
"Nak juna, bagaimana ini..." Bu kamila menangis sesegukan saat juna tiba di rumah asmara.
"Ada apa bu? kenapa ibu menangis?" Juna yang terkejut disambut tangisan oleh calon mertuanya.
"Mara..." Kamila menghela nafas panjang.
"Ada apa bu? Mara kenapa? Apa yang terjadi padanya?"
"Mara hilang nak..."
"Apa??? Hilang bagaimana bu?"
"Sedari kemarin mara tak pulang, mara bilang akan pergi ke kampus. Tapi..."
"Ibu tenang dulu, juna akan mencari dan menemukan mara. Ibu jangan khawatir." Juna mencoba menenangkan bu kamila. Padahal saat ini perasaannya pun lebih khawatir memikirkan asmara.
"Bagaimana jika mara tak ditemukan nak.." Bu kamila menangis sesegukan.
Tangisan randy pun pecah ketika melihat ibunya menangis. Randy menangis histeris.
"Huaaa.......Huaa..... Kakak...." Randy memeluk ibunya dengan suara tangisan nyaringnya.
Tanpa fikir panjang, juna langsung pergi untuk mencari asmara. Tujuannya hanya satu saat ini. Juna mengepalkan telapak tangannya dengan emosi yang memuncak.
Juna menerobos masuk keruangan kerja byan, juna menghampiri byan dengan tatapan penuh emosi. Dengan beringasnya juna menarik kerah baju byan dan mendaratkan pukulan keras kewajah byan.
BUGHGGG!!
"Apa yang kau lakukan juna!" Byan berteriak berusa bangun dari jatuh.
"Dimana mara?!!!" Juna menarik kerah baju byan kembali lalu menghantamnya lagi.
BUGHHHHHHHH!!!!!
"Juna apa maksudmu! Aku tidak tahu apa-apa" Byan mengokohkan tububnya. Lalu membalas pukulan juna.
Bugh! Bugh!!!!
"Katakan dimana asmara?" Juna masih dengan emosinya.
"Tak tahu malu! Kau menanyakan dimana asmara? Kau bahkan tidak bisa menjaga asmara! Kau tidak pantas untuknya." Byan tersenyum ala devil sembari menyeka darah yang mengalir dari hidungnya.
"Katakan dimana asmara!" Sergah juna.
"Aku tidak tahu!" Jawab byan kesal.
"Jika kehilangan asmara akibat ulahmu! Aku takkan mengampunimu!" Juna mendobrak meja kerja byan dengan keras. Lalu pergi meninggalkannya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kemana asmara? Byan bermonolog, sangat penasaran. Byan merasa tak pernah bertemu lagi dengan asmara setelah kejadian saat asmara mengundurkan diri.
***
Kesana kemari juna mencari keberadaan asmara, namun tak ditemukan. Juna datang ke kampus, namun semua orang tak ada yang tahu.
Hari-hari juna tak tenang memikirkan asmara, asmara tak memiliki teman akrab yang dapat dihubungi. Hingga ingatan juna tertuju pada niken. Juna berniat pergi ke jakarta untuk menghampiri niken. Mungkin juna bisa mendapatkan informasi dari niken.
***
Juna menemui niken di sebuah restoran tempat mereka pernah bertemu kala itu.
Sayangnya, niken tak tahu apa-apa tentang mara. Niken juga tak pernah saling kontak dngan asmara setelah terahir mereka bertemu.
"Jadi kau tak tahu dimana mara?"
"Maaf pak, saya benar-benar tidak tahu.."
__ADS_1
"Niken, apakah kau sungguh?"
"Iya pak, saya tidak bohong. Maaf saya harus kembali bekerja lagi."
"Baiklah, terimakasih waktunya. Jika kau mengetahui kabar mara tolong hubungi aku. Ini kartu namaku.." Juna memberikan kartu namanya pada niken.
Juna merasa sia-sia, kedatangannya menemui niken tak membuahkan hasil.
Mara... Kemana kamu sebenarnya, ada apa denganmu mara. Apakah kau marah padaku? Kembalilah mara, aku harus mencarimu kemana lagi....
Juna merasa prustasi, ia memegangi kepalanya dan meremas rambutnya. Pihak kepolisian pun belum mengabarinya.
***
Di tempat yang berbeda, byan terus saja mondar-mandir seperti setrika. Di dalam kamarnya ia masih memikirkan asmara.
Sebenarnya asmara kemana?, apa yang terjadi padanya?, tak mungkin juna sekhawatir itu jika tidak terjadi apa-apa pada asmara.
"Mas?... Ada apa? Apa ada masalah?" Agatha datang membawa kotak obat.
"Tidak, tak ada apa-apa." Jawab byan dingin.
"Aku obati dulu lukanya ya..." Agatha duduk dipinggiran ranjang bersebelahan dengan byan.
Agatha mengoles obat merah dengan kapas lalu memoles pada ujung bibir byan.
"Awwwww! Pelan-pelan." Byan meringis merasakan perih dan sakit.
"Sakit ya mas? Jika sakit mengapa kau berkelahi?" Tanya agatha.
"Aku tidak berkelahi, aku hanya kecelakaan kecil." Byan mengelak beralasan.
"Tempo hari kecelakaan kecil, hari ini juga. Sebenarnya kecelakaan seperti apa mas yang bisa terjadi berulang-ulang?"
Agatha hanya bisa pasrah dengan sikap suaminya, ia merapikan kotak obat lalu menyelimuti suaminya.
Untuk saat ini agatha hanya bisa sabar dan terus bersabar. Jika mereka sama-sama keras, maka rumah tangganya takkan harmonis.
Agatha yakin, jika suatu saat nanti byan akan luluh.
Untuk saat ini tak ada yang tahu keberadaan asmara dimana. Hingga tak terasa pencarian asmara sudah berlangsung selama satu minggu. Namun asmara tak kunjung ditemukan. Pihak kepolisian pun belum memberi kabar apa-apa. Hilangnya asmara kini masih menjadi misteri bagi juna.
Juna sudah berusaha mengerahkan orang-orangnya untuk menemukan asmara. Namun, semua itu nihil. Selama satu minggu kabar tentang asmara belum juga terdengar.
Mendengar kabar asmara hilang, chayra dan juga bu aisyah berniat menemani juna di rumahnya.
Juna terlihat terpuruk, hari-hari juna pergi pagi pulang tengah malam untuk sekedar mencari asmara. Namun hasilnya sia-sia, yang didapat adalah tubuhnya yang kian kurus karena tak mau makan dengan teratur. Bu aisyah dan chayra sudah mencoba membujuknya dengan segala cara, namun juna masih tetap saja tak menggubrisnya.
Juna benar-benar terlihat hancur. Andai saja kala itu juna membawa asmara ke bali bersamanya, pasti tak mungkin kejadiannya akan seperti ini.
"Kak, aku buat lemon tea hangat. Diminum ya.." Chayra meletakkan minuman di meja ruangan kerja juna.
"Heeummm.." Juna hanya mengangguk pelan, juna masih terpaku duduk di kursi dengan melihat kearah jendela memandangi langit malam.
"Kak, aku susah payah membuatnya. Hingga tanganku sedikit melepuh terkena air panas." Chayra beralasan., agar juna segera meminum minuman buatannya.
"Apa?? Apakah sakit? Mana yang terluka chay? Apa sudah diobati?" Juna meraih tangan chayra mencari-cari keberadaan luka lepuhnya.
"Hmm... Hentikan kak! Berhenti mengkhawatirkan orang lain. Khawatirkanlah dirimu sendiri untuk saat ini saja dulu!! Ayolahhh kak, please....." Chayra mulai menitikkan air matanya. Tak sanggup melihat keadaan juna yang seperti ini.
"Chay...." Juna mengusap air mata dipipi chayra.
"Kak, mungkin asmara pergi karena punya alasan sendiri. Tak mungkin dia pergi tanpa alasan kak. Kakak jangan seperti ini..."
"Chay, asmara tidak mungkin pergi. Aku yakin pasti ada dalang dibalik semua ini!"
__ADS_1
"Kak juna... Kau harus bangkit! Kau sebegitu memikirkannya, belum tentu dia juga memikirkan perasaanmu saat ini kak!"
"Chayra!! Mara tidak seperti itu. Kau belum mengenal asmara sepenuhnya! Jangan menilainya begitu.."
"Kak, jika dia memikirkanmu mana mungkin dia pergi begitu saja!"
"Chay, kita tidak tahu sekarang keadaan mara seperti apa? Apakah mara hari ini makan? Apakah dia tinggal di tempat yang layak? Atau dia tidur dengan selimut disana? Apakah dia masih hidup atau tidak! Kita belum ada yang tahu bukan?" Juna mulai menitikkan air matanya memikirkan asmara. Juna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak ada yang tahu betapa hancurnya perasaan juna saat ini. Yang jelas, juna tak pernah terlihat serapuh ini.
Chayra semakin sedih melihat kondisi juna. Sedangkan bu aisyah hanya bisa mendengar percakapan mereka dari luar. Kali ini bu aisyah tidak bisa berbuat banyak. Yang ia lakukan hanyalah berdoa agar asmara segera ditemukan.
***
Pagi-pagi sekali, agatha terbangun saat ia merasakan mual yang begitu dahsyat. Agatha segera berlari kecil menuju kamar mandi. Hingga ia tak sanggup dan segera memuntahkan semua isi perutnya.
Hoekkk.... Hoek.... Hoekk...
Hoek... Hoek....
Agatha merasa kini tubuhnya semakin lemas, akibat mual yang melanda dirinya. Ia terus mengeluarkan isi perutnya hingga perutnya kini terasa kosong.
Byan yang mendengar suara istrinya itu segera menghampirinya. Dilihatnya agatha sudah terkulai lemas di dekat wastafel.
"Kamu sakit?" Byan mendekat ke arah agatha.
"Tidak tahu mas.." Agatha kini terlihat semakin lemas.
"Istirahatlah, mungkin kamu lelah."
"Iya mas." Jawab agatha singkat, agatha berlalu dari byan menuju ke ranjang kembali. Agatha meraih selimut dan kembali tidur.
Byan yang melihat tingkah istrinya itu terasa aneh, biasanya agatha bangun langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tapi kali ini agatha berbeda, mungkin karena ia tak enak badan jadi agatha memilih beristirahat.
Byan membiarkan istrinya itu tertidur. Hingga ia harus menyiapkan pakaian sendiri untuk pergi ke kantor.
Memang biasanya, agatha lah yang mempersiapkan segalanya. Air hangat untuk mandi, pakaian kantor, sepatu dan sarapan. Belum lagi ia harus mencuci baju, mengepel lantai dan membersihkan apartement. Agatha sengaja tak memperkerjakan ART. Ia ingin segala urusan rumah tangganya dapat dilakukan sendiri.
Agatha sudah berniat untuk mengurus suaminya, bisnisnya di jakarta ia serahkan pada asistennya ayu. Demi rumah tangganya, agatha memilih untuk mengalah dan ikut dengan juna ke kota yogyakarta.
Meskipun sudah banyak pengorbanan yang dilakukan agatha, byan tetap saja bersikap sedikit acuh pada istrinya. Byan tak pernah memanjakannya, atau hanya sekedar bercerita layaknya seorang suami dan istri.
***
"Katakan padaku, dimana mara?" Juna tiba-tiba sudah berdiri dihadapan byan.
"Kau tak pernah bosan memberiku pertanyaan yang sama? Padahal sudah jelas aku tak tahu jawabannya!" Byan mulai kesal, bisa-bisanya sarapan pagi ya terganggu. Ini semua karena agatha tak menyiapkan sarapan untuknya, hingga byan harus sarapan di pantry kantor.
"Aku sudah mencarinya kemana-mana. Namun aku tak bisa melacak keberadaannya! Kau pasti tahu sesuatu!" Juna masih tak percaya dengan ucapan byan.
"Kau terus menuduhku tanpa bukti! Haruskah aku melaporkanmu atas kasus pencemaran nama baik? Dan jangan lupa, kau juga melakukan kekerasan terhadapku tempo hari." Byan masih melanjutkan sarapannya.
"Ini semua ulahmu kan?? Kau akan menyesal byan!" Juna mulai tersulut emosi.
"Kau mengancamku?? Aku bahkan sangat menyesal telah menyakiti dan meninggalkan asmara. Kali ini, bukan salahku jika asmara pergi meninggalkanmu. Aku benar tak tahu apa-apa..." Timpal byan.
"Aku tak percaya padamu!"
"Meskipun aku terlihat jahat dimata orang lain. Aku tak mungkin menyakiti orang yang aku cintai. Carilah asmara sampai kau menemukannya. Jangan sampai kau menyesal sepertiku juna..." Byan menepuk pelan pundak juna lalu byan pergi meninggalkannya.
Juna merasa jika mantan bossnya itu sungguh tak tabu apa-apa. Byan kali ini terlihat jujur, namun juna belum sepenuhnya mempercayai byan. Ia terus memantau gerak-gerik byan melalui orang suruhannya.
*šHaiii readers... Thor up sedikit dulu ya, besok kalo tangannya udah nggak pegel lagi insya allah thor up lebih dari 1000 kata. Thor abis vaksin booster nih, hayooo readers dah pada booster belom??
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya yaa readers. Biar thornya makin semangat untuk up episode selanjutnya..
THANKYOUUUš„š„š„*
__ADS_1