
"Umi ingin kalian berdua menikah!" Andryani menatap dalam agatha lalu bergantian menatap byan.
"Umi?? Apa-apan ini? Umi bicara apa?? Apa byan tidak salah dengar??" Fabyan melangkah menuju brankar tempat andryani terbaring. Ia begitu terkejut dengan perkataan uminya yang tiba-tiba.
"Umi tolong jangan membuat keputusan yang memaksakan byan dan atha..." Malik membantu menyandarkan posisi andryani.
"Umi hanya ingin itu, umi hanya ingin agatha yang menjadi menantu umi!!." Andryani bersikeras mempertahankan keinginannya.
"Umi, umi masih belum sehat. Untuk masalah ini kita bicarakan nanti saja setelah umi pulang kerumah yaa..." Agatha yang sejak tadi bungkam kini mengeluarkan suaranya untuk menenangkan hati ibu mertuanya itu.
"Tha, kamu setuju kan nak? umi hanya ingin kamu yang menjadi menantu umi satu-satunya. Umi tidak ingin wanita yang lain." Andryani meraih tangan agatha.
"Umi, atha tetap menantu umi bukan?? atha sudah menjadi menantu umi sejak beberapa bulan yang lalu.." Agatha meraih tangan andryani yang terpasang selang infus dan mencium punggung tangan itu perlahan.
"Tha, tapi sekarang rey sudah tidak ada. Rayhan sudah pergi nak... Umi ingin byan menggantikan posisi rey untuk menjaga kamu.." Andryani tetap kukuh pada keinginannya itu.
"Umi, tolong jangan memaksa agatha lagi!!" Byan yang melihat agatha terus disudutkan dengan uminya pun angkat bicara.
"Byan, dari awal umi memang selalu memaksa atha untuk menikah denganmu bukan??! Bahkan saat atha dan rey ingin menikah umi sempat menentangnya. Ahirnya, sekarang kamu lihat byan? Rey meninggalkan kita, dari dulu rey memang selalu ingin jauh dari umi. Bahkan sekarang? dia meninggalkan wanita ini?? Lihatlah atha byan, mungkin ini takdir kalian untuk bersama. Kalian berdua ditakdirkan untuk bersatu...!" Andryani panjang lebar tetap mempertahankan keinginannya.
"Umi.... Cukup." Malik memotong perkataan istrinya yang kini membuat mata agatha menjadi berkaca-kaca.
Dipandangnya mata agatha yang sudah memerah, byan pun menarik tangan agatha dan keluar dari ruangan rawat uminya itu. Agatha sontak terkejut. Byan terus menariknya sedikit memaksa hingga kini mereka sudah berada di taman kecil yang berada di belakang rumah sakit.
"Mas byan lepaskan!" Agatha merasa kesakitan dengan perlakuan byan.
"Huft!!" Byan menarik nafasnya. Ditatapnya wajah agatha yang sudah mulai memerah juga matanya yang terlihat sedang membendung tangisannya.
__ADS_1
"Tha, aku minta maaf. Aku ingin bicara denganmu."
"Kita bisa bicara didalam bukan? kenapa kamu menarikku keluar?" Agatha tak mengerti dengan perlakuan byan.
"Tha, selama sebulan lebih kita setiap hari bertemu. Tapi kita tak sempat berbicara bukan? jangankan berbicara menatapku saja sepertinya kau enggan." Byan mendudukkan tubuhnya dibangku kayu taman.
"Aku ingin kembali keruangan umi. Jika ingin bicara kita bicara disana saja." Agatha membalikkan tubuhnya hendak pergi meninggalkan byan.
"Agatha..." Byan menarik tangan agatha.
"Jika kita berbicara disana, umi akan terus memaksamu untuk menikah denganku! Apa kau inginkan itu??"
Agatha menepiskan tangan byan, dan membalikkan tubuhnya lagi. Kini dia tepat berdiri dihadapan byan.
"Dan, jika kita berbicara disini maka orang-orang akan berfikiran yang bukan-bukan tentang kita! Jangan pernah melupakan jika aku ini sekarang adalah kakak iparmu!! Dan satu lagi, jaga sikapmu!" Sontak agatha keaal dan berbicara dengan nada tinggi. Tak terasa air matanya pun kini telah menetes.
"Duduklah disini dahulu, tak perlu memikirkan penilaian orang lain yang melihat kita, fikirkanlah dahulu dirimu, fikirkan hatimu tha.."
Agatha menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kini ia menangis dengan suara sesegukan yang tak bisa ia luapkan. Andai saja ini bukan tempat umum, pasti ia sudah menangis sekencang-kencangnya.
Melihat agatha yang menangis, byan rasanya ingin memeluk tubuh mungil itu yang kini terlihat semakin kurus, mungkin agatha merasa terbebani dengan kehilangan rayhan. Meskipun didepan orang agatha terlihat tegar dan baik-baik saja. Namun byan dapat menilai jika keadaan agatha saat ini sedang terpuruk. Terlihat tangan agatha yang mulai basah, mungkin karena air matanya kini sudah banyak yang tertumpah.
Sementara didalam ruangan rawat andryani dan malik hanya terdiam menunggu byan dan juga agatha.
"Hmmmm, umi abi mohon pada umi jangan memikirkan hal yang lain dulu fikirkan kesehatan umi." Malik membuka suaranya.
"Abi, umi akan semakin sehat jika byan dan atha menikah!" Sergas andryani.
__ADS_1
"Umi, apa yang umi fikirkan? Rey pergi baru sebulan. Apa kata orang-orang nanti? Masa iddah agatha itu harus menunggu sekitar empat bulan lebih sepuluh hari.." Malik mencoba melunturkan keinginan istrinya.
"Ya, menikahnya tidak harus sekarang abi. Kita tunggu masa iddah atha selesai. Yang terpenting sekarang adalah persetujuan byan dan atha saja dulu." Andryani tetap pada keinginannya.
"Umi, ingatlah dahulu umi menginginkan pernikahan mereka? Nyatanya gagal bukan? Jangan mengulangi kesalahan yang sama umi!" Malik sedikit kesal dengan Kengeyelan istrinya itu.
"Abi, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.." Andryani menyunggingkan senyumannya saat dia melihat agatha kembali keruangan rawatnya kemudian disusul byan dibelakangnya.
"Terserah umi sajalah! Yang penting umi harus sembuh dulu! Abi mau kembali ke kantor, siang ini ada meeting." Malik sedikit kesal dengan istrinya itu. Kini malik menuju keluar.
"Hati-hati bi..." Agatha menyalami tangan mertuanya.
"Kau jangan terlalu memikirkan perkataan umi, jaga dirimu baik-baik tha." Malik sedikit berbisik. Agatha menganggukkan pelan kepalanya.
"Abi hati-hati." Byan menyalami ayahnya.
Setelah malik keluar dari ruangan rawat istrinya itu, agatha mendekat kearah andryani.
"Umi, sudah sore waktunya membersihkan tubuh.." Agatha dengan telaten membantu membersihkan tubuh ibu mertuanya.
"Terimakasih nak, umi sangat menyayangimu." Andryani mengecup puncak kepala agatha.
"Hmmm... Jika umi menyayangiku, umi harus segera sembuh." Agatha menyunggingkan senyumnya.
Byan yang sedari tadi duduk disofa memperhatikan tingkah kedua wanita disana. Pantas saja uminya sangat menyayangi agatha melebihi anaknya sendiri. Agatha begitu telaten merawat uminya seperti orangtuanya sendiri.
"Umi saja tidak rela jika kamu jatuh ketangan lelaki lain, apalagi aku tha!" Aku takkan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Aku akan menjagamu dan bertanggung jawab tha. Aku janji!"
__ADS_1
Byan bermonolog didalam hati sembari tersenyum kecil sesekali saat melihat senyum agatha yang sangat ia rindukan. Setelah sekian lamanya, baru kali ini lagi ia menyaksikan pemandangan yang sangat indah baginya. Kedua wanita yang sangat ia sayangi, uminya dan juga agatha tengah bercengkrama dan sesekali tertawa kecil. Ingin sekali ia ikut nimbrung disana. Namun, ia takut jika kehadirannya malah akan membuat agatha menjadi canggung. Lebih baik byan menatap dari jarak sedikit jauh saja.