
"Kak, tak perlu sejauh itu kau mencarinya.." Chayra mencoba menghalangi keberangkatan juna.
"Chay, meskipun ke ujung dunia aku akan mencarinya."
"Kak juna! Apa yang sebenarnya kau kejar darinya!"
"Chay??"
"Kak, sudahlah lupakan saja dia."
"Jika kau terus memintaku melupakan mara, maka lebih baik kau pergi dan menghilang dari hadapanku sekarang juga!."
"Kak junaaaa?"
"Chayra!"
"Bahkan kau lebih mementingkan wanita itu dari pada aku kak?"
"Chayra, bukan begitu. Kenapa kau selalu menghalangiku jika aku mencari mara? Apa jangan-jangan kau mengetahui sesuatu? Ada yang kau sembunyikan dariku chayra?"
"Ti...tidak kak, aku tak tahu apa-apa dan tak ada yang kusembunyikan."
"Jaga bu aisyah, dan selalu pantau randy juga bu kamila disini aku percaya padamu. Aku akan pergi mencari asmara. Maaf aku turut membebanimu dalam masalahku.."
Semoga kau menemukan Asmaramu kak juna. Semoga pencarianmu kali ini tidak sia-sia. Aku tak ingin melihatmu terus menderita.
Chayra bergumam dalam hati, masih ada ketidak ikhlasannya atas kepergian juna. Namun chayra tidak bisa berbuat banyak. Ia juga tak tega jika melihat juna terus seperti orang yang bernyawa tapi tak bertulang. Tak pernah semangat dan semakin layu semenjak kepergian asmara.
Chayra hanya bisa diam menyaksikan kepergian juna. Hingga beberapa saat kemudian, pesawat yang ditumpangi juna sudah terlihat semakin tinggi menembus awan.
@SEOUL
Setibanya di seoul juna membereskan segala urusannya, setelah selesai merapihkan kamar hotel tempatnya menginap juna merebahkan diri sejenak pada kasur empuk beralas sprei putih bersih.
Bissmillah, semoga pencarianku berakhir disini. Mara aku sungguh merindukanmu jangan membuat hatiku semakin kacau. Kembalilah mara...
Juna bergumam dalam hatinya, matanya terasa berat bahkan sangat berat. Sejenak ia memejamkan matanya yang mulai terserang kantuk. Namun otaknya memerintahkan untuk segera membuka matanya. Hingga mata juna pun terbelalak.
Bangunlah juna, semakin kau menunda waktu maka semakin sedikit kesempatanmu menemukan asmara.
Juna pun bangkit dari posisi rebahannya, ia segera bergegas keluar kamar hotel. Saat keluar kamar dan mengunci pintu juna dikejutkan dengan suara seseorang yang tak asing baginya.
"Mas juna?" Suara tak asing memanggilnya.
"Siapa?" Juna menoleh kearah suara wanita yang memanggilnya.
"Mas kau tak ingat aku?" Agatha mencoba membuka ingatan juna.
"Emmmm... Oh, ibu agatha! Maaf aku sedikit pangling." Juna lama terdiam dan berfikir akhirnya juna mengingat wanita itu, juna pun membungkukkan tubuhnya sebagai tanda menyapa.
"Ya, tak apa mas.. Bisa kebetulan sekali kita bertemu disini. Apakah ada bisnis di seoul?"
"Oh, tidak bu atha aku hanya ada kepentingan lain disini."
"Owh begitu rupanya.. Lama tidak bertemu mas."
"Kalau begitu aku permisi bu atha. aku sedang terburu-buru." Juna pun melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan agatha. Juna tahu, dari jauh ada byan yang semakin mendekat kearah mereka berdua.
Agatha hanya mengangguk pelan, serta senyuman kecil melepas kepergian juna.
"Kau mengenalnya?" Byan tiba-tiba sudah ada dibelakang tubuh agatha yang hendak membuka pintu kamar hotel.
"Eh, mas sejak kapan kamu..."
__ADS_1
"Hmmm, dia adalah kekasih asmara. Jangan pernah meliriknya apalagi menggodanya."
"Maksud mas?"
"Kamu menyukainya kan?"
"Mas!!!"
"Carilah pria yang lain, jangan arjuna."
Plakkkk!!!!!!!
Agatha menampar wajah mulus byan dengan sekuat tenaganya.
"Kamu keterlaluan mas, kali ini benar-benar keterlaluan! Kamu menuduhku menyukai juna?? Tega kamu mas..."
"Jika kamu tidak menyukainya? Lalu apa arti tatapanmu tadi kepadanya? Munafik kamu agatha!"
"Mas, aku tidak pernah menyangka kamu setega ini. Aku sudah lama kenal dengan juna! Apa tidak boleh jika aku menyapanya?"
"Ck! Alasan." Byan pergi begitu saja meninggalkan agatha sendirian.
Agatha meratapi nasib dirinya. Agatha berfikir dengan ke seoul mengikuti suaminya akan membuatnya sedikit bahagia. Tapi ternyata berbanding terbalik dengan angan-angannya. Mengapa rumah tanggaku selalu dipenuhi dengan pertengkaran? Aku tak sanggup lagi ya Allah..
Tiba-tiba agatha merasakan nyeri pada perutnya, agatha meringis kesakitan. Hingga ia memilih untuk merebahkan tubuhnya dan beristirahat. Namun sakit itu tak kunjung mereda.
***
Malam ini, tanpa hasil yang memuaskan juna kembali ke kamar hotel. Tubuhnya kali ini terasa amat lelah, namun sebelum ia masuk ke dalam, ia melihat ada seseorang yang tergeletak di depan pintu tepat bersebelahan dengan kamarnya.
Juna menghampiri sosok itu yang diduga adalah wanita. Setelah dilihat ternyata itu adalah agatha. Juna segera menghubungi pihak hotel, agatha akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Berulang kali pihak hotel menghubungi byan namun tak kunjung berhasil. Entah byan saat ini pergi kemana. Ponselnya pun tak bisa dihubungi. Terpaksa juna lah yang menemani agatha ke rumah sakit.
Saat terbaring di brankar rumah sakit seoul yang jaraknya tak jauh dari hotel temoat mereka menginap, juna pun menemui agatha di dalam ruang rawat. Agatha terus diam dan menangis mendengarkan penjelasan dokter, dengan selang infus ditangannya.
"Aku sudah mencoba menghubungi byan, tapi tak ada respon darinya. Mungkin byan sedang sibuk."
"Dia memang selalu begitu." Agatha menjawab tanpa menoleh ke arah juna.
"Apakah ibu agatha sudah baikan? Jika begitu aku mohon pamit."
"Apakah kau juga sedang mencari asmara?" Tiba-tiba agatha membahas asmara pada juna.
"Iya."
"Emm, mungkin suamiku juga sedang mencarinya. Penjuru kota jogja, jakarta juga bali sudah dijelajahinya. Namun dia tak kunjung menemukan asmara. Selain kesibukan pekerjaan, ternyata suamiku juga menyibukkan diri untuk mencarinya."
"Oh.. Maaf aku harus segera kembali bu agatha."
"Baiklah, terimakasih atas pertolonganmu mas. Aku takkan melupakan kebaikanmu."
Juna berjalan perlahan meninggalkan rumah sakit itu. Juna berjalan perlahan menyusuri gemerlap kota seoul yang dipenuhi dengan lampu warna-warni disepanjang jalan. Juna tak tahu lagi harus mencari asmara kemana, hingga ia duduk pada kursi yang terletak dipinggir taman kota.
Nampak keputusasaan diwajah juna, ia meraup wajahnya perlahan dengan telapak tangannya. Matanya menatap kesegala penjuru taman secara bergantian, berharap dapat menemukan sosok wanita yang selama ini ia cari.
Sepertinya hasilnya nihil, hingga juna memilih untuk berjalan kembali mengitari sekitaran taman. Banyak orang lalu lalang disana, namun belum juga matanya menangkap apa yang ia cari.
***
Byan yang hari ini sibuk bekerja di kantor peninggalan kakaknya itu merasa lelah. Banyak sekali hal yang harus ia selesaikan. Byan di temani oleh asisten rayhan yang dipercaya untuk bertanggung jawab menghandle perusahaan peninggalan kakaknya di seoul.
"Dika, siapa pencetus produk baru kita ini?" Tanya byan pada dika yang sedari tadi menemaninya.
"Pak, dia adalah anggota tim baru kita. Dia baru beberapa minggu bergabung pada perusahaan kita dia sangat handal. Bapak takkan kecewa dengan hasil kerjanya."
__ADS_1
"Emm baguslah, aku ingin bertemu dengannya."
"Aku akan panggilkan dia pak."
Beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan yang byan tempati. Hingga pintu terbuka, dan sosok itu datang menghampiri byan juga dika.
"Pak, ini orangnya.." Jawab dika membuka suara.
Byan menoleh ke arah dika kemudian ke arah sosok wanita di sebelahnya. Byan terkejut mendapati wajahnya.
Sosok yang selama ini byan rindukan, sosok yang selama ini ia cari. Ternyata ia ada di sini. Byan tak dapat lagi mengedipkan matanya. Byan tak mampu membuka suaranya. Byan sungguh terkejut dengan apa yang ada dihadapannya kali ini.
Sosok asmara arsytanty. Dengan sedikit perubahan pada wajahnya. Dengan beberapa makeup tipis menghiasi bagian bibir, mata, alis dan pipinya.
🍒Asmara
"Mara??" Byan akhirnya membuka suaranya setelah sekian menit bungkam.
Seketika mata byan dan mataku saling beradu. Mata byan yang menunjukkan penuh pertanyaan, membuat aku memalingkan tatapanku padanya.
Oh, dunia inibternyata sangat sempit. Mengapa aku harus bertemu dengan byan? Apakah aku juga akan bertemu dengan semua orang yang berkaitan dengan byan?
Kami berdua berjalan beriringan, byan memintaku untuk meluangkan waktu dan berbicara padanya. Byan mengajakku keluar kantor sembari pulang. aku tak menghindar dari pertemuan ini. Aku harus menghadapinya. Jika aku menghindar lagi, maka byan mungkin akan mencecarku dengan banyak pertanyaan. Oh, membayangkannya saja aku sudah pusing.
"Mara, bagaimana kabarmu?" Tanya byan, sepertinya byan bingung harus memulai percakapan darimana.
"Baik. Seperti yang kamu lihat." Aku mencoba untuk bersikap ramah padanya.
"Mara, apakah kau tahu aku mencarimu kemana-mana? Tapi saat aku tak mencarimu, kita malah dipertemukan disini."
"Hmmm.." Aku hanya menghela nafas. Tak ingin menanggapinya lebih.
"Mara sebenarnya banyak yang ingin ku tanyakan padamu, tapi pasti kau akan pusing mendengarnya karena ini adalah pertemuan pertama kita setelah sekian lama. Aku sedikit lega, bisa menemukanmu dalam keadaan baik seperti sekarang."
"Ya. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah... Sekarang kau tinggal dimana? Dengan siapa?"
"Itu privasiku, maaf..." Aku mencoba menutupi dan tak banyak berbicara.
"Aku tak tahu sebenarnya apa alasanmu pergi begitu saja mara. Aku tak memaksamu untuk menjelaskannya, yang terpenting aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu hari ini."
"Baiklah, jika sudah selesai aku permisi dulu." Kucoba untuk melangkahkan kakiku lebih lebar, agar posisiku tak lagi sejajar dengan byan. Namun langkah byan terus saja mengimbangiku. Hingga langkah kami berdua pun sama-sama terhenti saat bertemu dengan sepasang mata yang tengah menatap kami berdua dengan jarak beberapa meter.
Sosok orang yang menatapku dengan lekat, entah sejak kapan dia ada dihadapan kami. Entah siapa yang memberitahunya jika aku ada disini. Entahlah..
Hingga sosok itu mendekat kearah kami berdua, kulihat sorot matanya yang makin memerah, mata tajam itu mata yang sangat kudambakan. Senyumnya, dimana senyumannya? Aku tak menemukan itu diwajahnya. Tubuh kekarnya, aroma wangi parfumnya yang masih sama, bahkan aku bisa menciumnya dari jarak beberapa meter. Wajahnya semakin mendekat, tubuhnya kini terlihat semakin kurus. Apakah dia sakit?? Banyak sekali pertanyaan dari dalam lubuk hatiku. Ingin rasanya aku menghambur kedalam pelukannya. Tapi itu takkan mungkin.
Dia melaju kearah kami berdua, namun dia berdiri tepat didepan byan. Dengan suara seraknya, dia mulai membuka suara.
"Aku terus menghubungi nomor ponselmu, tapi tak pernah ada jawaban. Ternyata kau disini, syukurlah aku menemukanmu. Aku senang bisa bertemu denganmu akhirnya kau baik-baik saja! Hmmmmmm..... Pergilah kerumah sakit, istrimu sedang menunggumu. Kehamilannya saat ini sangat lemah, kau harus segera menemaninya. Kasihan dia, aku sudah mengirim alamat rumah sakit dan ruangan tempat agatha dirawat melalui pesan. Bukalah ponselmu byan...."
Juna menghela nafasnya, panjang lebar ia menjelaskan meski dengan suara yang serak, namun ia hanya berbicara pada byan. Seolah dia tak melihat jika aku ada disini..
"Agatha?? Kehamilan???." Wajah byan terlihat panik, hingga byan meraih ponsel yang sedari tadi tak tersentuh didalam saku jasnya. Byan membuka ponselnya dan terdapat beberapa panggilan dari nomor tak dikenal juga pesan dari juna.
"Mara, aku harus pergi dan kau juna, terimakasih.." Byan berlalu begitu saja meninggalkan kami berdua. Byan sedikit berlari dengan beberapa kekhawatiran dalam hatinya.
Juna berbalik arah, juna pun melangkahkan kakinya perlahan meninggalkanku. Seperti tubuh yang tak bertulang, aku merasakan lemas dan gemetar. Hingga aku tersimpuh meratapi kepergian juna tanpa kata. Beginikah rasanya?? Beginikah perasaan juna saat aku pergi begitu saja?
Juna bahkan tak menoleh atau melirikku sedetikpun. Dapat ku ingat dengan jelas, juna hanya fokus berbicara pada byan. Apa ini? Apakah ini adalah kebenciannya terhadapku? Ingin rasanya aku mengejarnya namun rasanya kaki ini tak lagi sanggup menopang tubuhku yang lemas.
To be continue......
__ADS_1
🍒Mau tau kelanjutannya? Ayo dong kasih vote buat thor.. Biar nggak lemes dan makin semangat nih buat up lagi.. Syukur² dikasih kolak pisang buat buka puasa 🤭 Dasar thor banyak maunya!
Terimakasih readers setia, terus dukung karya aku yaa.. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan..🙏