
Dua minggu sudah berlalu, ujian sekolah telah usai. Hari ini adalah pengumuman kelulusan.
Banyak anak sekolah melakukan aksi merayakan kelulusan dengan mencoret-coret seragam sekolah, Konvoi, dan banyak lainnya.
Tapi berbeda dengan seorang mara. Dia memilih untuk pulang kerumah dan tidur dikamar.
"Mara, ada yang mencarimu" Ibu mara memberitahu.
"Siapa bu?" Tanya mara mencoba bangun dari tempat tidurnya.
"Mara..." Dengan wajah sedihnya, niken langsung memeluk mara.
Mendapat perlakuan niken, mara hanya terdiam.
"Mara, maafin aku jika aku banyak salah.." Hiksss...hikss.. Niken menangis.
"Sampai kapan mara? sampai kapan kamu terus menghindariku? Sampai kapan kamu diam? Please mara, jawab aku!!
Niken melepaskan pelukannya, menatap mara yang memasang wajah datar.
"Mara, Apakah kamu benar-benar tidak ingin berbicara kepadaku?" Niken menggenggam tangan mara.
"Baiklah mara, Aku hanya ingin memberitahumu. Aku akan melanjutkan study ku ke jakarta. Sampai kapanpun kau tetap sahabatku meskipun kau tidak menganggapku." Niken melepaskan tangan Asmara dan berlari perlahan meninggalkan mara.
Asmara memang tidak mempunyai banyak teman, dia wanita yang sedikit tertutup. Hanya niken teman sekaligus sahabat satu-satunya disekolah.
Dua sahabat itu selalu terbuka tentang masalah apapun. Namun persahabatan yang begitu dekat itu pecah saat mereka berdua ternyata memiliki perasaan pada pria yang sama.
Fadly, lelaki yang membuat dua wanita itu terpikat.
Fadly lebih memilih niken. Fadly dan niken pun berpacaran. Saat itulah mara menutup dirinya terhadap teman-teman sekolahnya. Kali ini tak ada satupun orang disana yang mara percaya.
Setelah masalah keluarga asmara diketahui teman-teman sekolah, disitu asmara begitu terpuruk.
Semua orang disekolah memandang rendah seorang asmara.
Pahitnya lagi, saat masalah menimpa keluarganya ia harus menerima kenyataan bahwa niken dan fadly berpacaran.
"Kenapa? kenapa harus fadly?"
Hikss...hikss.. Asmara menangis mengingat masalah yang terjadi. Asmara membuang jauh-jauh perasaannya terhadap fadly bahkan ia menjauhi niken sahabatnya dari kecil.
__ADS_1
"Mara?? Ada nak byan didepan" Ibu menyadarkan mara.
"Ada apa nak? apa yang terjadi kenapa kamu menangis? Dimana niken bukankah tadi dia ada disini?"
Mara mengusap air matanya.
"Tak apa bu, niken hanya berpamitan ia akan pergi kejakarta untuk lanjut study nya. Aku hanya bersedih" Jawab mara berbohong menutupi masalahnya dengan niken.. Mara meninggalkan ibunya di kamar dan menemui byan diluar.
"Hay mara, ini untukmu" Byan memberikan sebuah paper bag kepada mara.
"Untuk apa ini?" mara menatap sinis byan.
"oh, itu hadiah kelulusanmu.." Jawab byan tersenyum.
"Aku ini baru lulus SMA, bukan lulus wisuda" Mara menepuk jidatnya.
"Tak apa, jika kau lulus wisuda aku juga akan memberikan hadiah untukmu." Byan meraih tangan mara agar menerima paper bag yang dibawanya.
Darah mara terasa mengalir deras dari ujung kepala ke ujung kaki. Mara merasakan sentuhan dari byan.
Ini hanya tangan yang disentuh, bagaimana jika yang lain?
"Tapi aku tidak akan lulus wisuda" Mara memperhatikan paperbag.
"Kenapa? apakah kau tidak ingin kuliah?" tanya byan.
"Aku ingin bekerja." Sahut mara dengan senyum terpaksanya.
"untuk apa bekerja?" Byan bertanya lagi.
"Karena ibu...." Belum selesai mara melanjutkan byan langsung memotong ucapannya.
"Kau bisa bekerja sambil kuliah, bekerjalah aku akan membantu mencarikan pekerjaan untukmu." Byan menatap mara dengan decak kagum. Ketika orang seumurnya melanjutkan kuliah dan mengejar impian mereka. Seorang mara harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya.
"Kau bisa memberikan berkas lamaranmu, aku akan membawanya hari ini mara" Ucap byan memandangi mata mara yang sudah berkaca-kaca.
"Hmm," Mara mengangguk pelan tanda setuju.
Mendengar percakapan anaknya dari dalam, ibu mara sangat sedih ternyata putrinya itu tetap kukuh ingin bekerja. Padahal ibunya sudah berulang kali melarangnya.
"Maafkan ibu nak, masa depan mu jadi berantakan gara-gara ibu tak mampu membiayai kuliah mu..." Ibu mara meneteskan air mata dan segera mengusapnya .
__ADS_1
Ibu mara mengeluarkan teh hangat beserta beberaoa potong kue lapis untuk byan..
"Nak byan, diminum tehnya,." Ibu mara meletakkan teh dan kue di meja.
"Ibu maaf jika merepotkan.. sekali lagi terima kasih bu.." Jawab byan disertai anggukan..
"Tidak merepotkan nak, di minum yaa.. Ibu mau ke dapur dulu lanjut bikin kue pesanan ibu-ibu pengajian.."
"Iya bu.."
Ibu meninggalkan mara dan byan berdua di ruang tamu.
"Mara, kamu tak merayakan kelulusan bersama teman-teman mu?" tanya byan.
"Aku tak punya teman!"
"Iya, aku lupa. Siapa yang mau berteman dengan wanita dingin sepertimu!" Byan terkikik pelan.
"Ihh, meskipun sikapku dingin tapi hatiku sangat lembut!" Mara membela diri tak mau kalah.
"Benarkah? jika lembut bolehkah aku menyentuh hatimu?"
"Lalu? aku akan mati? begitu?"
"Kau tidak akan mati jika bersamaku!"
"Tapi sayang, aku tidak akan pernah bersamamu!"
"Kau yakin mara?"
"Sangat yakin!"
"Kau benar-benar juara dalam membentengi diri! Mara kau adalah gadis keras kepala yang pernah ku kenal!"
"Kepala ku memang keras, tapi otakku pintar!"
"Benarkah?"
"Yaaa, tak percaya?"
"Aku percaya padamu mara.."
__ADS_1