
Kepergian om Afrizal masih menyisakan kesedihan bagi steven dan keluarga.
Tak banyak keluarga yang datang dari indonesia. Karena om afrizal hanya memiliki satu adik, yaitu ibunya steven. Ibu steven pun sudah meninggal satu tahun yang lalu.
Kini steven hanya tinggal sendiri. Dia ditugaskan oleh om afrizal untuk menjaga bintang dan membantu mengelola perusahaan om afrizal di belanda dan indonesia.
***
Satu bulan kemudian....
Usia bintang kini sudah menginjak satu tahun. Bintang sudah mulai berjalan beberapa langkah. Bintang tumbuh dengan sehat dan aktif. Aku sangat menyukai tingkah anak yang menggemaskan ini.
"Mammm...ma..." Bintang berjalan pelan bergeol-geol khas bayi menuju kearahku.
"Sinii sayang.. Hayoo.... Satu, dua, tiga..." Aku menghitung langkah bintang hingga ia datang kepelukanku.
"Anak mama sangat pintar.." Steven datang menghampiri kami berdua.
"Hai steve," Aku menyapanya.
"Mara, aku ingin bicara padamu." Steve memasang wajah seriusnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyaku.
"Ini tentang wasiat dari om afrizal." Steven membuka tas yang dijinjingnya. Lalu ia mengeluarkan beberapa map cokelat dan menyerahkan kepadaku.
"Apa ini?" Tanyaku lagi tak mengerti.
"Bukalah.. Atau aku yang harus membukanya?" Tanya steve padaku.
"Kau saja steve,." Pintaku, karena aku memangku tubuh gembul bintang.
"Baiklah,..." Steven membuka map dan membacakan beberapa point penting yang tertulis dalam surat wasiat om afrizal.
Steven membaca dengan lancar, aku pun mendengarkannya dengan saksama. Aku begitu terkejut ketika mendengar jika om afrizal.telah memberikan separo saham perusahaannya untukku.
"Tidak mara. Ini memang benar adanya." Steve menggelengkan kepalanya pelan.
"Steve, aku tidak mengerti mengapa om afrizal memberikan sahamnya padaku?" Tanyaku lagi.
"Om afrizal hanya mempercayaimu mara. Hanya kau yang bisa menyayangi bintang dengan tulus. Selama bintang masih kecil, kau yang akan menjadi direktur perusahaan. Kau yang akan mengurus bintang dan juga segala aset kekayaan om afrizal." Jelas steve dengan detail.
"Tapi steve. Aku tak pandai dalam mengurus perusahaan." Aku merasa tak percaya diri.
"Kau tenang saja mara. Aku yang akan membantumu hingga kau benar-benar bisa memimpin perusahaan." Steven mencoba menguatkan aku.
__ADS_1
"Aku harus menjaga bintang steve, aku rasa aku tak bisa membagi waktu untuk mengurus perusahaan." Aku masih tak percaya diri.
"Kau pasti bisa mara. Ini amanat om afrizal. Tak mungkin ia salah pilih orang. Ia memilihmu, ia menaruh harapan besar padamu. Tolong jangan kecewakan mendiang om afrizal." Steven menatap lekat kearahku dia terus saja meyakinkanku.
"Baiklah steve. Tapi, ada hal yang aku khawatirkan."
Kini aku memikirkan ibu dan randy.
"Apa itu mara?" Steve menaikkan satu alisnya menatapku.
"Masalah ibuku dan juga adikku." Aku menghela nafas panjang.
"Apakah aku harus menjemput mereka agar dekat denganmu disini?" Steve menawarkan bantuannya padaku.
"Ibuku pasti takkan mau steve." Aku merasa tidak yakin.
"Baik, dua hari lagi kita akan ke indonesia menjemput ibu dan adikmu. Kau tak perlu jauh dari mereka lagi."
"Terimakasih steve.."
"Teleponlah ibumu. Bicarakan baik-baik padanya. Aku yakin beliau akan mengerti posisimu saat ini."
Hingga dua hari itu pun tiba. Aku, steve dan juga bintang pergi ke indonesia. Namun kedatangan kami ke indonesia dikawal oleh beberapa orang bodyguard steven. Lima orang bertubuh tinggi besar itu terus mengawal perjalanan kami. Steven berjaga-jaga jika ada bahaya yang mengancam kami, apalagi jika itu menyangkut keselamatan bintang.
__ADS_1