Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Alasan Asmara


__ADS_3

FLASH BACK ON


Chayra menemuiku saat aku hendak pergi ke kampus, aku tak tahu apa tujuan dia datang. Hatiku merasa was-was, ada angin apa dia kemari?


"Chay..." Aku mulai menyapanya, sedikit senyum terpaksa aku keluarkan.


"Hai, mara kau ada waktu??" Tanya chayra yang semakin mendekat kearahku.


"Tentu." Jawabku singkat.


"Kita ke cafe sebrang kampus.. Ayo.." Chayra berjalan lebih dulu, sedangkan aku mengekorinya pelan.


Setibanya di cafe, chayra memesan dua minuman dingin. Satu cup diberikannya padaku.


"Ada hal yang ingin kau katakan?" Tanyaku menebak.


"Ternyata kau pandai dalam menebak. Ck, pantas saja kak juna begitu menyukaimu." Chayra berdecak, nampak sedikit kekesalan di wajahnya.


"Apa yang ingin kau katakan?" Aku tak mau lagi berbasa-basi pada chayra. Aku merasa chayra memiliki gelagat yang aneh saat bersama juna.


"Hmm baiklah, kau sungguh tak sabar rupanya. Aku hanya ingin mengatakan jika juna sangatlah mencintaimu.. Kau sungguh wanita yang beruntung mara." Mata chayra menatapku dengan tatapan tak wajar.


Aku masih terdiam menanggapi celotehannya, hingga akhirnya chayra melanjutkan... "Kak juna adalah orang terbaik yang pernah ku kenal, dia santun kepada siapapun, dia sangat menghormati wanita, dan dia adalah seseorang lelaki tegas. Kau sangat beruntung mara..."


"Aku pun merasa begitu.." Ucapku membalas tatapan chayra.


"Tapi apakah kau tahu, ada hati wanita yang tersakiti karena keberuntunganmu itu??" Chayra makin memperdalam tatapannya padaku, dapat aku lihat mata chayra yang mulai berkaca-kaca.


"Maksudmu?" Aku tak mengerti apa yang dikatakan chayra.


"Aku dan kak juna sudah lama mengenal, aku dan dia sudah sangat dekat. Kedekatan kami bukan hanya sebatas teman, kau tahu itu kan??"


Chayra menghela nafas panjangnya... "Aku mencintai kak juna, sangat dan sangat mencintainya. Namun dia lebih memilihmu dari pada aku, tak adil bukan??"


Deg!! Ternyata benar dugaanku selama ini, chayra memiliki perasaan yang berbeda terhadap juna. Bukan hanya menganggapnya seorang kakak.


"Mara, aku yang slalunada untuk kak juna, aku yang lebih dulu mengenalnya, aku mara bukan kamu! Mara.. tak bisakah kau pergi meninggalkan kami? Tak bisakah kau memberikan kesempatan untukku?"


Hatiku tersayat mendengar ucapan chayra, jadi selama ini chayra....


"Apakah aku egois mara jika meminta kak juna darimu? Hatiku selalu sakit jika melihat kalian bersama.."


"Chay aku....."


Tak ada lagi yang bisa kukatakan, aku tahu bagaimana perasaan chayra, aku pernah mengalaminya ketika byan lebih memilih agatha daripada aku. Apakah kali ini aku harus merelakan juna juga untuk wanita lain?? Tidak... Aku tak ingin itu.


"Mara, aku tahu kau takkan sanggu melepaskan kak juna. Sama halnya sepertiku.. Maaf akuntelah mengganggumu, aku hanya ingin kau mengetahui jika ada wanita lain yang lebih mencintai juna."

__ADS_1


Chayra berlalu pergi meninggalkanku sendiri. Aku terus saja memikirkan ucapan chayra tadi. Aku harus bagaimana?? Apa yang harus aku lakukan??


Shiiiitttttt! Sebuah mobil sedan melaju kencang hingga menabrak tubuhku. Tubuhku Pun terlempar hingga beberapa meter.


Dapat aku rasakan sakit pada seluruh tubuhku, hingga kepalaku yang terus berdenyut hebat.


Semoat terdengar suara orang yang menghampiriku dan mencoba membangunkanku. Namun setelah itu, aku tak tahu lagi apa yang terjadi.


***


Entah sudah berapa hari aku tak bangun, ketika aku tersadar aku merasa tempatku saat ini sangat asing. Ku tengokkan pandanganku kesegala arah penjuru ruangan, namun tak ku temukan orang lain. Aku mencoba meraih gelaa yang berada di atas nakas, badanku teramat sakit saat ku gerakkan hingga tanganku tak mampu meraih gelas yang berisi air putih itu.


Praang.....!!! Gelasnya pun terjatuh, aku mencoba memanggil nama ibu namun tak ada sahutan apapun darinya.


"Bu......" Lirihku dengan menangis menahan sakit juga merasakan tenggorokan yang amat kering seperti orang yang sudah berpuasa beberapa hari.


Ceklek! Pintu kamar dibuka oleh seseorang.


"Mara...." Sosok pria membantuku, hingga ia berlari mengambilkan air minum kemasan untukku. "Ini, minumlah...." Ia membantuku bangun.


"A...ayah..." Aku tak pernah menyangka akan bertemu ayah disini yang aku sendiri tak tahu keberadaanku sedang ada dimana.


"Mara, jangan terlalu banyak bergerak nak kau masih harus beristirahat.."


"Aku... Ada dimana?"


"Kau berada dirumah ayah. Maafkan ayah nak.. Ayah sangat merindukanmu nak." Hingga ayah memeluk tubuhku.


"Mara, ini rumah ayah dan ini juga rumahmu."


"Aku ingin bertemu ibu.."


"Mara, jauh-jauh ayah membawamu kemari agar kau bisa dekat dengan ayah. Kau akan kuliah disini bersama ayah nak.."


"Apa?? Tidak!! Aku tidak mau aku harus menemui ibu dan randy."


"Istirahatlah nak, ayah akan pergi sebentar."


Hingga ayah memanggil dua orang wanita untuk menjagaku. Aku hanya terdiam, tak mau melakukan apapun. Beberapa kali wanita paruh baya itu memberikan makanan kepadaku, namun aku menolaknya. Yang kupikirkan hanyalah ingin pulang.


***


Hari-hariku begitu sepi, ayah memberikanku sebuah apartement dan mencarikanku sebuah pekerjaan di perusahaan temannya.


Aku sendiri tak mau berkuliah di korea. Hingga ayah mengalah dan mencarikanku pekerjaan.


Hidup hampir satu bulan di sana sangatlah tak mudah. Aku harus menyesuaikan diri lagi.

__ADS_1


Belum lagi terhadap istri baru ayah, aku bahkan muak melihat perlakuannya padaku.


Hingga aku memutuskan untuk tinggal terpisah.


Andai saja ayah tak meninggalkan ibu, pasti kami akan hidup lebih bahagia.


Tapi sudahlah, mungkin ibu tak berjodoh dengan ayah. Hingga tuhan memisahkan mereka berdua.


Meskipun hidup sederhana bersama ibu, namun aku merasa sudah lebih dari cukup dan bahagia.


Tidak dengan ketika tinggal bersama ayah di korea, meski aku diberi apartement mewah, namun hidupku terasa sepi dan hampa.


Ayah, maafkan aku....


Aku lebih memilih hidup bersama ibu. Aku berharap ayah bahagia disana dengan kehidupan baru.


Aku harap, ayah tidak lagi membawaku secara diam-diam.


Untuk kali ini, aku akan menutupi masalah ini dari ibu maupun juna. Aku tak ingin mereka mengkhawatirkanku.


FLASH BACK OF


"Mara, apa yang mau fikirkan?" Ibu tiba-yiba membuyarkan lamunanku.


"Ibu...."


"Ayo kita sarapan sudah lama bukan kita tidak makan bersama?"


"Iya bu..."


"Hari ini kau akan kembali kuliah nak?"


"Belum bu, aku masih ingin beristirahat di rumah dulu."


"Emmm baiklah, untuk saran saja.. Lebih baik segera kembali ke kampus nak... Bukankah kau berjanji pada juna akan lulus tahun ini? Kau ingat bukan pada janjimu?"


"Iya bu.. Aku ingat bahkan janji itu tak akan pernah aku lupakan. Ibu jangan khawatir.."


"Baiklah nak, segera sandang gelarmu sebagai seorang sarjana. Lalu, raihlah gelar barumu sebagai seorang istri..."


"Ibu, sepertinya ibu menginginkanku segera menikah. Apakah ibu bosan memiliki putri sepertiku?"


"Nak, kau butuh seseorang yang harus siap menjagamu. Kau butuh pendewasaan lebih.. Ditambah lagi juna adalah pria yang baik. Ibu sangat menyukainya. Ibu sudah menganggap juna sebagai bagian dari keluarga kita. Kau tentu tidak mau bukan jika juna diambil orang lain?"


"Ibu.. Mengapa berkata seperti itu..... Tentu saja aku tak mau jika juna bersama wanita lain. Ibu tenang saja ya.."


Tanpa sepengetahuanku, ternyata ibu sedang memancingku untuk memgetahui perasaanku saat ini pada juna. Dan ternyata juna sudah ada tepat di belakangku mendengar ucapan kami..

__ADS_1


"Aku boleh ikut sarapan bersama?" Suara juna sangat mengagetkanku.


"Mas juna......" Dengan tampang melongo aku menyaksikan kehadirannya. Aku menelan salivaku, huft! Apakah juna mendengar percakapanku dan ibu tadi? Sejak kapan dia ada disini?


__ADS_2