
"Bagaimana? Sudah dapat petunjuk?" Malik berbicara pada anwar via telepone.
[....]
"Apa? Amsterdam?? Terus awasi dan jangan sampai mereka curiga!"
[....]
Malik memutuskan sambungan teleponenya.
Steven, dimanapun kamu bersembunyi, itu tidak akan mungkin selamanya! Tunggu saja kejutan dariku selanjutnya!
Malik tersenyum ala devil, ia mengepalkan kedua telapak tangannya, hingga terlihat otot-ototnya yang menonjol.
***
Kedatangan steven ke jogja kali ini untuk mengunjungi pabrik yang tengah terbakar. Hampir seluruh kawasan pabrik ludes tanpa sisa. Karena pabrik memproduksi bahan yang mudah terbakar.
"Pak steve..." Sapa saras pada boss nya yang baru saja tiba.
"Bagaimana? Sudah tahu sebabnya?" Tanya steve dengan mata tajam memutari seluruh penjuru pabrik yang kian tak tersisa.
"Polisi sudah melakukan penyelidikan, semua ini murni karena kecelakaan kerja pak." Timpal saras takut mengatakan sebenarnya.
"Apa?? Bagaimana mungkin??" Steven mengeratkan rahangnya.
"Iya pak, begitulah laporan yang saya terima." Ucap saras.
"Lalu, apakah ada korban jiwa?" Tanya steve lagi.
"Untuk saat ini tidak ada pak, karena seluruh karyawan yang sedang bekerja pada sift malam berhasil menyelamatkan diri. Tapi ada beberapa karyawan yang terluka ringan, sudah dilakukan pengobatan pak." Jelas saras secara gamblang.
"Berikan ganti rugi yang setimpal untuk korban yang terluka." Ucap steve menatap ke arah sekeliling. Dapat terlihat matanya berkaca-kaca melihat kondisi pabrik.
"Itu sudah kami urus pak, mari kita ke kantor untuk melakukan meeting. Banyak laporan yang harus pak steven tinjau ulang." Ajak saras pada steve.
"Ok." Steven berjalan gontai menuju gedung perkantoran. Diikuti saras dibelakangnya dan beberapa body guard.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, steven memeriksa beberapa laporan penting terkait perusahaan. Pabrik yang terbakar menimbulkan dampak negatif untuk perusahaan saat ini. Kerugian yang tidak sedikit pun dialami perusahaan. Hingga perusahaan saat ini mengalami krisis.
Steven melempar semua berkas dan beberapa laporan yang diserahkan saras padanya. Ia begitu pusing menghadapi masalah ini, hingga ia memutuskan untuk melakukan PHK terhadap karyawan-karyawannya.
"Apa pak? PHK?" Saras terpaku, ia tak lagi bisa berkata apa-apa.
"Ya, mau tidak mau kita harus melakukan tindakan ini! Tidak ada jalan lain." Ucap steven merasa putus asa. Steven terus memegangi keningnya sembari memijatnya pelan.
"Baik pak, jika ini sudah keputusan pak steve. Saya akan segera mengumumkannya." Ucap saras tak berani berbicara banyak. Ia tahu jika bossnya saat ini sedang pusing.
Steven hanya mengangguk perlahan menyaksikan kepergian saras dari ruangannya.
Kabar krisis yang sedang dihadapi perusahaan steven kini tengah terdengar hingga telinga malik. Ia merasa senang mendengar kehancuran steven.
Ini semua belum setimpal dengan apa yang kamu perbuat terhadap byan steve! Kamu akan menerima semua balasan atas perbuatanmu!! Kita lihat saja nanti, aku ingin menyaksikan kehancuranmu! Dasar manusia sombong! Kau hanya penikmat harta warisan afrizal, selain dari itu kau bukanlah siapa-siapa!
Malik tersenyum smirk, ia berdiri disamping brankar tempat byan berbaring dengan komanya. Hingga saat ini, dokter belum menyimpulkan apapun akan kondisi byan. Byan masih terus koma dengan beberapa alat dan selang yang menempel ditubuhnya.
***
🍒Asmara
Ingin sekali rasanya aku memberikan saran pada steven agar tidak gegabah mengambil keputusan. Tetapi, sejak tadi panggilan telepone ku tak pernah diangkat steven. Pesan ku pun tak dibalas olehnya.
Aku keluar dari rumah mengajak bintang untuk ke supermarket. Karena saat ini aku sudah bisa menyetir mobil sendiri, dan tentunya steven memberiku sebuah mobil matic untuk ku gunakan jika ke kantor atau pun keluar rumah.
"Bintang, ikut mama ya... Kita beli susu....." Aku mengangkat tubuh gendut bintang.
Bintang pun menyambut uluran tanganku dengan gembira. Aku menciumi pipi gembul bintang hingga ia mengguling-gulingkan tubuhnya. Ku letakkan bintang di kursi dibelakanh kemudi yang sudah dirancang sebaik mungkin untuk digunakan bayi dengan safety belt.
Aku tak mengajak ibu dan randy, karena ibu sedang menjemput randy sekolah.
Perjalanan lima belas menit dan kami pun tiba di sebuah supermarket yang kami tuju. Aku pun menurunkan stroler untuk bintang. Kemudian mendorongnya menuju masuk kedalam supermarket.
Tanpa sepengetahuan asmara, ternyata ada orang yang sedang mengikutinya. Ia memotret kebersamaan asmara dan bintang di supermarket. Ternyata orang ini mengikuti dari tadi sewaktu asmara masih berada di rumah, orang misterius itu pun segera mengirimkan hasil jepretannya kepada malik.
Malik yang mendeqngar notifikasi pesan pada ponselnya pun segera membukanya. Ia begitu terkejut ketika mendapati asmara bersama seorang bayi wanita gembul.
__ADS_1
Apa?? Asmara ada di amsterdam! Lalu siapa ini? Bayi ini....
Gumam malik dalam hatinya, saat itu pula notifikasi pesan pada ponselnya berbunyi lagi. Pesan ini dikirim oleh orang suruhannya untuk mencari asmara.
[Asmara tinggal di rumah ini, dan ternyata itu adalah rumah peninggalan afrizal. Dia tinggal bersama ibu, adiknya, dan bayi yang sedang bersamanya. Terlebih lagi, steven juga tinggal di rumah ini bersama mereka.]
"Apa?? Asmara dan steven tinggal satu rumah?? Ada apa ini? Apakah asmara dan steven bekerja sama untuk menghancurkan byan??"
"Siapa yang abi maksud?? Siapa yang bekerja sama?" Andryani datang tiba-tiba dan mendengar celotehan suaminya.
"Umi....." Malik pun hanya bisa menelan salivanya mengetahui kehadiran andryani.
Andryani segera mengambil alih ponsel malik, ia pun melihat isi pesan pada ponsel malik.
"Abi? Apa ini? Tolong jelaskan pada umi?" Andryani kali ini membutuhkan penjelasan dengan tatapan mata yang penuh tanya pada suaminya.
"Umi, mara kini berada di amsterdam.."
"Umi tahu! Tapi bukan itu yang umi maksud, ini apa abi? Maksudnya mara bekerja sama untuk menghancurkan byan?" Andryani langsung memotong ucapan malik yang belum selesai.
"Umi, ini hanya dugaan abi. Kita belum tahu jelas kebenarannya. Abi sedang menyelidiki ini semua, percayakan pada abi. Kita tak boleh asal menebak. Lagi pula tak mungkin mara melakukan hal yang keji bukan??"
"Bisa saja abi.. Abi tak lihat jika dia telah membuat bintang hilang......"
"Umi, berhenti menyimpulkan sesuatu tanpa kebenaran yang pasti. Sekarang lihat byan, hidupnya hancur tanpa kehadiran anak dan istrinya! Apa umi tak merasa menyesal telah membuat byan berpisah dengan mara? Dan sekarang kondisi byan sedang koma, umi sendiri yang meminta abi untuk mencari mara dan meminta maaf padanya atas semua kesalahan byan, mengapa sekarang umi langsung menyimpulkan hal yang belum tentu kebenarannya?"
Malik merasa istrinya saat ini sedang salah berfikir, ia pun mencoba meluruskan pandangan andryani terhadap asmara.
"Abi.... Umi hanya.."
"Sudahlah umi, tolong jangan bertindak gegabah lagi. Kasihan byan dan percayakan semua ini pada abi. Abi akan mencari tahu semuanya....." Potong malik menennangkan istrinya yang sudah mulai menitikkan air matanya.
"Maafkan umi abi umi menyesal...." Andryani berhambur kepelukan suaminya. Ia terus menatap kearah byan yang masih berbaring lemah dengan kondisi koma.
"Sudah, semuanya sudah terjadi... Maka dari itu, belajarlah dari kesalahan dan jangan jatuh pada lubang yang sama. Umi tenanglah, abi akan keluar untuk mencari tahu lebih lanjut info tentang asmara." Ucap malik menenangkan istrinya. Ia pun berjalan keluar meninggalkan andryani yang menjaga byan di ruangan rawat.
🍒 *Hai readers setia pembaca karya othor. Terimakasih semua telah memberi dukungan buat othor, jangan lupa kasih vote, gift dan tinggalkan komentar juga likenya.. Othor tunggu....
__ADS_1
Jangan lupa juga mampir di karya othor, MENJADI PENGANTIN SATU HARI*.