Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Mama untuk bintang


__ADS_3

Pernikahan Asmara dan byan sudah menghitung hari, semua persiapan sudah hampir selesai. Termasuk persiapan baju pengantin, dekorasi dan MUA sudah selesai. Untuk masalah katering, keluarga asmara sendiri yang akan mengurusnya.


🍒 Asmara


"Mara?" Byan menghampiriku dengan menggendong bintang.


"Mas.." Aku meraih bintang dan mengalihkannya ke dalam pelukanku.


"Bintang nyaman sekali ya sama mama..." Byan memegang tangan mungil bintang sembari memainkannya layaknya menghibur anak kecil.


"Mama?? Apaan sih mass..." Aku mengrenyitkan kening, merasa canggung dengan ucapan byan.


"Kamu tidak ingin dipanggil mama? Lalu dipanggil apa?" Tanya byan padaku.


"Mas, aku kan belum resmi menjadi istrimu.." Jelasku pada byan.


"Tapi kau akan tetap menjadi istriku bukan? Apa salahnya bintang diajarkan terlebih dahulu agar terbiasa." Byan ada benarnya, namun aku masih saja merasa canggung dengan panggilan mama.


"Hmmm, nanti saja mas jika kita sudah resmi menikah. Bintang juga belum bisa mengucap kata mama bukan? Bintang masih terlalu kecil mas, usianya masih satu bulan lebih tiga hari."


"Kamu sangat hafal dengan usia bintang?"


"Aku sedang belajar mas. Belajar mengetahui dan memahami semua tentang bintang."


"Bintang sangat beruntung memiliki mama sepertimu mara.."


"Mas, aku juga merasa beruntung memiliki anak yang gemas seperti bintang."


"Kamu tidak beruntung memiliki suami seperti aku?"


"Mas, kenapa bicara begitu."


"Aku bertanya mara, kau hanya tinggal menjawab."


"Hmm, mas aku mau membuat susu untuk bintang dulu."


Aku melepas bintang dari gendonganku, lalu aku menidurkannya di stroller.

__ADS_1


***


Tiga hari kemudian...


Hari pernikahanku dengan byan pun tiba, hari yang di nanti-nanti bagi kami.


Langkah awal bagiku dan juga byan menuju bahtera rumah tangga. Semoga, aku slalu berdoa jika ini adalah keputusan yang tepat untukku.


Jantungku bergemuruh hebat, tubuh ini rasanya terus bergetar merasakan nervous sejak semalam yang tak kunjung hilang.


Untuk ijab dan qabul kali ini berbeda, karena byan akan mengucapkan kalimat itu secara terpisah dariku. Setelah selesai melakukan ijab qabul, aku pun keluar diiringi oleh ibu dan umi andryani.


Kulihat byan disana sudah menantiku dengan senyuman hangatnya. Kami berdua kini tengah bersanding seperti halnya pengantin-pengantin lain.


Sekarang tiba waktunya pertukaran cincin, setelah selesai aku menyalami byan dengan mencium punggung tangan kanannya. Setelah itu byan pun mencium keningku.


Sebelum pernikahan ini dimulai, memang tak ada acara lamaran secara khusus untukku. Hanya ada pertemuan keluarga inti dari pihak kami masing-masing. Hingga akhirnya aku dan byan memutuskan untuk langsung menikah tanpa bertunangan terlebih dahulu.


Singkat cerita, setelah semua rangkaian acara pernikahan ku dengan byan terlaksana dengan lancar, akhirnya resepsi pernikahan sudah selesai. Tak ada tamu istimewa bagiku, karena semua tamu rata-rata adalah relasi bisnis keluarga byan dan para teman-teman ibu. Dapat kulihat disana juga bu Aisyah datang bersama chayra. Namun kemana juna? Ia tak menampakkan batang hidungnya meskipun surat undangan telah dikirimkan untuknya.


Aku tahu juna sangat terluka, namun aku tak mau terlalu memikirkannya lagi. Kini hidupku akan lebih fokus pada kehidupan baruku, mengurus rumah tanggaku bersama byan serta gadis kecil yang sangat kucintai dia adalah bintang.


Kami berdua sepakat bergantian menjaga bintang.


Tok...tok....


Pintu kamar diketuk oleh seseorang diluar sana.


"Iya, masuk...." Aku sedikit berteriak membiarkan si pengetuk pintu masuk karena pintu tidak terkunci.


"Mara, belum tidur?" Tanya umi andryani menghampiriku yang sedang menepuk-nepuk pundak bintang yang kini sedang terlelap.


"Belum umi.." Jawabku.


"Nak, hari ini bintang tidur bersama umi ya..." Pinta Umi andryani padaku dengan terus menatap wajah bintang.


"Loh, kenapa begitu umi? Biarkan saja bintang bersama aku dan mas byan." Aku mencoba mencegahnya, karena aku masih ingin terus bersama bintang.

__ADS_1


"Nak, ini malam pertama kalian. Apa kalian ingin diusik oleh bintang? Jangan sampai malam spesial ini kalian lewatkan?" Umi andryani tersenyum menggodaku.


"Umi, kami hanya akan tidur. Tak ada yang merasa diusik. Aku justru sangat senang ddngan kehadiran bintang." Aku merasa bintang tidak akan mengganggu.


"Mara, kau dan byan butuh me time. Untuk beberapa hari ini biarkanlah umi yang menjaga bintang. Lusa umi dan abi harus kembali ke jakarta. Biarkanlah umi tidur dengan cucu umi..." Entah ini alasan atau memang kenyataan, aku tak mungkin menghalangi seorang nenek yang akan tidur bersama cucunya. Aku juga tak ingin membantah, takut umi andryani akan kecewa.


"Hmmm, baiklah umi. Tapi jika ada apa-apa beritahu aku dan mas byan.." Aku pun mengizinkan umi membawa bintang.


"Iya nak.. Umi bawa bintang dulu ya..." Andryani menghampiri bintang yang sedang tertidur pulas lalu menggendongnya.


"Iya umi..." Jawabku singkat menanggapi wanita yang kini telah menjadi mertuaku.


Umi andryani membawa bintang bersamanya, padahal malam ini aku sangat ingin memeluk tubuh mungil nan gemas itu. Tapi apa boleh buat, mungkin benar kata orang jika rasa sayang nenek lebih besar dari pada ayah dan ibu dari sang anak.


"Loh, bintang kemana?" Byan yang baru saja selesai mandi menanyakan keberadaan putri kecilnya yang kini sudah tak ada ditempat tidurnya.


"Tadi umi datang, katanya umi dan abi ingin tidur bersama bintang malam ini karena lusa mereka akan kembali ke jakarta." Jelasku pada byan yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Umi sangat pengertian sekali...." Byan tersenyum smirk sembari menatap kearahku.


"Kenapa wajahmu seperti itu mas?" Tanyaku pada byan heran.


"Tidak, aku hanya merasa lebih bahagia saat ini." Byan menghampiriku dan duduk dipinggiran ranjang.


"Lebih bahagia? Apakah sebelumnya kau tak bahagia?" Tanyaku pada byan tak percaya.


"Ya, kini kebahagiaanku lebih sempurna bersamamu mara.." Byan terus mendekatkan dirinya padaku.


Plak!! "Kau sangat suka menempel!" Aku menepuk paha byan dengan keras.


"Apa salahnya menempel pada istri sendiri?" Byan mengusap-usap pahanya yang terasa sedikit panas akibat pukulanku.


"Jangan mendekat, aku ingin tidur nyenyak malam ini..." Aku tersenyum smirk menatap kearahnya, kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.


"Baiklah, malam ini aku akan membiarkanmu tidur nyenyak, tapi besok jangan salahkan aku..." Byan ikut membaringkan tubuhnya disebelahku.


"Bisakah kau tidak menempel padaku mas?" Aku merasa canggung saat byan memelukku dari belakang dengan tangan yang melingkar pada tubuhku.

__ADS_1


"Aku hanya ingin terus dekat denganmu mara, terimakasih karena telah mau menerimaku. Terimakasih....." Byan mengecup puncak kepalaku dengan lembut, hingga beberapa saat terdengar dengkuran halus menandakan ia sudah tertidur.


Meskipun aku belum terbiasa jika tidur dengan byan, mulai malam ini aku akan berusaha membiasakan diri dan menjadi istri yang baik untuknya.


__ADS_2