
Juna berbalik arah, juna pun melangkahkan kakinya perlahan meninggalkanku. Seperti tubuh yang tak bertulang, aku merasakan lemas dan gemetar. Hingga aku tersimpuh meratapi kepergian juna tanpa kata. Beginikah rasanya?? Beginikah perasaan juna saat aku pergi begitu saja?
Juna bahkan tak menoleh atau melirikku sedetikpun. Dapat ku ingat dengan jelas, juna hanya fokus berbicara pada byan. Apa ini? Apakah ini adalah kebenciannya terhadapku? Ingin rasanya aku mengejarnya namun rasanya kaki ini tak lagi sanggup menopang tubuhku yang lemas.
Aku tiba di apartement, menyandarkan tubuhku pada kepala ranjang. Otakku kini dipenuhi dengan juna, aku tak sanggup lagi rasanya menampung segala fikiran tentang juna. Aku berusaha kuat. Aku tak ingin ini terjadi aku harus menemui juna sekarang juga. Mengapa saat bertemu tadi aku tak berusaha mengejar juna?? Jelas-jelas juna yang tersakiti disini, jelas-jelas juna marah padaku, sangat jelas banyak kekecewaan dimata juna, mengapa aku egois sekali..
Ku langkahkan kaki dan mengambil jaketku, kali ini aku harus tuntaskan semuanya. Aku harus menemui juna, harus, harus, dan harus!!...
Saat aku membuka pintu, aku sangat terkejut mendapati seseorang yang aku cari kini berada tepat didepan pintu apartementku. Sontak, aku membulatkan mata dengan sempurna.
"Ma..mas juna...?" Aku menyebut namanya terbata-bata setelah sekian lama aku tak memanggilnya.
"Kau masih ingat namaku?" Juna sontak langsung memelukku dengan erat. Sedikit terasa degupan jantung juna yang begitu kencang, serta suaranya yang kian serak seperti menahan sebuah tangisan.
"Mas, A..aku...." Aku tak dapat berkata-kata apapun lagi, mulutku seakan terkunci. Tetesan air beningpun tak terasa sudah mengalir dipipiku.
"Mara, kembalilah. Meskipun kau tak ingin kembali padaku lagi, setidaknya kembalilah untuk ibu kamila dan randy.. Pulanglah mara, pulanglah kerumahmu.." Lirih suara juna dapat terdengar jelas ditelingaku.
Juna melepas pelukaannya, aku menatap dalam wajahnya dapat kubaca kesedihan yang selama ini juna pendam. Aku dapat melihatnya...
Tak ada jawaban apapun dariku, mulutku sepertinya masih terkunci.
"Mara, pulanglah... Randy juga ibumu membutuhkanmu. Kau tak merindukan mereka?" Juna lagi-lagi membuatku semakin tak bisa berkata apapun. Bagaimana ini? Mengapa juna lebih mengutamakan keluargaku daripada dirinya sendiri? Mengapa juna tak mengatakan jika ia juga sangat merindukanku.
"Baiklah, akan ku beri waktu padamu dua hari untuk memikirkannya. Aku permisi...." Juna membalikan tubuhnya hendak melangkah pergi.
"Mas, apakah kau tak merindukanku?" Bodohnya aku mengeluarkan kata-kata itu. Apakah ini sebuah harapan bagiku? Aku berharap juna merindukanku?
"Aku sudah bahagia mengetahui keadaanmu baik-baik saja. Jadi aku tak mengharapkan lebih, apalagi aku....."
"Mas, maafkan aku...." Secara spontan, bagaikan magnet tubuhku ini langsung saja melesat dan memeluk juna dari belakang.
Yang aku dengar saat ini hanya hembusan nafas juna yang semakin tak teratur.
Entah selama apa aku memeluk juna dan menyandarkan kepalaku pada bahunya. Terasa nyaman bukan?? Aku saja yang bodoh sudah meninggalkan tempat bersandar senyaman ini?
Juna berbalik menghadap ke arahku, kini juna tengah memegang bahuku dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Mara, istirahatlah.. Aku akan menunggu keputusanmu dua hari lagi."
Tubuhku ini rasanya tak ingin lepas dari juna, kini aku kembali memeluknya dengan erat..
"Apakah kau akan terus begini mara?"
Aku mengangguk pelan dengan kepala masih bersandar serta tangan yang tak mau melepaskan dekapanku pada juna.
"Mara, jangan begini. Jika kau terus begini aku mungkin tak bisa lagi menahannya malam ini..."
Suara juna membuyarkan otakku, maksud juna tak bisa menahan apa?? Apakah......
Aku secara spontan melepaskan dekapanku padanya. Padahal ini masih sangat nyaman.
"Aku akan kembali lagi besok, siapkan dirimu pagi hari.." Juna berlari begitu saja meninggalkanku dengan sedikit senyuman diwajahnya.
Tubuhku sudah tak lemas lagi, kini aku bisa menikmati senyum juna kembali meskipun hanya sekilas. Juna tak banyak tanya tentangku, ia langsung saja mengutarakan keinginannya untuk mengajakku kembali ke indonesia. Aku tak mendengar kata-kata mara bagaimana kabarmu? Mara mengapa kau pergi meninggalkanku? Mengapa tak mengabariku? Mengapa kau tega meninggalkanku? Dan masih banyak mengapa yang lainnya.. Semua itu tak ada, namun aku dapat melihat jika juna benar-benar mengkhawatirkanku.
Cinta juna begitu tulus, maafkan aku junaa...
***
"Atha..." Byan terkejut mendapati agatha diatas brankar sedang berbaring serta perutnya yang sedang dioles dengan gel oleh seorang dokter.
"Mas byan...." Agatha terkejut mendapati suaminya sudah berada dihadapannya.
Dokter yang menangani kandungan agatha pun menjelaskan secara detail kepada byan tentang kondisi kandungan agatha.
🍒Tentunya dalam bahasa inggris ya readers, soalnya agatha kan lagi di rumah sakit seoul. Bahasa inggrisnya readers bisa menebak sendirilah.. Hehehee.. Thor bisanya bahasa jawa wkwkwwk
Byan yang baru menyadari akan hal itupun menyesali perbuatannya selama ini terhadap istrinya. Tak satupun kata yang terucap dari mulut byan. Byan melihat kearah monitor yang menunjukkan keadaan bayinya saat ini, beratnya dibawah rata-rata serta kondisi agatha yang kurang akan asupan nutrisi.
Byan merasakan sakit sekaligus sedih menyaksikan anak yang dikandung agatha saat ini dalam keadaan lemah. Ia terus merutuki dirinya, ini semua terjadi karena ulahnya.
"Tha, maafkan aku... Aku yang telah membuat anak kita menjadi begini..." Byan memeluk tubuh agatha dengan tangisan penyesalannya.
Agatha hanya menangis pilu, haruskah ia bahagia dengan penyesalan byan?
__ADS_1
"Tha, sejak kapan dia ada didalam perutmu? Mengapa kau tak pernah memberitahuku?"
"Mas aku...."
"Tunggu, kau pasti ingin menjelaskan tapi aku tak pernah mau mendengarkanmu! Iya kan tha?? Aku memang ayah yang kejam.. Maafkan aku tha..." Byan lagi-lagi menyesali perbuatannya selama ini pada agatha.
"Sudahlah mas, yang terpenting saat ini kau sudah menyadarinya.."
"Maafkan aku agatha, maafkan aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu..."
"Mas, sudah jangan terus meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu, jangan ulangi lagi mas. Kita sama-sama akan menjaga bayi ini hingga lahir.."
"Terimakasih tha..."
Byan terus memeluk tubuh agatha dan sesekali mengecupi perut agatha. Byan mengelus perutnya perlahan, meskipun perut itu masih rata.
Agatha merasa haru mendapat perlakuan sweet dari suaminya. Tak pernah ia rasakan ini sebelumnya. Semoga saja prilaku buruk byan takkan diulangi lagi. Semoga saja byan kali ini benar-benar sudah menyesali perbuatannya.
***
Sepertinya semalam juna bisa tidur nyenyak, tak seperti biasanya. Dimalam sebelumnya, memejamkan mata saja juna hanya memakan waktu sampai sepuluh menit. Hingga tak ada waktu untuk tidur dalam jangka waktu yang lama.
Menurut juna, jika ia tidur lebih lama dari sepuluh menit maka ia akan kehilangan kesempatan untuk menemukan asmara.
Kini, setelah menemukan asmaranya juna bisa tidur hingga empat jam lamanya. Peningkatan yang sangat bagus bukan??
Juna melangkah menuju kamar mandi. Ia ingin bersiap untuk bertemu asmara pagi ini. Semaksimal mungkin juna menjaga daya tahan tubuhnya, hingga pagi ini juna menyempatkan untuk sarapan dan minum segelas susu hangat.
Sebelum pergi menuju apartement asmara, juna menyempatkan diri untuk bercermin dan menyimpulkan senyum tipisnya.
🍒 Duh senyum tipis aja dah ganteng banget ya si mas juna. Yaa ampun... Bikin readers klepek² nggak nih? Wkwkwk........
Hari ini thor sudah up 3 episode ya readers, ini adalah bentuk semangat thor dalam menjalankan puasa pertama! Semoga readers semua suka ya..
Terimakaasih sudah terus mendukung karya aku...
__ADS_1