
Resepsi dan pesta pernikahan agatha dan rayhan telah selesai, hingga jam 10 malam.
Sepasang pengantin baru itu menuju kelantai dua tepatnya kamar agatha yang dijadikan sebagai kamar pengantin. Agatha dan rayhan memang sepakat untuk melakukan pesta pernikahan secara sederhana dan hanya dilakukan dirumah saja.
Agatha menyusuri anak tangga menuju kamarnya, disusul rayhan yang berjalan mengekorinya dari belakang. Setelah masuk kedalam kamar agatha terdiam mendengar suara pintu dibuka.
"Mas rey? kenapa mas kemari?" Agatha berbalik melihat rayhan yang sudah berdiri diambang pintu.
"What?? Lalu aku harus kemana tha?" sembari menutup pintu kembali, reyhan mengarah langsung kekamar mandi.
"Mas...." Agatha terdiam duduk disofa sebelah ranjang tidurnya. Dilihatnya ranjang tidur sudah dihiasi dengan bunga-bunga cantik. Serta kelopak bunga mawar yang berbentuk hatipun sudah terhias disana.
Agatha sudah merasa gerah dengan gaun pesta yang dipakainya. Setelah melepas beberapa riasan dirambutnya, agatha langsung mencoba melepaskan gaun pestanya itu. Namun agatha tak bisa membuka resleting yang sangat susah untuk dibukanya.
Setelah berlangsung selama 10 menit, agatha lelah dengan permainannya dengan resleting gaun. Resleting itu sudah setengah terbuka namun entah apa yang membuatnya macet.
Dari ambang pintung kamar mandi, rayhan menatap lucu istrinya itu. Tak sadar jika suaminya sudah selesai mandi, agatha terkejut dengan sentuhan yang terasa dingin dipunggungnya.
"Mas....??" Agatha membelalakkan matanya. Ditatapnya rayhan hanya menggunakan kaos oblong putih dengan celana pendek. Rambut yang masih terlihat segar dengan beberapa tetesan sisa air, menambah ketampanan rayhan semakin mempesona.
"Biar aku bantu..." Rayhan mencoba menurunkan resleting gaun agatha.
"Terimakasih....." Agatha langsung berdiri dan segera beranjak Cepat menuju kamar mandi dengan tangan yang terus memegangi gaunnya yang sedikit melorot.
Rayhan hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan itu.
Setelah 30 menit lebih agatha selesai mandi, ia sengaja berlama-lama didalam kamar mandi dengan merendam diri. Berharap jika ia keluar rayhan sudah terlelap.
Agatha membuka pintu kamar mandi secara perlahan, tak ingin mengeluarkan suara sedikitpun. Dengan menggunakan bathrobe pink andalannya, agatha keluar mengendap-endap. Diraihnya baju tidur didalam lemari, dengan perlahan ia membukanya.
Diliriknya kearah sofa, rayhan yang sudah berbaring.
"Apakah wanita mandi selama ini?" Rayhan berbalik arah menatap agatha.
"Oh... tidak mas, aku hanya berendam tubuhku pegal-pegal." Agatha dengan wajah semu merahnya, tak menyangka jika rayhan masih belum tidur.
"Sudah ambil wudhu? bahkan kita belum shalat isya?" Rayhan menuju lemari mengambil kemeja koko dan sarung serta menggelar sajadah.
"Sudah mas! Tunggu sebentar.." Agatha langsung berlari kekamar mandi untuk mengganti baju tidurnya.
"Bahkan memgganti baju saja masih dikamar mandi. Aku ini suamimu tha.. Mungkin agatha butuh waktu.. Aku harus sabar.." Batin rayhan.
Setelah beberapa saat, mereka melakukan shalat berjamaah. Shalat pertama yang khusyu bersama pasangannya.
Hingga diahir salam, rayhan menoleh kebelakang mengarahkan tangannya pada istrinya itu. Agatha pun menyambut tangan rayhan dan menyalaminya.
Hingga rayhan mendekatkan bibornya kepuncak kening agatha.
Wajah agatha semakin bersemu merah. Dengan cepat ia melipat mukena yang digunakannya.
__ADS_1
"Sangat menggemaskan..." Batin rayhan.
Rayhan merapikan pakaian shalatnya, kemudian menyusul agatha yang telah berbaring ditempat tidur dengan ditutupi selimut membelakanginya.
Saat mendengar rayhan mendudukkan dirinya diranjang yang sama, agatha langsung berbalik arah.
"Mas...? Mau apa?" Tanyanya dengan seluruh tubuh yang tertutup rapat dengan selimut. Hanya terlihat wajahnya saja yang seperti memakai hoodie.
"Mau tidur." Jawab rayhan cepat serta membaringkan tubuhnya disebelah agatha.
"Mas..!!!" Teriak agatha dengan mata yang membulat
"Kenapa sayang?" Rayhan malah menggoda agatha. Menurutnya wajah agatha saat ini semakin gemas baginya.
"Mas jangan tidur disini!" perintah agatha.
"Lah? lalu mas tidur dimana sayang..." Rayunya lagi.
"Terserah, mas mau tidur dimana.." jawab agatha dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tha.. Kamu lupa kalau kita sudah menikah?" Tanya rayhan.
"Aku tidak lupa. Hanya saja aku belum terbiasa.." Jawab agatha perlahan.
"Karena tak terbiasa, makanya aku akan mulai membiasakannya.." Lirih rayhan mendekati agatha.
"Mas.....Stooppp!!!" Agatha menahan tubuh rayhan yang mulai mendekat.
"Mas. Aku akan tidur di ruang tamu saja..!" Agatha membangunkan tubuhnya hendak turun dari ranjang namun rayhan segera mencegahnya.
"Baiklah.. Aku akan tidur disofa. Todak baik jika kita berpisah kamar. Apa nanti penilaian ayah dan orang-orang diluar sana." Rayhan langsung menurunkan tubuhnya dari ranjang. Mengambil bantal menuju sofa.
"Emm.. maaf mas rey." Lirih agatha merasa bersalah. Namun agatha belum benar-benar siap jika harus tidur berdua dengan pria yang masih asing baginya. Meskipun kini sudah menjadi suaminya.
"Kau jangan takut, aku takkan mengganggumu. Beristirahatlah tha..Selamat malam." Rayhan mematikan lampu kamar. Kemudian membaringkan rubuhnya di sofa.
Agatha benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak. Dia terus membolak-balikkan tubuhnya diranjang. Sesekali ia menatap kearah rayhan disana.
Agatha benar-benar lelah dengan tubuhnya. Hingga ia merasakan sesuatu yang ganjil. Agatha perlahan menuju kamar mandi. Benar saja tubuhnya pegal-pegal tidak jelas. Ternyata tamu bulanannya datang. Tamu yang tak diundang.
Saat membuka pintu, agatha sontak terkejut dengan sosok didepannya.
"Huuuuaaa!!!!!" Agatha terkejut rayhan sangat mengagetkannya.
"Ada apa tha?" Tanya rayhan dengan senyum bahagia melihat wajah istrinya yang menggemaskan.
"Mas ngapain sih malam-malam disini. mas mengikutiku ya?" Rutuk agatha kesal.
"Aku mau kekamar mandi tha.. Memangnya tidak boleh?" Jawab rayhan menahan tawanya.
__ADS_1
"Sangat mengesalkan!" Agatha berlalu menuju ranjang tidurnya.
"Galak sekali istriku ini... Untung saja aku cinta.." Lirih rayhan namun masih dapat didengar agatha.
Agatha yang tadinya kesal, kini wajahnya bersemu merah dengan senyum tipis yang disembunyikannya dibalik selimut.
***
Sementara di apartrment byan, mara masih tertidur lelap. Sangat nyaman mungkin dia tidur di ranjang king size milik byan. Yah, maklum saja dirumahnya ranjangnya tak seempuk ini.
"Eughhhhhhhh" Aku meregangkan otot-ototku. Kutatap jam dinding sudah setengah 12 malam.
"Ya ampunnnnnnn... Mara!" Aku merutuki diri sendiri.
Kucari keberadaan mas byan disetiap sudut ruangan. Namun tak kutemukan. Aku beranjak keluar kamarnya. Kulihat dia sedang menonton siaran di televisi yang sedang tayang saat ini.
"Mas byan?" Lirihku memanggilnya.
"Mara.. Kau sudah bangun?" Tanya byan menoleh ke arahku.
"Mengapa mas tak membangunkanku?" Gerutuku sambil duduk disebelahnya.
"Aku sudah membangunkanmu beberapa kali." Jawabnya dengan masih fokilus pada siaran televisi.
"Aku tak merasa kau membangunkanku mas.." Responku cepat.
"Karena kau tidur pulas." Jawabnya cepat.
"Mas kau menonton tayangan apa? Serius sekali?" Aku melihat tayangan sebuah pesta pernikahan. Ya tayangan ulang yang tadi sempat kulihat.
"Apa wanita itu sangat berarti bagimu mas?" Tanyaku sungguh ingin tahu. Namun byan masih diam. Dia masih terlihat fokus pada televisi.
"Mas? Sungguh beruntung sekali dia bisa mendapatkan dua hati kakak beradik! Sangat hebat!"
"Cukup mara!" Byan kini menatapku meninggikan nada suaranya.
"Kau marah, apakah kau masih mencintainya yang jelas-jelas sudah menjadi kakak iparmu!!" Aku tak mau kalah.
"Mara........." Byan mengatur nafasnya panjang.
"Mas? Jika dia mencintaimu dia pasti memilihmu! Bukan menyakitimu dengan menikahi kakakmu!" Aku sudah mulai emosi menghadapi byan. Tak pernah ternilai baginya diriku selama ini.
"Cukup maraaaa!!!!" Byan meninggikan lagi nada bicaranya.
"Mas, lihat aku? Apakah aku tak pantas denganmu? Apakah kehadiranku selama ini tak berarti bagimu?" Aku sudah mulai menitikkan air bening disudut mataku. Namun byan kali ini tak menatapku.
"Mas, aku ini apa bagimu?" Aku sungguh menginginkan penjelasan darinya.
"Cukup mara! Jangan menambah kepalaku jadi semakin berat!" Byan kini beranjak meninggalkanku. Ia menuju kearah kamarnya.
__ADS_1
Benar-benar tak berarti apapun diriku ini bagi byan! Tapi aku masih saja mengharapkannya. Mara... Mara... Tidak harus seperti ini juga jika mengejar cinta!