
Pagi-pagi sekali juna sudah datang untuk menjemputku. Sekital pukul 7 pagi juna tiba. Meskipun aku tak mengabarinya, juna datang ke rumah karena sudah mendapat izin dari ibu kemarin.
Setelah berpamitan pada ibu, kami berdua segera pergi. Aku tak tahu kemana arah tujuan juna membawaku. Aku adalah anak yang terlahir di jogja, namun aku tak pernah tahu daerah lainnya. Selain pergi ke sekolah, aku hanya diam di rumah. Sesekali aku bermain ke rumah niken, begitulah keseharianku. Di saat teman-teman sekolah asyik bermain ketika guru mata pelajaran tidak masuk. Aku memilih pulang kerumah. Karena sudah bekerja dan kuliah, aku jadi sedikit tahu daerah luaran. Sampai ke ibu kota pun aku sudah tahu.
Hampir selama satu jam kami melalui perjalanan. Juna sudah menepikan mobilnya di sebuah halaman rumah, yang terlihat luas jika dari luar. Disini juga banyak anak-anak kecil sedang bermain.
Di saat juna turun dari mobil, semua anak-anak itu menghampirinya dan menyalaminya.
"Kak juna...." Sembari berlarian anak-anak itu secara bersamaan memanggil juna, mereka tertawa bahagia dan ceria. Merekapun disambut ramah oleh juna.
"Adik-adik, kakak ada oleh-oleh untuk kalian semua.. Ayo masuk dulu." Semua anak-anak itu seolah menuruti perkataan juna. Juna mengambil dus yang ada di bagasi mobil dan membawanya masuk.
Kedatangan kami disambut baik oleh seorang wanita yang menurutku usianya sudah diatas ibuku.
"Bu aisyah?..." Juna langsung menyalaminya.
"Juna, Kabarmu baik nak?" Tanya bu aisyah.
"Alhamdulillah bu. Oh iya ini asmara bu." Juna memperkenalkanku akupun langsung memberi salam pada bu aisyah tanpa banyak kata.
"Apakah ini wanita yang kau ceritakan?" Ibu aisyah melirik juna sembari tersenyum.
"Iya bu.." Juna membalas senyum bu aisyah.
"Kalian duduklah dahulu, ibu akan membuatkan minuman.." Bu aisyah hendak bangkit dari duduknya.
"Terimakasih bu. Ini bu aku bawakan oleh-oleh untuk anak-anak dan juga ibu."
"Ibu yang harusnya berterimakasih padamu nak. Kau tak pernah berubah, kau selalu mengingat kami di sini." Ibu aisyah melaju ke arah dalam rumah itu. Mungkin ia hendak ke dapur.
Setelah kepergian bu aisyah aku langsung bertanya pada juna. Sedari tadi aku penasaran padanya. Sebenarnya aku dibawanya kemana? Mengapa aku dibawa kerumah ini? apa maksudnya? Dan anak-anak tadi siapa?
"Pak juna, sebenarnya...."
"Dia ibu aisyah mara, dan anak-anak tadi adalah adik-adikku. Ya, aku menganggap mereka semua adalah adikku. Sebenarnya bisa dibilang ini adalah rumah tempatku tinggal waktu kecil mara, tempat dimana aku tumbuh dan dibesarkan oleh bu aisyah. Hingga aku tumbuh baik dan sehat seperti sekarang. Bu aisyah adalah orang yang ku anggap sebagai ibuku sendiri." Juna memotong ucapanku dan langsung panjang lebar menceritakan kisahnya.
__ADS_1
"Emmm...maafkan aku pak, aku tidak tahu. Apakah ini sebuah panti asuhan??" Tanyaku tak enak padanya.
"Ya, bisa dibilang seperti itu. Kau bisa membaca itu mara.." Juna mengarah keluar rumah itu dan menunjuk jarinya pada sebuah Plank yang bertuliskan PANTI ASUHAN "AISYAH".
"Maaf pak, aku tidak melihatnya tadi. Jadi bapak besar di panti asuhan ini??"
"Ya, aku adalah anak yang tak tahu siapa orang tua kandungku? Mereka masih hidup atau sudah tiada. Anak yang tak tahu asal-usulku dari mana? Aku tak tahu apakah aku memiliki saudara, paman, bibi, kakek ataupun nenek. Aku tak tahu itu semua. Saat aku sekolah, guru bertanya siapa nama ayahku? Aku tak bisa menjawabnya.. Yang selalu aku jawab adalah ibu aisyah, aku hanya punya ibu yang bernama aisyah. Ya, hanya dia yang kumiliki. Bahkan aku tak tahu statusku ini sebagai anak yatim piatu atau bukan?." Juna menarik nafasnya panjang dan matanya kini sudah kian memerah.
"Pak, aku tak bermaksud...."
"Syukurilah hidupmu saat ini mara, kau masih memiliki ibumu, adik, ayah meskipun kau tak tahu sekarang dia dimana. Yang jelas, kau tahu asal-usulmu dan nama ayahmu. Kau lihat anak-anak di depan sana? Merekapun tak tahu siapa orang tua mereka." Ku melihat ketegaran pada juna. Juna sangat hebat dia mampu menjalani hidupnya hingga sampai pada titik saat ini.
"Juna adalah lelaki yang sangat kuat mara, dulu saat kecil juna tak pernah meminta uang pada ibu. Bahkan jika diberi uang jajan, juna selalu menyisihkannya dan menabungnya." Bu aisyah datang membawa dua gelas teh hangat dengan satu topless camilan.
"Terimakasih bu..." Jawabku menerima segelas teh darinya.
"Kau tahu mara, saat sudah memasuki SMP juna sudah bisa mencari uang sendiri. Dan saat SMA juna mendapat beasiswa selama 3 tahun. Ibu sangat bangga padanya."
"Ibu, berhentilah memujiku.... Itu semua berkat dirimu. Tanpamu aku mungkin tak bisa menjadi seperti sekarang..."
Aku baru tahu tentang kisah juna. Ternyata kehidupan yang ia jalani sangatlah sulit.
"Pak juna setelah ini mau kemana?" Tanyaku didalam mobil.
"Pulang. Memangnya kita mau kemana lagi?"
"Oh, aku fikir... Baiklah kita langsung pulang saja."
"Apakah kau ingin ke tempat lain mara?"
"Ti..tidak pak." Jawabku tertatih, namun entah mengapa aku ingin pergi ketempat lain bersama juna.
"Nanti saja, jika kamu memiliki waktu lagi. Aku sudah berjanji pada ibumu hari ini. Tak mungkin aku membawa puteri kesayangannya tanpa izinnya bukan??"
"Oh, iyaa pak. Baiklah."
__ADS_1
"Apakah saat pergi kau terbiasa tak meminta izin ibumu?"
"Ti..tidak pak. Aku selalu meminta izinnya."
"Baguslah, kau beruntung mara. Jangan pernah menyiakan orang tua. Lihatlah di luaran sana masih banyak orang yang tak seberuntung dirimu. Meskipun sekarang kamu merasa paling tersakiti, coba ingat lagi jika masih ada orang yang lebih sakit dari dirimu."
Juna sering sekali menasihatiku. Tapi kata-katanya itu memang benar.
"Emm, terimakasih pak sudah menasihatiku. Bagaimana dengan tawaranmu itu?? katanya kau ingin membantuku pak?"
"Hmmm.. Ya kau sabar dulu mara. Aku akan segera membantumu." Juna menengok kearahku dan tersenyum manis.
Mau Tak mau akupun membalas senyumannya itu. Namun juna menepikan mobilnya disebuah kedai.
"Pak, katanya ingin pulang? kenapa singgah disini?"
"Aku lapar, kita makan dulu saja.."
"Aku bisa makan di rumah pak."
"Emm, baiklah kalau begitu kita bungkus saja makanannya."
"Tak usah pak. Di rumahku banyak makanan. Ibu tadi memasak banyak. Jika tak keberatan bapak makan di rumahku saja..."
"Baiklah, terimakasih tawarannya mara. Tapi kita singgah dahulu di toki buah itu." Juna turun dari mobil dan membeli beberapa jenis buah.
Setelah selesai membeli buah, juna melajikan mobilnya segera menuju rumah.
"Kau tak ingin menyetir mobil lagi mara?" Entah mengapa juna menawarkanku menyetir.
"Tidak pak, cukup waktu itu saja. Pulang dengan selamat saja aku sudah berterimakasih pada Tuhan."
"Kau harus melatih diri lagi mara, saat lau membeli mobil kau tak perlu belajar lagi."
"Membeli mobil?? Ah, fikiran ku tak sampai ke sana pak. Aku bahkan tak memiliki SIM."
__ADS_1
"Kau bisa membuatnya. Aku akan mengantarmu jika kau bersedia. Tetapi izinlah pada ibumu dulu."
Obrolan demi obrolan kamipun tak ada habisnya. Hingga tak terasa kamipun sudah tiba di rumahku.