
Satu bulan kemudian...
Setelah masa iddah agatha selesai. Keluarga malik menemui keluarga agatha.
Afrizal menarik nafas panjangnya, ia melihat kearah putrinya agatha. Agatha hanya menunduk tak menjawab apapun.
"Atha, fikirkan lagi nak? Kami semua menunggu keputusan mu." Afrizal menatap lekat kearah agatha dan bergantian menatap kearah byan.
"Tha, semua orang disini menyetujui jika kita menikah. Abi, umi dan juga om afrizal sudah setuju. Aku berharap kamu memiliki tujuan yang sama dengan kami." Byan mengeluarkan suaranya.
"Tha, umi sangat berharap..." Andryani menyambung ucapan byan. Sementara malik hanya menganggukkan kepalanya pelan, tak mengucapkan apa-apa.
"Life is a choice, semua keputusan ada ditanganmu tha.." Byan menatap lekat agatha, agatha mengangkat kepalanya tegak.
"Life is a choice? Kamu bilang begitu? Baiklah..." Agatha menarik nafasnya panjang. "Aku memilih untuk tidak menikah denganmu byan."
Sontak semua terkejut mendengar keputusan agatha.
"Agatha????" Andryani menatap menantunya heran penuh tanya.
Semua terdiam, tak ada lagi suara di dalam ruangan ini. Semua sudah mendengar keputusan agatha. Namun byan tetap berusaha meyakinkan agatha kembali.
Hari ini keluarga byan datang kerumah agatha untuk melamarnya. Semua berkumpul di ruangan tamu. Semua sudah setuju untuk menikahkan agatha dengan byan.. Terkecuali agatha.
Afrizal, malik dan juga andryani saling menatap. Kini mereka bertiga menonggalkan ruangan itu meninggalkan agatha dan juga byan.
"Tha? Mungkin kamu perlu berfikir terlebih dahulu.. Aku tahu ini semua bukan dari hatimu, alu tahu kamu mencintaiku tha.. Aku mohon tha, percaya padaku. Perasaanku padamu ini tulus.." Byan memohon pada agatha dengan menatap lekat kedua matanya.
"Kau tak pernah lelah ya?? Ini kedua kalinya aku menolakmu! Tapi kau tak menyerah juga?? Aku tidak mencintaimu byan." Agatha bersikeras.
"Tha? apa karena wanita itu?? Kau jadi berubah fikiran??" Byan bermaksud membahas asmara.
"Tidak, bukan karena dia. Tapi karena ini adalah pilihanku sendiri. Aku ingin sendiri dulu..."
"Tha... Aku menyayangimu tha, aku mohon!!"
"Apa kau tidak malu?? Apa kata orang-orang diluaran sana nanti?? Kau adalah seorang jejaka, sedangkan aku.... Aku ini janda byan!! Apalagi aku adalah seorang janda dari kakakmu sendiri!! Harusnya kau pahami itu!"
"Aku tidak peduli dengan statusmu tha! Aku hanya menginginkanmu! Aku tak mempedulikan orang diluaran sana!!"
"Byan, tolong hargai keputusanku. Aku mohon lupakanlah aku.." Agatha mulai menitikkan air matanya.
Byan beranjak dari duduknya, ia langsung memeluk erat tubuh agatha..
__ADS_1
"Aku menyesal telah melukaimu tha, aku mohon berikan aku lesempatan untuk perbaiki semua kesalahanku. Aku akan membahagiakanmu tha.."
"Lepaskan aku byan!!" Sekuat tenaga agatha mencoba memberontak namun byan tak melepaskan pelukannya.
"Tha, menikahlah denganku..." Byan berkata lirih.
Agatha menganggukkan kepalanya pelan,
Akhirnya agathapun menyetujui keinginan byan. Hingga tangisan agatha pecah dipelukan byan...
***
🍒Asmara
Beberapa bulan belakangan ini, Aku tak pernah melihat byan lagi. Yang biasanya ia mengunjungi perusahaannya di jogja sekali atau dua kali dalam seminggu, namun kini tak nampak lagi.
Asmara sudah mencoba sebisa mungkin untuk meluopkan dan menghilangkan ingatanku tentang byan, namun hingga sekarang aku belum mampu melakukannya.
Hari ini sepulang dari kampus, aku berniat hendak berbelanja kebutuhan bulanan di supermarket dekat kantor. Selama ini memang ibuku yang berbelanja kebutuhan rumah di pasar tradisional, namun terkadang aku juga membantu ibu memenuhi kebutuhan rumah.
Saat ini usaha catering ibu sudah lumayan membaik, kini ibu sudah memiliki dua orang karyawan yang sering membantunya.
Meskipun tanpa bantuan dari seorang ayah, yang entah kemana perginya saat ini. Ibu mampu bangkit dari keterpurukannya. Harusnya aku bisa seperti ibu. Tapi perasaanku saat ini masuh sama, masih tak bisa menghilangkan byan dari hatiku. Padahal sangat jelas, byan sudah menolakku, mungkin sekarang byan sudah bersama agatha dan bahagia di jakarta. Aku yang terlalu bodoh masih terus mengharapkannya.
"Asmara??" Suara yang tak aaing memanggilku.
"Pak juna??" Kusimpulkan sedikit senyuman menyapanya.
"Ternyata kau ada disini.."
"Iya pak. Bapak juga disini. Bapak ingin membeli apa?" Tanyaku berbasa-basi.
"Aku sedang belanja bulanan kebutuhan rumahku."
"Oh, sama aku juga belanja bulanan pak."
"Apa tak keberatan jika kita belanja bersama??" Juna menatap kearahku. Entah mengapa juna meminta persetujuan seperti itu.
"Boleh pak." Jawabku seadanya.
Aku hendak mengambil sebuah botol minuman, ketika aku meraihnya tangan junapun juga meraihnya. Hingga tangan juna berada diatas tanganku.
"Oh, maaf mara. Aku akan mengambil yang lain.." Juna menarik tangannya menuju kearah minuman yang lain.
__ADS_1
"Tak apa pak, i.. ini buat bapak saja." Aku merasa tak enak hati. Mengapa fikiran kami menginginkan minuman yang sama dan minuman itu tinggal satu-satunya.
"Tidak mara, aku akan mencari yang lain. Ambilah untukmu saja.."
"Ah, aku juga tak ingin ini. Aku ambil yang lain saja pak!"
"Lah mengapa mara? minuman ini tinggal satu saja. Nanti diambil orang bagaimana?? Jangan sampai kau menyesal." Juna sedikit tersenyum. Akhir-akhir ini juna memang sering menunjukkan senyumannya padaku. Tak seperti dulu dia teramat jutek dan datar.
"Tak apa, aku sudah merelakannya jika diambil orang lain. Masih banyak yang lain yang bisa ku pilih.. Akupun merasa tak adil pada bapak. Lebih baik aku mengambil yang lain saja. Biarlah itu untuk orang lain!"
"Emm, baiklah... Biarkan saja minuman itu diambil orang. Mungkin orang lain lebih membutuhkannya dibandingkan ddngan kita!"
"Ya pak juna benar, serahkan saja pada yang lebih membutuhkan. Jangan bersikap rakus..."
"Rakus?? Haha kau ini mara, ada-ada saja!"
Kamipun saling menatap dan melontarkan tawa bersama..
Hanya karena sebotol minuman, kami membahas hal ini. Hal yang menurutku mengarah pada perasaanku sendiri. Aku tahu kau sudah bahagia dengan agatha byan. Tapi maafkan aku jika aku belum bisa melupakan dirimu hingga saat ini.
Aku hanya memendamnya rapat-rapat di dalam hatiku.
Setelah selesai berbelanja, juna menawarkan dirinya untuk mengantarkanku pulang. Aku tak enak menolaknya hingga akupun menyetujuinya.
Juna menyalakan radio di mobilnya. Hingga terdengar lagu mellow mengiringi kesunyian di dalam mobil.
"Mara, bagaimana perasaanmu saat ini??" Juna membuka suaranya.
"Perasaanku baik-baik saja pak."
"Apakah perasaanmu masih sama kepadanya??"
"Kepada siapa pak?"
"Kepada pak byan! memangnya kepada siapa lagi? Tak mungkin jika kepadaku bukan??"
Kenapa juna membahas hal ini? Dan kenapa dia mengaitkan perasanku pada byan juga padanya? Aku tak mengerti.
"Maaf pak, aku sampai sekarang belum bisa melupakannya. Ternyata itu semua tak mudah. Berbicara iti sangat mudah, dan tindakan itu sangat sulit!" Entah mengapa aku memberanikan diri jujur padanya. Padahal aku tak pernah seperti ini. Memberitahu isi hatiku pada orang lain.
"Hmmm... Kau butuh cara lain agar bisa melupakannya mara!."
"Cara lain? Maksud bapak? Cara apa?"
__ADS_1
"Cara yang benar-benar bisa membantumu melupakannya."
"Itu semua tak mudah pak...." Mataku kian memerah, ingatanku mulai kembali pada byan. Semakin dilupakan, maka perasaan itu malah semakin jelas dan kenanganku bersama byan malah semakin berputar-putar diotakku.