Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Memilikimu seutuhnya


__ADS_3

Area 21++...


Readers, harap bijak dalam membaca...


🍒Asmara


Setelah beberapa hari mempertimbangkan, aku akhirnya menerima tawaran bu saras untuk pergi ke amsterdam. Tentunya atas izin ibu. Alhamdulillah, meskipun awalnya ibu tak mengizinkanku, tapi akhirnya ibu pun menyetujuinya.


"Terimakasih bu, aku akan pergi besok." Aku memeluk ibu dan juga randy.


"Jaga dirimu nak, jangan pernah melupakan ibu dan juga adikmu." Dengan senyum jailnya, ibu meneteskan air matanya sembari mencubit pelan pipiku.


"Apa yang ibu katakan? Ibu dan randy satu-satunya keluargaku. Hanya kalian yang kumiliki aku tak mungkin melupakan kalian bu... Meskipun, aku kini sudah terlupakan oleh orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku." Aku kembali mengeratkan pelukanku terhadap ibu. Sementara randy hanya diam saja, namun wajahnya terlihat amat sedih. "Randy harus bisa jaga ibu, kak mara hanya pergi sebentar." Aku mengusap pelan puncak kepala randy yang menunjukkan wajah muram.


Setelah aku memberitahu bu saras jika aku menyetujui untuk ditugaskan ke amsterdam, beliau langsung menjadwalkan keberangkatanku.


"Semua fasilitas dan biaya kehidupanmu perusahaan yang menanggungnya mara, jadi jangan sekalipun kau mengeluarkan uang pribadimu. Kau mengerti??" Bu saras menjelaskan banyak hal tentangku. Aku pun hanya mengangguk pelan mendengarkan penuturannya.


"Kau sudah siap berangkat besok?" Tanya bu saras lagi padaku.


"Aku siap bu!" Aku pun menjawab dengan mantap tanpa ragu.


"Baiklah... Semoga berhasil mara. Jangan sungkan untuk meneleponku. Beritahu aku jika kau merasa kesulitan disana."


"Terimakasih bu." Aku hanya tersenyum kecil padanya. Tak mudah bagiku mengakrabkan diri dengan orang yang baru beberapa hari ku kenal. Apalagi dia adalah atasanku.


***


🛫🛫🛫



Tibalah aku di amsterdam, negara yang akan aku tinggali untuk beberapa waktu. Setelah aku tiba di bandara schiphol, aku langsung menonaktifkan mode pesawat pada ponselku. Ku dial nomor telepon ibu dan melakukan panggilan video agar ibu tak terlalu khawatir padaku.


Aku menuju apartement yang sudah di sediakan oleh perusahaan, sudah ada orang yang di utus oleh bu saras untuk mengentarku kesana. Dia adalah pak steven, begitulah ia memperkenalkan diri padaku.

__ADS_1


Hari yang cukup melelahkan bagiku, hingga aku memutuskan untuk merehatkan tubuh diatas kasur.


Apartement yang aku tempati kali ini terbilang cukup mewah. Ada dua kamar tidur dan dua kamar mandi. Dapur minimalis juga ruang tamu yang disekat bersebelahan dengan ruang televisi.


Menurutku ini sangat berlebihan untukku. Karena kepalaku terasa sangat pusing dan mata yang berat akan kantuk, akupun tertidur.


***


"Chay, aku akui jika aku belum bisa melupakan asmara. Maafkan aku..." Juna memberanikan diri untuk mengatakan hal ini pada chayra. Ia merasa bersalah jika terus menutupi kebohongannya.


"Tapi chay, aku akan lebih berusaha lagi agar dapat menghilangkan dia dati fikiranku. Kamu yang akan membantuku bukan?" Tanya juna menatap dalam pada istrinya chayra yang terus saja membanjiri pipinya dengan air mata. "Chay, aku tak bermaksud menyakitimu... Maafkan aku.." Juna mengusap wajah chayra yang terus saja basah.


"Tak perlu meminta maaf kak, ini bukan salahmu. Kau sudah jujur dengan perasaanmu pun aku sudah senang. Aku hanya ingin kau memilih kak, pilih aku atau asmara?" Chayra yang sejak tadi diam tanpa kata pun membuka suaranya.


"Sayang... Apa maksudmu bicara seperti itu?" Tanya juna semakin merapatkan posisi duduknya dengan chayra.


"Kenapa kak? Apakah berat bagimu untuk memilih? Kau kini sudah mengetahui jika asmara telah bercerai, apakah itu membuatmu ingin mengejarnya lagi?" Ucap chayra diiringi isakan tangisnya.


"Chay, maksudku bukan begitu. Kau salah paham.. Meskipun aku masih belum bisa melupakannya, tapi aku akan tetap memilihmu. Kau istriku chayra aku tak akan meninggalkanmu." Juna memeluk tubuh mungil istrinya yang sedari tadi menangis. "Aku tahu begitu besar cintamu untukku, jangan menangis lagi. Maafkan aku yang telah melukaimu chayra.." Juna mengecupi puncak kepala chayra hingga membuat chayra semakin mengencangkan tangisannya. "Sudah jangan menangis, kita harus sama-sama saling menguatkan demi rumah tangga kita. Jika aku salah, maka tegurlah aku chay. Begitupun sebaliknya, aku akan menegurmu jika kau salah." Juna mencoba menenangkan chayra yang masih terus menempel dipeluakannya.


"Hanya IYA??" Juna menaikkan satu alisnya, panjang lebar ia berbicara chayra hanya menjawab singkat


"Aku harus jawab apa kak?" Chayra menjadi bingung.


"Kau tak perlu menjawab apa-apa chay, cukup ikuti saja perintahku. Kau mau?" Juna tersenyum smirk.


"He'um..." Chayra hanya menganggukkan kepalanya.


Tanpa pikir panjang, juna langsung menggendong tubuh chayra. Ia membawa chayra masuk kedalam kamar kemudian meletakkan tubuh chayra perlahan diatas ranjang.


"Aku ingin memilikimu seutuhnya chay..." Jantung juna kini berdegup hebat, ia menatap lekat mata dan wajah istrinya. Begitu pula dengan chayra, ia tahu apa yang juna katakan. Chayra hanya pasrah, mau bagaimanapun juga juna adalah suaminya.


Juna beberapa kali mengecupi puncak kepala dan pipi chayra yang terlihat semakin memerah. Entah memerah karena malu atau karena chayra gugup. Tapi juna menyukai mimik wajah istrinya itu. Juna


Juna melepas helaian kain yang menutupi tubuh chayra hingga tak tersisa satupun. Kini ia dengan puas dapat melihat lekuk tubuh dan pemandangan indah didepan matanya yang membuat juna tak dapat berkedip. Juna tak ingin melewatkan kesempatan ini.

__ADS_1


Tanpa rasa sabar, juna meraup bibir manis milik istrinya. Tangannya pun mulai bergerilya kesana kemari hingga ia menemukan dua benda kenyal yang sangat ingin dimainkannya, hingga membuat chayra mengeluarkan desahannya.


Juna sungguh tak sabar, ia telah menemukan sangkar tempat miliknya berpulang. Juna ingin menembus liang milik istrinya, beberapa kali ia mencoba namun sangat susah untuk ditembusnya. Hingga membuat chayra mengaduh kesakitan.


"Kak, saaaaakit....." Lenguh chayra.


"Bersabarlah sayang, setelah sakit ini kau akan menikmatinya..." Juna masih terus berusaha menembus lubang kenikmatannya. Hingga akhirnya.... Blessssss! Juna pun berhasil, meskipun membuat chayra sedikit berteriak.


"Awwww!" Chayra mencengkram pundak juna hingga lecet.


Chayra mengikuti alur permainan juna, dengan membuat beberapa kissmark pada leher juna hingga membuat keduanya melenguh bersama menikmati penyatuan diantara mereka. Juna semakin mempercepat gerakannya diatas chayra hingga mereka berdua melakukan pelepasan bersama.


Juna melepaskan penyatuan tubuhnya, kemudian berbaring disebelah chayra. Keduanya sama-sama bernafas terengah-engah. Juna merangkul istrinya dan meletakkan kepala chayra dipundaknya.


"Terimakasih sayang..." Juna mengecup bibir manis chayra.


"He'um..." Chayra tersenyum kecil. "Kak, kita harus membersihkan diri dahulu." Ajak chayra pada suaminya.


"Baiklah, tapi setelah membersihkan diri izinkan aku melakukannya lagi.." Juna masih ingin bermain bersama istrinya.


"Kakak, masih sakit.." Chayra mencubit lengan juna, kemudian ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya menuju kamar mandi.


"Kenapa harus ditutup, aku sudah melihatnya.." Canda juna pada chayra.


"Uhh, dasar mesum!" Chayra memanyunkan bibirnya.


"Mesum? Dengan istri sendiri tidak masalah.." Juna menarik selimut agar menahan chayra yang hendak pergi ke kamar mandi.


"Ih kak juna, lepaskan.." Hingga akhirnya juna mengalah dan melepaskan selimut itu.


Chayra pun berjalan perlahan menuju kamar mandi dengan meringis merasakan sakit dan perih pada bagian intinya.


Juna menatap kasihan pada istrinya, tapi ia juga menginginkan permainan itu lagi. Hingga akhirnya juna memutuskan menyusul chayra ke kamar mandi.


To be continue......

__ADS_1


__ADS_2