
Pembicaraan mereka akhirnya selesai selama dua jam. Tanpa panjangblebar dan tanpa penolakan. Akhirnya ibu asmara mengizinkan juna untuk lebih dekat dengan asmara. Namun itu semua kembali lagi pada asmara, ibunya mendukung semua keputusan asmara.
Setelah mengantar ibu aisyah, juna berniat untuk menjemput asmara. Namun saat tiba di depan parkiran kantor juna melihat asmara berjalan bersama byan dan masuk kedalam mobil.
Juna meraih ponselnya dan segera menelepon asmara.
"Hallo mara?? Aku jemput ya?"
[Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Nikmatilah dulu hari liburmu.] Jawab asmara di seberang sana.
"Baiklah. Hati-hati mara.." Juna langsung menutup sambungan teleponnya.
๐Asmara
Sementara di sebuah restoran, Byan sedari tadi memperhatikanku. Aku sungguh tak nyaman dengan tatapannya.
"Siapa yang telepon?" Tanya byan sembari mengeluarkan sebuah kotak ke atas meja.
"Teman." jawabku singkat.
"Teman? Jadi sekarang kau dan juna berteman?" Tanya byan penuh selidik.
Aku hanya diam tak menjawab. Kenapa sekarang byan jadi sok peduli kepadaku? Jika aku berteman atau tidak dengan juna atau dengan siapapun itu apa urusannya?
"Inii....." Byan menyodorkan satu kotak ke arahku.
"Apa ini pak?" Aku terkejut menerima pemberiannya.
"Ini untukmu, aku tak bermaksud hal lain mara! Jangan salah paham. Kau butuh ini sebagai sekretarisku. Ini untuk menunjang pekerjaanmu." Juna membuka kotak itu dan menunjukkan padaku. Ternyata isinya adalah ponsel berlogo ๐.
"Pak ini berlebihan." Ponselku memang terlihat sudah jadul. Tapi tak mungkin aku menerima pemberian darinya.
"Ini inventaris kantor mara, gunakan sebaik mungkin dan aku tak suka bila kau menolaknya!"
"Baik pak. Karena ponsel ini diatasnamakan oleh inventaris kantor, aku akan menerimanya." Setidaknya ini bukan pemberian pribadi oleh byan.
Aku merasa kaku terus bersama byan. Tingkah byan dan tatapannya membuatku salah tingkah. Aku segera mencari alasan untuk segera pulang.
Setelah selesai makan, aku langsung berpamitan pada byan.
"Maaf pak. Aku harus segera pulang.."
"Baik, ayo kita pulang."
"Aku pulang sendiri saja pak.."
"Sekalian aku antar, sudah lama aku tak bertemu dengan ibu juga randy aku merindukan mereka... Ayo aku antar.."
"Maaf pak, aku bisa pulang sendiri. Terimakasih makan malamnya, permisi.." Aku bergegas keluar. Kulangkahkan kaki dan sedikit berlari menuju halte bis tempat biasa ku menunggu. Hingga aku tiba di halte dan duduk pada kursi yang telah tersedia.
"Sendirian??" Tanya suara seseorang yang aku kenal.
"Pak juna?" Aku terkejut melihat dia sudah berada di belakangku.
"Ayo pulang, tak baik seorang gadis sendirian malam-malam begini." Ajak juna padaku dengan mengulurkan tangannya.
Aku menerima ajakan juna dengan senyum merekah. Sehingga kami berjalan beriringan dengan jari-jemari kami berdua yang saling berpautan.
Tanpa sepengetahuan asmara dan juna, byan memperhatikan Mereka dari kejauhan. Entah mengapa hati byan nampak kesal melihat juna dan asmara bersama.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja sebagai sekretaris?" Juna membuka suara di dalam mobil.
"Cukup melelahkan.." Jawabku singkat.
__ADS_1
"Aku yakin kau mampu menjalani profesi barumu ini dengan baik mara."
Aku hanya menganggukkan kepala pelan. "Hari ini kau kemana saja? Apakah bertemu seseorang?"
Tanyaku pada juna penasaran.
"He'umm, aku bertemu seseorang."
"Siapa?? Apakah seorang lelaki atau wanita??"
"Wanita..." Jawab juna singkat.
"Owgh.. Pasti dia sangat berkesan bagimu hingga kau harus mengambil cuty demi bertemu dengannya." Entah mengapa sepertinya perasaanku ini jadi sedikit mengganjal.
"Apakah kau sedang cemburu?"
"Ti..tidak!! Bagaimana kau bisa menyimpulkannya seperti itu! Sementara kita..... Kita tidak memiliki hubungan apa-apa? Hanya teman kan? Bukankah seperti itu pak??" Jawabku sembari tertawa kecil yang sedikit terpaksa.
"Yah, hanya teman. Sampai kapanpun kita akan menjadi teman tapi, kau akan menjadi teman hidupku mara.."
Aku terdiam mendengar perkataan juna, tak ingin aku menjawabnya.
Tiba-tiba juna menghentikan mobilnya, sedikit membuatku terkejut karena kami belum sampai di rumah.
"Kenapa berhenti disini pak?" Aku menatap juna bingung.
"Turunlah.. Ikut denganku sebentar saja.."
"Ta..tapi pak..." Jawabku ragu-ragu.
"Aku sudah minta izin pada ibumu tadi.. Aku akan mengantarmu pulang sedikit malam." Juna menunjukkan ponselnya padaku dan memperlihatkan isi pesan whatsappnya dengan ibuku.
Akupun menurut saja padanya, ku langkahkan kakiku perlahan mengikuti langkah juna dari belakang.
Lampu itu berkelip dengan warna-warni. Di depanku kini ada sebuah meja dengan dua buah kursi.
Meja serta kursi itu sudah tertata rapi dengan beberapa makanan dan minuman.
Juna menuntun langkahku, dan menarik kursi untukku dan mempersilahkanku duduk.
"A..apa ini pak?" Tanyaku heran dengan pandangan mataku mengitari sekitar taman.
"Duduklah mara." Junapun duduk di seberang kursiku. "Mara, lihatlah aku, aku sengaja mengajakmu ke tempat ini bahkan ini sudah jauh-jauh hari aku fikirkan. Apa kau suka??" Juna terdiam dan menatapku lekat.
"Sebenarnya ada apa ini pak?." Jawabku tak sabar. Jika juna dapat mendengar suara degup jantungku mungkin ia akan menutup telinganya. Rasanya aku ingin menghentikan denyut jantungku yang semakin kencang, namun aku masih ingin hidup! Sungguh aku ingin segera tahu maksud juna.
Juna menggenggam tanganku, dan membuka sebuah tudung di atas meja.
Aku terkejut begitu melihatnya!! Sontak mataku mengalirkan tetesan airmata bening.
"Mara, dengan niat dari hatiku yang terdalam.. Aku ingin kau menjadi teman hidupku. Maaf jika ini terlalu cepat bagimu mara, maukah kau menikah denganku??" Juna menatapku lebih dalam. Kulihat sorot matanya yang memancarkan kejujuran..
Aku hanya terdiam, tak sanggup aku menjawabnya. Entah apa ini? Sebuah kejutankah? Haruskah aku menerimanya?
"Mara, aku tak ingin memaksakan perasaanmu padaku. Tapi aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah sejak lama menyimpan perasaan untukmu. Perasaanku ini tulus mara, percayalah... Aku menyukaimu mara..... Maafkan aku yang serba kekurangan ini, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakanmu dan tidak akan pernah menyakitimu.. Aku berharap dan sangat berharap kau tak menolakku Asmara Arsytanty..."
Aku hanya bisa mematung melihat dan mendengar perkataan juna. Sungguhkah ini? Apakah ini hanya mimpi??
Hingga terdengar suara beberapa orang yang tiba-tiba bermunculan disana dengan serentak mengucapkan kata TERIMA...TERIMA...TERIMA... Serta bertepuk tangan.
Disana kulihat ada ibu dan adikku, ada pak arman, yongky, didit dan juga hesty..
__ADS_1
Aku tak pernah menyangka juna bisa berbuat seperti ini. Tanpa ada hubungan sepesial sebelumnya, tiba-tiba juna langsung saja melamarku.
Kutatap wajah ibu di sana yang menganggukkan kepalanya pelan, menandakan setuju.
Aku kembali menatap kearah juna, kulihat matanya sangat penuh harap.. Akankah aku menerimanya? Apakah keputusanku ini benar? Dengan mengucapkan Bissmillah aku menganggukkan kepalaku.
"Kau menerima lamaranku mara?" Juna seolah bahagia.. Ia kini menangis terharu..
"Ya, aku menerima lamaranmu Arjuna wiranata.."
Juna langsung meraih cincin didepannya dan memakaikannya pada jari manisku. Sungguh sangat pas, tidak terlalu kecil ataupun besar. Bagaimana mungkin juna bisa mengetahui ukuran jemariku? Apakah ini hanya kebetulan saja?
Kini juna beralih dari tempat duduknya dan mendekat kearahku.
"Boleh aku memelukmu mara??" Pinta juna padaku.
"He'um..." Dan kami berduapun saling berpelukan. Dapat kurasakan hembusan mafas hangat juna yang mengenai kepalaku.
"Terimakasih mara..."
"Apakah kau mengambil cuty hanya untuk mempersiapkan ini semua??
"Ya... Kau sangat pintar menebak mara."
"Lalu siapa wanita yang kau temui??"
"Dia bernama ibu kamila.." Jawab juna dengan tawa kecilnya.
"Apa?? Jadi kau menemui ibuku? Kalian sudah merencanakan ini? Kalian curang...."
Hingga semua orang tertawa bahagia dan mengucapkan selamat padaku dan juna secara bergantian. Tak terkecuali hesty, dia begitu terlihat kalem tak seperti biasanya.
***
Ini hari ketiga setelah pertengkarannya dengan byan. Agatha masih belum menemukan keberadaan byan. Tak ada kabar apapun dari byan melalui pesan ataupun telepon. Agatha ingin menghubungi byan melalui ponselpun menguringkan niatnya. Sungguh agatha tak memiliki keberanian untuk sekedar berkirim pesan pada byan.
Agatha menyadari, ini semua kesalahannya. Mungkin ia sedang dihukum dengan kemarahan byan.
Setelah pulang kerja, agatha selalu menengok ruang kerja byan. Namun tak pernah mendapati adanya byan. Agatha menuju ke kamar, byan juga tak ada.
Kau menghukumku mas? Kau sudah semarah ini padaku? Maafkan aku mas byan, aku adalah istri yang tak berguna!
Agatha menangis tersedu dengan menyiram tubuhnya pada shower di kamar mandi.
Sementara di tempat yang berbeda, byan merebahkan tubuhnya pada sofa di apartemennya.
Fikirannya dipenuhi tentang asmara. Asmara yang dulu sudah tak seperti asmara sekarang.
Dulu, asmara sangat bahagia dan senang jika bertemu dengannya. Namun kali ini wajah dan sikap asmara menunjukkan perbedaan.
Mungkin karena ini terlalu awal baginya, suatu hari nanti asmara akan luluh secara perlahan, batinnya.
Namun dihatinya kini masih mengganjal tentang agatha. Sudah tiga hari mereka tak saling memberi kabar. Byan yang selama ini merasa di anggap tak pernah ada oleh agathapun ia merasa semakin kesal.
Haruskah ia yang terlebih dulu meminta maaf? Padahal agatha yang sudah jelas bersalah.
Hmmmmm, akan ku tunggu sampai kapan sikapmu begini padaku tha. Aku tak akan kembali sebelum kau memintaku kembali. Kau sama sekali tak pernah menghargai aku.. Bahkan kau tak pernah menganggap aku ada!!
Duaaaar!!! Byan melempar sebuah vas bunga hingga mengenai tembok dan pecah berkeping-keping.
Arghhhhhh!!!!!!! Byan berteriak kencang.
๐Hay hay readers.... Terimakasih buat yang masih setia baca karya aku. Jangan lupa dukung terus karya aku yaa... Kalian semua yang bisa bikin aku tambah semangat! Ayo dong kasih vote, komentar, like buat thor... Biar thor kasih part panjang besok...๐ค๐ค
__ADS_1