Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Wellcome to bali..


__ADS_3

Aku mengekori byan dari belakang, langkah byan semakin santai ketika kami sudah berada di depan sebuah butik. Ya, hari ini byan mengajakku keluar. Karena besok byan akan pergi ke pulau bali untuk rapat bersama relasi bisnisnya. Mungkin byan akan membeli baju atau jas untuk persiapan besok pikirku.


Setelah byan mendapati beberapa potong kemeja dan jas, byan menatap ke arahku.


"Mara, kau juga harus memilih pakaian.. Pilihlah.." Pinta byan padaku.


"Ti..tidak pak, tidak perlu." Jawabku.


"Mara, kau ini sekarang sekretarisku. Kita akan bertemu orang penting. Aku tak ingin dibilang sebagai boss yang tidak memperhatikan sekretarisnya." Jawab byan, byan mendekatkan tangannya yang hendak meraih pundakku. Namun aku segera menghindarinya.


"Apa pak? Kita?? Maksud bapak aku akan ikut ke bali??" Aku membulatkan mata tak percaya.


"Ya tentu saja mara. Kau akan pergi kemanapun aku pergi. Itu salah satu tugas seorang sekretaris bukan?" Byan tersenyum sedikit memicingkan bibirnya, seperti senyum ala devil. 😈 Terlihat kelicikan pada mata byan.


"Tapi pak, bukankah biasanya bapak pergi bersama asisten bapak jika keluar kota?"


"Maksudmu juna??? Hmmm, dengar baik-baik asmara arsytanty. Arjuna wiranata bukan lagi asistenku. Aku sudah menaikkan jabatannya sebagai wakilku. Jadi sekarang, kemanapun aku pergi hanya bersama sekretarisku!" Byan menjelaskan secara gamblang.


Juna sudah menjadi wakil direktur? Mengapa juna tak memberitahuku? Kapan itu terjadi? Banyak sekali hal yang kupikirkan tentang juna. Mungkin juna sedang banyak pekerjaan hingga belum sempat memeberitahuku.


"Tapi pak, saya tak berpengalaman pergi keluar kota.. Ada baiknya jika bapak....."


"Maka dari itu aku mengajakmu, mungkin ini akan menjadi pengalaman pertamamu mara!" Byan melangkah kedepan, kulihat dia memilah beberapa gaun disana. Hingga proses belanjanya selesai. Byan membawa sekitar sepuluh paperbag yang ditentengnya. Haruskah berbelanja pakaian sebanyak ini? Pemborosan sekali, dasar orang kaya! Tentu saja aku bermonolog dalam hati.


Byan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga tiba di depan rumahku. Namun dihalaman rumah sudah terlihat mobil juna.


"Apakah juna sering datang kerumahmu mara?"


Byan menatap kearah mobil juna yang terparkir.


"Iya pak." Jawabku apa adanya.


"Owgh, ambillah ini. Jangan lupa mara, kau harus membawa dan memakainya nanti saat kita ke bali. Terimalah, aku tak suka penolakan. Ini semua kubelikan khusus untukmu mara."


Belum sempat aku menjawab untuk menolak, byan meraih tanganku dan sedikit memaksa hingga aku harus memegang beberapa paperbag. Dasar boss tidak tahu diri!! Pemaksaa!!


Byan melangkahkan kaki menuju kearah rumahku. Sementara aku mengikutinya dari belakang dengan membawa beberapa tentengan.


Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan di dalam rumah. Tapi ketika aku masuk ada juna dan ibu yang sedang duduk juga randy yang sedang berada dipangkuan juna.


"Sudah lama tak bertemu nak byan??.." Ibu menyapa byan dengan ramah.


"Iya bu, aku rindu sekali dengan ibu juga randy." Jawab byan.


"Silahkan duduk nak byan. Tidak disangka, seorang boss mau bergabung dengan bawahannya. Terimakasih karena telah mengayomi asmara dan juga juna." Ibu sangat menghormati tamunya hingga ia harus berbasa-basi.


"Randy kita masuk dulu ya dek.." Pintaku pada randy.


Randy pun turun dari pangkuan juna. Randy sangat lengket pada juna akhir-akhir ini. Aku sebagai kakak kandungnya saja merasa iri.


"Kak mara, tadi randy main kerumah kak juna.. Rumahnya gede bagus banget.. Terus randy dikasih buku gambar.." Randy tersenyum dan meraih tanganku. Akupun menuntunnya menuju ruangan tengah. Ruangan yang selalu kami pakai untuk bersantai atau sekedar menonton televisi.


Terlihat sebuah wajah yang tak baik disana. Wajah byan menunjukkan ketidaksukaannya pada juna.


"Juna? Sepertinya kau sering kemari? Randy saja bisa akrab denganmu.." Byan sepertinya sedang menginterogasi juna.


"Tidak terlalu sering pak, baru-baru ini saja." Jawab juna dengan sopan. Meskipun bukan di kantor tapi juna masih bersikap hormat pada bossnya itu.


"Juna itu sangat pintar sekali mengambil hati randy nak byan, sepertinya juna penyayang anak-anak." Timpal ibu menambahkan.


"Ya.. Tentu saja kita semua sayang pada anak-anak. Yang terpenting itu semua tulus bu! Bukan karena ada udang dibalik batu." Jawab byan sinis sembari mengarah menatap juna. Perkataannya itu tentu saja terdengar tak enak dihati. Ingin rasanya aku memberi bogem padanya!


"Orang baik tentu saja dapat merasakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya sekedar bualan.. Bukan begitu bu?" Juna mengarah pada ibu dengan senyuman kecil.


"Ya tentu saja, anak kecil itu batinnya sensitif!. Jika ada yang tak tulus padanya anak kecil mungkin akan menjauh bahkan menangis. Anak kecil tak mudah dibohongi.." Ibu menjawab dengan senyuman diwajahnya.


Hufttt! Aku dapat bernafas lega. Tentu saja aku yakin ibu akan bisa menengahi ketegangan diantara juna dan byan.


"Bu, karena besok ada pertemuan dengan relasi bisnis di bali maka aku akan mengajak asmara pergi kesana. Aku harap ibu tak keberatan, karena asmara saat ini adalah sekretarisku." Byan seolah mengalihkan pembicaraan.


"Ya, tentu saja. Itu semua ibu serahkan kembali pada mara. Ibu tak mau ikut campur jika menyangkut pekerjaan nak.." Jawab ibu masih dengan kata-kata yang menurutku masuk akal.

__ADS_1


"Terimakasih bu.. Aku izin pamit.." Byan menyalami tangan ibu. Hingga byan melangkah keluar dari rumah.


Setelah kepergiannya, aku langsung menghampiri ibu dan juga juna di ruang tamu.


"Huh, sejak kapan dia mendekatkan diri lagi pada ibu?" Aku masih heran dengan sikap byan. Setelah sekian lama menghilang, kini dia kembali dengan mengakrabi ibu.


"Yah, mungkin saja dia telah menyesal mara." Juna menjawab yang menurutku perkataannya hanya asal-asalan.


"Hmmm, manusia seperti dia tidak akan pernah menyesal!. Kau tak memberitahuku mas mengapa?"


"Aku belum sempat mara, bahkan sejak kemarin baru hari ini kita bertemu bukan?"


"Ada masalah apa mara? Apa yang tidak diberitahu juna? Apakah karena juna sudah naik jabatan sebagai wakil direktur??" Ibu menyambung percakapan kami berdua.


"Jadi ibu tahu? Ternyata mas juna sudah memberitahu ibu? Dasar anak ibu!" Aku mulai merajuk.


Namun ibu dan juna hanya tertawa melihat sikapku. Mereka berdua jadi terlihat kompak.


"Bisa jadi nanti saat aku dan juna menikah, orang akan menganggap jika junalah anak ibu dan aku hanya menantu.."


"Apakah kau sudah tidak sabar ingin menikah ddnganku??" Perkataan juna itu benar-benar memojokkanku. Seakan aku wanita yang ngebet nikah.


"Sudah kalian ngobrol saja dulu, ibu titip randy ya.. Ibu akan pergi pengajian dulu di masjid." Ibupun bersiap dan pergi pengajian.


Kini aku dan juna menemani randy sedang menggambar dan mewarnai di ruangan tengah.


"Besok aku akan ke bali bersama boss, kau tak keberatan mas?" Aku mencoba mengusik juna yang sedang asyik membantu randy mewarnai gambarnya.


"Emm, tentu saja tidak! Aku yakin calon istriku ini adalah seorang sekretaris yang akan bersikap profesional. Tidak akan mencampurkan masalah pribadi didalam pekerjaan." Jawab juna, kini juna mengarah menatap diriku.


"Kau tak cemburu?" Aku sangat penasaran dengan fikiran dan perasaan juna saat ini.


"Tidak, aku sangat percaya padamu mara.."


"Terimakasih sudah mempercayaiku.. Aku takkan menghianatimu mas.." Jawabku sembari tersenyum menatap juna. Mata juna yang tak berpindah menatapku lekat sedari tadi membuat diriku menjadi salah tingkah. Begini salah, begitu juga salah


Tangan juna kini menyentuh helaian rambutku dan menyelipkannya ditelingaku.


Junana semakin mendekatkan wajahnya padaku. Aku tak kuasa menahan rasa ini, hingga aku memejamkan mataku disertai jantungku yang terus berdegup kencang. Ingin rasanya aku menahan nafasku. Tiba-tiba aku merasakan sakit pada hidungku!


"Awghhhh!!" Aku sesikit berteriak kecil, hingga membuat randy menoleh kearahku.


Juna menarik hidungku dan membuatku membuka mata dengan bulat sempurna.


"Apa yang kau fikirkan mara???" Juna sepertinya sedang menjahiliku. Juna sedikit tertawa kecil dengan tangan yang menutup mulutnya.


Kini wajahku memerah, semakin bertambah merah. Bisa-bisanya aku bersikap seperti itu. Sebenarnya apa yang aku harapkan dari juna? Ya ampun mara, kenapa fikiranku terbang sampai kesitu...


"Belum waktunya sayang, kita harus sabar disinipun ada randy.." Juna kembali menyunggingkan senyumannya.


"Huh, dasar kau mass!!!..." Aku mencubit kecil lengan kiri juna dan berdiri melangkah kekamar. Aku menyembunyikan wajah merahku ini. Sungguh aku sangat malu..


Memang, juna tak pernah menyentuh tanpa izinku. Setelah melamarku, kami tak pernah melakukan sentuhan yang lebih selain bergandengan tangan, mencubit, memukul kecil, mencubit hidung. Sepertinya juna adalah pria yang benar-benar menjagaku. Dia tak pernah mengambil kesempatan apapun meskipun disaat kami hanya berdua.


***


Wellcome bali....


Pesawat kami mendarat dengan selamat siang ini tepat di bandara i gusti ngurahrai.


Selama di pesawat tak ada obrolan apapun antara aku dan byan. Karena aku tak pernah menjawab apa yang byan tanyakan.


Hotel yang sudah di pesanpun tak jauh dari bandara. Hanya sekitar duapuluh menit kami langsung tiba.


Byan mendapat kamar nomor 21 dan aku tepat disebelah kamarnya nomor 20.


Mengapa harus bersebelahan fikirku? Apakah ini disengaja oleh byan? Pantas saja kemarin aku ingin memesan tempat penginapan kami tapi byan menolaknya. Alasannya dia sudah terlanjur memesan hotel lain.


"Istirahatlah mara, sekarang jam sebelas. Jam satu nanti kita akan pergi." Byan masuk kedalam kamarnya.


Enak sekali menjadi dirinya, hanya perintah saja tanpa dijawab mau atau tidak olehku. Ya tentunya pasti dia tak ingin sebuah penolakan. Dasar boss pemaksa!

__ADS_1


Aku masuk kedalam kamar hotel, kamarnya sangat bagus. Pasti harganya mahal. Ini pertama kalinya aku menginap disebuah hotel mewah. Aku membuka tirai jendela, namun mataku tertuju pada pemandangan diluar jendela yang sangat indah. Pantas saja sedari tadi sepertinya aku mendengar ada suara deru ombak. Ternyata hotel ini bersandingan dengan pantai. It's amazing....


Aku mengambil foto kamar hotel saat ini, dan segera kukirimkan via pesan whatsapp pada juna.



[Aku sudah sampai...😊]_Asmara


[Kau sedang pamer atau menyindirku??]_Juna


[πŸ˜€Aku hanya sekedar memberitahu..]_Asmara


[Hati-hati dan jaga dirimu. Kunci pintu kamar jangan pernah lupa.]_Juna


[Apa kau sedang mengkhawatirkanku?πŸ˜‰]_Asmara


[Aku akan segera menjemputmu!]_Juna


[Tak perlu khawatir arjunaku, aku disini sedang bekerja..πŸ˜‰]_Asmara


Beberapa menit aku menunggu balasan pesan dari juna, namun juna tak membalasnya. Aku memilih untuk ke kamar mandi membersihkan tubuhku yang terasa lengket. Setelah selesai mandi, aku merwbahkan tubuhku yang terasa lelah ini. Hingga tak terasa kantuk ini mulai membawaku ke alam tidur.


***


"Chay... Pantau terus mereka. Jangan pernah lengah! Aku tak ingin terjadi sesuatu pada mara." Juna berbicara via telepon pada seseorang.


"Tenang saja, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk memantau mereka disini kak, Jangan khawatir.." Jawab chayra.


Chayra adalah seorang gadis yang sudah juna anggap sebagai adiknya sendiri. Mereka berdua sama-sama dibesarkan oleh bu aisyah di panti asuhan. Kini chayra berada di bali menjadi seorang manager.


Chayra bekerja di sebuah toko perhiasan, seperti berlian, emas, perak, dan perhiasan lainnya. Toko perhiasan itu adalah milik juna. Juna sudah membuka cabang di bali dan juga jakarta. Namun kepemilikan toko perhiasan yang namanya sudah terkenal ini belum diketahui oleh siapapun. Juna masih merahasiakan ini semua..


***


πŸ’Asmara


Jam satu siang, aku terbangun dari tidurku. Saat aku membuka mataku kulihat disampingku sudah ada seorang pria duduk dipinggiran ranjang.


Sontak aku terkejutendapati juna dikamarku. Apakah aku lupa mengunci pintu hingga ia bisa masuk kedalam kamarku?? Tapi aku merasa jika aku sudah menguncinya.


"Kau masih lelah mara??" Tanya juna tanpa rasa bersalah.


"Pak, kenapa ada disini?" Aku menarik selimut menutupi tubuhku. Aku sangat ceroboh, karena aku hanya memakai celana pendek sepaha dan juga baju kaos yang tak lain adalah tangtop.


"Aku meneleponmu, kau tak menjawab. Aku mengetuk pintu kau tak membukanya! Dan aku bisa masuk karena kau tak mengunci kamarmu!" Byan menatapku sembari tersenyum.


"Sialahkan keluar pak. Aku akan bersiap dulu." Pintaku padanya seraya menunduk meratapi kecerobohanku ini.


"Aku menunggumu di luar. Pakailah gaun yang aku belikan kemarin.." Juna pun melangkah keluar.


Setelah membasuh wajahku dan memakai riasan sedikit, aku mengenakan baju kemeja peach pendek dengan setelan rok selutut andalanku. Tak lupa aku mengenakan blazer hitam. Aku menuju keluar kamar, kudapati byan menungguku di depan pintu.


"Mara? Mengapa pakaianmu formal sekali.." Byan terus menatapku dari atas hingga kebawah.


"Bukankah kita akan menemui relasi penting perusahaan?" Jawabku.


"Pakailah gaun yang kemarin! Kita menemui relasi besok pagi!" Jawab byan dengan nada kesal.


Akupun kembali ke kamar dan mengganti pakaianku dengan gaun yang diminta byan. Apakah pakaian saja harus sesuai keinginannya?? Dasar bos tak tahu diri!!


Byan memperhatikan penampilanku dari atas hingga bawah tanpa kedipan mata.


"Ayo kita pergi!.." Byan mulai mengeluarkan kata-kata perintahnya yang terdengar memaksa.


"Baik pak.."



πŸ’*HAI R*eaders... Inilah penampakan asmara.


Yang masih setia baca karya aku, mohon dukungannya ya.. Jangan lupa like dan komentar serta votenya. Thkyuuu...

__ADS_1


__ADS_2