Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Perceraian


__ADS_3

"Kak? Kau baik-baik saja?" Tanya chayra pada juna setelah kembali dari rumah bu kamila.


"Aku baik-baik saja chay, jangan khawatir." Juna melemparkan senyumannya pada chayra.


"Apa kau yakin?" Chayra tak percaya pada juna, pasalnya juna sangat pandai menutupi kebohongan.


"Semua itu sudah terjadi sangat lama chay, aku sudah berhasil melupakannya. Kini aku akan menata masa depanku." Jelas juna mencoba meyakinkan chayra dengan memegang tangan chayra lembut.


"Kakak tak mengkhawatirkannya? Sepertinya terjadi sesuatu pada mara... Apalagi mara membawa koper dan menangis." Chayra menjadi penasaran setelah melihat asmara datang dengan keadaan yang tak seperti biasa dengan penampilan yang sedikit berantakan.


"Biarlah itu urusannya chay, kita tak punya hak untuk ikut campur ataupun sekedar mengetahui." Juna tahu, chayra saat ini sedang mengkhawatirkan perasaannya.


"Baiklah kak, aku bersyukur jika kakak sudah bisa melupakannya." Chayra tersenyum kearah juna dengan mania.


"Itu semua berkat kamu, terimakasih chay..." Juna merapihkan helaiannrambut chayra dan menyelipkannya kebelakang telinga. Tangan juna meraih dagu chayra yang begitu menggodanya sejak tadi, juna mengusap lembut tahi lalat yang ada didagu istrinya itu. Hingga ia tak bisa lagi menahan hasrat pada chayra. Dengan perlakuan lembut, juna mencium bibir istrinya dalam.


"Terimakasih sudah menerimaku apa adanya, terimakasih sudah menungguku begitu lama hingga aku tak menyadarinya, dan terimakasih untuk segala kesabaranmu slama ini... Aku mencintaimu chayra dellina...."


Setelah melepas pagutannya, juna kembali mengecupi kening dan pipi istrinya itu. Istri yang sudah dinikahinya tiga hari yang lalu. Istri yang telah membantu juna melepas masa keterpurukannya, dialah chayra dellina.


Chayra setia menemani juna kemanapun, hingga juna pergi ke turki untuk menenangkan diri dan chayra menyusulnya dengan maksud ingin slalu bersama juna.


Disanalah, chayra mengakui perasaannya yang selama ini ia pendam pada juna. Karena kehadiran chayra dapat merubah suasana hatinya, juna pun memutuskan untuk menikahi chayra tanpa status pacaran.


Setelah kembali dari negara turki, juna dan chayra pun meminta restu pada bu Aisyah hingga mereka memutuskan untuk menikah di Indonesia.



Othor kasih penampakan chayra ya readers.. Biar baca novelnya ngga ngambang.. wkwkwk😄


Kira² cocok nggak nih dihati kalian?? Cocoklah ya buat abang juna yang kasep...


Chayra dellina,


Model (Beby Tsabina) Uwuuu...uwu....

__ADS_1


***


🍒Asmara


Sudah tiga hari lamanya aku berpisah dari byan, hingga hari ini aku menerima sebuah surat dari pengadilan agama.


Ternyata, byan tak bermain-main dengan ucapannya. Byan sungguh menceraikanku. Ingin rasanya aku merobek surat ini, namun apa gunananya? Apakah byan akan kembali kepadaku setelah aku merobek surat ini? Akankah byan menjemputku agar kembali kerumahnya lagi?


Sepertinya itu semua tidak mungkin, byan sudah mengucapkan talaknya padaku. Kini aku bukanlah lagi istrinya, melainkan seorang janda.


"Tuhan, mengapa nasibku harus seperti ini...." Tangisanku pun pecah tak dapat ku bendung lagi.


"Mara, sudahlah nak... Jangan terus menangisinya.. Allah telah menunjukkan siapa dia sebenarnya, Mungkin kalian berdua tidak ditakdirkan bersama." Ibu langsung merangkulku kedalam dekapannya.


"Bu, sebenarnya Allah sudah menunjukkan siapa dia sebenarnya. Aku saja yang bodoh begitu mempercayainya." Aku meneruskan tangisanku. Tangisan penyesalanku karena telah mempercayai byan.


"Sabar ya nak... Tidak ada yang tahu nasib dan jalan hidup seseorang." Ibu terus memberikanku kekuatan. Jika tak ada ibu, aku tak tahu nasibku bagaimana.


"Aku menyesal bu... Aku sangat menyesal telah mempercayainya untuk kedua kali hingga aku harus menyakiti mas juna." Lagi-lagi rasa sesal ini tak dapat hilang dari fikiranku.


"Sudah nak, baik byan ataupun juna mereka tak ditakdirkan untukmu. Kamu harus bersabar...."


"Bagus, jangan patah semangat! Kamu harus bangkit dan menunjukkan bahwa kamu bisa hidup tanpa orang yang menyakitimu..."


"Terimakasih bu.... Ibu adalah orang yang paling setia dan mau menerimaku. Ibu selalu menguatkanku.." Aku menatap netra ibu yang memandangku kasihan, hingga sudut netra itu meneteskan air bening pula.


"Itu sudah kewajiban ibu sebagai orang tuamu nak. Ibu harus melindungimu. Ibu akan selalu mengingatkanmu mara.. Takkan bosan, maka kamu juga harus mendengarkan ibu yaa?" Ibu berusaha menghiburku.


"Bu, besok aku akan ke pengadilan untuk menghadiri sudang perceraianku. Apa ibu bisa menemaniku?" Pintaku pada ibu dengan memegang telapak tangannya.


"Ibu akan menemanimu kemanapun nak..." Ibu pun mengiyakan permintaanku.


***


Selesai dari sidang, aku dan ibu pun menuju pulang. Disana aku bertemu dengan byan yang hanya ditemani oleh pengacaranya. Tak ada sosok umi ataupun abi di sampingnya.

__ADS_1


Aku menyempatkan berbicara padanya, aku sungguh ingin menuntaskan ini semua meskipun hatiku berat.


"Semoga kamu berbahagia..." Hanya itu yang ingin ku sampaikan.


"Aku takkan bahagia jika anakku belum ditemukan, dan itu karena ulahmu." Jawab byan menatapku dengan sinis.


"Kamu tak pernah mau mendengarkan penjelasanku, suatu saat kamu akan mengetahuinya dan kamu akan menyesal telah memperlakukanku seperti ini." Aku coba untuk memperingati byan.


"Aku takkan pernah menyesal, yang aku sesali adalah sempat mempercayaimu untuk menyentuh putriku dan akhirnya aku kehilangan dia." Byan pun langsung pergi begitu saja diikuti pengacaranya.


Aku hanya menghela nafas panjang dengan mengusap dada beberapa kali, mencoba untuk terus bersabar dan juga tenang atas perlakuan byan.


Apakah bintang belum juga ditemukan? Dimana bintang? Aku tak bisa tinggal diam, aku harus segera menemukannya. Aku akan membuktikan jika bukan aku yang bersalah. Semua itu terjadi karena unsur ketidaksengajaan.


Setelah tiga kali dipertemukan dalam sidang, statusku kini telah resmi menjadi seorang janda. Aku tak bisa berbuat apapun lagi. Byan tak mempercayaiku, dia lebih mendengarkan kata-kata umi. Untuk apa aku mempertahankan rumah tanggaku ini.


Tak ada tuntutan apapun dariku, pembagian harta gono gini atau yang lainnya. Aku tak menginginkan itu semua. Mungkin orang-orang diluaran akan berfikir jika aku adalah wanita bodoh. Namun aku lebih memilih lepas dengan tenang dari byan tanpa ada ikatan apapun lagi. Karena aku tak mau mengingat hal apapun tentang byan yang kini sudah menjadi masa laluku.


Selama masa pemulihan jiwa dan menenangkan fikiranku, aku kini bekerja di rumah makan milik ibu. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan juna juga chayra yang akan makan disana.


"Mau pesan makan apa?" Tanyaku yang akan mencatat menu pesanan juna dan chayra.


"Hay mara..." Chayra malah menyapaku, padahal aku tak ingin ini semua. Aku sengaja to the point saat mereka datang karena aku tak ingin banyak percakapan diantara kami.


Aku hanya mengangguk pelan. "Mau pesan apa chay?" Tanyaku menatap kearah chayra.


"Aku mau nasi goreng seafood pedas ya, Kak juna mau apa?" Chayra menatap kearah juna yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


"Aku pesan yang sama sepertimu saja." Juna menyunggingkan senyumannya pada chayra dan memegang punggung tangannya.


"Kak, malu banyak orang." Chayra menarik tangannya hingga juna hanya tertawa kecil menerima perlakuan chayra.


"Tunggu sebentar, kami akan menyiapkan pesanannya." Aku langsung pergi ke bagian dapur untuk menyerahkan menu pesanan chayra dan juna.


Tanpa aku bertanya lagi mereka ingin minuman apa ataupun menu yang lainnya.

__ADS_1


Aku pun tak mau kembali bertanya, biar saja. Daripada aku melihat kemesraan mereka berdua yang membuat hatiku bagai tersayat sembilu.


Hingga saat ini, juna tak mau menyapaku atau sekedar menengok kearahku. Aku semakin merasa jika juna amatlah membenciku...


__ADS_2