Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Oleh-oleh..


__ADS_3

Arman kembali keruangan kerjanya dengan membawa dua paperbag berisi oleh-oleh dari bossnya.


"Habis belanja pak?" Tanya didit diikuti mata yang ingin tahu apa yang dibawa atasannya itu.


"Kemari semuanya!" Pinta pak arman. Semua beranjak dari meja masing-masing menuju meja pak arman.


"Wow! apa itu??" Hesty melirik keppo.


"Ini ada oleh-oleh dari pak byan! Masing-masing dari kita mendapat satu mika ya.." Pak arman membagi satu-persatu kue kepada kami.


"Ngomong-ngomong dalam rangka apa nih si boss bagi-bagi kue??" Yongki menatap pak arman penuh tanya.


"Hmm.. Ini ucapan syukur dari keluarga malik! Habis pesta kemarin" Jawab arman menambahkan keingintahuanku.


"Pesta??" Sontak aku membelalakkan mata, sungguh sangat ingin tahu.


"Apakah boss dingin itu menikah?? Oh no!! pasti banyak sekali wanita yang bakal patah hati!" Hesty melirikku. Yang aku sendiri tak tahu apa arti lirikan sinisnya itu. Aku sudah terbiasa mendapati lirikannya.


"Baiklah, silahkan kembali ke meja masing-masing dan nikmati kuenya" Arman memberi perintah.


"Terimakaasih pak!" Semua orang menjawab serentak sembari kembali ke meja masing-masing.


Sungguh hatiku tak tenang, ada perasaan yang mengganjal disini. Ucapan hesty sangat menggangguku. Benarkah byan menikah? dengan siapa? kapan? dimana? mengapa semua itu bersarang difikiranku? oh, byan...... Ku letakkan kepalaku dimeja dengan melipat kedua tangan.


"Kau baik-baik saja mara?" Suara juna membuyarkan fikiranku akan byan.


"He'umm" Jawabku singkat. Kembali ku tegapkan posisi dudukku.


"Jika merasa tak enak badan, kau bisa istirahat terlebih dahulu atau bisa minta izin pulang saja pada pak arman" Lanjut juna dengan mata fokus pada layar komputernya.


"Tidak pak juna. Aku baik-baik saja!" Jawabku.


"Ini, minumlah!" Juna meletakkan satu kaplet vitamin C hisap dimejaku.


"Mungkin kau akan sedikit lebih baik!" Tambahnya lagi.


"Terimakasih.." Kuraih vitaminnya. Akupun heran, ternyata juna yang terlihat cuek ini begitu peduli padaku. Yah, hal yang tidak buruk.

__ADS_1


"Emmmmmmm.... Asam sekali!!" Aku mengerenyitkan dahi dan sedikit memejamkan mataku merasakan begitu asamnya vitamin hisap yang diberi juna.


"Hahah, lucu sekali!" Juna tertawa kecil memandangku.


"Tak usah mengejekku pak!" Aku memalingkan wajahku. Kuarahkan pandanganku pada hesty. Ternyata hesty memperhatikanku. Entah sejak kapan, tapi ketika kulihat ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.


Ah, terserahlah... Selagi itu tak menggangguku.


"Waktunya istirahat, selamat makan siang semua.." Celoteh pak arman mengingatkan kami sembari meninggalkan ruangannya.


"Iya pak!!!" Jawab kami serentak.


"Tumben sekali pak boss tidak menjemputmu mara? Apakah ada masalah diantara kalian?? " Didit berbicara mengarahku.


"Masalah?? memangnya apa hubungannya dengan pak boss yang dingin itu?" Timpal hesty sembari memoleskan lipstik merah yang membuat bibirnya terlihat lebih tebal.


"Iya, biasanya kalian keluar bersama. Bahkan sebelum waktu istirahat tiba." Sambung yongki.


"Apakah boss sangat sibuk hari ini? setelah hampir seminggu ia tak ke kantor?" Didit menatap yongki.


Pertanyaan-pertanyaan itu tak kuhiraukan. Tak ada satu pun yang ku jawab. Suasana hening setelah itu..


"Apaa??" Hesty membelalakkan matanya. Lagi-lagi dia menatapku sinis.


"Ayolah mara, makan bersama kami saja!" Yongki pun mengajak.


"Iya mara, pasti lebih seru. Kita kan satu tim? makan siang pun satu tim." Tambah didit pula.


"Emm, baiklah..." Akupun mengiyakan ajakan mereka. Kulihat disana hesty sudah keluar terlebih dahulu sembari mengerucutkan bibirnya yang merah merona bagaikan buah delima itu.


Kami pun keluar bersama. Kuarahkan mataku kesegala sudut dan tempat disini. Sungguh aku tak menemukannya, aku tak menemukan keberadaan byan..


***


Jam pulang telah tiba, semua orang hari ini terlihat lebih segar dari biasanya. Terkecuali aku. Entah mengapa hari ini aku begitu lemas. Padahal hari ini pekerjaanku pun tak begitu banyak dari biasanya.


"Mara, kau pulang kearah mana?" Tanya yongki.

__ADS_1


"Eh, bilang saja kalau kau ingin tau rumahnya mara, tak usah modus huwww...." timpal didit.


"Bukan begitu, Barang kali mara searah denganku, Jadi kami bisa pulang bersama." Jawab yongki.


"Siapa wanita yang ingin pulang bersamamu? melihatmu saja mereka sudah takut!" Tambah didit lagi.


"Kau selalu merendahkanku, aku hanya menawarkan mara, bahkan marapun belum mengucapkan apapun! Kenapa kau yang terus menjawab?" Ucapan Yongki terdengar kesal.


"Mara pulang bersamaku!" Terdengar juna sedikit meninggikan nada bicaranya. Semua orang menatap kearah juna.


"Ish, ada apa dengan kalian?? aku tak mengerti! untuk apa merebutkan wanita tak jelas itu!! huhhhhh!" Hesti berbicara dengan nada marah, ia meraih tasnya menuju keluar ruangan sembari menghentak-hentakkan kakinya. Suara tancapan hellnya pada lantai begitu keras. Membuat semua orang menutup telinga!


"Aku pulang kearah SMAN 4, aku bisa pulang sendiri pak juna. Aku sudah terbiasa naik kendaraan umum" Timpalku.


Sungguh orang-orang ini membuatku heran. Kemarin-kemarin sikap mereka seolah tak peduli padaku. Tapi sekarang?? Apalagi sikap juna yang berubah 180°. Aduhh..... Mereka membuat kepalaku berdenyut!


Saat menuju depan kantor, kulihat byan dengan langkah cepat berjalan kearah parkiran mobilnya disana.. Dia terlihat terburu-buru. Tak lama mobilnya melaju dan perlahan menghilang dari pandanganku.


Byan? Ada apa denganmu? Apa kini kau benar-benar akan menjauhiku? Apa perkataanku tempo hari benar-benar menyakitimu? byan sungguh aku tak ingin seperti ini..


Kulangkahkan kakiku dengan lemas menuju halte depan kantor, sungguh aku lelah. Bukan tubuhku yang lelah, melainkan perasaanku saat ini yang teramat lelah..


***


"Assalamualaikum bu, randy....." Aku membuka pintu kudapati ibu dan randy sedang menonton televisi.


"Loh nak sudah pulang?" Ibu menyambutku, dengan segera ku cium tangannya.


"Ya bu, ini untuk ibu dan adik embulllku...."Kuraih pipi embul randy dan mengecupnya gemas. Aku meletakkan bingkisan berisi kue yang kata pak arman itu oleh-oleh dari byan. Namun aku tak mengatakan itu pada randy dan juga ibu.


"Apakah ini dari kak byan? mengapa kak byan tak pernah main kesini lagi kak? Randi bertanya menatapku, manik matanya terlihat ingin tahu.


"Kak byan sibuk de... Aku kekamar dulu ya bu, mau mandi." Aku segera bangkit meninggalkan ibu dan randy menuju kamar.


"Mara, apakah ada masalah antara kau dan nak byan?" Pertanyaan ibu masih bisa kudengar, namun aku tak ingin menjawabnya. Segera kulanjutkan langkahku menuju kamar.


Apakah semua orang tahu aku memiliki masalah dengan byan? Tidak dikantor, atau pun dirumah. Apakah aku benar-benar memiliki masalah dengannya? Aku sungguh tak waras! Bagaimana bisa kami berdua memiliki masalah, sementara kami tak memiliki hubungan spesial??? Sungguh tak masuk akal!!

__ADS_1


Yang jelas, byan bossku dan aku adalah bawahannya. Tak ada hubungan diantara kami selain itu. Bahkan kami tak pernah berteman sebelumnya. Mengapa hidupku ini tidak memiliki kejelasan? Argh....... Ingin rasanya aku menjerit sekuat-kuatnya!


__ADS_2