Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Asisten


__ADS_3

Senin tiba, dan mulai hari ini Arjuna wiranata tak lagi satu tim dengan atasannya pak Arman santoso, juga senior bagi asmara arsytanti.


Setelah selesai serah terima pekerjaan pada mara, juna dan arman bergegas ke ruang kerja byan. Ternyata disana byan sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat pagi pak byan.." Arman menyapa byan yang hanya dijawab dengan anggukan kecil nya.


"Silahkan duduk.." Pinta byan pada juna dan arman.


"Maaf pak, saya mengantarkan arjuna wiranata kemari sesuai permuntaan bapak heru malik dan ibu andryani" Jelas arman.


"Ya, terimakasih. Pak arman boleh kembali." Byan mempersilahkan arman sembari mengarahkan tangannya ke arah pintu.


Setelah arman keluar ruangan, byan pun mulai memperhatikan dengan detail calon asistennya itu.


"Apakah kamu arjuna wiranata?" Tanya byan mengepalkan tangannya dibawah dagu memperhatikan juna.


"Ya pak" Juna hanya menjawab singkat.


"Saya sudah membaca data pribadi kamu, dan itu sangat baik. Terimakasih sudah bersedia menjadi asisten saya."


"Baik pak.. Saya akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan bapak." Pungkas juna.


"Okey, saya sudah menyiapkan beberapa dokumen yang akan kamu pelajari, saya sudah serahkan pada belly kamu bisa ambil.


"Baik pak." Jawab juna.


"Selamat bekerja sama juna.. Saya mempercayai kamu sepenuhnya.!" Byan mengulurkan tangannya pada juna mereka pun bersalaman.


***


Aku menuju pantry kantor hendak membuat teh hangat, rasanya kepala ini begitu pusing seharian dan membuatku menguras fikiran untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena juna yang biasa mengerjakannya.


Saat aku sedang mengambil sendok terdengar langkah kaki seseorang.


"Mara..?" Suara itu memanggilku.


"Pak byan??" Aku terkejut melihat byan ada disini, hingga tak sadar teh yang aku buat itu sedikit tumpah mengenai jemari tangku.


"Aawwww.!!!" Teriakku.


"Mara, kamu tak apa?" Byan mendekatiku dan meraih tanganku, byan meniup tanganku hingga tubuhku ini terasa menegang. Diraihnya tissue pada meja mencoba menghilangkan sisa air teh yang masih membasahi tanganku.


Merasakan perlakuan byan, aku hanya mematung sembari menatapnya dari dekat, tak ada kedipan mata aku terus saja menatapnya tanpa bosan. Benarkah aku jatuh cinta? Rasa ini begitu berbeda? Byan....


"Lain kali kamu harus berhati-hati mara..!" Byan melepaskan genggaman tangannya. Aku masih terus saja memandanginya, hingga senyumanku ini buyar saat byan mengayunkan tangannya didepan mataku.


"Mara, apa kau baik-baik saja?" Tanya byan.


"Ii....iiya. Terimakasih pak.." Jawabku sembari memalingkan wajahku yang sedikit memerah.


"Kau terlihat kurang fokus mara. Apakah pekerjaanmu berat tanpa juna? Maaf juna aku ambil." Pungkas byan sembari mengambil gelas.


"Ah.. tidak. Aku baik-baik saja pak." Jawabku.

__ADS_1


"Kamu yakin mara?" Byan bertanya sembari sibuk membuat kopi.


"Hatiku tak baik mas." Aku Menjawab dengan suara lirih, kulihat byan menengok kearahku dengan tatapan tajamnya.


"Mara, sepulang kerja kita keluar sebentar. Tunggu aku di depan!." Byan meninggalkanku sendiri di pantry.


***


Aku berdiri di halte bis depan kantor, tak menghiraukan perintah byan yang memintaku untuk menunggunya didepan kantor.


Sudah jam 4 sore, bus tak kunjung datang. Sebuah mobil terus membunyikan klaksonnya disana.


Tiiiinnnn...tiiinnnn.......


"**Maraaa!!!" Teriak juna dari dalam mobil.


Aku hanya mendengus kesal, kenapa pria ini masih saja muncul dihadapanku. Padahal kami sudah tak satu tim lagi.


Aku tak menghiraukan panggilan juna aku hanya berpura-pura tak melihatnya. Tiba-tiba juna sudah ada disampingku.


"Astaghfirulloh!" Aku terkejut mendapati juna sudah duduk disebelahku.


"Ayo, aku antar pulang?" Juna menawariku pulang bersamanya.


"Ck..Seperti tuyul saja! tiba-tiba muncul!" Kesalku.


"Jika aku tuyul, maka kamu ibu tuyulnya!" Juna sedikit melawak.


"Ayo, pulang kamu masih mau disini saja? Nanti ada tuyul jahat yang mengganggu kamu bagaimana??. Kamu mau?" Lagi-lagi juna menakutiku. Seolah akan ada tuyul sungguhan.


"Huh.." Aku mendengus kesal.


Aku dan junapun langsung memasuki mobilnya yang sudah menepi dipinggir jalan.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"" Juna memulai percakapannya didalam mobil.


"Baik." Jawabku singkat, sungguh aku tak ingin memperpanjang obrolan apapun bersama juna.


"Bagaiman tentang tawaran pak arman? Kamu sudah memutuskan?" Tanya juna lagi. Membuat aku ingin menutup telingaku. Kenapa lelaki dingin ini tiba-tiba berubah cerewet sekali?


Drtttt....Drttttttt.. Belum sempat aku menjawab pertanyaan juna, ponselku berdering dan itu dari pak byan. Aku langsung menjawab panggilan darinya.


"Hallo pak?"


[**Kamu dimana mara? Aku tak menemukanmu didepan kantor?]


"A..aku ditaman kota pak, aku menunggu disini saja.."


[Baiklah.. aku segera kesana!]


Aku memutuskan panggilan telepon pada byan sepihak.


Aku menatap kearah juna yang masih fokus menyetir mobilnya.

__ADS_1


"Pak juna, aku turun disini. Aku ada janji." Aku meminta juna menghentikan laju mobilnya dipinggiran taman kota tak jauh dari kantor.


"Janji? Apakah dengan pak byan?" Juna menghentikan mobilnya.


Aku tak menjawab apapun, aku langsung turun dari mobilnya. Sepintas kulihat raut wajah juna yang sedikit kecewa.


Ah apakah dia kecewa? tidak mungkin! Batinku.


Aku melangkahkan kakiku menuju taman, sesekali aku menengok mobil juna sudah perlahan menjauh..


Aku duduk dikursi dekat pohon rindang dan kuhirup dalam-dalam udara yang ada disana. Sangat menyegarkan, meskipun sore ini begitu panas tapi udara di taman ini begitu menyejukkan bagiku.


"Mara?"


Aku menoleh kearah suara byan disana. Dengan senyum lebar, aku begitu bahagia menyambut kedatangannya.


Byan duduk disebelahku membawa dua botol air mineral dingin.


"Ini untukmu.."


"Terimakasih mas byan.." Aku begitu senang bisa bertemu dengannya diluar kantor, hingga aku bisa memanggilnya dengan sebutan ^MAS^ .


Byan tertawa kecil menanggapi panggilanku terhadapnya. Aku sangat menyukai tawanya itu.


"Mas byan sangat tampan jika tertawa." Aku terus menatapnya, hingga byan menghentikan tawanya.


"Mara, apa ada yang ingin kau ceritakan?"


"Tak ada mas.."


"Emm... Jika begitu..." Belum selesai byan berbicara aku langsung memotongnya.


"Hanya ada yang ingin aku ungkapkan mas.." Aku menjeda ucapanku sejenak. Mengumpulkan keberanianku dahulu.


"Apa?" Tanya byan tak sabar..


"Mas sepertinya tak sabar?" Godaku padanya.


"Mara, jangan bermain-main!" Tegas byan menatapku dengan tajam.


Tiba-tiba hujan turun, byan mengajakku masuk kedalam mobilnya di parkiran taman.


"Ayo mara, nanti hujannya akan semakin derass!" Byan menggenggam tanganku, dan menuntunku menuju mobil.


Didalam mobil kami terus menunggu hujan reda, tapi malah semakin deras.


"Sepertinya hujan tak kunjung reda mara.. Sebaiknya kita pulang. Pakaianmupun basah.." Byan menyalakan mobilnya dan melaju perlahan.


"Tapi mas, kita belum sempat berbicara?" Tanyaku.


"Bicaralah disini, tak apa kan?" Jawab byan.


Aku hanya diam tak menanggapi byan. Sungguh hari ini aku ingin sekali mengungkapkan perasaan yang amat mengganjal dihatiku ini. Sepertinya hujan tak memihakku..

__ADS_1


__ADS_2