
Ku peluk erat tubuh ibuku, tubuh yang kini sudah mulai menua dan amat kurindukan. Berulang kali aku mrninggalkannya, tapi hanya dia yang masih mau menerima segala keadaanku.
Ibu adalah tempat ku mengadu, mengeluh dan tempatku pulang. Sabarnya tiada akhir, meskipun aku sering menyakiti perasaannya.
Setelah sampai tepat pukul dua dini hari, ibu merasa tetkejut dengan kedatangan kami. Dia pun menggendong bintang. Untung saja, bintang sedang tidur. Jika bintang dalam keadaan bangun, mungkin bintang akan menangis. Karena bintang tidak menyukai disentuh oleh orang yang asing baginya.
Setelah selesai bercakap-cakap, aku tidur bersama bintang memasuki kamar lamaku. Sementara steven pergi ke rumah lama om afrizal untuk beristirahat.
"Tante, steve pamit." Steven berpamitan pada ibu.
"Hati-hati nak.." Jawab ibu ramah padanya.
"Mara, jaga bintang." Ucap steven menatap kearahku.
"Jangan khawatir steve." Jawabku meyakinkannya.
"Jangan lupa berkemas, kita akan langsung pulang ke amsterdam besok pagi." Steven melangkah keluat meninggalkan rumah.
Ia pergi bersama bodyguardnya. Tadinya steven ingin meninggalkan dua bodyguardnya untuk menjagaku dan bintang, namun aku menolaknya karena aku merasa tak enak jika tetangga tahu.
Steven pun memakluminya.
Sebenarnya aku masih ingin beberapa hari tinggal disini. Namun, karena ini keinginan steve dengan alasan demi keamanan bintang aku pun tak bisa membantahnya.
Setelah berbicara dengan ibu dan susah payah meyakinkannya, akhirnya ibu luluh juga. Ia akan ikut dengan ku ke amsterdam. Aku sangat bersyukur atas pengertiannya terhadapku.
"Semua urusan surat-menyurat perpindahan ibu dan randy sudah ditangani steven. Jadi, ibu jangan khawatir untuk sekolah randy. Aku sudah mencarikan sekolah yang dekat dengan rumah di belanda." Jelasku pada ibu sembari membantu ibu berkemas.
"Baiklah mara, urusan rumah makan juga sudah ibu percayakan pada ningsih. Biar dia yang urus." Ibu tersenyum kearahku.
"Ya bu. Nanti di amsterdam ibu bantu aku menjaga bintang. Untuk antar jemput sekolah randy, sudah ada orang yang aku percayai."
"Ya mara. Mudah-mudahan dengan hidup baru di amsterdamakan membantu pemulihan hati dan fikiranmu. Lupakanlah masa lalu yang pahit, mari kita buka dengan lembaran baru."
Hingga tak terasa kegiatan berkemas kami pun sudah selesai. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Disitu pula steven sudah datang untuk menjemput kami menuju bandara.
Sungguh sangatlah singkat, untung saja bintang tidak rewel. Ia bangun terlihat bersemangat dan ceria seperti biasa.
"Steve, keberangkatan kita pukul berapa?" Tanyaku pada steve yang duduk menyeruput kopi hitamnya.
"Jam tujuh pagi mara." Jawab steve singkat.
"Kita sarapan saja dulu. Ibu sudah masak nasi goreng." Ibu pun menengok ke ruangan tamu mengajak kami sarapan pagi.
Kami pun menikmati makan pagi bersama. Randy yang matanya masih terkantuk-kantuk pun di paksa sarapan oleh ibu.
__ADS_1
***
Setelah di dalam mobil, mata steve terus memperhatikan mobil dibelakang melalui spion.
Dengan cepat, steve melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Steve, ada apa?" Tanyaku khawatir.
"Ada yang mengikuti kita mara. Jangan cemas, orang itu hanya ingin bermain-main denganku." Jawab steve memicingkan senyum ala devilnya.
Perasaanku menjadi tak karuan, tiba-tiba tanganku terus saja memeluk erat tubuh bintang.
"Mara, tenanglah.." Ibu memegangi tanganku.
"Bu, perasaanku tak enak." Aku terus menatap bintang.
"Jangan panik, bersikaplah positif mara." steve yang mengemudi di kursi depan pun menasihatiku.
Steven menelepon body guardnya.
"Atasi mobil di belakang!" Steven memutuskan sambungannya.
Steven berhenti melajukan mobilnya. Aku, ibu, randy dan bintang diperintahkan steven untuk pindah ke mobil lain.
"Steve, bagaimana denganmu?" Aku sangat mengkhawatirkannya.
"Kau tenang saja. Aku akan mengatasi mereka dulu. Jaga bintang baik-baik mara." Pesan steven.
Dapat kami dengar dengan jelas suara ledakan.
Dor!!!! Dor!!!
Tiba-tiba bintang yang semula tenang pun kini menangis dengan kencang. Aku pun mencoba menenangkannya dengan memberi sufor, namun bintang tak kunjung tenang.
"Hemmma.... Hoe..." Dengan tetesan air mata dipipinya, bintang terus saja menangis.
Seketika kami menoleh ke arah belakang mobil. Namun tak ada apapun yang dapat terlihat.
"Bu...." Lirihku dengan nada takut memegangi tangan ibu.
"Berdoa saja mara, mudah-mudahan steve baik-baik saja." Ibu mencoba menenangkanku.
Flash back on..
Dengan langkah gontai steven diiringi oleh bodyguardnya menuju rumah lama afrizal. Namun ternyata didepan rumah sudah berdiri malik dan byan.
Steven pun berhenti, ia tak menduga akan bertemu byan dan malik.
__ADS_1
"Dimana bintang?" Tanya malik.
"Apa maksud om. Aku tidak menegerti." Jawab steven santai.
"Jangan bohong kau steve!! Selama ini kau adalah dalang dibalik semua ini!" Byan yang tak sabar pun menuju kearah steven dan menarik kerah bajunya.
Namun dengan gesit, bodyguard steven segera menarik byan hingga jatuh tersungkur.
"Byan..." Malik pun segera membantu byan untuk bangun.
"Cepat katakan dimana bintang anakku steve!!" Byan kembali emosi, ia mendekati steven.
"Aku tidak tahu masalah kalian! Cepat urus mereka!" Steven memerintahkan body guardnya untuk mengusir byan dan malik.
"Awasss kau steve! Jika kau terbukti atas penculikan anakku maka kau akan kuhabisi!!" Byan terus diseret menuju luar gerbang rumah lama afrizal oleh body guard steven.
Dengan rasa curiga, byan dan malik tidak pergi dari lingkungan rumah afrizal. Hingga pagi hari, mereka berdua akhirnya membuntuti mobil steve dari belakang. Namun byan dan malik kehilangan jejak.
Flash back Off...
Karena sibuk mencari keberadaan steven, akhirnya pagi ini byan dan malik berhasil menemukan keberadaan steven dan antek-anteknya.
Mobil steven pun diikuti oleh byan dan juga malik.
Mobil mereka melintas dijalanan yang sedikit sepi, hinhha steven pun memilih menghentikan mobilnya.
Saat steven keluar dari mobilnya, ia segera menggebrak mobil byan. Byan pun keluar dari mobil hingga steven dan byan pun berkelahi. Namun naas, byan tertembak oleh pistol body guard steven membuat byan terkulai lemas..
Dor!!!
"Byan......" Malik pun menjerit menghampiri putranya yang tersungkur.
"Jangan pernah bermacam-macam denganku! Atau aku akan bertindak lebih dari ini!" Steven menendang kaki byan disertai ancamannya.
Byan memegangi perutnya yang sudah mengeluarkan darah segar. Saat ini belum ada kendaraan lain yang melintas dijalan itu. Malik yang panik terhadap putranya pun segera menelpon ambulance.
Saat itu juga steven dan antek-anteknya pergi meninggalkan byan dan malik.
***
Sementara di bandara, Aku dan ibu menunggu kedatangan steven. Karena sebentar lagi pesawat yang kami tumpangi akan segera berangkat.
Aku terus menoleh kearah kiri dan kanan mencari keberadaan steven. Tak lama kemudian, akhirnya steven datang bersama para body guardnya.
"Bintang, jangan menangis lagi.. Itu uncle steve sudah datang.." Aku mencoba menghibur bintang yang sedari tadi merengek.
"Bintang mengapa menangis mara?" Tanya steve yang semakin mendekat kearah kami.
__ADS_1
"Tidak tahu steve, mungkin bintang mengkhawatirkanmu." Jawabku.
Namun, bintang masih terus saja menangis. Meskipun steve sudah berusaha menggendongnya. Ibu pun mengambil alih bintang, tak lama kemudian bintang tertidur digendongan ibuku hingga kami menaiki pesawat yang akan segera berangkat ke amsterdam.