
Pagi-pagi sekali steven menjemputku di apartement.
"Nona, mulai hari ini aku yang akan mengantarkan anda kemanapun." Steven membungkukkan tubuhnya saat berbicara denganku.
"Pak steven, panggil saja aku asmara. Aku disini juga hanya bekerja bukan atasan ataupun tamu hormat anda." Jelasku pada steven. Usianya mungkin kira-kira lebih lima atau enam tahun dariku.
"Kalau begitu, panggil saja aku steve. Maka aku akan memanggilmu mara." Steven menegakkan tubuhnya memandang kearahku dengan senyum.
"Baiklah... Terimakasih steve." Jawabku tak ingin panjang lebar.
Steve mengendarai mobilnya menyusuri jalanan kota amsterdam. Kiri dan kanan jalan tak luput dari pandanganku, sangat takjub aku melihat keasrian kota ini. Pemandangan yang menghangatkan mataku ini membuat perjalanan ku tak terasa. Hingga steve menghentikan laju mobilnya.
Steven menghentikan laju mobilnya disebuah rumah besar. Rumah berwarna putih itu sangat bersih dan rapi. Aku sempat berfikir ini adalah tempatku untuk memulai pelatihan atau mungkin ini tempatku bekerja. Tapi mana mungkin? Karena bu saras mengatakan aku akan bekerja di kantor pusat perusahaan yang ada di jogja.
"Silahkan masuk mara.." Ajak steve.
"Apakah ini kantor tempatku bekerja saat ini? Atau aku akan pelatihan disini?" Tanyaku sembari berjalan menuju teras rumah besar yang kini kuinjak lantainya.
"Ini rumah, bukan kantor." Jawab steve singkat.
"Maksudmu?" Aku semakin tak mengerti. "Apakah aku akan bekerja dirumah ini steve?" Tanyaku lagi padanya. Namun steve hanya mengulum senyumannya.
Hingga kami sudah berada didalam rumah besar. Steve mempersilahkan aku untuk duduk disofa ruang tamu yang cukup luas itu.
Steve menuju lantai dua, aku tak tahu ia akan kemana. Yang jelas ia berpesan agar aku menunggu disini.
Tak ada perasaan curiga atau apapun terhadapnya. Aku hanya menurut saja dan berfikir positif.
Hingga beberapa menit kemudian, steve turun dari lantai dua dengan seorang bocah dalam gendongannya. Bocah kecil itu nampak girang dan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya melihat kearahku.
Mendengar suara itu, aku jadi teringat akan suara seseorang yang amat aku kenal. Suara yang mengiangkan telingaku, suara itulah yang selama ini ada dalam benak dan fikiranku. Aku sangat merindukan suara riang itu.
"Mamm...ma Mam..ma.." Anak kecil itu terlihat begitu gembira mengucapkan kata mama dengan suara khas bayi yang baru pandai berbicara. Suara itu dapat jelas terdengar ditelingaku, hingga steven dengan bocah digendongannya itupun semakin mendekat kearahku.
__ADS_1
"Bintang???" Aku dapat mengenali siapa bocah itu. Hingga aku pun meneteskan air bening ke pipiku.
"Mara... Dia menunggumu, dia sangat merindukanmu." Steven menyerahkan bintang kepadaku.
Akupun langsung mengambil alih bintang, tanpa henti aku terus mengecupi pipi gembulnya. Aku mendekapnya dengan dekapan rindu yang tiada tanding. Rindu, aku sangat merindukan anakku.
Bintang tertawa renyah, ia menepuk-nepuk wajahku dan menggigit puncak hidungku.
Meski terasa sedikit sakit karena bintang sudah memiliki beberapa gigi seri, namun aku tak menghiraukan itu. Aku terus menciuminya dan memeluknya.
"Bintang...." Lirihku terus menyebut namanya.
Bintang terus mengeluarkan tawa riangnya. Tanpa henti dia menepuk-nepuk wajahku. Hingga aku tak mempedulikan keadaan sekitarku.
"Ma...mara.." Suara bariton seorang lelaki memanggilku. Akupun menoleh kearah asal suara.
"Om... Om afrizal?" Aku terkejut mendapati om afrizal yang duduk lemah dikursi roda, dengan seorang wanita muda dibelakangnya mendorong kursi roda itu menuju kearahku.
"Om.. Bagaimana bintang ada disini?" Aku merasa tak mengerti dengan ucapan om afrizal. Aku hanya penasaran dengan keberadaan bintang di tempat ini.
"Maafkan aku mara, aku telah memisahkanmu dengan bintang. Aku memang jahat... Aku adalah kakek yang jahat untuk cucuku.." Afrizal terus menangis, ia mengingat akan tindakannya pada masa lalu.
"Jadi, om yang......." Aku terkulai lemas mendengar tuturan om afrizal. Hingga aku terduduk di sofa dengan menggendong bintang. Melihatku seperti tak berdaya, steven langsung mengambil alih bintang dari peganganku.
"Mara... Kau tak apa?" Tanya steven mendekatiku.
"Mara, aku tahu kau pasti terkejut mendengar ini semua. Aku memang egois, aku merusak kebahagianmu. Maafkan aku mara.." Afrizal menyatukan kedua telapak tangannya memohon maaf.
Aku hanya terdiam, entah apa yang ada difikiranku kali ini. Aku sungguh tak bisa berfikir. Semua masa lalauku sekilas terbayang dalam ingatanku. Saat bintang hilang, kemarahan byan, Cacian umi andryani, hingga talak dari byan. Itu semua terulang lagi dalam ingatanku. Aku meratapi nasibku selama ini, dan ternyata ini adalah ulah dari om afrizal. Sungguh aku tak pernah menyangka semua ini terjadi karenanya.
Kutatap wajah pria itu, wajah yang menunjukkan penyesalan beratnya dengan terus meminta maaf padaku.
"Mara, maafkanlah aku. Aku yang sudah tua dan sakit-sakitan ini, aku tidak tahu umurku akan berapa hari lagi..."
__ADS_1
"Om! Jangan berkata seperti itu...." Steven langsung memotong perkataan afrizal.
"Steve, kau dengar sendiri bukan apa yang dokter katakan kemarin?" Jelas afrizal menatap ke arah steven yang wajahnya penuh kekhawatiran.
Aku bangkit dari dudukku, hendak ku langkahkan kaki ini menuju keluar... Ingin rasanya aku pergi menjauh dari sini.
"Mara.. Kau mau kemana?" Steven menatap ke arahku. Namun aku tak dapat menahannya lagi, aku berlari kecil menuju keluar rumah besar itu.
"Maa... Hoeee... Hoe..." Kudengar suara bintang menangis keras didalam. Kuhentikan langkah ini kemudian berbalik menuju bintang.
"Mara, lihatlah bintang. Ia bahkan tak ingin ditinggalkan olehmu, aku mohon mara jika kau tak ingin memaafkan om afrizal setidaknya kau mau menerima bintang kembali bersamamu..." Jelas steven sembari menenangkan bintang yang terus menangis.
"Bintang..... Maafkan mama sayang." Aku menepiskan keegoisanku. Aku langsung meraih bintang dan menggendongnya.
"Mara, jagalah bintang. Hanya kamu yang ku percaya untuk bintang. Hanya kamu mara..." Afrizal memejamkan matanya, kemudian memegangi dadanya yang terasa sakit. Hingga akhirnya afrizal ambruk dari kursi roda dan jatuh ke lantai. Melihat kejadian itu, steven lekas menolong afrizal dan membawanya ke mobil untuk pergi ke rumah sakit.
"Mara, ayo..." Steven menagajakku dan aku ikut dengannya. Tak lupa juga kubawa bintang.
Setelah sampai di rumah sakit, afrizal langsung ditangani oleh dokter. Hingga ia mendapat perawatan khusus di rumah sakit ini.
Steven terus mondar-mandir tak tentu didepan ruangan ICU tempat afrizal ditangani.
Sementara aku duduk dikursi dengan bintang yang tertidur dipangkuanku.
Beberapa saat, dokter keluar dengan perawat diaampingnya. Dokter itu memasang wajah yang datar, ia berbicara dengan bahasa belanda pada steven yang aku pun tak tahu apa artinya.
"Om afrizal!!" Dengan wajah paniknya, Steven langsung berlari memasuki ruangan ICU. Akupun menyusulnya dengan menggendong bintang.
Steven terus menangis, sesekali ia mengusap pipinya yang telah dibasahi oleh air mata. Kulihat om afrizal diatas brankar sudah tertutup oleh selimut putih rumah sakit. Sontak aku pun berfikir jika om afrizal sudah tiada.
Aku pun langsung berdiri disebelah steven yang terus menangis. Aku disini masih sedikit bingung, tak tahu apa yang harus aku katakan. Aku tak bisa menenangkan steven, karena aku pun bum tahu apa hubungan om afrizal padanya.
Aku kasihan pada bintang, ia masih kecil namun ditinggalkan oleh kakeknya. Aku terus memeluk erat bintang dalam gendonganku. Tak terasa air bening ini pun terjatuh membasahi pipiku.
__ADS_1