Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Kekompakan juna dan asmara.


__ADS_3

Agatha telah sampai di jakarta siang ini..


Rasanya penerbangan kali ini sangat melelahkan baginya. Agatha meraih tas nya dan menncari ponselnya. Agatha menonaktifkan mode pesawat pada ponselnya. Seketika banyak notifikasi pesan masuk dari byan, namun agatha tak membuka pesan itu. Agatha memilih melanjutkan perjalanan pulangnya dengan mencari taksi.


Sesampai di rumah, agatha segera merebahkan diri pada ranjang kesayangannya. Saat ini ayahnya sedang ke kantor, agatha hanya di temani dengan asisten rumah tangganya bernama ibu minah.


"Agatha?.." Terdengar suara umi andryani melqngkah menghampirinya di kamar.


"Umi?" Agatha meraih tangan uminya dan menyalaminya.


"Kamu lelah ya? Loh, dimana mas byan? umi tak melihatnya di rumah ini?" Umi andryani celingukan mencari-cari keberadaan byan.


"Umi.. mas byan langsung kembali ke jogja lagi setelah mengantar atha." Agatha mencari alasan, ia tak ingin umi andryani mempermasalahkan kepulangannya yang tidak diantar oleh byan.


Maaf atha terpaksa bohong umi...


"Loh! mana bisa begitu tha?" Umi andryani kesal.


"Tak apa umi, mas byan punya urusan mendadak di kantornya! Sangat urgent!" Agatha mencoba meyakinkan umi.


"Keterlaluan, umi akan memarahinya!"


"Umi, ayolah tak perlu dipermasalahkan. Atha sudah sampai dengan selamat. Mas byan orang yang bertanggung jawab umi, bertanggung jawab mengantar atha pulang dan bertanggung jawab pula dengan kantornya."


"Tapi tha,..."


"Umi, kasihan kan mas byan jika dimarahi? pasti mas byan sangat lelah.."


"Hmmm baiklah, umi tidak akan memarahinya. Tapi tetap saja umi akan menceramahi byan nanti!


"Hmm.. Umi, atha punya oleh-oleh dari jogja." Agatha mencoba mengalihkan pembicaraan pada umi.


***


Byan terus memandangi ponselnya, pesannya terlihat belum terbaca oleh agatha. Byan mencoba menelepon agatha panggilan telpon byan pun langsung dijawab.


"Hallo tha kamu sudah sampai?" Byan langsung menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mendengar suara nyaring diseberang sana.


[Assalamualaikummmmmm byannnnn!!]

__ADS_1


"Ummmi? Waalaikumsalam umi.. Agatha kemana umi?"


[Sungguh kamu keterlaluan byan?]


"Umi, byan minta maaf.." Byan menghela nafasnya panjang. Pasti uminya akan memarahinya karna tidak mengantarkan agatha ke jakarta sesuai janjinya.


[Byan.. Kenapa mengantar agatha cuma sebentar? Kenapa tidak mampir dulu ke rumah? Memangnya urusan kantor tidak bisa ditunda dulu?]


Byan tidak paham dengan ucapan uminya yang terus saja mengoceh di sambungan telepon.


[Besok umi akan mencarikan asisten untukmu. Jika kau punya kepentingan seperti ini kau bisa digantikan asistenmu! Umi tidak mau memarahimu, itu karena permintaan agatha. Pasti kamu sangat lelah karena harus pulang pergi jogja-jakarta-jogja lagi. Ya sudah beristirahatlah nak. Agatha sedang mandi. Assalamualaikum]


Umi andryani memutus sambungan teleponnya. Byan tercengang mendengar ocehan demi ocehan dari uminya itu.


"Ya Allah agatha, kamu masih menutupi kesalahanku? Maafkan aku yang bodoh ini tha? Aku sangat menyesal." Byan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Dia terus membayangkan wajah agatha yang terus mendiamkannya.


***


Di kafe seberang kantor, juna dan juga aku duduk berhadapan menunggu kedatangan pak arman. Ya pak arman yang katanya akan mentraktir kami berdua makan siang. Hanya suara kesibukan para waiters yang melayani pengunjung lain terdengar disini. Sementara aku dan juna tak mengeluarkan kata sedikitpun.


Terlihat tubuh tegap pak arman menghampiri kami, pak arman melemparkan senyum konyol di wajahnya.


"Haiii... Juna, mara. Menunggu lama yaa..?


"Wah, kompak sekali. Bajunya juga warnanya sama!" Pak arman menatap kearah aku dan juna bergantian.


Sungguh aku tak sadar, kemeja navy yang aku pakai hari ini memang warnanya senada dengan kemeja yang dipakai juna. Namun aku tak mempermasalahkannya. Ini hanya kebetulan.


Aku dan juna hanya menanggapi ucapan pak arman dengan senyum kecil. Pak arman segera duduk dan memanggil waiters disana untuk memesan makanan.


Beberapa menit setelah itu, makananpun datang...


"Mara, kamu tidak ingin kuliah?" Tanya pak arman mengejutkanku.


"Tidak pak." Jawabku singkat.


"Wah, kenapa?" Tanyanya lagi. Akupun hanya menggelengkan kepala tak ingin menanggapinya.


"Kantor kita setiap tahun mempunyai anggaran sendiri untuk membiayai karyawannya yang ingin kuliah, dan aku merekomendasikanmu mara. Sayang sekali jika tidak kamu gunakan kesempatan ini. Kamu masih muda, dan kesempatan ini tidak dayang du kali." Pak arman menghentikan makannya dan menatapku.

__ADS_1


"Lumayan, kuliah gratis." Sambung juna.


"Tapi aku tidak ingin kuliah.." Jawabku.


"Mara, ini kesempatan bagus. Kamu bisa bekerja, sembari kuliah. Kamu dapat gaji sembari kuliah gratis." Jelas pak arman.


"Maaf pak, saya tidak mau."


"Mara, lihatlah juna seniormu ini. Dia sudah s3, dan sekarang fia akan naik jabatan tentunya! Kamu juga pasti ingin naik jabatan kan? Gajimu pun akan naik!" Timpal pak arman.


"Maaf? Naik jabatan?" Juna tercengang mendengar kalimat pak arman.


"Ya, mulai hari senin kamu tidak lagi bekerja dengan asmara dan juga tim purchase. Kamu akan menjadi asisten boss byan!"


"Apaaaa???? Asisten pak? asisten pak byan? mana mungkin bisa begitu pak? mengapa aku?" Juna terkejut penuh tanya.


"Ya.. Karena hanya kamu yang aku percaya." Jawab pak arman.


"Tapi pak? Aku sudah merasa nyaman dengan pekerjaanku saat ini.!" Jawab juna beralasan.


"Tidak seharusnya manusia itu terus berada dalam zona nyaman juna! Kamu harus move on, cari suasana baru dan pengalaman baru." Pak arman menatap juna dengan serius. Akuu hanya mendengarkan percakapan mereka dengan menikmati makan siangku, mengapa bukan aku saja yang menjadi asisten byan? Jika begitu aku akan terus dekat dengannya? Pikiran macam apa ini, sungguh pikiran jahat gumamku dalam hati..


"Mara, untuk penawaranku tadi kamu pikirkan baik-baik dulu. Bicarakan pada orang tuamu. Minggu ini beritahu aku." Pak arman mengarahku.


"Baik pak, aku akan memikirkannya."


"Juna, mulai hari senin kau akan menjadi asisten pak byan. Dan mulai hari ini kamu harus melakukan serah terima pekerjaanmu pada mara. Jangan sampai ada yang terlupakan." Paka arman mengarah pada juna.


"Baik pak. Terimakasih sudah mempercayai saya." Jawab juna.


"Bulan depan kalian berdua akan naik gaji, jangan lupa traktir saya ya..." Pak arman menatapku dan juga juna bergantian dengan senyum konyolnya yang khas.


"Terimakasih pak!" Jawabku dan juna kompak.


"Ciee... Jawabannya kompak terus, sepertinya nanti kalian akan saling rindu!" Pak arman sepertinya sedang menggoda aku dan juna.


"Tidak mungkin!" Jawabanku dan juna lagi-lagi sama.


"Hahhaaaahahaa" Tawa pak arman rerdengar begitu renyah!!

__ADS_1


Entah mengapa hari ini aku dan juna begitu kompak menjawab pak arman. Ini hanya kebetulan, dan sebenarnya aku sangat bersyukur juna tidak lagi menjadi seniorku. Setidaknya aku terbebas dari perintah-perintahnya yang sangat membuatku bekerja keras. Sifat acuh dan dinginnya pun mulai hari senin tak akan lagi menggangguku.


Alhamdulillah.....


__ADS_2