Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
SMA atau sarjana tidak menjamin kecerdasan seseorang!


__ADS_3

"Ini! Buat excel dengan format yang tertera disini. Masukkan data yang ada disini, jangan sampai salah! Meskipun kau baru pertama bekerja, tapi aku tidak menyukai kesalahan sedikitpun!" Juna menyerahkan beberapa berkas kepada mara.


Mara membuka lembar demi lembar berkas tersebut, ia mulai memainkan jari lentiknya pada keyboard di meja kerjanya.


Aku akan buktikan kalau aku bisa, bisa-bisanya orang-orang ini merendahkanku! Apa memang kebiasaan mereka suka merrndahkan orang lain?


Juna melirik kearah mara yang sudah dua jam bermain dengan keyboard disebelah mejanya.


"Jika ada kesulitan, jangan malu bertanya!" juna berbicara yang hanya dibalas anggukan pelan oleh mara.


Berjam-jam mara menyelesaikan tugas dari seniornya yang terlihat cuek itu..


"Aku sudah selesai pak juna"


"Kau bisa kirim lewat E-mail kepadaku!" Juna tak menyangka junior barunya itu terlalu cepat, apalagi mara baru pertama kali bekerja.


Tanpa bertanya mara segera mengirimkan E-mail.


Juna yang melihat notifikasi E-mail baru segera membukanya.


Benar-benar diluar dugaan, mara tak bertanya alamat email juna tapi dia bisa mengerti.


"Baguslah, aku tak perlu mengeluarkan banyak tenaga hanya untuk mengajarimu" Celoteh juna dalam hati.


Juna memeriksa hasil pekerjaan mara dengan teliti, sungguh tak menyangka. Mara mengerjakannya dengan benar. Bukan hanya cantik, mara juga ternyata pintar. Itulah yang sedang memenuhi pikiran juna.


"Pak arman, dokumen yang anda butuhkan sudah saya kirim ke E-mail anda. Silahkan diperiksa." Juna menghampiri arman yang sibuk dengan ponselnya.


"Bagaimana?? apakah dia bisa?" Arman sedikit berbisik.


"Silahkan anda periksa, itu hasil pekerjaannya pak tanpa sedikitpun saya revisi" Juna kembali ketempat duduknya.

__ADS_1


Dilihatnya mara sedang sibuk menatap layar komputer, Kemeja putih sungguh cocok dikulitnya. Rambut panjangnya yang diikat rapi menampakkan leher jenjang putihnya.


Juna segera kembali pada pekerjaannya, bisa-bisanya dia memikirkan seorang mara.


"Mara,.." Suara lirih memanggilnya, mara segera menengok kebelakang dan memutar kursinya.


"Kak... byan? ehh Pak byan!" mara segera berdiri dari kursinya.


Mendengar mara mengucap nama byan, semua orang didalam ruangan terkejut.. Serentak mereka berdiri kearah mara dan terlihat ada byan yang berdiri didekat mara.


"Siang pak...! (Semua serentak menyapa byan)


Byan hanya menganggukkan kepalanya.


"Mara ikutlah denganku" Byan menuju keluar ruangan dengan Keterangan Devisi purchasing itu.


Mara segera merapihkan mejanya. Tak lupa ia berpamitan pada Juna seniornya dan Arman atasan dari devisi tempat dia bekerja saat ini.


Semua mata tertuju pada mara dan byan. Semua sibuk bertanya-tanya.


"Siapa wanita itu?" Tanya hesty.


"Mungkin mara saudara pak byan" Yongki mengetuk-ngetuk dahinya.


"Apa mungkin? mereka tak terlihat seperti saudara?" Jawab didit


"Kalau dilihat dari berkas lamarannya, mara hanya seorang lulusan SMA" Sambung hesty.


"SMA atau sarjana tidak menjamin kecerdasan seseorang!" Juna menyela perkataan hesty dan terkesan sedikit membela mara.


Semua orang menatap juna, tak biasanya pria yang terkenal cuek itu membela orang lain.

__ADS_1


"Sudah waktunya istirahat, jangan biasakan membuat gossip!" Sambung pak arman sembari meninggalkan ruangan.


***


Di luar sana, disebuah kafe dekat kantor Byan duduk didepan mara sambil menunggu pesanan makanan datang.


"Bagaimana dengan kegiatanmu hari ini? apa kau suka dengan pekerjaanmu?"


"Ah, Aku suka!" Jawab mara.


"Apa kah kau kesulitan? ini pertama kalinya bagimu?" Byan menatap mara khawatir.


"Em, sedikit!" mara menjawab sambil mengaduk-aduk jus mangga didepannya.


"Jika kau kesulitan, hubungi aku. Aku akan mencarikan tempat lain yang mungkin kau suka."


"Tak perlu, aku akan belajar perlahan." Jawab mara kaku.


"Apa kau yakin mara?"


"Ya, aku sangat yakin dengan keputusanku.."


"Baiklah,.. jangan pernah sungkan untuk menghubungiku jika kau merasa kesulitan mara."


"Ya,.." Mara hanya menjawab singkat.


Byan tak mau bertanya apapun lagi, mendapat respon mara yang meyakini pendiriannya.


Aku tak mengerti, byan begitu baik kepadaku sejauh ini. perkenalan kamipun baru berlangsung sebulan. Fakta baru yang aku ketahui, Byan begitu tegas dan dingin kepada orang-orang dikantor. Tapi byan menunjukkan sikap ramahnya kepadaku. Aku tak mengerti mengapa sikap byan berbanding terbalik!


Awal pertemuanku dengan byan, dia hanya seorang pria yang bermain bola dilapangan. Sekarang aku tahu jika dia adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja.

__ADS_1


Byan... kau sungguh memenuhi isi pikiranku. Semakin membuatku penasaran..


__ADS_2