Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Fikiran negatif mara..


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Setelah tragedi kecelakaan pesawat yang menimpa rayhan, andryani dirawat di rumah sakit. Selama itu pula fabyan menemani uminya walau terkadang harus kembali ke jogja dua kali dalam seminggu untuk tetap memantau perusahaannya.


Begitu pula dengan agatha. Setiap hari menyempatkan diri untuk menemani ibu mertuanya itu dan membantu merawatnya. Pagi hari agatha harus membantu membersihkan tubuh andryani, sementara sore malik lah yang akan menemani istrinya itu.


Memang sejak kecelakaan itu, kondisi andryani sangat memprihatinkan. Ia koma hampir setengah bulan, namun sekarang kondisinya sudah mulai membaik.


Satu bulan dirundung kesedihan dalam keluarga ini, memang tak mudah untuk melupakan semua kenangan bersama orang yang kita sayangi. Tak mudah pula bagi andryani menerima kenyataan putra sulungnya telah meninggalkannya.


***


🍒Asmara


Karena byan sibuk pulang pergi jakarta-jogja, akhir-akhir ini kami jarang sekali bertemu. Bahkan terakhir kali ku ingat saat kami bersama byan masih berhutang penjelasan terhadapku.


Untuk menyapanya saja aku tak memiliki keberanian. Aku sangat memahami bagaimana keadaannya saat ini, karena kakaknya yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat bulan lalu.


Sempat aku menanyakan kabarnya lewat pesan whatsapp, namun pesanku hanya centang biru. Aku harus memakluminya. Yang mengganggu fikiranku saat ini adalah kakak ipar byan. Ya, wanita itu yang selalu mengusik otakku belakangan ini.


Apa byan akan kembali lagi padanya? Apa byan masih sangat mengharapkannya? Apalagi saat ini wanita itu sudah ditinggalkan suaminya? Apakah wanita itu akan merebut byan dari sisiku? Haruskah aku memikirkan hal sejauh ini? Otakku sungguh dipenuhi dengan fikiran negatif. TIDAK!!!!

__ADS_1


"Mara?" Suara juna membuyarkan lamunanku.


"Eh, emmm pak juna?" Aku mengangguk menyakaikan kehadirannya yang sudah duduk disebelahku.


"Apa ada yang mengganggu fikiranmu?" Tanya juna.


"Ah.. Tidak pak." Jawabku mengelak.


"Hmmm... kau yakin?" Tanya juna lagi.


"I....iiya pak." Aku mengangguk pelan.


"Lalu, mengapa kau melamun begitu lama?" Juna menatap mataku dengan penuh pertanyaan.


"Kau tahu berapa lama aku disini?" Tanya juna dengan mata penuh selidik.


"Baru saja bukan?? Memangnya berapa lama pak?" Aku membulatkan mata menatapnya.


"Mara. Jika ada kesulitan kau bisa mencariku. Pak byan mungkin sementara ini akan lama tinggal di jakarta." Juna meninggalkanku menuju luar ruangan.


Aku tidak mengerti apa maksud juna menghampiriku. Untung saja para partner kerjaku sudah pulang lebih dulu. Hanya aku sendiri yang tertinggal karna lamunan tak jelas.

__ADS_1


Byan? Apakah byan akan tinggal lebih lama dijakarta? Oh, tidak.... Beberapa minggu ini saja rindu ini sangat menyiksaku. Apalagi jika byan harus lebih lama disana?


Aku berlari keluar ruangan kerja. Berusaha mengejar juna disana yang masih terlihat dan belum cukup jauh.


"Pak juna....Pak....Tunggu!!" Aku berlari kecil mengejarnya sembari berteriak. Setelah beberapa detik akupun berhadapan langsing dengannya.


"Mara? ada apa?" Lagi-lagi juna menatapku penuh selidik.


"Emmm.. Apakah bapak akan langsung pulang?" Tanyaku.


"Tidak. Aku harus ke apartement pak byan..."


"Aku ikut.!" Aku langsung memotong ucapan juna dan berjalan menuju arah parkiran mobilnya.


"Hmm.. Mara! Jangan membuat masalah! Pak byan akan memarahiku jika tahu kau ikut!" Juna berjalan cepat menyusul langkahku. Namun aku tak mempedulikannya. Aku langsung masuk kedalam mobilnya. Kali ini aku sungguh bertindak berani.


"Mara? Jika kau begini kau akan membuat masalah besar..."


"Bapak sendiri tadi yang bilang bukan? Jika ada masalah maka aku akan mencarimu?" Aku memotong ucapan juna lagi.


"Hmmmm... Baiklah. Namun jangan libatkan aku dalam masalah kalian berdua." Juna melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Baik pak.." Jawabku singkat.


__ADS_2