
Tak terasa sudah berjalan tiga hari aku bekerja. Sejauh ini sikap rekan-rekan kerjaku masih sama. Mereka masih memandang sinis terhadapku.
Seniorku juna, yang selalu memberikan pekerjaan diluar dugaanku. Tanpa menjelaskan apapun, sehingga aku harus berpikir sendiri untuk menyelesaikannya..
Pagi ini, seperti biasa, Byan menjemputku. Saat istirahat pun byan menghampiriku untuk mengajak makan siang bersama. Begitupun saat Pulang byan masih mengantarku.
Banyak sekali tetangga yang melirik sinis, bahkan tetangga ada yang mengira byan adalah pacar ku. Ditempat kerjapun sama, orang-orang menatapku penuh tanya..
Aku tak tahu, tujuan byan ini apa? apakah aku harus bertanya? Ah.. Aku terlalu berpikir jauh, apakah aku berharap padanya? entahlah..
"Pak byan, mulai besok tak perlu menjemput atau mengantarkanku pulang!" Celetukku pada byan yang fokus menyetir mobilnya.
"Dan, bapak juga tak perlu menghampiriku untuk makan siang bersama." Tambahku lagi.
Byan menghentikan laju mobilnya ditepi jalan.
"Ya, tentu saja besok aku tidak akan melakukan hal itu. Besok hari sabtu dan kau tahu sendiri kantor kita libur hari sabtu juga minggu." Byan memandangku serius dengan sedikit senyum dibibirnya.
"Maksudku, Setelah besok dan seterusnya.."
Aku terdiam, mataku kualihkan keluar jendela.
"Mengapa?" Byan semakin mendekatkan tubuhnya.
"Karna aku bisa sendiri Melakukannya!" Timpalku kesal.
__ADS_1
"Dan aku tak mau merepotkan orang lain!"
"Aku tak merasa direpotkan maaraaa?" Byan menatapku tajam.
"Kau boss ku pak byan yang terhormat!!" Suaraku begitu keras, apakah aku tak sopan? Ya Allah.. Maafkan aku byan.
"Lalu?" Byan semakin mendekatkan wajahnya, hingga jarak wajahnya dan wajahku hanya tinggal beberapa jengkal.
"A..aku tak enak pada karyawan yang lain" Jawabku gugup, padahal sebelumnya aku tak pernah merasakan gejolak aneh seperti ini.
"Hmm, jika aku tak mau? bagaimana mara?" Byan semakin mendekatkan wajahnya lagi. Kali ini nafas hangatnya tersembur hingga kepipiku.
"A...apa yang kau lakukan??" Sangat terkejut, Aku mendadak mendorong tubuh byan.
"Apa kau merasakan apa yang aku rasa mara?" kali ini byan bicara tak menatapku.
"Keras kepala.." Byan berkata lirih, namun aku dapat mendengarnya..
Byan melajukan mobilnya kembali. Selama perjalanan hingga sampai halaman rumah tak ada lagi pembicaraan antara kami. Padahal biasanya byan lah yang meramaikan suasana.
Ah, entahlah. Mungkin aku akan terbiasa setelah hari ini. Tak mungkin juga aku terus merepotkan byan karna kami tak memiliki hubungan apapun. Saat ini byan hanyalah BOSS ku. Ya, hanya sebatas karyawan biasa dan BoSS. Tidak lebih!
Apakah aku telah berharap lebih???
"Mara..Apakah kau juga tak mengijinkanku menyalami ibu?"
__ADS_1
Mobil byan terhenti dipinggir jalan, biasanya ia langsung masuk ke pekarangan rumah.
"Ya, kurasa begitu lebih baik"
"Mara jelaskan padaku mengapa kau seperti ini?"
"Tak ada yang perlu di jelaskan pak byan, ku rasa kau sungguh mengerti mengapa aku begini!"
Aku langsung meraih pintu mobil. Namun byan meraih tanganku.
"Mara,..Akuuu..."
Aku langsung menepiskan tangan byan.
"Lepaskan!! Sungguh tak sopan."
"Maaf mara, ada yang ingin ku katakan padamu.."
Namun aku tak menghiraukan byan, entah apa yang akan dia bicarakan.
Kuraih pintu mobil segera aku turun dan menutupnya. Tak ada anggukan atau lambaian tangan seperti biasanya. Aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan byan disana.
"Mara? sudah pulang nak?" Ibu mengejutkanku.
"Iya bu.. aku kekamar dulu.." Kutinggalkan ibu menuju kedalam kamar.
__ADS_1
Ya Allah, apa yang aku lakukan.. Apa yang salah pada byan? haruskah aku bersikap kasar? Mengapa aku seperti ini? Arghhhhh.....Perasaan apa ini? mengapa aku bersikap seperti ini kepadanya.
Hmmm, mungkin karena ini baru permulaan. Selanjutnya aku akan terbiasa. Lebih baik aku berkata dari sekarang, dari pada lama-lama hatiku semakin menaruh harap padanya. Aku tak mau kecewa lagi.