
Arjuna memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran. Seketika juna memandangi asmara yang sejak tadi terdiam, namun tangisannya sudah terhenti.
"Kita makan dulu di sini, aku lapar sekali..."
Namun asmara tak merespon perkataan juna.
"Asmaara arsytanti??" Juna melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku.
"Ii.. iya pak?" Aku terkejut ketika juna menepuk pelan bahuku.
"Hmmm, kau melamun lagi? Ayo turun aku sudah sangat lapar.." Juna melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
Akupun mengekori juna yang sudah mengarah masuk kedalam resto itu.
Selang beberapa saat ada seorang pelayan restoran menghampiri kami.
"Ma..ra????" Pelayan resto itu tiba-tiba menyebut namaku dan sontak aku terkejut mendapati wajah yang tak asing ini.
"Niken???" Mataku membulat melihat niken berada disini.
"Hai.. mara apa kabar?" Niken sedikit tersenyum kaku.. Aku tak menanggapi sapaan darinya. Hingga ia melanjutkan pekerjaannya menawarkan beberapa menu makanan kepada juna.
Aku hanya sedikit mendengar juna bercakap pada niken memesan makanan untuk kami. Aku tak memilih menu apapun, namun sepertinya juna paham hingga menu yang dipesannya untuk kamipun sama
Ya Ampun, sesempit inikah dunia?? Hari ini aku bertemu dengan dua wanita yang ku anggap begitu mengganggu hidupku. Dalam satu hari saja, mengapa aku harus melihat wajah mereka.
Kini ingatanku kembali pada fadly juga niken, Bukankah niken bilang akan melanjutkan studynya di jakarta? Tapi mengapa dia bekerja sebagai pelayan disini? Ah, mungkin saja dia kuliah sembari bekerja. Sama halnya denganku. Tapi apakah mungkin? niken adalah orang berada berbeda denganku yang hanya seorang anak biasa.
Selang beberapa menit, selesai makan aku dan juna segera melangkah menuju keluar restoran. Namun langkah kami terhenti karena niken tiba-tiba datang lagi.
"Mara, bolehkah aku meminta waktumu sebentar?"
Juna menatap kearahku seolah memberi kode dengan menganggukkan pelan kepalanya. Akupun membuntuti niken yang mengarah ketempat duduk didepan resto sementara juna memilih menunggu di mobil.
"Mara, aku minta maaf..." Niken memulai pembicaraan, dengan suara seraknya serta matanya yang sudah terlihat memerah.
Aku hanya diam disini, belum ada kata yang ingin ku ucapkan.
"Mara, sebenarnya banyak yang ingin ku ungkapkan padamu. Aku tak tahu akan memulai darimana? Usaha ayahku bangkrut.. Aku tidak melanjutkan study ku, dan kau tahu mara? itu semua karena ditipu oleh ayahnya fadly!.."
Sontak aku terkejut mendengar perkataan niken.
__ADS_1
"A..apa??" Akhirnya aku mengeluarkan suaraku setelah sejak tadi bungkam.
"Ya, kau pasti tak percaya bukan?? Tapi inilah kenyataannya. Miriss bukan nasibku??" Niken menitikkan air matanya. Aku dapat melihat kejujurannya. Akhirnya dengan perasaan tak tega aku memeluk tubuhnya yang terlihat semakin kurus.
"Ternyata fadly mendekatiku hanya karena harta. Dia tak pernah tulus mara, dia seorang pembohong!!" Tangisan niken kini semakin terisak. Aku sungguh tak menyangka seorang fadly tega berbuat seperti yang diceritakan niken. Namun entah mengapa aku lebih mempercayai niken, aku tahu bagaimana dia. Kami bersahabat sedari kecil. Tak pernah ada kebohongan diantara kami. Persahabatan kami hancur karena seorang lelaki yang bernama fadly. Itulah kebodohan kami yang amat kami sesali.
"Setelah dia dan ayahnya mendapat keuntungan ddngan menipu ayahku, dia pergi entah kemana dan menghilang tanpa jejak. Maafkan aku mara, apakah ini karma untukku??"
"Sudahlah, tenangkan dirimu ken... Aku sungguh tak menyangka fadly tega berbuat curang seperti itu."
"Apa kau masih tak mau memaafkanku mara?" Niken melepas pelukanku dan menatap nanar mataku.
"Aku sudah memaafkanmu! Ini bukan salahmu ken, lelaki itu yang telah merusak persahabatan kita.."
"Terimakasih mara... Aku sungguh sangat menyesal telah menghianatimu..."
Aku menepuk-nepuk pelan pundak niken, Kini kami berduapun saling mengeratkan pelukan dan dengan diiringi tangisan kecil.. Aku memang sudah memaafkan niken, tapi untuk kembali bersahabat dengannya aku masih berfikir panjang. Itu takkan mudah bagiku.
***
Agatha masih teringat ucapan wanita yang tadi bersama byan. Apakah wanita itu yang bernama Asmara?
RAKUS??? Apa mungkin aku begitu? Kata-kata wanita tadi mungkin benar. Aku memang Rakus telah menyukai dua lelaki yang jelas-jelas bersaudara.
"Tha? ada apa? kau memikirkan apa?" Andryani memperhatikan tingkah menantunya itu tak biasa setelah kembali dari luar menyusul byan.
"Atha tak apa umi, badan atha sedikit lelah. Atha pamit pulang dulu ya..." Agatha bangkit dari kursinya.
"Biar aku antar.." Byan pun bangkit dari duduknya.
"Baiklah, hati-hati ya nak!" Andryani memberi izin.
Sementara malik hanya diam. Malik merasa ada hal yang tak beres antara byan dan agatha. Byan menuju mobilnya dan segera mengantarkan agatha.
"Tha, wanita tadi adalah asmara. Mungkin kau sudah banyak mendengar percakapan kami tadi." Byan membuka suara menjelaskan.
"Ya, aku mendengarnya dengan jelas." Agatha mengangguk pelan.
"Dia mungkin terobsesi padaku, tapi percayalah aku hanya menyukaimu tha. A.. Aku, aku ingin kita berdua segera menikah!" Pungkas byan.
"Apa? menikah? itu tidak mungkin! Aku tak mau disebut sebagai wanita RAKUS yang dengan sengaja menyukau dua orang lelaki yang jelas-jelaa bersaudara!!" Agatha menutup kedua matanya, kini tangisannya pun pecah.
__ADS_1
"Tha, kamu tidak seperti itu! jangan hiraukan perkataannya, aku mencintaimu tha!"
"Aku adalah kakak iparmu sekarang, jangan pernah lupakan itu!" Jawab agatha sembari menarik tangannya yang tadi sempat digenggam oleh byan.
"Aku minta maaf agatha..."
"Berhentilah meminta maaf padaku! Lebih baik kamu minta maaf pada asmara!"
"Hmmm, sepertinya kamu kelelahan. Beristirahatlah dulu tha.."
Byan menghentikan laju mobilnya tepat dihalaman rumah agatha. Agatha pun langsung keluar dari mobil tanpa ucapan apapun pada byan..
***
"Mara, kali ini kau duduk di bangku kemudi." Kulihat juna sudah duduk di bangku sebelah kiri.
"A..apa pak?? Aku disini? Bagaimana mobilnya bisa jalan?"
"Kau yang akan menyetirnya." Juna menjawab enteng.
"Pak juna? aku tidak bisa menyetir pak? Bagaimana mungkin?"
"Maka dari itu kau harus bisa!"
"Ada-ada saja, bapak jangan bercanda?"
"Kau harus bisa mengendarai mobil sendiri mara, agar aku tidak terus menjadi sopirmu!" Juna tersenyum miring menatapku.
"Maaf pak, aku tidak menganggap bapak sopirku. Andai saja aku tahu jakarta dimana? Maka aku tidak mungkin meminta bapak mengantarku kemari." Aku menjawab apa adanya, aku sadar aku memang terlalu banyak merepotkannya.
"Maka dari itu, kau harus belajar mengendarai mobil sendiri. Itu akan membantumu suatu saat nanti."
"Ta..tapi pak, aku tidak bisa! Bagaimana caranya?"
"Aku akan mengajarimu.."
Juna mengajariku mengemudi, secara perlahan aku bisa memahami intruksi yang dikatakan oleh juna.
Aku tersenyum saat tahu jika kini aku bisa mengendarai mobil sendiri.
"Sudah bisa tersenyum sekarang??" Juna melontarkan kata-kata yang membuatku kembali merapatkan bibirku.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi mara, tetaplah tersenyum seperti itu. Meskipun kau belum bisa tertawa lepas, tapi aku yakin kau bisa melakukannya suatu saat nanti."
Hening suasana saat ini, aku tak mampu menjawab perkataan juna. Tapi entah mengapa kali ini aku sudah bisa sedikit lega, mungkin karena niken. Setelah sekian lama aku bisa tahu semuanya. Maslahku dan niken telah selesai.