
"Tak banyak pekerjaan, tapi otakku hari ini sungguh berputar-putar.. Pusing sekali!"
" kau sakit pak??" Aku secara reflek menyentuh kening juna dengan tanganku.
Hingga aku tersadar dengan apa yang ku perbuat. "Maaf pak! Aku tak sopan..." Aku menarik tanganku pelan.
Juna hanya mengulum senyumnya.
Tanpa sadar, ada sepasang mata lagi yang memperhatikan tingkah asmara dan juna. Nampak perih dihatinya hari ini dua kali melihat keakraban asmara dan juna yang berbeda.
Kau bahagia bersamanya mara? Apakah kau sudah melupakanku?? Heh, apakah aku sedang menyesal?
Byan bergumam dalam hati dan melangkah pergi meninggalkan resto itu.
***
Agatha tiba di rumah pukul tujuh malam. Ketika masuk kedalam kamarnya, ia tak menemukan byan.
Agatha berfikir mungkin byan ada di ruang kerjanya. Agatha bergegas untuk mandi.
Selang beberapa menit, agatha belum menemukan byan di kamarnya.
Agatha menarik nafasnya panjang, dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang.
Tepat pukul dua dini hari, agatha menggeliatkan tubuhnya. Ia merasa perutnya berbunyi. Ia bangun dari tidurnya menatap ke arah sofa dimana byan terbiasa tidur. Namun agatha tak menemukan byan disana.
Agatha melangkah keluar kamar menuju ruangan kerja byan. Namun ia tak menemukan sosok byan disana.
Agatha meraih ponselnya diatas nakas, mencoba melihat pesan ataupun panggilan. Namun tak satupun ada pesan atau panggilan masuk dari suaminya.
Apakah byan pergi ke rumah abi?? Agatha berfikir begitu, kini agatha berada di dapur memasak nasi goreng dan menyantapnya sendirian.
Pagi harinya agatha menemui andryani dan malik ke rumahnya. Niat agatha ingin mengetahui keadaan suaminya itu. Kedatangan agatha disambut baik oleh kedua mertuanya itu.
"Assalamualaikum abi, umi..."
"Waalaikumsalam tha.." Malik dan andryani menjawab serentak.
"Bagaimana kabar abi dan umi?" Agatha menyalami punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian.
"Baik, apakah kau kesepian?" Andryani bertanya sembari tersenyum pada menantu kesayangannya itu.
"Emmm, atha sengaja singgah kesini umi. Kebetulan agatha mau betangkat kerja."
"Sudah rindu pada byan ya? Baru saja semalam ditinggal bagaimana jika sebulan?" Celetuk andryani yang ditanggapi tak mengerti oleh agatha.
"Namanya juga pengantin baru umi, pasti ingin terus nempel." Sambung malik dengan nada bercanda.
"Sabar ya tha, setelah selesai urusan kantornya byan pasti akan segera kembali ke jakarta." Andryani mengelus pundak agatha.
"Iya umi, abi." Agatha yang tak mengerti dengan pembicaraan mertuanya itu hanya mengiyakan saja.
Mungkinkah byan pergi ke jogja? atau byan pergi ke korea mengurus bisnis rayhan? Sebenarnya kemana byan? Agatha bergumam dalam hatinya.
Sebenarnya agatha ingin bertanya pada kedua mertuanya itu. Namun agatha tak ingin jika malik dan juga andryani salah paham. Ia tak ingin jika mereka mengetahui keadaan rumah tangganya dengan byan saat ini sedang bermasalah.
Agatha berniat akan mencari tahu sendiri keberadaan byan saat ini.
__ADS_1
***
๐ Asmara
Pagi ini pak arman dan juga aku menuju kesebuah ruangan. Aku sudah berfikir tentang taearan pak arman kemarin dan aku mrnyetujuinya. Aku akan menganggap jika keputusanku ini adalah langkah awal karir baikku. Semoga saja aku bisa menjalani profesi baruku sebagai seorang sekretaris.
Namun ada yang aneh dan mengganjal dihatiku. Pak arman menuju ruangan byan. Aku membuntutinya dan masuk kedalam ruanagn byan disana.
Kulihat disana sudah ada byan juga juna. Aku tak mengerti mengapa pak arman membawaku kemari.
"Pagi pak byan, saya sudah membawakan apa yang bapak minta kemarin." Pak arman membuka percakapannya.
"Terimakasih, saya tahu pak arman tidak akan salah pilih." Byan mengulas senyumnya, kemudian menatap kearahku namun aku segera berpaling menatapnya hingga tatapanku bertemu pada sepasang mata juna yang sedang duduk di sofa sibuk dengan beberapa dokumen di tangannya.
Juna menatapku dengan senyum manisnya, akupun membalas senyumannya.
"Mara, mulai hari ini kau akan menjadi sekretaris pak byan!"
Deg! Jantungku seolah berhenti mendengar ucapan pak arman. Aku merasa bodoh! Mengapa kemarin aku menerima tawarannya. Jika aku tahu ini menyangkut dengan byan!
"Selamat bergabung asmara, aku percaya padamu.." Byan menatapku intens dan penuh tanda tanya dimatanya.
Aku sudah mengiyakan tawaran pak arman. Aku tak mungkin mundur bukan? Aku tak ingin pak arman menjadi sasaran amukan byan. Aku yakin aku bisa dan sanggup menghadapi semua ini. Meskipun aku akan lebih sering bertemu byan.
Kuarahkan tatapan ku pada juna, juna yang sedari tadi terlihat sibukpun mengarah menatapku dan menganggukkan kepalanya pelan seakan memberi kode padaku sebagai tanda setuju.
***
"Mara, ke ruanganku sekarang!" Byan menghubungiku melalui sambungan telepon.
"Baik pak." Jawabku, Byan langsung menutup teleponnya.
"Buatkan aku kopi hitam, jangan terlalu manis dan juga jangan terlalu pahit!"
"Kopi?? Bukankah biasanya bapak dibuatkan oleh OB kantor??
"Mulai hari ini, setiap pagi kau yang membuatkannya."
"Baik pak!" Aku pun segera melangkah ke pantry kantor.
Selang beberapa menit, aku sudah selesai membuat kopi untuknya. Sempat ada rasa kesal di hatiku. Tapi mau bagaimana lagi? Dia adalah boss!
"Pak ini kopinya." Aku hendak keluar ruangan namun byan menahanku.
"Nanti siang temani aku makan."
"Maaf pak, siang ini saya ada janji dengan teman untuk makan siang bersama!" Aku tak peduli, aku langsung menolaknya.
Ini adalah hari pertama aku kerja menjadi sekretarisnya, namun sepertinya dia mengerjaiku.
"Apakah itu bersama juna??"
"Bu..bukan pak." Jawabku gugup. Memangnya kenapa jika dengan juna, batinku. Tidak ada urusan dengannya.
"Jika tidak bisa siang, maka makan malamlah bersamaku!"
"Tapi pak...."
__ADS_1
"Silahkan kembali ke mejamu mara!" Perintah byan seenaknya.
Aku keluar dari ruangan byan, aku mencari-cari keberadaan juna sedari tadi. Namun aku tak menemukannya. Aku langsung mengirim pesan pada juna.
[Dimanakah?]_Asmara
[Ada apa?? Ada masalah mara?]_Juna
[Aku bertanya, mengapa kau balik bertanya?๐ณ]_Asmara
[Aku sedang cuty]_Juna
[Apa?? Berapa hari? Mengapa tidak memberitahuku?]_Asmara
[*Hanya 2 hari saja. Apakah kau rindu??]_Juna
[Huh! Dasar Kau terlalu prcaya diri!.๐คจ]_Asmara
[Aku fikir kau merindukanku mara, tenanglah hanya 2 hari aku takkan meninggalkanmu dalam waktu yang lama*]_Juna
Aku tak membalas lagi pesan dari juna. Aku merasa ada gejolak aneh dihatiku. Sekedar berkirim pesan saja perasaanku aneh begini. Padahal biasanya tak begini.
***
Di lain tempat, juna menemui ibu aisyah dan menjemputnya untuk ikut ke rumahnya.
"Juna? Apakah kau yakin?" Tanya bu aisyah untuk meyakinkan pilihan juna.
"Aku sangat yakin bu.."
"Baiklah, bissmillah ya nak.."
"Iya bu.."
Juna melajukan mobilnya. Segala sesuatu yang dibutuhkan sudah dipersiapkan oleh juna dan dibantu bu aisyah.
Setelah semua keperluannya selesai, juna dan bu aisyah segera melangkah menuju rumah yang akan didatangi.
"Assalamualaikum...." Juna mengetuk pintu rumah asmara.
"Waalaikumsalam.." Ibu asmara membuka pintu rumah dan mempersilahkan juna juga bi aisyah masuk.
"Bu, ini ibunya asmara.." Juna memperkenalkan aisyah juga kamila.
"Saya aisyah, senang bertemu anda bu mila?" Aisyah mengulurkan tangannya.
"Saya kamila.. Terimakasih sudah mau berkunjung ke rumah kami." Kamila menerima uluran tangan bu aisyah.
Kamila membuatkan dua gelas teh hangat serta beberapa potong kue dan camilan untuk tamunya hari ini. Kedatangan juna dan ibu aisyah diterima baik oleh kamila. Namun ini semua tanpa sepengetahuan asmara.
"Jadi begini bu, niat saya kemari ingin membicarakan masalah hubungan juna dan asmara..
Aku sebagai orang tua juna, mengharap restu darimu. Aku meminta puterimu untuk puteraku juna..." Bu aisyah secara to the point membuka percakapan.
"Aku hanya memiliki bu aisyah, jadi maaf jika aku tidak membawa siapapun selain beliau bu.." Lanjut juna dengan nada sedikit lirih.
"Sekarang kamu juga punya ibu nak, jangan bersedih... Ibu sangat berharap hubunganmu dengan mara akan berujung ke jenjang yang lebih serius. Ibu merestui kalian nak.." Kamila melanjutkan berusaha mengungkapkan keinginannya.
__ADS_1
"Terimakasih bu, setelah imendapat izin dari ibu aku akan mengungkapkan perasaanku pada mara.."
Pembicaraan mereka akhirnya selesai selama dua jam. Tanpa panjangblebar dan tanpa penolakan. Akhirnya ibu asmara mengizinkan juna untuk lebih dekat dengan asmara. Namun itu semua kembali lagi pada asmara, ibunya mendukung semua keputusan asmara.