Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Talak


__ADS_3

"Mara! Asmara......!" Suara umi andryani berteriak memanggilku, rasanya memecahkan telinga.


"Mara!" Umi andryani mendobrak pintu kamar dengan wajah marahnya.


"U...umi.." Aku yang masih terbaring diranjang pun sontak terkejut atas kedatangan umi ke apartement.


"Keterlaluan ya kamu! Kamu bisa-bisanya tidur, sementara diluar byan sedang berjuang mencari bintang!" Umi andryani tiba-tiba datang dan langsung mengomeliku.


"Umi, aku sedang tidak enak badan..." Jawabku dengan lesu. Tapi memang benar saat ini tubuhku sedang demam.


"Umi.. Ada apa?" Byan datang menghampiri uminya.


"Lihat saja kelakuan istrimu! Dia dengan mudah bisa tertidur pulas! Sementara kamu susah payah mencari bintang! Istri macam apa dia byan! Oh, umi tahu bintang bukan anaknya, jadi dia tak peduli."


"Mas, aku...." Aku berusaha menjelaskan kepada byan, namun rasanya mulutku ini tertahan. Menjelaskan pun percuma, saat aku melihat tatapan byan padaku. Tatapan marah dan kecewa, tatapan yang mengatakan jika byan benar-benar tak mempercayaiku.


"Byan, umi tak mengerti mengapa kamu bisa betah bersamanya! Dia sangat berbeda dengan agatha! Lihat saja, dia tak bisa merawat diri, apalagi merawatmu. Andai saja agatha masih ada..."


"Istri macam apa kamu ini, apa kamu memang sengaja membuat bintang pergi haa??? Apa kamu adalah seorang ibu tiri yang jahat??"


"Umi, sudah jangan berkata seperti itu.. Ini urusan rumah tangga byan, biar byan yang menangani" Byan berkata dingin, aku dapat melihat byan mengepalkan kedua telapak tangannya.


Sementara aku hanya menangis menerima perkataan umi andryani. Ucapannya begitu menusuk hatiku. Bagaimana mungkin umi bisa menuduhku seperti ini. Kemana perginya sikap lembut dan baik hati umi selama ini?


Umi andryani melangkah keluar dari kamar, diikuti byan dibelakangnya.


Sementara di luar, byan bersama andryani tengah bicara.


"Byan, bagaimana? Apakah sudah ada kabar tentang bintang?"


"Belum umi, polisi belum memberi kabar. Umi tenang saja, byan sudah menyuruh orang-orang byan."


"Cucuku.... Bagaimana keadaannya saat ini..."


Andryani menangis tersedu, sungguh sangat berat rasanya jika ia kehilangan cucu kesayangannya itu.


"Umi sabar, byan akan berusaha untuk mencari bintang.."


"Ini semua gara-gara wanita itu, jika bintang tidak ditemukan maka kamu harus menceraikan dia byan!"


"Umi, mengapa harus seperti itu? Itu tidak benar. Kita akan menemukan bintang umi."


"Byan, terlihat bukan jika dia amat egois? Dia tidak pernah menyayangi bintang dengan tulus. Dia menginginkan bintang pergi byan."


"Umi, mara tidak seperti itu..."

__ADS_1


"Byan, apakah kamu tidak berfikir jika ini adalah rencana jahatnya? Dia mungkin balas dendam pada agatha. Dia hanya menginginkanmu, tapi dia tidak menginginkan bintang!"


Sejenak byan terdiam, ia mencerna kata-kata uminya. Memang bisa masuk akal, karena sebelumnya mara tidak pernah memintanya untuk pergi keluar bersama. Tapi kemarin, mara mengungkapkan keinginannya itu pada byan.


Dari dalam aku mendengar perdebatan umi andryani dan byan. Aku tahu byan kini sudah terpengaruh oleh ucapan umi. Tapi semua tuduhan umi itu tidak benar.. Aku sangat menyayangi bintang seperti anakku sendiri.


***


Hingga pencarian bintang sudah memakan waktu selama dua minggu. Tak ada tanda-tanda yang ditemukan polisi. Dugaan sementara polisi adalah bintang kemungkinan diculik. Saat ini pun orang-orang suruhan byan belum menemukan jejak kepergian bintang.


Selama kehilangan bintang, byan hanya bisa terus menerus marah dan uring-uringan. Byan selalu melampiaskan kemarahannya padaku. Seperti malam ini, saat byan pulang kerumah sehabis mencari bintang.


"Mas, kau sudah pulang?" Aku menyambutnya, namun ku lihat byan tengah mabuk hingga ia meracau.


"Kau slalu bertanya padaku, apakah aku sudah pulang? Apakah aku sudah makan? Apakah, apakah dan apakah yang lainnya. Tapi kau tak pernah menanyakan itu pada bintang! Apakah benar kata umi jika kau hanya menyayangiku tapi tidak dengan bintang?"


"Mas, apa yang kau katakan? Itu semua tidak benar.." Aku masih bisa menerima ucapan umi andryani, tapi aku tak bisa menerima jika byan yang mengatakannya.


"Mara, jangan munafik.. Akui saja jika kau tak menyayangi bintang!"


"Mas! Itu salah, aku sangat menyayanginya.."


"Kau bohong mara! Kau hanya ingin membalas dendammu pada agatha bukan?"


"Cukup maasss! Kau sangat keterlaluan!"


"Mas, tidak! Itu salah...."


"Kau bahkan tak mau jika ku sentuh....."


"Mas byan aku...."


"Benar bukan? Kenapa kau lakukan ini semua padaku mara? Kau masih mencintai juna?"


"Mas, ini tidak ada kaitannya dengan juna! Tolong hentikan mas...."


"Asmara, hari ini aku menalakmu! Pergilah dari sini!"


"Mas kau sedang emosi! Jangan bicara seperti itu."


"Aku tak sedang emosi. Aku sadar mara, aku sudah menalakmu. Aku akan segera mengurus perceraian kita..."


Enam bulan, hanya berumur enam bulan usia pernikahanku.. Mas byan sudah mengucapkan talaknya untukku. Haruskah nasib wanita seperti ini? Dengan mudahnya lelaki mengucapkan kata talak begitu saja? Tanpa memikirkan perasaan kami para wanita yang menerima sebuah talak.


Segala penjelasan sudah ku sampaikan pada byan. Namun ia tak mau mendengarkanku. Dengan berat hati, aku pun pergi meninggalakannya.

__ADS_1


Aku harus kemana? Apakah aku harus kembali kerumah ibu? Apa ibu akan menerimaku?


Aku membawa barang-barangku dalam satu koper. Aku berniat pulang kerumah ibu, masalah nanti diterima atau tidak itu urusan belakang.


Jam sembilan malam, aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah ibu. Namun kulihat sepertinya ada tamu di rumah karena pintu yang tak tertutup dan sebuah mobil dihalaman rumah.


Aku melangkahkan kaki untuk masuk, karena tubuhku sudah tak tahan dengan cuaca dingin diluar. Aku pun lupa memakai jacket, semua ini karena terburu-buru. Byan terus saja menyuruhku untuk pergi.


Ketika itu pula, tamu di rumah ibu keluar hingga kami pun saling bertemu.


"Mas juna....." Lirihku menyebutkan namanya, aku melihat juna bersama chayra yang berpamitan dengan ibu.


Semua terkejut, entah apa yang ada didalam fikiran mereka. Mungkin mereka semua memikirkan apa yang terjadi padaku, karena kini aku tengah membawa koper.


"Mara apa kabar..." Chayra menyapaku, namun juna hanya tersenyum kecil untuk menyapaku.


"Hay, chayra aku baik.." Timpalku.


"Mara... Ada apa?" Tanya ibu padaku khawatir.


"Ibu..." Aku pun berhambur memeluk ibu dengan tangisan yang tersedu-sedu.


"Bu kamila, kami pamit dulu... Ayo chay.." Juna kini mengeluarkan suaranya, namun ia hanya berkata pada ibu. Entah mengapa hati ini makin sakit mendapat perlakuan juna. Apakah aku sedang berharap ia bertanya padaku?


"Hati-hati nak..." Ibu pun mempersilahkan mereka berdua untuk pulang.


Ku tatap dari kejauhan, juna yang menggandeng tangan chayra. Pegangan yang sangat erat, mataku pun masih tertuju memandangi punggung juna yang kini kian menjauh menuju mobil.


***


"Mungkin ini memang takdirmu mara.. Jangan bersedih terlalu dalam, pulanglah pada ibu. Ibu slalu membuka pintu lebar untuk putri ibu."


"Terimakasih bu..."


"Badanmu sangat panas, ibu akan ambilkan obat untukmu. Istrahatlah nak jangan terlalu banyak berfikir..."


Setelah aku bercerita panjang lebar pada ibu tentang apa yang terjadi, aku merasa semakin tertusuk, ibu masih saja memaafkanku. Padahal selama ini aku tak mendengarkan nasihat ibu terhadapku.


Andai sesal itu tidak ada diakhir, aku pasti takkan memilih jalan hidupku bersama byan. Namun nasi telah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi. Kita tak mungkin kembali lagi pada masa lalu.


🍒Thankyou untuk semua like dan komentarnya ya readers.... Jangan pernah patah semangat!!


Dan jangan lupa, mampir ke karya aku yang kedua ya readers...


Selamat menjalankan ibadah puasa...

__ADS_1



__ADS_2