Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Pertengkaran pengantin baru


__ADS_3

FLASH BACK ON


Byan memasuki ruangan kerja agatha, dilihatnya agatha sedang tertawa dan bercengkrama dengan ayu asistennya.


Entah mengapa agatha bisa menunjukkan senyuman dan juga tawanya kepada orang lain, namun kepada byan yang saat ini sudah menjadi suaminya itu tak pernah dilakukan agatha.


Ayu yang melihat byan sudah berada di ambang pintu, dengan segera ayu melangkah untuk keluar.


"Kau sibuk tha?" Tanya byan mendekati agatha.


"Hmm... Ada apa kemari?" Agatha masih bersikap acuh.


"Tha aku ingin berbicara kepadamu." Lanjut byan.


"Kita bisa bicara di rumah. Tak perlu sampai menemuiku di tempat kerja."


"Agatha, sepertinya kita butuh berbulan madu. Aku punya rencana tempat yang bagus untuk kita kunjungi! Tapi, jika kamu memiliki tempat yang ingin dikunjungi maka kita akan kesana, bagaimana??"


"Mengahabiskan waktu saja.. Aku tak ingin kemana-mana mas. Aku banyak pekerjaan."


"Tha, satu minggu saja. Kau bisa mengambil cuty bukan?" Byan mencoba merayu agatha.


"Aku sudah kebanyakan cutu bulan lalu mas."


"Bagaimana kalau tiga atau empat hari saja tha?? Byan memasang wajah melasnya.


"Tidak mas.. Aku banyak pekerjaan." Agatha masih menolak.


"Ayolah sayang,.." Byan hendak memeluk istrinya dari belakang. Namun sebelum itu terjadi agatha sudah menepis tangan byan dan sedikit menjauh.


"Sudahlah mas, jika kau yang ingin pergi maka pergilah sendiri!! Aku tak ingin pergi!" Agatha bernada tinggi.


"Agatha!!! Cukup! Sikapmu semakin lama semakin keterlaluan!!" Byan membalas perkataan agatha dengan nada tinggi dan keras.


"Kenapa? Kau tak terima? Inilah aku!! Aku sudah bilang bukan?? Jika kau tak terima dengan keadaanku sekarang maka kau bisa pergi!"


"Aku bukan tak terima keadaanmu tha, yang aku tak terima adalah sikapmu!!" Byan mengepalkan telapak tangannya dan meninggalkan istrinya itu.


Byan keluar dari ruangan kerja agatha, sorot matanya nampak memerah. Amarahnya nampak terlihat! Ayu yang menyaksikan byan keluar ddngan membanting pintu pun kaget. Ayu cemas dengan keadaan agatha dan masuk kedalam ruangan atasannya itu.


Agatha sedang menangis sesegukan dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Tha,...." Ayu yang melihatnya langsung mengahampiri memeluk tubuh agatha.


"Ay, aku harus bagaimana?? Hikss... Hiksss"


"Sudah tha, tenangkanlah dirimu dulu." Ayu melepas pelukannya dan mengambil air mineral untuk agatha.


Sepertinya sahabatnya itu sedang memiliki masalah dengan suami barunya itu. Ayu pun hanya diam dan tak berani bertanya ataupun memberi komentar.


Pertengkarannya dengan agatha membuat byan prustasi. Segala cara sudah dilakukannya untuk meluluhkan hati agatha. Namun agatha masih bersikap sama. Tak ada perubahan, malah semakin menjadi.


Byan pun memilih untuk terbang ke jogja, tanpa berpamitan pada agatha. Namun byan sudah berpamitan pada orang tuanya dan juga ayah mertuanya yang saat ini sedang berada di paris menjalani pengobatan.


"Aku akan datang ke kantor besok, tolong siapkan ruang kerjaku dan jangan lupa beritahu pak arman." Juna berbicara melalui sambungan telepon selulernya kepada juna.


"Baik pak." Suara juna di seberang sana.


FLASH BACK OF


***


๐Ÿ’Asmara


Di dalam ruang kerjanya byan, arman dan juna menyerahkan beberapa laporan kepada byan.


Kedatangan byan yang mendadak ini penuh misteri dan bermacam pertanyaan oleh arman. Namun juna dapat menangani sikap bossnya dengan tenang. Yak seperti arman yang terlihat sedikit gusar.


"Pertama, saya ucapkan terimakasih banyak pada juna. Kamu bisa diandalkan.." Byan membuka suaranya.


Juna hanya menanggapinya dengan mengangguk dan sedikit membungkukan tubuhnya didepan bossnya itu.


"Dan untuk pak arman, tolong carikan saya sekretaris baru. Karena belly akan segera cuty melahirkan."

__ADS_1


Deg, tiba-tiba juna merasa ada yang tidak beres pada bossnya. Dan hati juna pun sedikit tak trnang. Tiba-tiba juna memikirkan asmara.


"Sekretaris pak?? Baiklah pak byan. Beri saya waktu satu minggu lagi untuk...."


"Tiga hari! Saya ingin sekretaris yang terampil, pintar, dan bekerja cepat tidak malas-malasan." Byan memotong ucapan arman.


"Em.. Ba..baik pak byan." Jawab arman terbata. Arman tidak tahu siapa yang akan dia pilih. Sungguh bossnya ini membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


"Ok, pak arman boleh kembali!" Byan merasa urusannya dengan arman selesai.


"Baik pak. Saya permisi.." Arman menuju keluar ruangan bossnya yang kali ini terlihat semakin dingin. Arman menggaruk-garuk kepalanya yamg tak merasa gatal.


"Juna? Bagaimana kabarmu?" Byan tiba-tiba bertanya soal kabar. Itu sungguh diluar dugaan. Sepertinya ada yang tak beres dengan bossnya ini.


"Baik pak. Dan pak byan sendiri bagaimana? Oh iya saya ucapkan selamat atas pernikahan bapak." Juna mengucapkan selamat. Meskipu seantero kantor tak ada yang mengetahui pernikahan byan dan agatha. Namun juna bisa tahu.


"Terimakasih.. Em, aku ingin kita makan siang bersama hari ini." Jawab byan.


"Baik pak." Ingin rasanya juna menolak ajakan bossnya itu karena dia telah memiliki janji dengan asmara. Namun juna tak memberanikan diri.


"Ok. Silahkan kembali keruanganmu." Byan memutar kursi kerjanya kearah luar jendela.


Keluar dari ruangan byan, juna langsung mengirim pesan whatsapp pada asmara.


[Maafkan aku mara, siang ini tak bisa makan bersamamu. Pak byan mengajakku makan siang. Bagaimana jika pulang kerja saja kita makan bersama? Aku tunggu kau di parkiran.]


Ting.... Suara notifikasi ponsel juna. Yang ternyata itu pesan balasan dari asmara.


[Tidak masalah. Aku akan menunggumu..๐Ÿ˜Š]


[Aku sudah meminta izin pada ibu, dan ibumu mengizinkan kita] _Juna


[Haruskah begitu? Dasar anak ibu๐Ÿ˜‰] _Asmara


[๐Ÿค—]_Juna


[???]_Asmara


Entah mengapa berbalas pesan dengan juna membuatku senyum-senyum sendiri. Emoticon Yang dikirim oleh juna membuatku bertanya-tanya hingga membuatku membalas pesannya dengan tanda tanya dan segera menaruh ponselku.


Tiba-tiba pak arman memanggilku. Akupun segera menuju meja kerjanya.


"Ada apa pak?"


"Mara, aku butuh bicara padamu." Pak arman terlihat sedang bingung.


"Ada apa pak?" Akupun menjadi bingung karenanya.


"Mara, kau akan ku pilih menjadi sekretaris!" Sontak pernyataan pak arman membuatku bertanya-tanya.


"Apa pak? Sekretaris? Apakah ini sungguhan?"


"Ya, kinerjamu sangat bagus mara. Kau cekatan, smart, cantik, masih muda, dan rajin. Tak ada alpa pada absenmu. Itu kriteria yang bagus!"


"Tapi pak, aku tak memiliki pengalaman apapun!"


"Kau akan memulainya mara, ini awal karir yang bagus untukmu."


"Pak, kuliah pun aku belum lulus."


Aku masih berusaha menolak tawaran pak arman.


"Mara, yakinlah. Kau pasti bisa!"


"Aku tak yakin pak. Aku tak percaya diri."


"Mara, aku saja yakin padamu. Aku sangat yakin! Kaulah orang yang pantas!"


"Pak arman, pasti banyak karyawan lain yang lebih berpengalaman dari pada aku. Bapak pilih yang lain saja..."


"Apa aku harus memilih hesty?? Yang ada dia akan terus menggosip bukan bekerja!"


"Pak, aku harus memikirkannya dulu."

__ADS_1


"Jangan lama-lama mara. Besok kau harus memutuskannya."


"Baik pak!" Aku kembali menuju meja kerjaku.


Apa lagi ini? Apakah pak arman benar, jika menjadi sekretaris akan menjadikan awal karir ku?? Juna juga pernah bilang, jika kita tak boleh berada pada zona nyaman. Lah, mengapa aku memikirkan juna? Yang benar saja!


Aku memukul jidat dengan telapak tangan, dan melanjutkan pekerjaanku.


***


Waktu pulang telah tiba, seperti janjiku pada juna aku menunggu juna di parkiran persis didekat mobilnya. Kulihat dari sana juna sudah berjalan cepat menghampiriku.


"Sudah lama menungguku??" Juna tersenyum menatapku.


"Hanya sekitar 15 menit." Jawabku.


"Yah, itu tak selama penantianku mara. Ayo masuk." Juna pun masuk kedalam mobil.


Tak seperti lelaki pada umumnya, yang membukakan pintu untuk seorang wanita. Juna masuk begitu saja kedalam mobil. Selama beberapa kali bersama juna, ia tidak pernah membukakan pintu untukku. Yang ada malah juna menyuruhku menyetir sendiri. Beberapa hari yang lalu juna membuatkan aku kartu sim A. Aku sangat aneh dengan ini, meskipun tak memiliki mobil aku memiliki kartu SIM.


Seperti sekarang ini, juna pun duduk di kursi sebelah kiri. Pasti dia menyutuhku menyetir lagi.


"Kita mau kemana pak, aku akan siap mengantarmu?" Dengan senyum paksaan aku meledek juna.


"Terimakasih nona manis.." Jawab juna diiringi tawanya yang mengejek.


"Dasar kau!!" Aku mencubit tangan juna dengan kuat.


"Aw.... Satu hari saja sudah tiga kali kau melakukan kekerasan dalam rumah tangga!" Juna meringis kesakitan.


"Kekerasan dalam rumah tangga katamu? Rumah tangga siapa?" Aku tak mengerti.


"Kita! Siapa lagi??" Jawab juna sembari mengelus tangannya yang terasa sakit.


"Kita? Berumah tangga?? Ah..aahaa...ahaa.. Bapak bisa saja bercandanya." Aku tertawa terpaksa lagi Merasa canggung dengan ucapan juna.


"Kau mau berumah tangga denganku mara??" Juna menatapku dalam. Matanya menunjukkan sebuah keseriusan. Aku segera memalingkan wajahku dan menyalakan mobil. Kini aku hanya diam tak menjawab perkataan juna.


Sesampainya di sebuah resto yang kami tuju, kamipun segera keluar dan menuju kedalam resto.


Juna memesan makanannya, dan seperti biasa dia juga memesankan makanan dan minuman yang sama untukku.


Aku tak pernah menolak itu, bahkan ku merasa jika selera kami ini sama. Tak lama pesanan kamipun datang.


Aku melihat-lihat ruangan di resto ini, ku tujukan pandanganku pada juna yang tengah memegang ponselnya.


Cekrekkkk!!


"Kau mengambil fotoku lagi pak??" Aku yakin juna memotretku dengan kamera ponselnya.


"Ya, Aku mengambil pose yang bagus. Sepertinya aku adalah fotografer yang handal untukmu mara!" Juna tertawa kecil.


"Huft! Pasti alasannya untuk kenangan lagi?" Aku memutar mataku.


"Kau sungguh asal menebak mara!" Juna meletakkan ponselnya di meja.


"Ya, kau selalu berkata seperti itu bukan setiap mengambil fotoku? Harusnya aku memberimu denda! Karena kau mengambil tanpa izinku pak Arjuna.."


"Kau sudah bisa berbicara panjang lebar ya? Alias cerewet!! Aku suka itu mara.." Juna menatapku dengan perasaan dalam. Membuat diriku salah tingkah. Hingga aku mengalihkan pembicaraan kami.


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini pak?"


"Tak banyak pekerjaan, tapi otakku hari ini sungguh berputar-putar.. Pusing sekali!"


"Apakah kau sakit pak??" Aku secara reflek menyentuh kening juna dengan tanganku.


Hingga aku tersadar dengan apa yang ku perbuat. "Maaf pak! Aku tak sopan..." Aku menarik tanganku pelan.


Juna hanya mengulum senyumnya.


๐Ÿ’Nih readers, foto asmara yang diambil juna! Byan sudah kembali lagi ke jogja nih... Ada yang bisa nebak kenapa?? Terus asmara bakalan kembali lagi nggak ya sama byan??


Komentar dong buat thor.... Setuju asmara sama byan atau juna???

__ADS_1



__ADS_2