Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Penyesalan byan..


__ADS_3

"Sepertinya kau begitu mencintainya kak? Untuk meninjau toko saja kau tak pernah menyempatkan diri!" Chayra memberikan secangkir teh hangat menyambut kedatangan juna.


"Terimakasih chay.." Juna menerima teh dan menyeruputnya perlahan.


"Tak pernah kulihat kau begitu cintanya dengan wanita. Aku fikir dulu kau tak doyan dengan wanita." Chayra tertawa kecil.


Tesss!! Juna menyentil kening chayra dengan jarinya. "Pikiranmu pendek!"


"Lalu apa yang akan kau lakukan kak?" Tanya chayra ingin tahu.


"Sekarang mereka berada dimana chay?" Tanya byan.


"Sesuai info orang-orangku. Saat ini wanitamu itu sedang di sebuah pantai!" Jelas chayra.


"Apa? Pantai??" Juna merapatkan jari-jarinya hingga menjadi sebuah kepalan.


"Redam emosimu kak. Aku yakin wanitamu itu dapat menjaga dirinya.. Jika lelaki itu merebut wanitamu apa yang akan kau lakukan?"


"Kita kesana sekarang chay. Perasaanku tak enak." Juna melangkahkan kakinya cepat keluar dari ruangan kerja chayra.


***


🍒Asmara


Mataku tak berkedip ketika aku berada dipantai bersama byan. Hamparan pasir dan lautan luas serta desiran ombak membuat suasana hati ini begitu tenang. Hembusan angin meniup tipis rambut serta gaunku.


Pantas saja byan memakai pakaian santai, ternyata byan mengajakku kemari.


"Kau suka tempat ini mara?" Tanya byan sembari memandangi lautan.


Aku masih terpaku pada pemandangan yang ada dihadapanku saat ini. Hingga akuntak menghiraukan pertanyaan byan.


"Dimana relasi bisnis yang bapak maksud?"


"Kita akan menemuinya besok. Sekarang kita nikmati dulu kebersamaan kita. Kita akan berkeliling pulau."


"Kebersamaan kita? Maksud bapak?"


"Maksudku, nikmatilah waktumu saat ini. Selagi kita berada di bali. Ibarat menyelam sambil minum air. Kita bekerja menemui relasi bisnis sekaligus berlibur, bukankah begitu mara?.."


"Emm.. Iya pak."


Kami berduapun menaiki speedboat yang telah disewa oleh byan. Speedboat pun mulai mengarungi lautan. Ketika berada disini, aku merasa segala rasa penatku hilang. Lelahku selama perjalanan terbayarkan. Sekilas semua beban pekerjaanku selama ini raib entah kemana.


Kupandangi lautan dan beberapa pulau disekelilingnya, sungguh aku sangat nyaman berada di sini. Ketika aku menikmati pemandangan yang indah ini, byan datang menghampiriku dan memberikanku segelas jus jeruk ditangannya.


"Ini untukmu..."


"Terimakasih pak."


"Kau bahagia?"


"He'um..." Aku mengangguk pelan seraya menyeruput jus jeruk yang tadi diberikan oleh byan.


"Hatimu saat ini sudah tenang?"


"He'um.." Aku mengangguk lagi tapi kali ini dengan senyuman kecil pada byan.


"Baguslah.. Tak salah aku mengajakmu kemari."


"Terimakasih pak."


"Pemandangan sunset sangat indah disini, kau mau melihatnya nanti??"


"Sunset?? Apakah kita akan bermalam disini pak?"


"Tidak. Tentu saja kita akan kembali ke hotel. Tetapi sangat sayang jika kita melewatkan sunset yang katanya teramat indah."


"Baiklah pak.." Aku menurut saja pada byan saat ini.


🍒Ini dia visual speedboat yang dinaiki byan juga asmara readers.. Dibayangin aja dulu ya? Berdoa aja suatu saat kita bisa naik speedboat begini sambil keliling pulau😄😄. Amin.....



Hingga keberadaan kami disini tak terasa sudah tiga jam lamanya. Sunsetpun mulai terlihat. Tanpa hentinya aku menatap kearah langit yang semakin berubah warna menjadi orange. Matahari yang kian membesar dan bulat sempurna perlahan turun seolah tenggelam ditelan lautan.


"Sangat indah bukan?" Byan membuka suaranya.

__ADS_1


"Iya, sangat indah..." Timpalku tanpa menatap kearahnya.


"Mara, kau tak lelah?"


"Tidak pak. Aku sangat menikmati pemandangan alam disini yang tak pernah kulihat sebelumnya."


"Kau cantik alami.. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang.." Byan tertunduk dan kembali menatapku. Aku menjadi salah tingkah dengan ucapan byan.


Aku hanya menampakkan senyum kecil untuk membalas perkataan byan.


"Mara? Kau sudah memaafkanku?" Tanya byan.


"Maaf untuk apa pak?" Akupun menoleh kearah byan. Mata byan yang kini terlihat sedang menggali pandangan terhadapku, entah apa yang ia pikirkan aku tak bisa menebaknya.


"Maaf, aku telah menyakitimu mara.. Aku baru menyadarinya, kaulah wanita yang tulus terhadapku."


"Pak, lupakanlah. Itu kejadian yang sudah sangat lama." Aku kembali menatap langit yang mulai berubah menjadi sedikit gelap.


"Apa kau sudah melupakanku mara?"


"Pak, tak perlu membahas masa lalu. Mari kita jalani hidup ini tanpa ada bayangan masa lalu dan hidup dengan tenang."


"Mara, aku tahu hatimu itu sangatlah tulus. Aku saja yang bodoh telah melukaimu berkali-kali."


"Apakah kau disakiti oleh agatha lagi??" Aku muak mendengar perkataan byan. Tak mungkin byan bersikap baik seperti ini tanpa ada maunya. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang?


"Hmm... Kau sangat ahli dalam menebak mara."


"Sudahlah pak, hari semakin gelap. Mari kita kembali ke hotel." Aku enggan membahas ini, akupun masuk kedalam ruangan kapal untuk bersiap.


Byan pun menyusulku dari belakang.


"Mara? Kau masih mencintaiku?" Byan meraih tanganku dan mencengkramnya.


"Lepaskan aku pak!" Aku berusaha dengan kuat untuk melepas pegangan tangan byan.


"Mara, katakan tidak padaku jika memang perasaanmu itu sudah hilang.." Byan makin mendekatkan dirinya kearahku.


"Lepaskan atau aku akan berteriak pak byan! Anda sungguh tak sopan!" Amarahku mulai muncul, ingin rasanya aku membunuh pria yang saat ini ada dihadapanku.


"Mara, katakan jika kau masih mencintaiku! Aku takkan menyakitimu..."


"Aku tahu kau bohong mara! Maafkan aku jika aku membuat luka yang besar dihatimu. Maafkan aku mara! Aku sudah mendapat karmaku, aku yang pernah melupakanmu, kini aku menyesal.. Sungguh sangat menyesal..! Byan memeluk erat tubuhku. Hingga aku tak bisa berkutik padahal aku sudah terus memukul dadanya dengan tanganku.


"Mara, aku merindukanmu..." Byan meregangkan dekapannya terhadapku, byan meraih daguku dan menyentuhnya lembut. Dapat aku rasakan hembusan nafas byan yang hangat semakin terasa dekat. Aku coba memberontak namun tenaga byan sungguhlah lebih kuat.


***


FLASH BACK ON


Karena puluhan kali juna mengirim pesan dan mencoba menelepon mara namun tak ada jawaban. Juna semakin khawatir. Akhirnya juna memilih menyewa speedboat untuk mencari keberadaan mara. Karena sesuai informasi orang suruhan chayra bahwa sejak tadi byan dan asmara mentewa speedboat untuk keliling pulau.


Speedboat yang disewa juna kini sudah menemukan speedboat byan. Juna langsung melompat menuju speedboat byan dan asmara.


Namun beberapa saat juna menghentikan langkahnya untuk masuk karena mendengar percakapan antara byan juga asmara kekasihnya itu.


Juna menghela nafas panjang, dapat terlihat jelas bagaimana posisi asmara dan byan saat ini. Juna merasakan hatinya perih seolah teriris belati yang berkarat! Sakit bukan??


Tak tahan dengan perlakuan byan terhadap calon isterinya, junapun melakukan aksinya!


FLASH BACK OF


"LEPASKAN ASMARA!!!" Juna menarik tubuh byan dan mendaratkan beberapa kali pukulan keras pada wajah byan.


Bugh! Bugh!.....


Byan tersungkur dan membalas memukul wajah juna.


Bughhhhhh!!


"Mas junaaaaa..... Hentikan mas..." Aku hanya bisa menjerit melihat perkelahian mereka berdua. Dapat aku lihat amarah juna menggebu-gebu saat sedang menghajar byan.


Hingga muncul dua orang lelaki bertubuh tinggi besar melerai perkelahian antara juna dan byan.


"Juna, kau sudah melewati batasanmu!!" Byan masih saja ingin melanjutkan perkelahiannya.


"Kau yang tak tahu batasanmu pak byan yang terhormat!! Juna menanggapi santai.

__ADS_1


"Kau tahu apa yang kau lakukan ini?? Aku akan....


"Sebelum kau memecatku! Aku sudah mengirimkan surat pengunduran diriku di atas mejamu!"


"Dasar kau......!


"Urus saja istrimu! Jangan mengganggu asmara! Dia wanitaku!"


Deg! Seketika aku terkejut mendengar perkataan juna yang menyebut istri. Apakah byan sudah memiliki isteri?? Mengapa aku tak tahu soal itu??


Juna meraih tanganku dan menarikku keluar. Kamipun pindah dari speedboat yang disewa oleh byan menuju speedboat sewaan juna.


Aku melihat ada seorang wanita disana. Dan mendengar percakapannya dengan juna.


"Kak juna...?" Chay terkejut mendapati bibir juna yang mengeluarkan sedikit darah.


"Antar kami ke apartement sekarang juga chay. Dan bereskan barang-barang mara dari hotel itu! Bawa ke apartementku besok!"


Kulihat wanita itu hanya mengangguk pelan menanggapi perintah juna. Sesekali dia bergantian menatapku. Sebenarnya siapa dia?? Apartemen siapa yang juna maksud? Masih banyak pertanyaan lain didalam otakku.


Wajah juna masih penuh dengan emosi dan amarah. Tak pernah aku melihatnya seperti ini. Aku hanya diam dan menangis sesak, tak mampu berkata apapun.


Begitupun dengan juna, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya hingga kami tiba di sebuah apartement. Apartement ini memang tak begiti luas dan mewah. Namun memiliki dua kamar tidur, meskipun terkesan minimalis tetapi aparyement ini memiliki desain yang unik dan sangat rapi.


"Pakailah ini, bersihkanlah dulu tubuhmu dan istirahatlah..." Juna menaruh sebuah handuk dan beberapa lipat pakaian disofa.


"Mas, aku minta maaf..." Aku hanya bisa mengeluarkan kata maaf saat ini.


Juna mengangguk pelan. "Mandilah, setelah itu kita bicara." Juna melangkah kearah kamar yang satunya, akupun melangakah kearah kamar depan yang sudah ditunjuk juna sebelumnya untuk ku tempati.


Setelah aku selesai mandi, aku keluar kamar. Kulihat disana juna sudah duduk dengan memakai pakaian ala rumahan disebelah jendela.


Aku baru melihat juna sesantai ini, mataku pun tak mau berkedip melihatnya. Aku segera menghampirinya.



"Mas juna.." Sapaku dan aku memilih duduk dikursi yang berada diseberang juna.


"Minumlah..." Juna sudah mempersiapkan teh hangat beserta roti panggang untukku. Akupun meminumnya.


"Mas aku bisa jelaskan soal tadi, aku minta maaf padamu. Aku ceroboh mas, aku tidak bisa menjaga perasaanmu...."


"Apakah kau disakiti olehnya mara?" Juna memotong ucapanku.


"Tidak mas, dia tak menyakitiku."


"Dia menyentuhmu?" Pertanyaan juna tak mampu kujawab. Jelas-jelas juna sempat melihat apa yang dilakukan byan padaku.


"Kau masih mencintainya mara??" Juna menatapku, dapat aku rasakan amarahnya yang belum redam..


"Mas, aku tidak ada perasaan apapun lagi padanya.."


"Mengapa dia mengganggumu? Dari awal kedatangannya kemari aku sudah curiga padanya!!."


"Mas percayalah, aku sudah mulai melupakannya.."


"Mulai? Bahkan kau baru memulainya mara??"


"Mas, maksudku...."


"Sudahlah, ini semua salahku. Ini adalah sebuah resiko yang harus ku tanggung... Kau tak pernah ada perasaan apapun padaku, aku yang terlalu memaksakan dirimu mara. Beristirahatlah, lupakan kejadian hari ini. Anggap saja tak pernah terjadi, tidurlah tenangkan dirimu.." Juna hendak bangun dari duduknya namun aku menahan dengan menarik tangannya.


"Mas, luka di bibirmu apakah...."


"Aku sudah mengobatinya mara, luka ini tak terlalu sakit dibandingkan dengan luka yang ada disini!" Juna menunjuk dadanya.


"Mas, maafkan aku..."


"Tenangkanlah dirimu, renungkanlah apa yang akan kau lakukan besok, apa yang akan menjadi tujuan hidupmu malam ini dan selamat malam mara"..


Juna melangkah ke arah kamar yang tadi dimasukinya.


Aku hanya terdiam hingga tubuh juna menghilang.


Sejak kejadian itu, kamipun tak pernah berbicara satu sama lain. Berbicara hanya seperlunya saja. Hingga pagi ini juna mengajakku untuk kembali ke jogja.


Kami diantar oleh wanita yang selalu dipanggil chay oleh juna. Aku tak mau bertanya apapun dulu pada juna. Aku tahu keadaannya kali ini lebih kacau dari pada diriku. Meskipun begitu, juna masih memperlihatkan dirinya yang nampak tenang.

__ADS_1


Begitu pintarkah juna menyembunyikan hal sesakit ini? Bahkan kemarin aku sudah sangat melukai perasaannya. Bisa-bisanya byan mencium bibirku kemarin. Dan itu pasti dilihat oleh juna. Aku sungguh bodoh! Meskipun ciuman itu adalah paksaan dari byan, namun aku sudah sangat melukai dan menghianati juna.


__ADS_2