
Juna terus mondar-mandir tak tenang didepan ruang ICU tempat agatha di rawat.
Fikiran juna tak menentu, kacau dan banyak lagi fikiran negatif lainnya. Perasaannya mengatakan akan terjadi sesuatu.
"Nak juna? Ada apa kenapa disini?"
Bu kamila dan randy datang melihat juna yang terlihat sedang gelisah.
"Ibu kenapa kemari.." Jawab juna.
"Kalian lama sekali, randy mencari kalian dia ingin segera pulang. Dimana mara??"
"Oh, mara sedang di dalam bu. Istrinya pak byan sedang dirawat dan kritis. Ia ingin bertemu dengan mara."
"Apa?? Kalau begitu kita juga masuk juna. Perasaan ibu tak enak."
Juna dan bu kamila meminta izin pada perawat rumah sakit agar di perbolehkan masuk. Namun perawat tak mengizinkan mereka.
Mereka berdua hanya pasrah menunggu asmara dari luar ruangan ICU itu.
🍒Asmara
Sementara didalam byan, andryani, malik, afrizal dan juga aku berdiri menatap agatha yang terbaring di atas brankar, kondisinya kini semakin melemah.
"Maa..mara.." Agatha tiba-tiba memanggil namaku.
"Ya.." Aku menyimpulkan senyumanku padanya.
"Mara, maafkan aku. Aku telah menyakiti hatimu..."
"Aku sudah memaafkanmu bu agatha.."
"Mara, mas byan aku punya permintaan.." Agatha menatap kearahku, kemudian berganti menatap byan.
"Permintaan apa tha? Kau mau apa aku akan menurutinya. Asalkan kau harus semangat untuk sembuh yaa.." Byan meraih tangan agatha dan terus menciuminya.
"Mas, jaga putri kita..."
"Tentu saja aku akan menjaganya, kita akan menjaganya tha.." Byan semakin menggenggam erat tangan agatha.
"Mas, jaga putri kita....dan menikahlah dengan asmara."
"Aa..pa??????" Sontak semua yang ada didalam ruangan pun serentak.
Deg!!
Hatiku menjadi tak karuan rasanya. Apa ini? Permintaan macam apa yang diinginkan agatha?
"Agatha, apa yang kamu ucapkan?" Byan semakin tak mengerti.
"Mas, hanya asmara yang sangat mencintaimu. Aku yakin mara akan menjadi istri yang baik untukmu dan bisa menyayangi putri kita dengan tulus. Aku sangat percaya padamu mara..." Agatha meraih tanganku lalu meletakkannya diatas tangan byan.
"Kalian Akan menjaga putriku bukan?? Ini permintaan terakhirku, aku ingin pergi dengan tenang. Aku mohon padamu mas byan, aku juga sangat berharap padamu mara.." Agatha menyimpulkan senyumannya dan sedikit memejamkan matanya hingga sudut matanya mengeluarkan air bening.
"Ibu agatha, ini tidak mungkin aku....."
"Asmara, tolonglah turuti permintaan agatha. Dia sangat percaya padamu.." Afrizal memotong ucapanku.
Sementara semua terdiam, hanya isak tangis yang terdengar didalam ruangan.
"Mara, aku sangat berterimakasih padamu.. Kini aku bisa pergi dengan tenang...."
Layar monitorpun berbunyi panjang, sehingga membuat semua menjadi panik. Semua orang menangis disini. Tak terkecuali byan, dia terus terisak hingga tak mampu berkata-kata lagi.
__ADS_1
Dokter pun datang memeriksa agatha. Namun dokter mengumumkan jika agatha sudah tiada.
Tangisan di dalam ruangan semakin pecah. Hingga aku memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan itu.
"Mara??" Ibu menatap ke arahku. Juna pun begitu, namun juna hanya diam tak menyapaku.
"Ibu..."
"Ada apa nak?? Apa yang terjadi?" Tanya ibu penasaran.
"Anda ibunya asmara? Saya adalah afrizal ayahnya agatha.." Afrizal memperkenalkan diri pada kamila.
"Saya kamila.."
"Begini bu, putri saya sudah meninggal dunu barusan..." Afrizal menghela nafas panjang, hingga kini ia menangis kembali.
"Turut berduka cita pak.." Ibu berkata pelan.
"Tapi putri saya memiliki satu permintaan terhadap asmara."
"Permintaan? Permintaan apa pak?" Kali ini juna yang menjawab. Sedari tadi juna hanya bungkam, namun setelah mendengar ucapan afrizal juna langsung buka suara.
"Agatha meminta agar asmara mau menikah dengan byan, dan menjaga anaknya. Ini pasti berat bagi asmara, tapi saya harap permintaan agatha dapat dipenuhi. Agar putri saya tenang disana." Jelas afrizal.
Deg!!
Entah apa bentuk dari hati juna saat ini, bagaikan terkena bom atom dan hancur berkeping-keping. Bukan hanya menjadi kepingan, hati juna mungkin saat ini sudah luruh seperti debu. Mata juna kini kian memerah, hingga berkaca-kaca. Tak dapat lagi ia berkata-kata.
"Apa??" Ibu terkejut mendengar penuturan itu, ibu langsung menatap ke arah juna.
"Maaf bu... Saya mohon demi putri saya.." Jelas afrizal.
"Bu, aku pulang dulu...." Juna pamit pada kamila.
"Nak juna....." Ibu kamila mulai meneteskan air matanya.
Juna hanya diam, lalu dia melepas cekalan tanganku perlahan. Hingga ia berjalan cepat.
"Mas juna, tunggu......" Aku berusaha mengejarnya.
Namun juna masih terus melanjutkan langkahnya.
"Mas, aku bisa jelaskan...." Aku tak menyerah begitu saja.
Namun juna tak menjawab, hingga ia memasuki mobilnya dan melajukan dengan cepat.
Kali ini aku ditempatkan pada pilihan yang sulit. Harus bagaimanakah aku? Juna? Byan? Lalu bayi yang lemah itu??
Kenapa ini semua bisa terjadi? Apa yang harus aku lakukan Tuhan.........
"Mara??" Byan sudah berada dibelakangku bersama afrizal.
"Pak byan..." Aku menatap kearahnya.
"Mara, aku tidak akan memaksamu. Tapi, ini semua demi agatha. Tolong biarkan ia pergi dengan tenang..."
"Agatha? Demi agatha? Lalu bagaimana dengan juna mara?? Apa yang akan terjadi pada nak juna? Apa kamu tak memikirkan perasaannya?" Ibu tiba-tiba sudah menghampiri aku dan byan.
"Ibu....."
"Mara, fikirkan baik-baik. Ibu tidak mau kau mengecewakannya lagi dan lagi."
Ibu dan randy kini pergi, karena taksi sudah menunggu mereka.
__ADS_1
***
Di areal pemakaman, tertinggal byan sendiri menunggu pusara istrinya. Byan nampak masih sangat terpukul kehilangan agatha.
"Tha, maafkan aku yang tak bisa menjagamu.. Maafkan aku tha... Kini aku menyesal, sangat menyesal..." Byan menangis sesegukan.
"Turut berduka cita pak byan..." Tiba-tiba juna datang menghampiri byan.
"Juna?? Terimakasih sudah datang..."
"Semoga Almarhum khusnul khotimah.." Juna mendoakan agatha, dengan membacakan beberapa doa diakhiri surat al-fatihah..
"Terimakasih juna.. Maafkan segala kesalahan istriku.."
"Baik pak, saya permisi dulu...." Juna membungkukkan tubuhnya, hendak pamit dari areal pemakaman.
"Juna tunggu!! Untuk permasalahan kemarin...." Byan mencegah juna, ia ingin sekali membahas masalah kemarin pada byan. Namun juna menolaknya.
"Semua itu kembali lagi pada asmara pak byan, biar asmara yang memutuskan." Juna langsung melangkahkan kakinya pergi.
***
Selesai melayat, aku menghampiri ibu yang sedang menemani randy menonton televisi, jelas randy menonton acara kartun kesukaannya.
"Kau sudah pulang mara?" Ibu memberikan air mineral kepadaku.
"Terimakasih bu..." Aku menerima air lalu meneguknya.
"Kau sudah memikirkannya?"
"Apa bu?"
"Masalah kemarin..."
"Bu, minggu depan aku akan wisuda. Aku akan memikirkannya dengan matang. Dan aku akan membuat keputusanku di hari itu juga."
"Baiklah, fikirkan matang-matang nak. Ini semua demi masa depanmu."
"Iya bu... Bu, aku hari ini akan menemui mas juna."
"Ya, hati-hati di jalan. Bicara baik-baik padanya nak."
"He'umm bu.." Aku bangkit dari dudukku, menuju ke kamar untuk mengganti baju.
Setelah selesai, aku keluar kamar dan pergi menuju rumah juna.
Aku melihat pintu rumah juna terbuka, aku langsung masuk ke dalam.
Deg!!! Aku terkejut mendapati juna sedang bersama chayra. Apalagi posisi juna saat ini sangat dekat dengan chayra.
Aku juga melihat jika chayra saat ini sedang mengusap pelan pundak juna.
Tanpa tanya apa-apa lagi, sebelum mereka berdua tahu jika ada aku disana aku memutuskan pergi meninggalkan mereka..
"Aku harus bagaimana chay? Ini pasti pilihan yang sulit bagi mara." Juna terus menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kak, percayalah pada takdir Allah. Jika mara ditakdirkan untukmu, maka ia akan memilihmu."
Chayra sungguh tak tega melihat kondisi juna kini memburuk lagi setelah sempat bahagia karena telah menemukan asmara.
*To be continue...
🍒HAI readers kesayangan, terimakasih banyak buat dukungan kalian selama ini... Tanpa kalian thor nggak bakal semangat! Tanpa kalian thor pasti ngga bisa melanjutkan up sampe episode sekarang..
__ADS_1
Hari ini thor bisa up lebih pagi, rencananya mau up lagi sore.. Insya Allah yaa readers...
Dukung teruss dan baca terus karya aku*...