
Juna memberikan sebuah paperbag pada randy, juga sebuah paperbag untuk ibuku.
"Ini untuk randy, dan ini untuk ibu.."
"Wah, terimakasih kakak..." Ucap randy girang menerima oleh-oleh dari juna.
"Terimakasih nak oleh-olehnya. Tak perlu repot-repot.." Ucap ibu pada calon menantunya.
Juna hanya tersenyum lembut, bagaimana bisa juna memikirkan oleh-oleh untuk ibu dan juga adikku? Sementara aku? Tak ada yang bisa kuberikan.
Karena kami tiba di jogja pagi hari. Juna singgah ke rumahku dulu.
"Apakah nak juna juga dari bali??" Mata ibu kini penuh selidik.
"Oh, iya bu. Kebetulan aku akan pindah kerja. Jadi aku meninjau tempat kerja yang baru. Aku dan mara saling menghubungi, jadi kami berdua bisa pulang bersama. Bukan begitu mara?" Juna menatap mengarahku, akupun langsung mengangguk perlahan.
"Oh begitu.. Jadi sekarang nak juna dan mara sekarang tidak bekerja lagi di tempat yang sama?" Tanya ibu lagi, sepertinya ibu benar-benar ingin tahu lebih dalam.
"Iya bu.." Jawab juna.
"Apa tidak bisa mencari pekerjaan yang lebih dekat nak?" Sepertinya ibu mengkhawatirkan hubunganku dengan juna.
"Ibu jangan khawatir, ini hanya sementara.." Jawab juna meyakinkan ibu.
Tak ada yang aku katakan, kali ini aku hanya menjadi pendengar saja ditengah pembicaraan ibu dan juna.
Terlihat diwajah juna yang berusaha meyakinkan ibu. Tapi entah mengapa, juna lebih memilih berbicara pada ibuku lebih dulu daripada berbicara denganku. Apakah karena juna lebih menghormati orang tua? Banyak hal yang ingin kutanyakan pada juna, sejak kemarin aku dan juna lebih banyak diam. Di dalam pesawatpun tak ada pembicaraan diantara kami, saat menaiki taksi menuju ke rumah pun sama. Kami lebih banyak diam.
Aku memilih untuk masuk kedalam rumah untuk membersihkan diri meninggalkan ibuku dan juga juna. Karena hari ini adalah hari sabtu, dan aku akan pergi ke kampus pukul sembilan nanti.
Namun setelah aku selesai mandi, kulihat juna sudah tidak ada lagi. Sementara ibu sedang sibuk di dapur mempersiapkan makanan.
"Kau mau pergi ke kampus nak?" Tanya ibu yang sepertinya memperhatikanku dari tadi.
"Iya bu. Ada kelas hari ini jam sembilan." Jawabku seadanya.
"Juna sudah kembali ke rumahnya, tadi ibu tawarkan makan tapi dia menolak."
"Oh, begitu ya bu.."
"Ada apa dengan kalian berdua? Kau tak mau menceritakannya pada ibu?"
"Kami baik-baik saja bu. Tak ada masalah yang harus diceritakan.. Ibu jangan khawatir."
"Hmm baiklah, pergilah ke kampus. Ibu akan mengantar makanan ke rumah juna. Kasihan dia, wajahnya tadi terlihat pucat mungkin saja juna sedang sakit."
Deg! Hatiku bergetar, darahku bergemuruh, jantungku sejenak berhenti. Bagaimana aku bisa tak tahu jika juna sakit?
"Sa..sakit bu?" Tanyaku ingin tahu lebih lanjut.
"Ya, sepertinya begitu.. Terlihat dari wajahnya.."
"Aku saja yang mengantarnya bu.. Ibu tunggu di rumah saja bersama randy. Aku sekalian singgah sebentar sebelum ke kampus." Aku meraih rantang berisikan masakan yang dikemas ibu khusus untuk juna.
"Kau tahu rumah juna? Bukankah kau tak pernah kesana mara?"
"Ibu kirim saja alamatnya lewat pesan. Aku berangkat dulu bu.. Assalamualaikum.." Ku raih tangan ibu dan menyalaminya.
***
__ADS_1
Sementara di tempat yang berbeda, Byan tiba di apartementnya. Byan terlihat lesu dan tak bersemangat. Ketika masuk, byan terkejut dengan sosok wanita ada di dalam apartementnya.
"Agatha......" Byan membulatkan matanya. Agatha yang mendengar suara byanpun langsung menyapanya.
"Mas byan, sudah pulang??" Agatha bangun dari duduknya menghampiri byan.
"Kau..."
"Aku? Ada apa mas?"
"Kau... Kapan kau tiba disini?"
"Baru semalam mas." Agatha meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan byan.
"Ada apa kau kemari?"
"Mas, kau masih marah padaku?"
"Agatha, jika kau ingin kemari baiknya beri kabar aku terlebih dahulu."
"Apakah seorang istri dilarang menghampiri suaminya?"
"Bukan begitu, maksudku jika aku tahu kau datang. Mungkin aku akan menjemputmu!"
"Aku ingin memberimu surprise! Kau tak senang aku disini mas?"
"Se..nang, aku sangat senang.. Aku mau membersihkan tubuhku dulu tha."
"Baiklah, aku tunggu di meja makan. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu mas.."
Byan hanya tersenyum menanggapi istrinya kemudian melangkah masuk kedalam kamarnya untuk mandi.
๐Kali ini, thor mau kasih penampakan meja makan dulu nih.. Kira-kira agatha masak apa ya? Ada yang tauu nggak nih readers?? Ada yang pernah makan ini? Kalau thor jangan ditanya ya.. Thor belum pernah makan kayak beginian..๐
"Mas? ayo makan selagi masih hangat.." Ajak agatha pada suaminya.
"Baik.." Byan pun langsung duduk.
"Mas hari ini akan pergi ke kantor?"
"Tidak, hari ini aku ingin istirahat dulu. Ada apa tha?"
"Emmmm, sepertinya kau terlihat lelah mas. Itu kenapa? Pelipismu biru? Bibirmu terluka mas? Kau terjatuh?" Agatha melihat hasil perkelahian di wajah byan dengan beberapa luka. Namun agatha masih pura-pura tidak tahu.
"Oh ini, hanya kecelakaan kecil. Bagaimana kabar ayah afrizal? Apakah pengobatannya di luar negri lancar?"
"Ayah sudah kembali dua hari yang lalu mas. Ayah sudah baikan. Ayah menitip salam untukmu.." Agatha tersenyum lembut. "Makanlah yang banyak mas, kau terlihat begitu kurus. Aku tak mau orang lain menilaiku tak bisa mengurus suami."
"He'ummm..."
Byan hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tak banyak yang dibicarakan oleh mereka berdua. Keduanya masih canggung. Bahkan mereka tak membahas masalah yang telah terjadi, mereka sama-sama merasa tak ada masalah sebelumnya..
***
๐Asmara
Aku tiba di sebuah komplek perumahan mewah yang alamatnya sudah dikirimkan oleh ibuku via pesan whatsapp.
__ADS_1
Aku sungguh takjub dengan desain minimalis sebuah rumah dihadapanku, sungguh sedap dipandang mata. Apakah ini rumah juna? Berulang kali aku mengecek alamatnya dengan alamat yang dikirimkan oleh ibu dan itu benar-benar sama. Aku coba saja untuk menekan bel rumah beberapa kali.
๐Semoga nanti yang pengen rumah begini segera dikabulkan sama Allah ya readers.. Kita sama-sama berusaha dan berdoa. Amin.....
"Siapa?....." Seorang wanita membuka pintu rumah itu. Karena posisiku yang membelakangi pintu, tubuhku langsung berbalik ketika mendengar pintu di buka.
"Kaa..mu..." Aku terkejut tiba-tiba wanita yang baru kutemui beberapa jam tadi sudah ada disini.
"Hai.. Mara,.." Chayra menyapaku dengan senyumannya. Wanita ini terlihat sedikit lebih dewasa daripada aku.
"Hai.. Apakah ada juna?" Tanyaku padanya.
"Kak juna sedang mandi.. Apa kamu......."
"Aku titip ini dari ibu untuknya. Aku permisi." Aku langsung memberikan rantang pada chayra. Dan aku sedikit berlari kecil meninggalkan rumah itu.
"Hey.... Tunggu... Maraa..." Terdengar suara chayra yang terus memanggilku, namun aku tak mempedulikannya. Aku tetap pergi mencari taksi dan menuju ke kampus.
Aku sungguh tak menyangka, entah siapa wanita itu? Sepertinya juna dan chayra begitu akrab. Juna bilang tak memiliki saudara terkecuali bu aisyah disini.. Siapa sebenarnya chayra? Juna tak pernah memberitahuku tentangnya. Saat di bali, mereka berdua terlihat sangat akrab saat mengobrol. Sekarang chayra ada di rumah juna. Oh tuhan... Apa lagi ini... Entah mengapa hatiku terasa sakit mengetahuinya.. Juna, sebenarnya apa yang kau sembunyikan..
"Siapa chay?" Juna turun dari lantai dua dan menemui chayra yang berada di depan pintu.
"Itu, calon bojomu kak!" Jawabnya asal.
"Mara?"
"Ya.. Cepatlah kau kejar dan temui dia! Sebelum kau di mutilasi olehnya!"
"Mara tak sekejam itu chay.."
"Tapi dari tatapannya tadi melihatku berada disini seakan dia ingin menyantapku mentah-mentah!"
"Kau fikir asmara seorang kanibal?" Tess! Juna menyentil kening chayra.
"Ih.. Sakit kak! Ini titipan dari ibunya." Chayra memberikan rantang berisi makanan pada juna.
"Ibu kamila sangat perhatian padaku. Tak salah aku memilih calon mertua sebaik dia.."
"Ya, ibunya baik! Tapi anaknya seperti suzana!"
"Chayy... Jaga ucapanmu. Nanti kau harus membiasakan diri. Dia yang akan menjadi kakak iparmu.
"Yaa..yaaa....! Ayo kita makan kak, aku lapar. Aku penasaran dengan masakan calon ibu mertuamu itu."
Aku harap kau bahagia kak juna, meskipun kau menganggapku hanya sebagai adik. Tapi hatiku ini tak pernah menganggapmu hanya sebagai kakakku. Aku mencintaimu kak juna, mengapa kau tak pernah menyadari keberadaanku.
Chayra bermonolog dalam hati..
*Masakan calon ibu mertua nih readers... Ibu mertuanya mah pinter masak! Lah yang mau dinikahin malah nggak bisa masak! Juna salah pilih nggak sih milih si asmara??๐
Dateng lagi si chayra readers... Kalian coba tebak chayra ini baik apa jahat? Menurut kalian chayra bakal merusak hubungan juna dengan asmara nggak ??
Terimakasih yang masih terus setia membaca karya aku.. Maaf thor hanya bisa up 1000 kata ya..
Semangatin thor dong... Biar bisa crazy up๐๐*
__ADS_1