Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Kritis


__ADS_3

WIIIIUUUUWW........WIIIIUUUUUWW.....


Dengan suara khas sirinenya, ambulance membawa byan yang terluka akibat tembakan dibagian perutnya. Dua timah panas telah menembus perut byan hingga byan banyak kehabisan darah.


Malik yang menyaksikan keadaan putranya terus menangis. Disela-sela tangisan itu, malik terus merapalkan beberapa kali doa-doa untuk kesembuhan byan.


Byan sudah tiba di rumah sakit terdekat, ia berharap keselamatan putranya.


"Dok, tolong anak saya..." malik memohon pada dokter yang akan menangani byan.


"Tenang pak, kami akan melakukan yang terbaik, tapi selebihnya kita serahkan pada yang kuasa." Dokter itu pun bergegas menuju ruangan ICU untuk memeriksa byan. Bersama beberapa perawat, dokter pun melakukan operasi untuk byan.


Juna yang sedang mengantarkan istrinya ke dokter kandungan kini berada di rumah sakit yang sama dengan byan. Usia kandungan chayra sudah menginjak trimester tiga. Juna menggandeng pelan tubuh chayra setelah melakukan pemeriksaan, namun di lorong rumah sakit, juna melihat seseorang yang ia kenal.


"Pak malik?" Juna berbicara sendiri, namun chayra dapat mendengarnya.


"Siapa kak?" Tanya chayra penasaran.


"Itu sayang, orang yang duduk disana. Dia adalah pak malik, ayahnya byan." Jelas juna pada istrinya.


"Owgh, mengapa dia menangis kak?" Tanya chayra, yang sudah jelas juna tak tahu jawabannya.


"Kita hampiri saja ya chay, kau tidak keberatan kan?" Tanya juna.


"Iya kak, ayooo..." Ajak chayra.


Mereka berdua saling bergandengan menghampiri malik yang tengah duduk di depan ruangan ICU.


"Pak malik?" Sapa juna pada malik yang tengah duduk dengan menutup wajahnya.


"Arjuna?" Malik bangkit dari duduknya dan mengusap air mata di wajahnya.


"Pak ada apa?" Tanya juna langsung.


"Byan, byan sedang di operasi." Malik berkata lirih.


"Apa? Apa yang terjadi padanya pak?" Tanya juna lagi. Sementara chayra hanya mendengarkan percakapan keduanya dengan menutup mulutnya akibat terkejut.


"Byan tertembak pagi tadi juna.. Doakan semoga operasinya lancar dan byan selamat." Jelas malik khawatir.


Chayra dan juna hanya mengangguk pelan menanggapi perkataan malik. Disela-sela percakapan mereka, seorang suster keluar dari ruangan, ia mengahampiri malik.


"Bapak malik keluarga pak byan benar?" tanya suster.


"Iya. Saya ayahnya, ada apa sus?" Jawab malik cepat.


"Saat ini kondisi pasien sangat kritis, ia menghabiskan banyak darah. Kami butuh donor darah golongan B+ segera pak." Jelas suster.

__ADS_1


"Apa? Bagaimana ini? Darahku tidak sama dengan byan. Hanya uminya yang sama, tapi..."


"Kak juna golongan darahmu B+ bukan?" Chayra menatap kearah juna yang sedari tadi diam.


"Juna? Apakah benar? Juna tolong bantu byan..." Malik memohon pada juna.


Juna hanya mematung, ia tak bisa berfikir apapun kali ini.


"Kak, bantulah orang yang sedang kesusahan meskipun orang itu pernah menyakitimu." Chayra mengusap pundak juna pelan. Berharap suaminya itu mau berbesar hati membantu byan.


"Bagaimana pak, kita tak butuh waktu lama.?" suster membuyarkan lamunan juna.


"Saya bersedia sus." Ucap juna lantang.


"Baik pak, mari ikut dengan saya. Kita akan melakukan pemeriksaan terhadap bapak terlebih dahulu kemudian tranfusi darah." Jelas suster berjalan kedepan diikuti juna dibelakangnya.


"Terimakasih juna.." Malik menelungkupkan kedua telapak tangannya.


"Tolong jaga istriku pak malik." Ucap juna pada malik sesikit berteriak.


Malik mengangguk pelan merasa terharu. Kemudian ia menyuruh chayra untuk duduk di kursi tunggu.


"Silahkan duduk chayra.." Perintah malik.


"Terimakasih pak.." Chayra pun duduk sembari mengelus pelan perut buncitnya.


"Usia kandunganmu berapa bulan?" Tanya malik yang hendak mengobrol dengan chayra.


"Anak pertama kalian ya? Apakah sudah tahu jenis kelaminnya?" Tanya malik lagi.


"Sudah pak, jika tidak salah menurut perkiraan dokter bayiku ini wanita." Jawab chayra.


"Oww... Andai saja cucuku ada disini, dia juga seorang wanita. Namun, sampai saat inidia belum ditemukan. Maaf chayra, aku jadi teringat cucuku saat melihatmu mengandung."


"Iya pak, tak apa... Kalau boleh tahu apa yang membuat cucu bapak hilang?"


"Aku juga tidak tahu, yang jelas dia dibawa oleh ibu tirinya keluar dan akhirnya hilang begitu saja. Kami terus mencarinya hingga saat ini, namun semua itu malah membuat anakku byan terluka."


"Ough... Maaf pak..."


"Tak apa chayra, lama-lama juga orang akan tahu masalah keluarga kami."


Byan membutuhkan dua kantung darah golongan B+. Dan beruntung golongan darah juna cocok untuk byan hingga juna bisa mendonorkan darahnya.


Operasi byan sudah selesai, namun byan belum juga sadar. Saat ini byan masih dirawat didalam ruangan ICU.


Malik yang masih terus merenung, mencoba mengabari andryani di jakarta. Awalnya malik menutupi hal ini, namun setelah dipikirkan lagi olehnya akhirnya ia memberanikan diri menelpon istrinya.

__ADS_1


"Abi kemana saja? sejak kemarin tak menghubungi umi... Umi khawatir..." Suara andryani yang terus mengomel pada suaminya di telepon.


"Umi, abi sebenarnya......." Dan akhirnya malik menceritakan dengan detail semua yang terjadi padanya juga byan.


Andryani disana merasa syok, hingga ia memutuskan untuk pergi ke jogja menyusul suaminya.


***


Amsterdam...


🍒Asmara


Setelah beberapa hari, bintang demam tinggi hingga harus dibawa ke rumah sakit. Beruntungnya bintang tak perlu perawatan lebih, hanya diberi dokter beberapa resep obat saja.


Sejak kepulangan kami dari indonesia, bintang menjadi sangat rewel. Tak seperti biasanya bintang menangis terus menerus.


Aku, ibu dan juga steve sempat kewalahan menenangkan bintang. Bintang tak pernah mau lepas dari gendonganku.


"Apakah obatnya sudah diminum?" Tanya steve padaku.


"Sudah tadi steve." Jawabku perlahan sembari menenangkan bintang yang terus menangis.


"Apa harus kita bawa ke dokter saja?" Ajak steven.


"Kemarin sudah ke dokter steve, panasnya juga sudah mulai turun. Mungkin bintang sedang dalam fase pertumbuhan dan itu biasa terjadi pada anak-anak batita seusianya." Sambung ibu menjawab ucapan steven.


"Tapi tante, bagaimana jika terjadi sesuatu pada bintang?" Tanya steven menatap kearah bintang yang sudah mulai berhenti menangis.


"Tenang saja nak, kita tunggu sampai besok ya. Mudah-mudahan besok bintang sudah baikan." Jelas ibu pada steven.


Aku hanya diam saja mendengarkan percakapan ibu dan steven. Aku masih fokus menggendong bintang yang perlahan kian memejamkan matanya.


Setelah beberapa menit tidur di gendonganku, aku pun segera meletakkan bintang di atas ranjang.



"Akhirnya, dia tidur juga..." Aku menarik nafas panjang. Memijat-mijat sekitaran pundakku yang terasa pegal karena terus menggendong bintang.


"Kamu pasti lelah, cepatlah mandi biar ibu yang menjaga bintang."


"Baik bu, terimakasih.." Ucapku pada ibu.


Dengan segera aku melangkah ke kamar mandi, takut jika bintang terbangun dan menangis.


*🍒Lemessss bestie,.. 😔😔 Othor lagi puasa nih, siapa disini yang masih terus kuat puasa dan ngga bolong²?? Trus siapa yang dah pada beli baju baru? Hayoo....


Ayo dong tinggalkan jejaknya buat othor raeders² ku... Like, koment and share sebanyak-banyaknya..

__ADS_1


😀Bukan othor banyak maunya ya, tapi othor butuh bantuan readers semua biar makin semangat untuk UP terus....💪


Terimakasih banyak raeaders sudah mendukung karya othor*....


__ADS_2