mau meminta maaf karena..."
"Sudahlah mara. Tak ada yang perlu dimaafkan. Kau tak memiliki salah apapun. Itu hakmu." Juna memotong ucapanku ketus.
"Iya pak.. Tapi apakah bapak tahu kemana mas byan?" Tanyaku berani sambil menatap mata juna.
"Mas byan? Heeeh!!" Juna tersenyum sinis.
"Emmm maksudku pak byan. Ya pak byan..!" Aku sangat bodoh. mengapa aku mengucapkan kata mas pada byan, sangat tak enak hatiku pada juna.
"Apakah kalian berdua sedekat itu?" Juna bertanya dan kini matanya mengarah menatapku dengan tajam.
"Oh.. itu tidak! Aku dan pak byan tak ada hubungan apapun dan juga tak dekat sebagaiman fikiranmu pak juna." Jawabku gugup.
"Kenapa kau terlihat gugup mara? Lagian itu hak mu kau mau dekat dengan siapapun." Juna kembali menyeruput kopinya. Namun tatapannya tak beralih dariku. Aku begitu takut melihat ketajaman sorot matanya.
"Tidak pak. Anda salah paham.." Jelasku.
"Mara, siapapun laki-laki yang dekat denganmu kuharap kamu sangat bahagia. Aku permisi aku ada meeting hari ini." Juna bamgun dari duduknya meninggalkanku.
Apa maksud ucapan juna? Sangat mengambang bagiku. Terlihat raut wajahnya yang sedih. Tapi aku tak boleh menerka-nerka sembarangan. Mungkin saja juna memang sedang banyak pekerjaan karena harus menggantikan dan menyelesaikan pekerjaan mas byan.
Kini aku tak mendapatkan info apapun tentang mas byan. Haruskah aku meneleponnya? Atau aku mengunjungi apartementnya saja? Tapi aku takut mengganggunya. Biarlah, mudah-mudahan besok mas byan sudah bekerja kembali.
***
Di sebuah pinggir danau agatha berdiri dengan kedua kepala menutup rapat wajahnya. Angin segarbterus berhembus menghamburkan rambutnya yang tergerai.
Sangat sesak, hatinya sebenarnya belum rela untuk melepaskan byan. Namun ini adalah jalan terbaik baginya dan byan. Agatha sangat takut jika dia melanjutkan hubungannya suatu saat ia akan kecewa lebih dalam.
"Mamah.... Atha rindu.." Agatha terus terisak mengingat kisahnya. Kali ini agatha sangat merindukan sosok ibunya.
__ADS_1
"Mah, apakah keputusan atha benar?" Agatha mengusap air matanya. Matanya kini semakin memerah dan sembab. Semiga ini pilihan yang terbaik dan takkan ada penyesalan dikemudian hari.