Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
A


__ADS_3

Area 21+,


Mohon bijak dalam membaca ya readers..


"Asmara, apa yang kamu lakukan?"


"Maaf pak, ini sudah menjadi keputusan saya. Tolong bapak menghargainya."


Byan meraih kertas yang tadi ku letakkan diatas meja kerjanya lalu merobeknya dengan keras menjadi beberapa bagian.


"Pak, apa yang anda lakukan?" Mataku semakin membulat mengetahui prilaku byan seperti ini. Bisa-bisanya ia menghalangiku untuk mengundurkan diri.


"Aku tak ingin kau mengundurkan diri! Jangan pernah menentangku asmara!"


"Anda sangat keterlaluan pak byan!"


Meskipun aku sudah menjelaskan secara rinci padanya, tapi byan tak mau mendengarkanku.


"Dengar asmara, bagaimanapun kau ingin menghindariku aku takkan pernah membiarkannya!" Byan berkata lirih mendekatiku, lalu ia pergi keluar ruangannya dengan membanting pintu dengan keras.


Duuar!!!


Sikap arogan byan baru terlihat olehku. Aku ternyata sangat salah menilainya, dulu byan yang aku kenal tak seperti ini. Ternyata ini memang sifat aslinya, sangat tak masuk akal. Aku sungguh tak pernah menyangka.


Aku harus segera menjauh dari byan, jika tidak maka aku takut ini akan membahayakan diriku atau bahkan juna. Aku tak ingin itu terjadi.


Aku berniat untuk pergi saja meninggalkan kantor ini, lebih baik aku membantu ibuku di rumah makan untuk sementara waktu. Aku tak ingin berada dalam belenggu bos pemaksa dan arogan seperti byan lebih lama.


Setelah selesai membereskan semua barang-barangku, aku membawanya keluar. Aku tak perduli byan marah atau tak mengizinkanku untuk resign.


Semua mata tertuju padaku, aku membawa barang-barangku untuk singgah ke ruangan pak arman dan berpamitan padanya. Namun pak arman tak ada disana.


"Mara? kau mau kemana?" Tanya hesty dan menghampiriku dengan wajah penasarannya.


"Aku ingin resign mba, sepi sekali ruangan ini?"


"Apaaa?? Kau yakin mara? Mengapa? Apakah kau dan juna akan segera menikah?"


"Doakan saja yang terbaik untuk kami mba.. Yang lain kemana mba?"


"Mereka sedang keluar mara. Pak byan tadi memanggil mereka semua terkecuali aku."


"Apa? Pak byan? Aku harus segera pergi mba. Titip salam untuk semuanya..." Firasatku sudah tak enak. Aku segera melangkah cepat menuju keluar kantor.


Aku sungguh beruntung, disana ada juna yang sudah menungguku.


Juna menghampiriku dan mengambil alih barang-barang yang kubawa. Juna memasukkannya kedalam bagasi mobilnya.


"Nomormu tak bisa dihubungi? Aku khawatir, apa dia berbuat macam-macam?" Juna menatapku dengan penuh kekhawatiran.


"Kau jangan khawatir. Aku mengembalikan ponsel itu padanya. Simcard ada di dompetku." Aku tersenyum kecil pada juna. Tak ingin dia khawatir lebih.


"Kau mengembalikannya? Baguslah.. Ayo kita pulang." Juna melajukan sedang mobilnya.


"Lalu apa yang akan aku lakukan sekarang mas?" Aku masih bingung dengan keputusanku ini.


"Kau langsung saja ke rumah makan membantu ibu dulu ya. Setelah urusanku selesai aku berjanji akan mempekerjakanmu dengan baik pastinya." Jawab juna.

__ADS_1


"Urusan apa sebenarnya mas? Lalu mempekerjakanku bagaimana? Kau akan pergi?" Sungguh banyak pertanyaanku ini.


"Percayalah padaku mara, tolong jangan memancing untuk berdebat denganku atau aku akan menculikmu lagi!"


"Aku suka jika kau culik..." Aku sedikit menjulurkan lidahku keluar.


"Kau menggodaku?" Juna menatapku dengan senyum manis khasnya.


"Tidak, aku bukan wanita penggoda mas.."


"Lalu??" Juna menaikkan alisnya sebelah.


"Aku tak ingin berdebat! Sudahlah!" Aku mulai merajuk, entah kenapa tiba-tiba hatiku kesal.


"Kau kesal? Atau marah?" Juna seolah bisa menebaknya.


"Entahlah..." Jawabku malas.


"Minggu depan ayo kita menikah mara.." Ajakan juna sungguh tak masuk akal.


"Maas? Apaa? Menikah?" Aku membulatkan mata dengan sempurna menatap kearah juna yang masih fokus menyetir mobilnya.


"Yaa." Juna menjawab dengan yakin.


"Mas, aku belum wisuda, bahkan itu masih lama." Aku mulai mencari alasan.


"Tak ada yang melarangmu kuliah meski kau sudah menjadi istriku." Juna bisa saja menjawab.


"Mas, aku tahu itu. Tapi, aku ingin wisuda dulu baru menikah." Akiu masih belum siap untuk menikah.


"Mas juna aku belum siap!"


"Lalu kapan kau siap mara? Apakah besok kau sudah siap?"


"Mas juna! Jangan gila, itu tidak mungkin."


"Mara, aku tak ingin kau diganggu olehnya lagi. Aku takut kau akan pergi meninggalkanku, aku tak ingin itu terjadi mara.." Suara juna mulai melemah, terlihat matanya yang penuh dengan kekhawatiran.


"Mas, percayalah padaku. Setidaknya satu tahun lagi hingga kelulusanku." Aku mencoba meyakinkan juna. Aku memegang punggung tangannya, hingga jemari kami saat ini saling berpaut.


"Hmmm... Baiklah, aku akan sabar menunggumu."


"Terimakasih mas.."


"Oh ya, besok aku akan pergi ke bali menjemput bu aisyah. Kau ingin ikut?"


"Baru beberapa hari dari bali, sudah mau kembali lagi kesana mas?"


"Apa aku perlu meminta izin pada ibu?" Juna mulai membawa nama ibu lagi.


"Mas, tak perlu. Aku tak ingin kemana-mana sekarang."


"Baiklah, mungkin aku akan pergi selama seminggu."


"Apa?? Lama sekali mas!"


Juna hanya menanggapi ucapanku dengan senyuman khasnya. Senyuman kecil namun sungguh sangat manis.

__ADS_1


***


Byan tiba di apartementnya, dengan wajah yang emosi dan amarah yang memuncak. Byan masuk kedalam kamarnya hingga membanting pintu dengan keras. Namun saat byan masuk ada agatha didalam.


"Mas? Kau sudah pulang?" Agatha yang sedang merapihkan tempat tidur byan terkejut dengan kedatangan suaminya secara tiba-tiba.


"Sedang apa kau dikamarku?" Byan berjalan perlahan, menghampiri agatha.


"Mas, aku hanya bersih-bersih kamarmu dan mengganti spreinya." Jawab agatha sedikit takut melihat aura pada suaminya yang berbeda.


"Apa yang kau mau dariku agatha?" Byan menarik tangan agatha hingga tubuh mungil agatha berada dekat sekali dengan tubuhnya.


"Mas.. Aku hanya hmmmmmpp......"


Byan meraup bibir ranum istrinya itu dengan ganas. Hingga agatha sulit bernafas.


"Kau mau ini?" Byan menaikkan alisnya sebelah, dengan senyum ala devilnya.


Byan mendorong tubuh agatha hingga jatuh terlentang ke ranjang.


Sepanjang perjalanan cumbuan kasar yang byan lakukan pada agatha, hingga mereka berada pada puncak penyatuan. Byan begitu sulit menembus pertahanan agatha, hingga beberapa saat akhirnya byan berhasil melakukannya. Byan terkejut saat mengetahui ternyata agatha masih dalam keadaan p*****n. Byan terus melancarkan aksinya, tanpa memikirkan agatha yang terus merasakan sakit akibat ulah byan. Hingga agatha terkulai lemas. Kali ini byan sungguh keterlaluan, byan mengulangi aksinya hingga beberapa kali. Membuat agatha semakin tak berdaya.


Setelah selesai dan puas melakukan aksinya, byan terbaring disebelah agatha lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Byan melihat ada bercak merah disprei.


Ternyata bang rey belum pernah menyentuhnya. Apakah ini benar?


Gumam byan dalam hati hingga ia tertidur pulas.


Agatha yang berada disamping byan merasakan sakit pada tubuhnya dan area sensitifnya. Dipandangi wajah suaminya itu, agatha meneteskan airmatanya. Kenapa kamu melakukan ini dengan kasar padaku mas? Kenapa kamu berubah? Apa salahku mas? Agatha berkata lirih dengan diiringi isakan tangis.


Agatha hendak bangkit dari ranjang untuk membersihkan dirinya. Namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh byan.


"Maraa... Jangan pergi.., Mara maafkan aku jangan tinggalkan aku mara.." Dengan mata terpejam byan menyebut nama mara. Apakah byan mengigau?


Hingga beberapa detik kemudian, tangan byan melepaskan cekalannya pada agatha.


Agatha yang merasakan sesak didadanya kini semakin menumpahkan airmata beningnya dengan deras. Agatha menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Agatha tak habis fikir, ternyata byan masih terus memikirkan asmara.


Agatha pergi ke kamar mandi, merendam tubuhnya pada bathtub. Agatha terus terisak, merasakan sakit dan peruh pada tubuhnya dan juga sakit yang teramat perih kala mengingat suaminya masih menyimpan rasa terhadap wanita lain.


***


Tiga hari telah berlalu, juna sudah pergi ke bali mengurus penjualan apartementnya untuk tambahan membuka cabang toko perhiasan baru di jogja. Tujuan juna adalah agar asmara bekerja disana dan tak jauh dari keluarganya.


Semua urusan juna akhirnya selesai, juna hari ini akan kembali lagi ke kota jogja.


Juna merasa tak sabar untuk bertemu asmara, selama tiga hari mereka saling tak memberi kabar. Tak ada kontak melalui telepone atau pesan karena mara saat ini memilih untuk tidak memakai ponsel. Ponsel jadulnya sudah tak bisa digunakan lagi.


Juna berinisiatif membelikan ponsel baru untuk mara, juga sebuah kalung yang sengaja ia desain sendiri di tokonya.



Kalung dengan liontin huruf A ini didesain khusus untuk kekasihnya. A yang berarti melambangkan huruf depan nama Asmara dan juga huruf depan nama Arjuna. Juna berharap mara akan menerimanya.


Sungguh, saat ini juna begitu merindukan kekasihnya.


🍒Hai readers setia, terimakasih untuk dukungan kalian semua ya.. Maaf thor hari ini up episode pendek. Thor lagi nggak semangat nih.. Biar thor semangat, ayo dong kasih vote, like, komentarnya.. Terimakasih readers....

__ADS_1


__ADS_2