
Byan memperhatikan putri kecilnya yang kini kian tumbuh besar, tumbuh sehat dan tertidur pulas.
Meskipun Bintang harus mengkonsumsi Susu formula, tanpa ASI.
BINTANG PUTRI AGYAN..
Yang berarti putri kecil yang terus bersinar, Agyan diambil dari nama agatha dan byan.
Kendati bintang terlahir prematur, namun kondisinya saat ini bisa dibilang semakin membaik. Bintang tumbuh seperti bayi-bayi yang biasanya. Meskipun setiap bulan bintang masih perlu melakukan kontrol ke dokter.
Kehadirannya memberikan warna untuk byan juga keluarganya. Meskipin kini tanpa agatha, byan merawat putrinya bersama dengan andryani juga dibantu oleh satu orang baby sister pengalaman.
***
๐Asmara
Hari ini byan mengajakku ke apartementnya. Aku bertemu dengan abi malik, umi andryani juga bintang. Putri kecil yang amat menggemaskan.
Aku diajari oleh baby sister cara menggendong, hingga memberi susu untuk bintang. Untuk memandikan bintang aku masih belum memiliki keberanian.
"Perlahan kamu akan mengerti mara.." Andryani menepuk-nepuk pelan bokong putri yang tertidur dipangkuannya.
"Iya umi, aku akan belajar.." Jawabku senang.
"Kamu tak perlu khawatir, byan lihai dalam masalah memandikan bintang." Jelas malik sembari mengelus pipi bintang yang makin menggemaskan.
"Iya abi.."
Melihat bintang membuat suasana hatiku semakin nyaman. Ada rasa iba terhadap gadis kecil ini, ada rasa sayang yang amat dalam padanya.
Bintang, meskipun dia bukan putri yang terlahir dari rahimku tapi aku menyayanginya seperti anakku sendiri.
Hari ini byan mengantarku menuju rumah juna. Rencananya, aku akan mengembalikan kalung dan cincin pemberian juna.
Sesampainya di rumah juna, byan mengizinkanku untuk bicara berdua pada juna. Sementara byan menunggu di dalam mobil.
Aku memutuskan untuk mengetuk pintu rumah juna, namun yang membuka bu Aisyah.
"Mara? Ayo silahkan masuk nak.." Bu aisyah mempersilahkan aku masuk. Tak ada wajah canggung, bu aisyah masih nampak seperti biasanya.
"Terimakasih bu..." Aku melangkah kedalam ruangan tamu, sembari mataku yang celingukan kesana kemari.
"Nak mara cari juna?" Sepertinya bu Aisyah amat peka.
__ADS_1
"Oh, ibu tahu saja. Dimana mas juna? Aku ingin bicara sebentar." Jawabku tak enak.
"Tunggu sebentar, ibu ambil minum dulu." Bu aisyah menuju kedapur. Hingga beberapa saat ia memberikan secangkir teh hangat untukku.
"Terimakasih bu.. Mas juna ada di rumah atau sedang pergi?" Tanyaku ingin tahu. Aku tak ingin lagi berlama-lama. Jelas saat ini aku ingin mengetahui keadaan juna.
"Juna ada di kamar nak, sedang istirahat. Jika ada yang ingin disampaikan, katakan saja pada ibu."
"Apakah mas juna sedang sakit bu?"
"Tidak nak. Juna baik-baik saja. Hanya saja dia sepertinya kelelahan setelah kembali dari kantor." Bu Aisyah tentu berbohong, dapat kulihat senyum palsu pada wajah bu aisyah.
"Baiklah bu jika begitu. Aku pamit dulu, titip salam untuk mas juna ya bu... Dan ini, aku mau mengembalikan benda ini padanya." Aku menyalami bu aisyah, dan memeberikan kalung dan cincin pemberian juna, lalu aku keluar dari rumah juna.
"Mara, sudah selesai??" Tanya byan padaku.
"Ya mas, aku titip bu aisyah."
"Juna tak ada di rumah?"
"Ia hanya tak ingin menemuiku mas."
"Hmm, ini pasti sulit untuk juna. Tapi ya sudahlah ayo kita pergi.."
"Mas, tunggu ponselku dimana?" Aku mencari-cari ponselku di dompet serta di dalam mobil namun tak juga kutemukan.
"Apakah mungkin tertinggal di dalam rumah mas juna?"
"Ya, mungkin saja. Coba kamu cek dulu ke dalam." Pinta byan.
"Baik mas, tunggu sebentar ya..."
Sampai di ambang pintu, langkahku terhenti saat aku mendengar percakapan antara bu Aisyah dan juna.
"Nak, sampai kapan kamu akan menghindar dari mara?" Bu Aisyah terus menatap wajah juna yang kini tengah duduk bersamanya.
"Bu, aku memang harus menghindarinya. Setidaknya ketika aku tidak melihatnya aku bisa segera melupakannya." Jelas juna pada bu Aisyah.
"Nak, masalah itu dihadapi bukan dihindari." Bu Aisyah memberi nasihat.
"Untuk masalah yang lain itu mungkin bisa berhasil bu, tapi untuk mara sepertinya aku harus menghindar darinya. Ya, kurasa memang harus seperti itu" Juna beralasan.
"Juna, jangan berlarut-larut nak ini tidak baik.." Lagi-lagi bu Aisyah masih menasihati juna.
"Ibu ini sangat berat. Sangat-sangat berat bagiku, aku tak bisa jika melihatnya bersama pria lain. Aku juga tak bisa terus melihatnya, itu semua hanya akan menambah luka dihatiku bu.." Juna memijit kepalanya, kini ia benar-benar dalam aituasi yang amat sulit.
__ADS_1
"Nak juna, jika bersama pria lain membuat mara bahagia biarkan saja. Jangan terus memaksa perasaanmu. Ingatlah ada sang pemilik hati, Allah lah pemilik hati sesungguhnya."
"Tapi bu, aku sungguh tak bisa... Mara sangat berarti bagiku." Juna meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
"Juna, ibu tahu nak. Kau amat mencintainya, mara cinta pertamamu bukan?? Ibu tahu itu. Simpanlah cintamu untuknya, biarkan dia bahagia ddngan pilihannya nak. Insya Allah jika kau benar-benar ikhlas hatimu akan tenang." Bu Aisyah tanpa henti terus menasihati juna.
"Aku tidak tahu ini akan bertahan sampai kapan bu, untuk sementara ini aku akan pergi keluar negeri dulu." Mata juna kian memerah, suara seraknya pun keluar, menandakan ia sedang menahan tangis
"Juna, tak perlu sejauh itu nak..." Bu Aisyah menepuk pelan pundak juna.
Tess....
Air mata ini menetes lagi, dapat ku saksikan keadaan juna. Pengakuannya pada bu Aisyah membuatku merasa ssemakin bersalah. Bersalah telah meninggalkannya, bersalah atas semua kesakitannya, ini semua salahku..
"Mas juna..." Aku melangkah masuk menghampiri mereka berdua dengan wajah penuh air mata.
"Mara????.." Kedatanganku pun membuat bu Aisyah dan juna terkejut.
"Mas, maafkan aku.." Aku berhambur menghampiri juna. Aku sangat ingin memeluknya.
"Mara, berhentilah.." Juna menepis tangan yang ku ulurkan.
"Mas, maaf.." Hanya kata itu yang bisa ku katakan.
"Sudahlah mara jangan lagi menemuiku. Ini yang terbaik untuk kita, pergilah mara. Semoga kamu bahagia bersama byan." Juna begitu saja meninggalkanku bersama bu Aisyah. Tak banyak yang ia katakan, bahkan juna enggan untuk menatapku. Juna keluar rumah dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Aku dan bu Aisyah hanya saling menatap, dengan Air bening yang terus mengalir.
Aku meraih ponselku yang sempat tertinggal di kursi, aku pun pergi ke luar dari rumah juna.
Byan yang melihatku menangis, ia langsung memeluk tubuhku.
"Ada apa mara? Apa juna menyakitimu?" Juna sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"Bukan mas juna yang menyakitiku, tapi akulah yang selalu menyakitinya mas.." Aku terus terisak, membayangkan juna.
"Hmmm.. Tenangkanlah dirimu. Ayo kita pulang." Byan merangkulku menuju mobil. Dan kami berdua pun pergi meninggalkan kediaman juna.
๐Hai readers, masih kuat puasa kan? ๐ Kasih vote, like dan komennya dong...
Semangat dong! Jangan lemes gitu.
Sebelumnya mau ucapin terimakasih buat kalian semua yang masih setia baca karya aku. Terimakasih juga buat bunda Alif yang dah bantuin cariin nama bagus buat Bintang. ๐ค
Jangn lupa juga readers mampir di karya kedua aku ya, ceritanya juga nggak kalah seru.. Mampir lahh... Biar Othor makin semangat buat Up episode baru lagi..
__ADS_1
Karya baru Othor: MENJADI PENGANTIN SATU HARI