Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Ingin bicara...


__ADS_3

Diruang makan, umi andryani tengah sibuk menghangatkan lauk-pauk yang dibawanya dari jakarta.


Byan datang menghampiri uminya yang sedang sibuk dengan alat masaknya.


"Umi masak rendang ya?" Tanya byan yang tengah mencium wangi rendang keaukaannya.


"Ini yang masak calon istrimu, tapi umi hangatkan lagi buat makan malam kitaa." Umi menjawab tanpa menengok putranya yang berdiri disebelahnya.


"Apakah atha bisa masak umi?" Tanya byan seolah tak percaya.


"Hihiii.... Berarti kau sudah mengakui ya kalau atha calon istrimu?" Umi andryani menutup mulutnya yang terus tertawa kecil.


"Umi, berhenti menggoda byan. Bukankah ini semua keinginan umi dan abi agar menikah dengan agatha." Timpal byan kesal.


"Tapi, sekarang kamu pun sudah menginginkannya bukan?" Goda umi lagi.


DEG!!! Bagaimana umi bisa tahu? Apa umi melihat kejadian tadi? Byan bermonolog dalam hati.


"Sudah, lebih baik kamu panggil atha makan malamnya sudah mau siap." Kata umi tidak tahan melihat gelagat putranya yang sedari tadi terus ia goda.


Byan melangkah kearah kamar. Ia begitu pelan mengetuk pintu kamar beberapa kali, namun agatha tak memberi jawaban. Byan memberanikan diri untuk membukanya.


Sungguh hatinya terenyuh, bahagia, pandangannya sungguh adem.


Dilihatnya seorang tengah sujud diatas sajadah dengan mukena berwarna putih bermotif bunga pink disuut ruang kamarnya.


Sebenarnya siapa agatha? Ya Allah, kejutan apa lagi ini? Sungguh benar-benar dirinya begini ataukah hanya pencitraan saja untuk mengambil hatiku? Ya Allah mwskipun ini pencitran sungguh ini kebahagiaan untukku.


"Astaghfirullah!!!" Ketika selesai sholat dan hendak membuka mukena agatha terkejut dengan kehadiran byan yang menatapnya didepan pintu. Membuyarkan lamunan byan akan dirinya.


"Mas, mengagetkanku saja!" Agatha mendengus kesal.


"Maaf, habisnya aku panggil-panggil beberapa kali tak ada jawaban"


Byan beralasan, padahal byan tadi hanya mengetuk pintu pelan.


"Hmm... Maaf mas, aku numpang solat dikamarmu."


"Tak perlu sungkan, suatu hari kamar ini yang akan menjadi tempat solat kita setiap hari." Byan tersenyum memandangi wajah calon istrinya itu yang sudah tampak memerah.


"Umi menunggu kita dimeja makan tha." Byan segera meninggalkan agatha, ia takut jika harus berlama-lama dengan agatha maka byan akan melakukan hal bodoh lagi seperti tadi.


"Sungguh kau begitu menggoda imanku agatha" Gumam byan dalam hati.


Agatha merapihkan alat solatnya. Segera ia mengekori byan menuju ruang makan.


"Umi, maaf menunggu lama." Agatha melemparkan senyum pada calon mertuanya yang sedang mengisi air minum pada gelas.


"Umi tak merasa lama.. Umi tahu pasti atha lagi solat kan?" Jawab umi.


"Umi kok tahu?" Sambung byan.


"Ini kan sudah maghrib byan... Kamu nih ya pasti tidak pernah solat. Waktu maghrib saja tidak tahu!" Umi menatap kesal ke arah anaknya itu sembari membulatkan matanya.


"Iya, nanti byan perbaiki lagi solatnya umi" Jawab byan takut pada tatapan mata uminya yang semakin membulat.


"Jangan ninggalin solat, lihat calon istrimu itu dia sangat rajin solat! Agatha umi harap setelah menjadi istri byan kamu bisa mengajarinya solat dan mengaji." Jawab umi ketus menatap putranya.

__ADS_1


"Iya umi, mari kita makan dulu. Takut makanannya dingin." Agatha meraih piring dan menyendokkan nasi pada piring umi setelah itu atha menyendokkan nasi ke piring byan.


"Nanti setelah menikah, piring yang harus diberi nasi terlebih dahulu adalah piring suamimu tha. Meskipun kamu berada satu meja dengan orang tuamu." Umi andryani tersenyum menasehati calon menantunya itu.


"I..ya umi" Agtaha tersenyum sumringah semakin membuat lesung pipinya dalam...


Byan hanya bisa memandangi agatha dari sebrang meja. Hari ini byan tak henti-hentinya menatap wajah dan segala prilaku calon istri pilihan umi dan abinya itu.


Wanita ini, apakah aku tak salah memilih?? sepertinya pilihan umi dan abi benar-benar tepat!.


***


Pagi ini umi andryani berkemas dan bersiap untuk kembali ke jakarta.


"Penerbangan umi jam tujuh pagi ini, aku akan mengantar umi ke bandara." Byan duduk di ranjang sembari memperhatikan umi andryani yang tengah berkemas dibantu oleh calon menantunya.


"Iya nak, apa hari ini kamu akan ke kantor?" Tanya umi.


"Setelah mengantar umi, aku akan ke kantor karena ada meeting peluncuran produk baru, hanya sebentar saja mungkin setengah jam." Byan menatap kearah agatha yang masih sibuk mengemasi barang-barang umi.


"Jangan lama-lama loh nak, kasian atha. Katanya kamu mau ajak atha jalan-jalan keliling jogja?" Umi andryani memancing putranya itu.


"Atha kau tunggu sebentar saja diapartemen, setelah ke kantor sebentar aku akan menjemputmu. Kau bersiap saja dulu!." Jawab byan masih mengarah menatap agatha.


Umi andryani sampai heran, padahal yang akan kembali ke jakarta adalah umi, mengapa putranya itu terus saja menatap agatha?


"Tak apa mas, mas byan bisa selesaikan dulu pekerjaan dikantor." Jawab agatha singkat. Ia tak ingin byan terbebani dan khawatir padanya.


"Aku janji, hanya setengah jam tha." Janji byan.


"Jangan janji-janji, kasian atha kalau kamu ingkar." Sahut umi.


"Jangan sakiti hati agatha, jangan macam-macam sama agatha." Umi membulatkan matanya, apakah umi andryani sedang mengancam putranya?


"Iyaaaa umi...." Sahut byan.


***


Setelah mengantar umi ke bandara. Byan pun menuju ke kantor.


Sebelum memasuki ruangannya, byan terlebih dahulu mampir ke ruangan pak arman dan para stafnya.


"Emm, pak arman..." Kehadiran byan membuat seisi ruangan terkejut.


"Ya pak, selamat pagi!" sapa arman pada bossnya itu.


"Bagaimana bahan meeting hari ini, sudah siap?" Tanya byan dengan wajah tegas.


"Sudah pak. Apakah bapak ingin memeriksanya kembali?"


"Bawa segera keruangan meeting. Kita akan mulai sekarang!" Byan menuju keluar disertai pak arman dan juga juna dibelakangnya.


Byan? Hari ini aku melihatmu kembali. Sungguh kali ini aku benar-benar merindukanmu. Apakah kau merasakan hal yang sama? Aku harus bicara padamu hari ini juga. Aku tak mau perasaanku terus menggantung seperti jepitan jemuran..


Setelah 20 menit, pak arman dan juna kembali ke ruangan.


"Sungguh, aku heran? secepat ini pak byan melakukan pertemuan penting? Arman mengerenyitkan dahi.

__ADS_1


"Iya, spertinya pak byan terburu-buru ingin pergi lagi."


Sambung juna dengan wajah heran.


Mendengar hal itu, aku segera menyela pembicaraan atasan dan seniorku itu.


"Pak arman, pak juna saya ingin izin keluar sebentar." Pintaku memelas.


"Ada apa mara? apa ada hal yang mendesak?" tanya juna.


"Sangat pak, jadi saya mohon izinnya." pintaku lagi.


"Baiklah.... Hati-hati." Pak arman mengizinkanku.


"Setelah selesai, kau harus segera kembali bekerja mara. Jangan lama-lama!" Juna menatapku, seolah dia adalah atasanku. Mengapa permintaaanya berlebihan? Pak arman saja tak banyak bicara.. Ah, ya sudahlah.... Seperti lagu bondan.. Xixixixxixix..


Aku keluar kantor mencari-cari keberadaan seseorang yang sangat ingin aku temui. Dimana dia???


"Mara?" sapa seseorang dari arah belakangku membuat aku membalikkan badan.


"Pak byan..." Ternyata orang yang aku cari ada disini.


"Sedang apa? Ingin kemana?" Tanya byan.


"A..ku ada urusan penting. Aku ingin menemui seseorang!" Jawabku terbata-bata.


"Oh, baiklah... Hati-hati.." Jawab byan perlahan ia melangkah meninggalkan aku. Namun baru beberapa langkah aku memanggilnya.


"Pak byan! tunggu..." Aku mengejarnya.


"Ada apa mara?" Byan membalikkan badan dan menatapku penuh tanya.


"Sebenarnya, itu....." Entah mengapa mulutku tiba-tiba seakan terkunci. Tak berani mengungkapkan apapun.


"Mara, ada apa? ayo bicara yang jelas.. Aku sedang terburu-buru!" Jawab byan.


"Pak byan, apakah boleh aku meminta waktumu sebentar?"


"Mara, ada aapa?"


"Aku ingin berbicara padamu.."


"Jangan sekarang ya, kita bicarakan nanti.. Aku akan menghubungimu.." Byan menatap jam tangannya berkali-kali. Sepertinya byan benar-benar memiliki urusan yang sangat penting.


"Apakah urusanmu begitu penting?" Tanyaku. Seolah aku tak ingin byan mengacuhkanku.


"Aku akan menghubungimu nanti ya.. Aku pergi dulu!" Byan berlari kecil namun segera kuraih tangan byan.


"Byan tunggu... Jangan tinggalkan aku."


Byan pun menghentikan langkahnya, melepaskan pegangan tanganku lalu byan mengajakku kearah parkiran menuju mobilnya.


Kami kini berada didalam mobilnya. Kini byan melajukan mobilnya perlahan.


"Mara, ada apa? kau ingin pergi kemana?" Tanya byan sembari memasang sabuk pengamannya.


"Aku hanya ingin menemui mu.." Jawabku tanpa menatapnya...

__ADS_1


Byan hanya fokus mengendarai mobilnya, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.


__ADS_2