Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Interview


__ADS_3

"Mara? Sepagi ini kamu mau kemana nak?" Ibu memperhatikan penampolanku dari atas hingga bawah yang sudah terlihat rapih.


"Bu, doakan aku yaa.. Hari ini aku ada interview kerja." Jelasku pada ibu dengan bangga.


"Alhamdulillah, semoga lancar nak... Ayo sarapan dulu." Ajak ibu padaku sembari mempersiapkan nasi goreng.


"Terimakasih bu..."


Aku menuju kantor perusahaan XXXX tempatku melamar kerja. Aku mempercepat langkah kakiku, tak ingin jika sampai terlambat. Setelah menuju bagian recepsionist, aku pun dipersilahkan menuju ruangan interview.


Berdasarkan pengalaman kerjaku diperusahaan byan, lalu di korea, akhirnya mereka menerimaku untuk bekerja.


"Selamat bergabung di perusahaan kami bu Asmara.." Wanita yang bername tag Saraswati sang manager menjabat tanganku memberi selamat.


"Jadi saya diterima bekerja disini bu?" Tanyaku dengan sumringah.


"Ya, kami menantikan kinerja bu Asmara." Jawab saras.


"Terimakasih banyak..." Jawabku.


"Mulai besok ibu sudah bisa bekerja, ini ada beberapa informasi yang harus diketahui oleh ibu." Saras memberikan selrmbar kertas berisi informasi untuk karyawan baru.


"Baik bu. Jika begitu saya pamit undur diri" Aku pun keluar dari ruangan sang manager perusaahan.


"Hallo, pak kami sudah menerima nona Asmara.." Saras berbicara dengan seseorang via ponsel.


"Kerja bagus saras. Terus pantau asmara." Jawab seorang lelaki diseberang sana.


"Bapak tenang saja." Saras memutuskan sambungan teleponnya.


Wanita malang, sungguh kasihan nasibnya.


Gumam saras dalam hati.


***


Di tempat yang berbeda, pagi ini juna dan chayra telah tiba di sebuah komplek perumahan baru mereka. Chayra sedang sibuk membereskan barang-barangnya dikamar barunya, sedangkan juna pagi ini langsung pergi ke kantornya karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Chayra menata barang-barang milik juna. Dibukanya koper juna, namun chayra menemukan sebuah kotak perhiasan.


Chayra pun memberanikan diri untuk membukanya. Saat chayra mengetahui isinya ternyata kalung berbandul huruf A. Kalung yang dulu diberikannya pada asmara.


Apakah ini kalung milik asmara? Mengapa kak juna masih menyimpannya?


Chayra menatap masih ada satu kotak lagi dan ia membukanya. Chayra melihat ada sebuah cincin.


Apakah ini juga milik asmara? Hmmm ternyata kak juna belum bisa melupakan asmara sepenuhnya. Atau jangan-jangan kak juna memang tak bisa melupakannya? Kak jadi selama ini kau membohongiku??


Chayra duduk di pinggiran ranjang, ia meletakkan begitu saja koper milik suaminya. Chayra menjadi malas seketika setelah mengetahui ada beberapa benda milik asmara didalamnya.


Namun rasa malas itu ditepiskannya kembali, chayra beranjak dari duduknya dan membereskan kembali barang-barang juna kemudian memasukkannya kedalam lemari.


Tak terasa, semua kegiatan beres-beres chayra sudah selesai. Mulai dari kamar, dapur, ruang tamu, dan semua penjuru ruangan telah ia benahi. Meskipun sebelumnya juna telah menyewa jasa ART untuk membantu chayra membenahi rumah baru mereka, namun chayra masih turut membenahi. Karena apa yang telah dikerjakan oleh jasa ART itu tak sesuai dengan keinginannya.


Chayra merasa tubuhnya lelah, ia melangkah ke lantai dua tempat kamarnya berada. Chayra merebahkan tubuhnya hingga ia pun tertidur pulas.


Tepat jam tiga sore, juna sudah kembali dari kantornya. Juna memasuki rumah barunya yang ternyata pintu depan tak terkunci.


"Chay...." Juna memanggil-manggil istrinya namun tak ada sahutan dari chayra.


"Chayra, kakak pulang..." Juna menengok dapur dan ruang keluarga namun tak menemukan keberadaan chayra.

__ADS_1


"Mungkin chayra sedang di kamar."


Hingga juna memutuskan untuk naik ke lantai dua tempat dimana kamar mereka berada. Juna membuka pintu kamar, dan ternyata chayra sedang tertidur di ranjang.


Juna berjalan mendekat kearah chayra dan ia duduk dipinggiran ranjang menatap lekat wajah istrinya.


Juna mengusap pelan wajah mulus chayra, hingga membuat chayra terbangun.


"Kakak sudah pulang?" Dengan suara paraunya, chayra terbangun karena merasa ada yang sedang menyentuh wajahnya.


"He'um.. Mengapa tidur sore chay? Itu akan membuat tubuhmu lemas.." Juna menyelipkan helaian rambut chayra yang sedikit berantakan kebelakang telinga.


Chayra menepis tangan juna, hingga ia merapihkan rambutnya sendiri. Juna yang mendapat perlakuan chayra pun merasa heran. Tak pernah chayra bersikap seperti ini sebelumnya.


"Aku mau mandi dulu kak.." Chayra beranjak dari tempat tidur, namun juna meraih tangannya.


"Kita mandi bersama..." Juna menatap chayra lekat, namun chayra melepaskan pegangan tangan juna padanya.


"Aku ingin mandi sendiri kak." Chayra menuju kamar mandi dengan berjalan sesikit cepat meninggalkan juna.


Sikap chayra menurut juna tak seperti biasanya. Jika biasanya juna pulang, chayra pasti mencium punggung tangan juna. Jika juna menggodanya, chayra akan membulatkan matanya atau mencubitnya, namun berbeda dengan hari ini chayra bersikap biasa saja. Wajah chayra pun seperti sedang dilipat-lipat.


Ada apa dengan mu chay? Apa aku berbuat salah?


Gumam juna dalam hati.


"Mandilah kak, aku akan menyiapkan makan malam di bawah." Chayra keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Juna memeluk tubuh istrinya dari belakang, namun chayra melepaskan pelukannya dari juna.


"Chay ada apa? Apa aku punya salah?" Tanya juna penasaran.


"Mandilah kak, tubuhmu pasti lengket." Chayra pergi begitu saja meninggalkan juna menuju ke dapur.


Juna berceloteh hingga ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Juna turun dari lantai dua, dilihatnya chayra sudah siap menunggunya di meja makan. Juna datang dengan mengacak pelan rambut chayra, kemudian mengecup puncak kepalanya. Namun chayra hanya diam saja dengan menampakkan ekspresi datar di wajahnya.


"Sayang, ada apa denganmu? Kau sakit atau...."


"Kak makanlah dulu, selagi hangat." Chayra mengambilkan beberapa lauk ke piring juna.


"Chay, jika sikapmu begini aku takkan bisa makan..." Juna menatap lekat wajah chayra yang amat datar didepannya.


"Aku akan mengganti makanannya jika kau tak suka." Chayra masih dengan wajah datarnya.


"Aku bukan tak menyukai makanannya. Chay, katakanlah jika aku memiliki salah. Jangan seperti ini." Juna merasa semakin merasa serba salah. Sementara chayra masih terus melanjutkan mengunyah makanannya.


"Chayra, malam ini ada festival di mall xxxx bersiaplah kita akan pergi kesana." Juna mencoba merayu chayra dengan ajakan untuk pergi keluar.


"Aku lelah kak, aku ingin istirahat saja di rumah." Chayra pun menolak ajakan juna.


"Em baiklah, kita istirahat saja di rumah." Juna pun langsung menyantap makanannya. Namun makan malam kali ini juna merasa canggung, makan malam yang tak biasa bagi juna. Chayra terus saja melipat wajahnya.


Setelah selesai makan malam bersama, chayra membereskan meja makan. Ia langsung bergegas pergi ke kamar dan tidur.


Juna yang ditinggalkan begitu saja oleh chayra pun merasa semakin serba salah. Ia yakin jika ada yang mengganggu fikiran chayra hingga ia bersikap seperti ini.


Juna menyusul istrinya ke kamar, di lihatnya chayra sedang merapikan tempat tidur dan mengganti sprei. Kemudian chayra duduk didepan meja riasnya. Seperti biasanya, chayra akan memakai vitamin rambut jika tidur.


Juna yang mengetahui itu langsung merebut vitamin rambut dari tangan chayra. Maksud juna, ia yang akan memakaikan vitamin itu ke rambut chayra.

__ADS_1


Namun apa yang ia dapat? Wajah marah dan judes istrinyalah yang juna temukan. Membuat juna menelan salivanya merasa semakin serba salah saat mendapat tatapan ngeri dari istrinya.



"Sayang, biar aku bantu memakaikan vitamin rambut ini ya?" Juna yang merasa takut dengan tatapan istrinya pun berkata lembut.


"Hmmm,...." Chayra hanya menarik nafasnya panjang. Kemudian beralih menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya membelakangi juna.


Juna pun langsung menyusul istrinya yang ia ketahui sedang ngambeg.


Juna merebahkan tubuhnya disebelah chayra, ia mengusap pelan rambut istrinya itu. Istri yang selalu tersenyum padanya, namun sejak pulang dari kantor ia belum mendapatkan senyuman chayra.


"Chay, jika ada sikap atau tindakanku yang menyakiti perasaanmu aku minta maaf... Aku manusia biasa, hingga terkadang aku tidak menyadari jika sudah berbuat salah. Maafkan aku..." Juna memeluk tubuh istrinya kemudian mengecupi puncak kepala chayra.


Chayra masih dapat mendengar jelas apa yang dikatakan suaminya. Namun ia memilih untuk memejamkan matanya dan berpura-pura tidur. Ia tak ingin berdebat dengan juna, karena chayra takut jika berdebat maka itu akan menimbulkan pertengkaran diantara mereka.


Entah mengapa hati chayra belum bisa menerima jika juna saat ini masih memiliki perasaan terhadap asmara. Padahal chayra sangat tahu sebelumnya asmara adalah wanita yang lebih disukai juna daripada dirinya. Chayra sangat tahu jika juna begitu menyayangi asmara.


"Chay, aku ke ruang kerja dulu. Kau istirahatlah..." Juna bangun dari tidurnya dan berjalan meninggalkan chayra menuju ruang kerja yang berada di sebelah kamarnya.


Beberapa kali juna mencoba terus berfikir kesalahan yang telah ia buat pada chayra. Namun juna tak menemukannya. Hingga kepala juna terasa berat dan semakin pusing akibat memikirkan chayra.


Hantu apa yang telah mengganggu istriku? Apa karena ini adalah rumah baru hingga hantu itu mengganggu istriku. Argh... Chayra, apa yang sebenarnya terjadi padamu....


Setelah beberapa jam memeriksa pekerjaanya, hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Juna merasa matanya terserang kantuk yang dahsyat hingga ia memilih untuk tidur ke kamar.


Begitu ia masuk kamar, juna tak menemukan keberadaan chayra di sana. Juna mencari chayra di kamar mandi, namun tak juga ia temukan.


"Chay..... Chayraaaa...." Juna menuju lantai bawah, mencari chayra ia takut jika istrinya itu akan pergi meninggalkannya.


"Sayang... Kamu dimana...?" Juna akhirnya menemukan sosok chayra di dapur, chayra sedang berdiri membuat coklat hangat.


Juna berhambur memeluk istrinya dari belakang, dengan nafas yang memburu karena khawatir kehilangan chayra, ia terus memeluk erat tubuh chayra.


"Ada apa kak? Apa yang terjadi?" Chayra yang merasa khawatir dengan suaminya pun membuka suara.


"Chay, jangan tinggalkan aku..." Juna berkata lirih.


"Aku takkan meninggalkanmu kak, jika tidak ada alasan yang membuatku pergi." Jawab chayra dengan memegangi tangan juna yang berada di perutnya.


"Aku takut, jika aku salah katakanlah... Aku berjanji takkan mengulanginya lagi." Jelas juna dengan menghadapkan tubuh chayra kearahnya.


"Kak, kau tak memiliki kesalahan apapun. Sikapku saja yang sedikit berlebihan. Sudahlah ayo kita tidur.." Chayra melepaskan pelukan suaminya dan mengurungkan niatnya meminum cokelat hangat yang telah ia buat.


"Sayang cokelat hangatnya....?"


"Aku lelah kak, aku ingin tidur saja." Chayra meninggalkan suaminya dengan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Juna pun menyusul istrinya ke kamar, ia membaringkan tubuhnya disebelah chayra.


"Sayang, aku ingin memelukmu boleh?" Tanya juna pada chayra.


Chayra yang merasa semakin kesal pun hanya berdiam diri tanpa suara. Sejak kapan suaminya itu meminta izin padanya? Biasanya juna akan melakukan apapun padanya tanpa meminta izin terlebih dulu.


"Chay....."


"Aku ingin tidur kak! Aku lelah! Aku tidak ingin diganggu!" Dengan nada yang sedikit keras, chayra menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Mendengar nada bicara chayra yang tak biasa, juna pun menjauh dari chayra. Ia memilih tidur menatapi punggung chayra yang sudah tak terlihat karena membelakanginya dan tertutup sempurna oleh selimut.


Juna hanya bisa bersabar membiarkan chayra tenang terlebih dahulu. Jika ia terus mengusik chayra, juna takut chayra akan semakin marah padanya.

__ADS_1


*Maafkan aku chay, jika aku belum bisa menjadi suami yang selalu memahamimu. Aku akan berusaha untuk lebih baik lagi.


To be continue*......


__ADS_2