Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Sad ending...


__ADS_3

Tiga hari sudah byan di pindahkan ke rumah sakit di jakarta untuk melakukan perawatan. Byan sudah bisa mulai menggerakkan tangan dan matanya beberapa kali. Namun, byan belum juga bisa bangun dan sadar.


Semua orang panik akan kondisi yang di alami oleh byan kali ini. Hingga malik dan andryani memutuskan untuk memindahkan perawatan byan ke rumah sakit yang ada di jakarta.


Asmara dan juga bintang di bawa oleh malik ke jakarta. Malik dan andryani yakin jika perubahan byan akhir-akhir ini dipengaruhi oleh kehadiran bintang dan asmara di dekatnya.


Asmara begitu khawatir akan kondisi ibunya dan juga randy di amsterdam. Namun malik sudah memerintahkan orang-orangnya untuk terus memantau keadaan ibu asmara dan adiknya.


Hari ini chayra merasakan kontraksi yang kuat pada perutnya, ia terus melenguh kesakitan memegangi perutnya yang kian membesar.


Melihat istrinya yang terus meringis kesakitan akhirnya juna pun membawa chayra pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, chayra di periksa oleh dokter.


"Wah, sepertinya ibu chayra akan segera melahirkan. Sekarang sudah pembukaan lima." Jelas sang dokter pada juna.


"Apa dok? Melahirkan??" Juna terbelalak kaget. Antara siap dan belum siap, tetapi ia harus siap.


"Iya pak, lebih baik anda pulang dulu untuk mengambil peralatan bu chayra dan bayinya nanti. Atau menyuruh orang rumah untuk mengantarkan.." Saran dokter pada juna.


"Baik dok. Saya akan menyuruh orang di rumah untuk mempersiapkannya."


Juna menelpon bu darmi asisten rumah tangganya untuk membawakan peralatan chayra ke rumah sakit. Ia tak tega meninggalkan chayra sendirian di sini, ia tahu jika istrinya itu tengah membutuhkan kehadirannya.


"Sabar yaa sayang, kamu pasti kuat...." Ucap juna sembari mengecup kening chayra.


"Kak, tapi ini sakit sekali." Lirih chayra.


"Ini adalah sakit yang di takdirkan tuhan untuk para wanita sayang. Kamu harusnya bersyukur karena bisa merasakan sakit ini." Ucapan juna membuat chayra sedikit tersenyum.


"Kak, sakit......." Chayra menggenggam erat tangan juna yang sejak tadi ia pegangi. Tangan yang satu lagi menarik-narik rambut juna.


"Iya, sedikit lagii bu.... Ayo....." Dokter memberikan arahan kepada chayra yang kini tengah menjalani persalinan.


"Huuuuuwwwhh....." Chayra terus mengedan dengan tarikan dan hembusan nafas yang tak teratur.


Juna hanya pasrah diperlakukan semaunya oleh chayra. Meskipun merasa perih karena cakaran dan juga jambakan yang chayra lakukan, tapi juna yakin jika sakit yang ia rasakan tidaklah sebanding dengan rasanya melahirkan.


"Ooeee.......oeeeeee......" Suara bayi pun akhirnya sudah terdengar di telinga semua orang yang berada di dalam ruangan persalinan yang tengah chayra jalani.


Chayra yang sudah kehabisan tenaga, akhirnya bersemangat kembali karena telinganya telah mendengar suara bayi. Sakit yang ia rasakan telah terbayar sudah akan kehadiran sang buah hati.


Tetesan air mata bahagia chayra dan juga juna pun tertumpah. Dengan perasaan harunya, ia terus mengecup puncak kepala chayra sembari memegang erat tangannya.


"Terimakasih sayang, terimakasih atas pengorbananmu....."


"Selamat ya pak, bu. Anaknya laki-laki." Sang dokter menyerahkan sang bayi kepada chayra.


Chayra pun menerima bayinya dan memeluknya.


Adzan pun berkumandang lirih di telinga sang bayi. Juna kini tengah melantunkan


ayat suci di telinga sang bayi. Setelah selesai, kemudian ia menyerahkan sang bayi kepada chayra untuk diberikan ASI.


"Siapa nama yang sudah kau pilih kak?" Tanya chayra pada suaminya.


" SYAHIDAN ARYA WIRANATA, ini nama putra kita sayang. Kita panggil saja arya." Jelas juna sembari terus menatap bahagia kearah anaknya.


"He'eum.." Chayra pun mengangguk senang.


Setelah selesai mengASIhi untuk pertama kalinya, anak chayra dan juna di pindahkan ke kamar khusus bayi.


Sudah dua hari chayra dan bayinya berada di rumah sakit. Karena kondisi chayra sudah membaik maka dokter memperbolehkannya untuk pulang ke rumah hari ini.


🍒 Asmara


Aku terus menunggu byan sadar dari koma, kemarin sempat kulihat tangan byan sudah mulai bergerak. Sekarang aku berharap ada keajaiban dan byan sadar.


"Bintang, ayo panggil papa...." Ajakku pada bintang.


Namun bintang menggeliat-geliatkan tubuhnya tanda tak mau.


"Ayo sayang, panggil papa agar papa cepat bangun." Rayu ku lagi pada bintang.


"Papa ayo bangun, bintang rindu papa.." Aku mengajari bintang agar memanggil byan.

__ADS_1


"Papp..." Ucap bintang menirukan gaya bicaraku.


"Anak pintar, ayo panggil Paa...paa... lagi." Ajarku pada bintang.


"No..." Gaya bicara bintang menolak ajaranku.


"Bi.....ntang." Suara serak byan memanggil bintang.


Sontak aku terkejut mendengar byan bersuara. Kuarahkan tatapanku padanya. Ternyata mata byan sudah terbuka memandang ke arah aku dan bintang. Entah sejak kapan byan sadar, aku tidak tahu.


"Mas byan??"


Aku pun segera mendekat ke arah brankar byan.


"Bintang.... Papa rindu nak." Dengan suara paraunya, byan terus menatap wajah bintang yang sedari tadi diam memperhatikan byan. "Abi, umi...."


Aku pun segera menelpon abi malik untuk datang ke rumah sakit. Karena byan mencari keberadaan kedua orang tuanya.


Sembari menunggu abi malik dan umi andryani yang sedang keluar makan siang, aku pun keluar ruangan byan untuk memanggil dokter. Bintang ku dudukkan di stroller untuk menemani byan.


Langkah ku mengikuti langkah dokter dan perawat yang hendak menuju ke ruangan byan. Namun di lorong rumah sakit, aku bertemu dengan beberapa orang yang aku kenal hingga aku pun menghentikan langkahku untuk menyapa mereka.


"Mara?" Tanya chayra menyapaku. Chayra berada duduk di kursi roda yang didorong oleh juna. Sementara disebelahnya ada bu aisyah sedang menggendong seorang bayi.


"Chay, hay...." Sapaku kaku pada mereka.


"Mara kamu ada disini? Apa kabar nak?" Tanya bu aisyah.


"Baik bu aku sedang ada urusan disini. Kalian semua apa kabar?"


Aku menatap sekilas wajah juna yang tersenyum ramah. Kemudian kualihkan lagi kembali menatap bu aisyah.


"Baik. Apakah kamu menemui byan yang dirawat disini? Bagaimana keadaannya?" sambung chayra. Padahal aku menatap bu aisyah, berharap ia yang menjawab. Namun entah mengapa sepertinya chayra sangat ingin berbicara denganku.


"Eh, iya. Kalau begitu aku permisi. Mari...." Aku pun berjalan cepat mengejar dokter dan perawat yang kini telah hilang dari pandangan.


Tak banyak yang bisa ku bahas bersama mereka, namun dapat ku tebak jika saat ini chayra telah melahirkan seorang bayi dan juna begitu bahagia. Mereka adalah pasangan yang sempurna, sementara aku?? Entahlah, nasibku begitu rumit.


Setibanya aku di ruangan byan, disana sudah hadir umi dan abi yang tengah menangis haru. Bahagianya mereka setelah mendapati anaknya sadar dari koma selama berbulan-bulan.


Bintang yang kini tengah berada dalam dekapan byan pun terlihat tertawa riang. Tak henti-hentinya byan mengecupi puncak kepala putrinya, buah cintanya bersama almarhum agatha.


"Umi, abi..." Dengan suara pelan aku menyapa mantan mertuaku.


"Mara, terimakasih sudah menjaga byan selama ini." Andryani berhambur memeluk tubuhku.


"Ya, terimakasih juga telah merawat bintang seperti anakmu sendiri. Kami berhutang budi padamu." Sambung malik melengkapi ucapan istrinya.


"Byan, jika tak ada mara mungkin umi dan abi akan kewalahan. Apakah kau sudah berterimakasih padanya?" Tanya andryani menatap byan yang kini sudah terlihat sedikit fress.


Byan menyunggingkan senyum tipisnya menatap kearahku. "Terimakasih asmara. Terimakasih sudah menjaga anakku bintang." Hanya itu yang byan ucapkan, kemudian ia kembali bergurau dengan bintang.


"Sama-sama umi, abi dan mas byan..."


Suasana menjadi canggung bagiku, tak dapat lagi aku berkata-kata banyak. "Aku pergi keluar sebentar, permisi." Aku pun mengundurkan diri dari tempat itu. Niatku sekarang adalah ingin menemui steven yang tengah berada di penjara. karena kasus kekerasan terhadap byan juga penculikan bintang beberapa tahun yang lalu hingga akhirnya steve harus tersangkut hukum dan mendekam dipenjara.


"Apa kau ingin mengunjungi steve?" Langkahku terhenti ketika abi malik bertanya padaku.


"Abi, aku hanya...."


"Mara, steve sudah tidak bisa dikunjungi lagi. Percuma kau ke sana.." Jawab abi malik memotong ucapanku yang belum selesai.


"Mara, berhentilah mengkhawatirkan lelaki itu. Steven adalah seorang penjahat! Umi khawatir jika kau akan masuk kedalam perangkapnya." Sambung andryani.


Hatiku merasa sakit mendengar semua itu. Steve adalah satu-satunya orang yang peduli padaku. Jika steve di penjara dan dihukum berat, tak ada lagi yang akan mempedulikan aku dan keluargaku.


Aku hanya bungkam ditempat, tak ada lagi kata-kata yang berani ku ucapkan. Mataku hanya menatap mereka secara bergantian.


Karena sudah mulai membaik malam ini byan akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Namun ia harus rajin melakukan kontrol ke dokter.


Aku membantu umi andryani mengemasi beberapa pakaian dan perlengkapan byan selama di rumah sakit.


Hingga akhirnya kami semua pun pulang ke rumah besar keluarga malik.


Byan sudah mulai bisa berjalan sendiri meskipun belum sepenuhnya kuat. Terkadang ia harus di bantu oleh abi dan umi.

__ADS_1


Aku disini hanya menjaga bintang bak pengasuh, bukan sebagai ibunya. Karena aku sadar, jika aku bukanlah siapa-siapa di keluarga ini. Meskipun begitu aku tetap menyayangi bintang sepenuhnya dan rasa itu tak berubah.


"Mara, ayo makan?" Ajak umi andryani.


"Em, iya umi. Makan saja dulu aku masih ingin bermain dengan bintang." Tolakku secara halus.


"Mara, jangan sungkan. Besok abi dan umi akan memanggil baby sister untuk bintang. Hingga kamu tak perlu kerepotan untuk mengurus bintang." Sambung abi malik.


"Em, apakah abi dan umi sudah mempersiapkan baby siter yang baik untuk anakku?" Tanya byan sembari mengunyah makanannya.


"Tentu saja byan. Abi dan umi tak mungkin mempekerjakan orang sembarangan." Jawab umi andryani.


"Baguslah. Terimakasih abi, umi." Jawab byan.


"Iya, nanti mara yang akan lebih fokus merawatmu." Lanjut andryani dengan senyum sumringah menatap byan kemudian berganti menatap kearahku.


"Umi, byan bisa merawat diri sendiri. Tak perlu siapapun itu." Byan menghentikan aksi makannya.


"Byan, saat di rumah sakit mara lah yang merawatmu. Kondisimu sekarang belum stabil, biarkan mara membantumu dan kalian akan dekat kembali." Abi malik pun sepertinya sddang merayu byan.


"Byan tak ingin di paksa, jika byan tak mau maka byan benar-benar tidak mau umi, abi. Dan kau mara, lebih baik kau kembali ke rumah orang tuamu dan merawat ibu juga adikmu." Byan benar-benar menolak keinginan kedua orang tuanya.


Deg!!


Apa ini? Hatiku begitu sakit mendapat penolakan dari byan. Meskipun ini bukan keinginanku, namun aku belum bisa jika harus berjauhan dengan bintang.


"Byan?? Kamu tidak berhak bicara seperti itu." Abi malik kini marah pada byan.


"Abi, umi sudahlah. Mara memang akan pulang dan kembali ke amsterdam. Tapi untuk malam ini, izinkan mara untuk tinggal disini dan menjaga bintang. Hanya malam ini...." Tak tahu sejak kapan air mata ini jatuh, aku pun segera menghapus tetesan air mata itu. Aku pun terus menatap wajah putri kecil yang kini sudah terlelap dalam dekapanku.


"Mara......" Umi andryani pun bangun dari duduknya dan menddkat kearahku. Ia pun memelukku.


"Kamu yakin? Apa kamu tega meninggalkan bintang?? Dia sudah terbiasa bersamamu..." Dengan mata yang sudah berkaca-kaca umi andryani pun masih meyakinkanku berharap aku berubah pikiran.


"Umi tak perlu khawatir, bintang akan terbiasa tanpa mara. Aku adalah orang tua sahnya." Byan menjawab ucapan umi andryani kemudian ia pun pergi dari meja makan.


"Mara, maafkan sikap byan ya. Sebenarnya abi dan umi sangat menginginkan kalian bersatu kembali. Tapi byan, mungkin awalnya dia memang ketus dan cuek tapi lama kelamaan byan pasti akan luluh... Kamu sabar ya...." Abi malik berusaha menenangkanku.


"Abi dan umi jangan memaksa. Aku sudah benar-benar terlupakan oleh mas byan. Tidak ada sedikitpun keinginannya untuk bersama denganku kembali... Tak apa jika aku terpisah dari bintang, tapi jika nanti aku merindukan bintang tolong izinkan aku bertemu dengannya meskipun sebentar." Tangisan ku kini mulai pecah. Tak kuat lagi aku menahan sakit dan sesak di dadaku. Aku pun memeluk bintang dengan erat.


"Mara..... atas nama byan abi dan umi minta maaf yang sebesar-besarnya." Ucap umi andryani dengan tulus.


Pagi ini, aku akan segera pergi ke amsterdam. Meski semalaman aku tak dapat tidur dan terus terjaga. Pagi ini seperti biasa, aku memandikan bintang dahulu kemudian memberikannya sarapan pagi.


Kupandangi wajah lucu putri kecil ini, seorang putri yang sudah mengisi hari-hari ku dan melenyapkan segala rasa kesepianku.


Namun, kini aku harus berpisah jauh darinya. Terasa tak bisa menerima semua ini namun mau bagaimana lagi. Aku tidak memiliki hak apapun atas bintang. Aku hanyalah mantan ibu tirinya.


Jika terus mengingat itu, hatiku semakin sakit dan kepalaku menjadi semakin berat. Berat rasanya aku akan meninggalkan bintang.


"Nak, jika nanti jauh dari mama jangan lupakan mama ya... Mama sangat menyayangimu, dan selalau patuh pada papa. Jangan bandel ya sayang... Tumbuhlah jadi wanita kuat dan tegar." Ini pesanku pada bintang. Entah bintang mengerti atau tidak, tapi bintang terus memperhatikanku.


Semua barang-barangku sudah disiapkan dalam satu koper aku hanya tinggal berangkat menuju bandara. Taksi yang sudah di pesan abi malik untuk mengantarkanku pun sudah tiba di depan rumah.


Dengan berat hati, ku serahkan bintang yang ada di gendonganku kepada baby siter barunya.


Abi malik dan umi andryani mengantarku hingga ke halaman depan rumah. Sementara byan, entahlah aku tak mrlihat kehadirannya sejak tadi pagi.


"Umi, abi... Mara berangkat. Titip bintang..." Dengan senyum palsuku aku menyapa mereka berdua.


"Jangan khawatir mara.. Kau juga jaga diri baik-baik. Hubungi umi jika sudah tiba di amsterdam." Jawab umi kemudian ia memelukku.


"Hati-hati mara.." Abi malik hanya mengucapkan itu dengan suara beratnya.


Aku segera masuk ke dalam taksi, kemudian ku lambaikan tangan dari jendela.


Dapat ku lihat dengan jelas tangan bintang melambai-lambai padaku.


Bintang, putriku. Meskipun kau tidak terlahir dari rahimku.


Sekarang aku ingin lebih menata hidupku kembali agar tak sekacau ini.


Di amsterdam, aku banyak menyibukkan diri untuk bekerja melanjutkan perusahaan om afrizal. Perlahan, fikiranku pun bisa teratasi karena pekerjaan. Hari-hari yang sudah terbiasa bersama anak, kini harus dijalani dengan sendiri dan kesepian. Itulah yang kurasakan saat ini....


Kita tidak tahu nasib seseorang, namun percayalah semua itu sudah digariskan oleh tuhan. Percayalah kita bisa menjalani semuanya, tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umatnya.

__ADS_1


🍒Asmara yang terlupakan...


...THE END...


__ADS_2