Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Mengingkari janji..


__ADS_3

Byan menghentikan laju mobilnya disebuah taman pinggiran kota.


Kami pun turun dari mobil, menuju kursi dibawah pohon yang begitu rindang dikelilingi bunga warna-warni serta didepan sana terdapat kolam ikan juga air mancur..


Byan duduk dikursi kayu panjang, disusul denganku yang duduk disebelahnya. Aku sangat menyukai tempat ini. Tempat ini begitu segar, adem, dan membuat hati juga fikiranku tenang. Tak begitu ramai disini, terlihat beberapa orang saja yang sedang lari-lari kecil..


"Apa yang ingin kau bicarakan mara?" Byan membuyarkan pandanganku dari taman ini.


"Apakah kita akan bicara sekarang? Tanyaku.


"Ya, katanya kau ingin bicara. Mungkin disini tempat yang lumayan bagus untuk menjernihkan fikiranmu!" Timpal byan menatapku dengan senyumannya.


Senyumannya yang berhari-hari tak ku lihat lagi. Aku begitu merindukannya.


"Byan, teruslah seperti itu.." Pintaku, sembari memandanginya tanpa jeda.


"Aku? begini?" Byan menyentuh pipinya dengan jari-jarinya. Seakan ia sedang melebarkan senyumannya.


"Ya, kau semakin....."


"Apa yang ingin kau katakan mara?" Byan memotong perkataanku yang belum selesai.


"Sepertinya kau sungguh tak sabar??.." Umpatku kesal.


"Ya, aku sungguh tak sabar menantikanmu berbicara, wanita yang irit bicara sepertimu ternyata bisa berbasa-basi. Aku tak menduga." Byan terkikik kecil, sepertinya dia mengejekku.


"Ya, ini karena kau!" Timpalku kesal.


"Aku? aaa..ku salah apa? kenapa harus aku mara?"


"Kau sungguh tak menyadarinya?"


"Aku tak menyadari apa mara?"


"Byan, hentikan aktingmu!!!! Aku kesal jika kau terus begini!"


"Wajahmu memerah, apakah kau marah?" Tanya byan memperhatikanku.


"Byan... Tak bisakah kau mengerti?"


"Mara? aku harus mengerti aapaa? jangan membuatku bingung? berbicaralah yang jelas!" Nada bicara byan kian tinggi. Sungguh seperti membentak.


"Aku memang salah, sebelumnya maafkan aku byan.. Jika waktu itu aku bersikap kasar padamu.."


"Oh, itu... Tak masalah mara. Jangan fikirkan apapun aku tak akan ambil hati akan kejadian itu." Byan melemparkan senyumannya.


"Sungguh tak masalah?" Tanyaku.


"Sungguh mara.."


"Jika tak masalah, mengapa kau mendiamkanku beberapa hari ini?" Tanyaku ingin tahu.


"Mara, aku tak mendiamkanmu. Bukankah itu yang kau minta?" Byan menatapku lekat. Mengingatkan kembali akan perkataan ku padanya tempo hari.


"Iya, maaf.." Jawabku.


"Sudah, lebih baik kau kembali kerumah saja. Istirahatlah jika hari ini kau tak ingin bekerja. Nanti aku yang akan bicara pada arman dan juna." Byan mencoba menenangkanku.


"Bisakah kau bersamaku?" Entah dari mana asalnya fikiran ini tiba-tiba muncul. Aku sungguh tak ingin jauh darinya.


"Mara, tunggu sebentar aku akan membeli minum disana" Byan meninggalkanku mengarah ke mini market diseberang sana.


***


Di apartemen, Agatha sudah merapihkan diri dan bersiap-siap menunggu byan datang menjemputnya.


Agatha menggenakan kaos polos hitam dengan outer kemeja merah hati. Diikat rambutnya seperti kunciran kuda, dan memakai topi putih. Tak lupa agatha menyiapkan sepatu sneakers putih merk N**E.


"Hari ini aku ingin berpanas-panasan, apakah mas byan suka dengan penampilanku?" Agatha terus bercermin yang menampilkan pantulan dirinya.


"Ini sudah lewat setengah jam dari janjinya? apakah meetingnya ada masalah? Hmmm... tak apa aku akan menunggumu mas." Agatha bermonolog.


Namun sudah sejam berlalu dari janjinya. Byan tak kunjung datang.


"Apakah aku menjemputnya dikantor saja? Ah tidak, nanti mas byan akan marah-marah lagi. Aku tak mau itu terjadi." Agatha terus menunggu byan, tak sadar ia belum makan hingga siang dan ahirnya agatha tertidur di sofa ruang tamu.


***

__ADS_1


Byan kembali menghampiri asmara dengan satu kantong plastik besar berisi makanan ringan, cokelat dan minuman kemasan.


Mungkin ini akan membangkitkan semangat asmara lagi. Maklumlah mara adalah gadis yang baru lulus sekolah beberapa bulan lalu. Jadi byan memaklumi jika sikap mara kadang masih labil dan berubah-ubah.


"Ini untukmu.. Semua ini akan menemanimu.." Byan meletakkan kantong plastik besar disebelahku.


"Terimakasih... aku mau ini..!" Kuambil cokelat dan segera memakannya dengan lahap.


"Kau sungguh menyukai makanan manis ini?" Tanya byan.


"Ya, cokelat ini bisa membuat mood ku lebih baik" timpalku


"Hati-hati, nanti gigimu akan keropos dan berwarna hitam" byan terkikik mengejekku.


"Memangnya aku anak kecil? Huww..." Secara otomatis tanganku menepuk pundak byan..


"Adawww... sungguh tanganmu panas sekali" Byan terlihat kesakitan.


Akupun mengelus bekas pukulan tanganku dipundaknya.


"Tak apa, sudah tak sakit." Byan menepis tanganku dari pundaknya dan melemparkan senyuman kecil padaku.


"Maaf, aku menyakitimu..."


"Tak apa mara.."


"Byan, apakah tak masalah jika aku memanggilmu kakak atau mas jika diluar jam kantor?" pintaku.


"Tak apa.." Jawab byan singkat, lalu byan meneguk beberapa kali minuman kaleng bersoda berwarna hijau botol.


"Apa panggilan yang bagus? mas atau kak?" tanyaku lagi.


"Terserah saja mara, semua bagus!" Jawab byan.


"Mas saja ya.. Mas byan??" kutatap dalam dan lekat mata byan. Namun wajah nya menampakkan sebuah kekhawatiran setelah mendengarku memanggilnya dengan sebutan mas.


"Ya Allah!! Aku lupa!!" Byan menepuk jidatnya.


"Ada apa?" Tanyaku bingung.


"Mara, maafkan aku. Sungguh aku ada janji hari ini. Maafkan aku tak bisa menemanimu dan mengantarmu. Aku harus pergi!!!" Byan melangkahkan kakinya lebar. Sungguh byan sangat terburu-buru.


Hmmmmm, apa yang membuat byan begitu saja meninggalkanku. Urusan apa yang penting baginya? Baiklah tak apa. Setidaknya hari ini aku sudah sedikit lega karena sudah berbicara padanya. Meskipun aku belum sempat memberitahukan perasaanku pada byan. Mas byan.. Ya mulai sekarang aku akan memanggilnya dengan sebutan mas...


Mungkin besok dia akan bercerita atau menghubungiku..


***


Byan melajukan mobil honda civic miliknya dengan cepat. Dia terus menatap ulang jam tangannya. Kali ini byan sudah telat selama tiga jam.. Sementara janjinya pada agatha hanya setengah jam. Byan terus menepuk jidatnya sendiri. Dia terus memikirkan cara apa yang akan digunakan sebagai alasan pada agatha, agatha pasti akan marah kepadanya.


Sesampainya di apartemen, byan segera masuk dan mencari agatha..


"Assalamualaikumm, Tha... Agatha...." Byan melangkah kearah ruang makan, lalu kekamarnya namun tak menemukan agatha. Byan membuka pintu kamar mandi agatha tetap tak ada..


"Ya Allah tha, maafkan aku...Tha kamu dimana?" Byan melangkah kearah kamar tamu masih tak mendapatkan keberadaan agatha.


Byan duduk disofa ruang tengah, mengendurkan dasinya dan melepas beberapa kancing kemejanya. Byan melepas sepatu dan kaos kakinya asal, byan terus memijat kepalanya yang terasa pusing. Byan melangkah lagi menuju ruang tamu, ia meraih ponsel disaku celananya mencari kontak agatha..


"Sial!!!!!! Aku tak memiliki nomor ponsel agatha! Arghhhh... bagaimana bisa?" Byan kesal memaki dirinya sendiri.


Byan mencoba mencari kontak uminya. Langkahnya maju mundur, seperti setrika. Namun belum sempat menekan icon panggil pada umi, byan melihat kearah sofa disana.


"Ya Allah, agatha....." Byan terkejut melihat agatha yang tertidur seperti bayi menekukkan badan. Segera byan menghampirinya dan duduk dilantai dekat sofa memperhatikan agatha dengan segala penampilannya.


"Ternyata kamu sudah bersiap-siap? Maafkan aku tha.." Lirih byan.


Dia pandangi lekat-lekat wajah agatha yang sedang tidur pulas, didekatkan tangannya pada hidung mungilnya, terasa nafas agatha yang teratur menyembur hangat ditangannya. Ditatapnya lagi wajah mulus agatha, bulu mata lentiknya, bibir mungil yang sedikit berisi dilapisi warna peach, serta aroma mawar dari rambutnya yang semakin terhirup dihidung byan. Ingin sekali byan menghirup aroma itu lebih dekat.


Byan memberanikan diri melepaskan topi yang diapakai agatha, terlihat rambut lurus kecokelatan yang terikat dan sedikit berantakan, di kecup puncak kepala agatha..


CUPP... Mengecup kepala agatha dan menghirup wanginya sungguh membuat candu bagi byan..


"Sepertinya tak cukup sekali tha, maafkan aku..." Byan mencoba menempelkan bibirnya lagi pada puncak kepala agatha. Namun agatha menggeliatkan tubuhnya dan membuka matanya. Agatha sungguh terkejut. Melihat jaraknya dengan byan hanya sekitar beberapa senti saja.


"Mas.... byyannn..." Agatha membelalakkan mata menyaksikan kehadiran byan didekatnya. Byan yang melihat ekspresi wajah agatha yang sudah mulai memerah, serta matanya yang semakin membulat begitu senang. Byan tetap melayangkan kecupannya pada puncak kepala agatha..


CUPP!!! "Kamu sudah bangun?" Byan berbicara tanpa mengalihkan kecupannya dan tetap menghirup wangi rambut agatha.

__ADS_1


"Mas, sejak kapan disini? mas pasti menungguku ya?" Agatha terlihat gugup, ketika ia hendak memposisikan dirinya untuk segera bangun dan duduk byan melarangnya..


"Baru saja, tetaplah seperti ini tha.. Maaf aku mengingkari janjiku dan membuat mu menunggu lama.." Ucap byan sembari mengusap rambut milik calon istrinya itu..


Mendapat perlakuan byan yang begitu aneh dan terlihat memanjakannya, agatha sungguh bertanya-tanya.


"Mas, jika kau masih ada pekerjaan lebih baik kembali ke kantor.. Tak apa jika kita batalkan untuk pergi.."


"Emm, pekerjaan di kantor sudah selesai tha.."


"Owh.. Pasti pekerjaannya menumpuk ya mas? sampai-sampai waktu setengah jam menjadi tiga jam?"


DEGG!!! Hati byan merasa bersalah mendengar perkataan agatha. Entah bagaimana byan akan menjelaskan jika keterlambatannya bukan karena pekerjaan namun karena asmara, wanita yang ada di hatinya.


"Mas??" Agatha membuyarkan lamunan byan.


"Emm.. iya tha.."


"Aku mau siapkan makan siang dulu, mas belum makan kan?"


"Oh, baiklah.."


"Mas,.."


"Iyaa tha? ada apa?"


"I..ni tangannya maaf, aku tak bisa bangun jika terus disini."


Seketika byan menyingkirkan tangannya yang sedari tadi terus mengusap rambut agatha.


Agatha bangun dan merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Pandangan byan tak teralihkan sama sekali, hingga agatha hilang perlahan menuju meja makan.


Maafkan aku tha, aku sudah membohongimu.. Namun aku janji ini takkan terulang lagi.. Byan berjanji lagi dalam hatinya.. Entah akan ditepati atau tidak? Sulit dipercaya lagi.


Byan menghampiri agatha yang tengah sibuk menyiapkan makan siang. Rupanya tadi agatha memasak. Atha menyiapkan berbagai lauk-pauk dimeja makan. Agatha memasak udang saus tiram, tumis kangkung dan juga tempe goreng.


"Mas, atha cuma masak bahan yang ada di kulkas. Jadi maaf jika mas tak berselera." Agatha meraih piring dan mengisinya dengan nasi lalu menyerahkan pada byan..


"Iya, tak apa.. ini sudah lebih dari cukup! Besok kamu tak perlu masak lagi.." Jawab byan sembari meraih lauk dan sayur..


"Baik mas." Agatha menjawab singkat. Mungkin byan tak menyukai masakannya, perasaan agatha kini sedih agatha tak bisa menolak perkataan byan lebih baik agatha mengiyakan saja. Dari pada nanti byan marah lagi, itu sangat membuat agatha lebih sedih lagi.


"Emmm.. Apa ini benar masakan mu?" Byan menatap agatha sembari mengunyah makanan yang baru saja ia sendok.


"I...iya mas? maaf mas jika tak enak tak usah di makan, aku akan menggantinya.." Jawab agatha cemas.


"Agatha, masakanmu lebih enak di bandingkan masakan restoran seafood disini..!" Timpal byan.


"Apaa mas?" Agatha terkejut..


"Setelah makan siang kita pergi ke supermarket ya, kita belanja apa saja yang bisa kau masak.." Byan begitu lahap menikmati masakan agatha. Ya selama di jogja, byan tak pernah menikmati makanan masakan rumahan. Ia hanya menyantap makanan cepat saji atau pun makanan restoran..


Melihat byan menyantap masakannya dengan lahap, mata agatha menjadi berkaca-kaca sungguh perasaannya sangat-sangat bahagia.


"Terimakasih tha masakannya.." Byan menghabiskan makananya dengan bersih. Sembari membereskan meja makan, Agatha hanya membalas ucapan byan dengan senyum sumringahnya membuat lesung pipinya semakin dalam..


Memperhatikan agatha, byan sungguh tak menyangka wanita yang tadinya ia tolak habis-habisan ternyata memiliki kepribadian yang sangat baik..


Pintar masak, pintar mendesign Pakaian, sederhana meskipun kaya, dan sangat cantik.. Sungguh menatap agatha membuat candu byan. Byan melangkah mendekati agatha yang tengah berdiri didepan wastafel sembari mencuci piring, diraihnya tubuh agatha dari belakang dan memeluknya.


"Mas!" Agatha terkejut, dan langsung menghindar dari pelukan byan..


"Tha, maaf aku..."


"Mas, jangan melewati batasanmu aku mohon.. Kita belum resmi menikah!" Agatha meneteskan air mata nya, ia melangkah menuju kamar meninggalkan byan.


Menyaksikan agatha menangis byan semakin merasa bersalah.


"Arghh...Mengapa aku tak bisa mengontrol diri saat di dekatmu tha?" Byan meremas rambutnya sendiri.


Byan segera menghampiri agatha yang berada di kamar tamu.


TOK..TOK!! Byan mengetuk pintu.


"Tha, aku ingin bicara.."


"Mas, aku mau solat zuhur dulu.." Suara agatha terdengar dari dalam.

__ADS_1


"Baiklah, setelah solat siap-siap ya tha.. Kita akan pergi keluar. Aku menunggumu di ruang tamu.." Timpal byan dari luar kamar.


__ADS_2