
Aku pesan yang sama sepertimu saja." Juna menyunggingkan senyumannya pada chayra dan memegang punggung tangannya.
"Kak, malu banyak orang." Chayra menarik tangannya hingga juna hanya tertawa kecil menerima perlakuan chayra.
"Tunggu sebentar, kami akan menyiapkan pesanannya." Aku langsung pergi ke bagian dapur untuk menyerahkan menu pesanan chayra dan juna.
Tanpa aku bertanya lagi mereka ingin minuman apa ataupun menu yang lainnya.
Aku pun tak mau kembali bertanya, biar saja. Daripada aku melihat kemesraan mereka berdua yang membuat hatiku bagai tersayat sembilu.
Hingga saat ini, juna tak mau menyapaku atau sekedar menengok kearahku. Aku semakin merasa jika juna amatlah membenciku.
"Kak juna, jangan seperti itu.." Ucap chayra pada suaminya.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun, kau istriku chay.." Sergah juna.
"Kak maksudku mara. Jangan bersikap seperti ini pada mara kak. Bicaralah padanya kak.." Pinta chayra.
"Apa yang harus aku bicarakan chay? Aku bahkan yidak memiliki masalah apapun lagi padanya." Juna meraih tangan chayra, kemudian mengecupnya pelan.
"Ini pesanannya.." Aku mengantar pesanan chayra yang sudah selesai. Meskipun begitu ngilu saat aku melihat kemesraan juna pada chayra, aku tetap mencoba menahannya dengan memberikan senyuman palsu.
"Terimakaaih mara... Oh ya, minumnya lemon tea hangat ya..." Pinta chayra padaku.
"Maaf ya chay, aku tadi terburu-buru. Aku akan menyiapkannya mohon ditunggu sebentar." Jelasku pada chayra.
Setelah aku kembali untuk mengantar minuman pesanan chayra, aku melihat lagi juna sedang memegang tangan chayra dengan tatapan mata yang masih fokus pada ponselnya.
"Terimakasih mara..." Jawab chayra dengan senyumnya saat aku meletakkan lemon tea hangat ke meja.
"Ya.. Silahkan menikmati." Jawabku sembari perlahan berjalan meninggalkan meja chayra dan juna.
"Kak, ini lemon tea nya diminum dulu, selagi masih hangat." Chayra mengambilkan segelas lemon tea pada juna. Juna pun menyeruput lemon tea itu.
"Em, rasanya tak senikmat buatan istriku..." Juna mengecap-ngecap mulutnya, merasakan lemon tea yang berbeda. Tak lupa ia mengecup kembali punggung tangan chayra.
"Kak, sejak kapan kau bersikap bucin seperti ini apalagi didepan umum" Chayra menggelengkan kepalanya tak percaya akan tingkah suaminya.
"Tak apa bucin pada istri sendiri.." Jawab juna senyum.
"Ck, Kemana perginya sikap es batumu selama ini kak...?" Chayra berdecak merasa heran.
"Es batunya sudah mencair ketika kamu selalu memberikan kehangatan untukku." Juna sepertinya sedang menggombali istrinya.
__ADS_1
Bugh! Chayra memukul tangan suaminya sedikit keras. "Kau sangat pintar menggombal kak!"
"Apakah tamunya sudah pergi?" Tanya juna dengan sedikit pelan disertai senyum smirknya.
"Tamu siapa kak?" Jawab chayra tak tahu.
"Tamu bulananmu chay, aku sudah tak sabar ingin...."
"Bisakah tidak membahas itu disini kak?" Chayra memelototi suaminya.
"Jika matamu seperti itu, bukannya membuatku takut kau malah menjadi semakin menggemaskan.." Juna kembali mencium punggung tangan istrinya.
"Kak, berhentilah... Aku sudah lapar.." Chayra mulai merengek.
"Baiklah ayo kita makan istriku...." Ajak juna pada chayra.
"Bagaimana aku bisa makan, jika tanganku terus kau gandoli?" Chayra mengerucutkan bibirnya.
"Oh ya maaf sayang, tanganmu saja membuatku tak ingin melepaskannya apalagi bagian tubuhmu yang lain.." Juna kini kembali mrnggombali istrinya itu.
"Kakak!" Chayra mencubit lengan juna, hingga juna meringis kesakitan.
"Ternyata begini rasanya pacaran setelah menikah.." Juna terus menatap wajah istrinya yang menurutnya terlihat semakin cantik.
"Mara?" Ibu mengagetkanku dan mengalihkan pandanganku dari chayra dan juna.
"Ibu...." Aku jadi salah tingkah.
"Mara ada apa? Kau cemburu melihat nak juna dan chayraa?" Tanya ibu padaku.
"Ibu, mana mungkin mara cemburu. Itu tidak benar." Sergahku.
"Lalu? Kenapa pandanganmu terus mengarah pada mereka?" Tanya ibu lagi.
"Hmmm, ya chayra sangat beruntung bu. Sepertinya juna sangat mencintainya. Saat kami berpacaran pun juna tak pernah melakukan hal romantis seperti itu." Aku malah mengingat masa lalu.
"Mara, wajar juna seperti itu. Itu tandanya dia amat menghargai wanita. Saat ini juna dan chayra sudah menikah beberapa hari yang lalu, itu hak juna jika bersikap romantis pada wanita yang telah menjadi miliknya." Penjelasan ibu sontak membuatku terasa lemah.
"Menikah??? Apa?? Mas juna dan chayra sudah menikah?" Terasa tak percaya semua ini terjadi.
"Mara, ikhlaskanlah... Seperti dulu juna mengikhlaskanmu untuk byan." Ibu menepuk pundakku pelan lalu meninggalkanku.
Chayra dan juna sudah menikah? Pantas saja juna terus bersikap romantis padanya. Sikap yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain. Bahkan juna terus menatap chayra tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun.
__ADS_1
Apakah jika aku yang menjadi istrinya juna akan bersikap sama? Argh... Mengapa aku harus begini. Inikah penyesalan terberatku? Bukan berpisah dari byan, melainkan telah menyia-nyiakan orang yang begitu tulus menyayangiku. Juna.....
***
Afrizal terus menatap lekat mata tajam putrinya yang kini berada pada mata bintang.
Ya, mata yang mirip agatha kini berada pada mata bintang cucunya.
Afrizal meraih bintang dan menggendongnya, ia terus mengecupi pipi gembul bintang.
"Maafkan kakek nak, kakek harus merebut kebahagiaanmu bersama papa dan mamamu. Kakek ingin kamu terus menemani kakek disini. Kakek janji akan membuatmu bahagia dan menjamin segala kebutuhanmu."
Afrizal seolah mengobrol pada bintang, ia kini sudah berada di amsterdam. Sejak pernikahan byan dan agatha afrizal pindah ke negara kincir angin tersebut.
Sebenarnya, afrizal tidak rela jika byan menikah dengan asmara. Namun karena itu permintaan terakhir agatha, afrizal tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dibelanda ia merasa kesepian hingga afrizal berfikir akan membawa bintang cucunya kemari. Afrizal saat ini tak memiliki siapapun, ia berniat menjadikan cucunya sebagi teman dan akan terus menjaganya.
"Maafkan kakek yang egois ini nak... Maafkan kakek.." Afrizal menitikkan air matanya. Namun seolah mengerti, bintang terus menatapnya dan memukul wajah afrizal dengan tangan gembulnya.
"Kau marah pada kakek nak? Tak apa pukullah kakekmu ini bintang.."
Hingga akhirnya bintang pun menangis berteriak. Afrizal pun menyerahkan bintang pada baby sister yang dipercayai aftizal untuk mengurusnya.
Keberadaan bintang saat ini masih belum bisa ditemukan oleh siapapun. Afrizal sudah menerima kabar ini dari malik. Namun ia berpura-pura tidak tahu, karena penculikan bintang didalangi oleh afrizal.
Sekarang, afrizal sudah menerima informasi dari orang kepercayaannya di Indonesia jika byan dan asmara telah bercerai.
"Maafkan aku telah merusak kebahagiaan kalian byan, asmara.." Afrizal merasa bersalah, namun perceraian itu diluar dugaannya.
Afrizal hanya menginginkan bintang bersamanya, namun perceraian byan dan asmara bukan rencananya. Ia tak menyangka jika akhir dari penculikannya terhadap bintang berdampak perceraian.
Afrizal fikir, byan dan asmara akan bahagia jika bintang tidak bersama mereka. Namun nyatanya ia salah!
Semua sudah terlanjur, afrizal tak mungkin mengembalikan bintang pada byan....
***๐Dear readers, Terimakasih banyak sudah membantu othor hingga sejauh ini.. Tanpa dukungan kalian othor nggak bakal sesemangat ini..
Jangan lupa vote, like, komentarnya ya.. Bantu thor biar makin semangat Buat up lagi.
Besok hari libur ya?? Insya Allah othor up yang banyak buat readers kesayangan othor...
Tapi, kasih give dulu ya.. Bolehlah ya....
Jangan lupa mampir dinovel karya othor yang kedua. MENJADI PENGANTIN SATU HARI.
__ADS_1
Buat bunda yumfa, semangat ya, semoga menemukan kesuksesan diluar sana. Semangat bunnd... ๐น๐น๐น๐ช๐ช***