
🍒 Asmara
"Mara....?" Byan terkejut mendapati asistennya juna datang bersama asmara.
"Maaf pak saya sudah....."
"Mas byan jangan menyalahkan pak juna. Aku yang memaksanya untuk mengantarkanku kesini menemuimu mas!" Aku memotong ucapan juna dan menjelaskan kepada byan.
Byan langsung meraih tanganku dan menarikku. Byan membawaku keluar rumah besar itu menuju keluar hingga tiba di taman kecil yang berada di samping rumah. Dapat kurasakan kerasnya genggaman tangan byan hingga tanganku 0terasa sakit.
Juna meraup wajahnya dengan tangan, dapat terlihat kecemasan diwajahnya.
"Mara? Ada apa? kenapa kau kemari?" Juna mencercaku dengan berbagai pertanyaan.
"Mas, aku sudah menghubungi ponselmu!Tapi..."
"Mara! Tindakanmu ini sungguh diluar akal! Apakah kamu tidak bisa berfikir panjang??" Byan memotong ucapanku dengan pernyataan yang kuanggap sangat kasar.
"A...Apa mas? Diluar akal katamu? Aku ingin menemui mu mas, aku ingin penjelasanmu! Aku menghubungimu berhari-hari tapi tidak ada jawaban!" Aku sangat kesal dengan ucapan byan.
"Maraa, terakhir kita bertemu bukankah sudah kujelaskan! Kau butuh penjelasan apa lagi?" Byan meninggikan nada bicaranya.
"Mas, aku mencintaimu.." Dan akhirnya air matakupun tertumpah.
"Tapi aku tidak!!!" Byan membalas ucapanku cepat dengan nada yang keras.
"Kenapa mas? Apa karena wanita itu?" Aku tetap membalas ucapannya dengan nada rendah.
"Apa maksudmu mara? Ini tidak ada kaitannya dengan wanita manapun!" Mata byanpun berubah menjadi terlihat semakin tajam.
"Agatha? Apa karena dia?" Kuberanikan menatap matanya itu. Sungguh tak ada belas kasihannya terhadapku. Padahal air mataku ini sudah membasahi pipi.
"Ini tidak ada kaitannya dengan agatha!" Tiba-tiba byan merendahkan nada suaranya. Namun terlihat jelas jika byan tak suka karena aku membawa nama agatha.
"Bukan karena dia mas? Kamu yakin?" Akupun tak percaya padanya.
"Jangan pernah membawa AGATHA disini!" Juna menekankan nama agatha. Sepertinya nama itu amat berharga baginya.
__ADS_1
"Beruntung sekali menjadi dia! Bahkan dia bisa memiliki 2 lelaki sekaligus! meskipun bersaudara!" Aku Semakin kesal pada byan. Hingga ucapan yang tak enak didengar inipun keluar dari mulutku.
"Mara!!! Jaga ucapanmu!" Byan menunjuk wajahku. Tatapan matanya pun berubah menjadi lebih menyeramkan. Amarah byan kali ini benar-benar keluar.
"Kenapa mas! Sebelumnya sikapmu padaku baik-baik saja! Tapi setelah kepergian kakakmu, sikapmu padaku menjadi berubah lagi! Bukan hanya itu. Sebelum kamu bertemu dengannya, aku dan kamu baik-baik saja bukan??? Bahkan awal dari pertemuan kita kamu yang merayuku? tapi setelah tahu dengan agatha semua itu berubah! Kenapa mas, kenapa kamu menarik ulur hatiku?!!! Apa aku ini hanya sebagai pelampiasanmu saja?" Tubuhku tersimpuh diatas rerumputan yang ada ditaman. Tak kuasa lagi aku menahan tangisan ini. Rasanya aku tidak terima sekali jika byan lebih memilih wanita itu.
Byan memegang bahuku dan berusaha mengarahkanku untuk berdiri.
"Bangunlah mara.. Maaf jika aku telah berkata kasar padamu. Mengertilah, jika cinta itu tidak bisa dipaksakan.."
Aku terus menangis, tak ada perlakuan khusus yang dilakukan byan padaku. Dia hanya menunduk kan kepalanya. Tak mengucapkan apa-apa lagi.
***
"Byan lama sekali, tadi byan bilang mau menemui asistennya sebentar." Andryani menatap kearah agatha dan dibalas tak mengerti oleh agatha.
"Biar abi saja yang lihat. Mungkin ada masalah...." Malik hendak bangun dari kursi meja makan.
"Abi temani umi saja. Biar agatha yang menemui byan. Atha bisa kan??" Andryani memutuskan sepihak. Mau tidak mau agatha pun menurutinya.
Namun tak dilihatnya keberadaan byan disana. Hingga agatha memutuskan untuk keluar rumah. Agatha melihat byan berada di taman samping rumah dan hendak menghampirinya. Namun agatha mendengar jika byan sedang berbicara dengan seorang wanita. Agtha berhenti sejenak, karna mendengar byan menyebutkan namanya.
"Agatha tidak ada kaitannya dengan masalah kita ini mara. Aku memang menyukainya, sangat menyukainya. Maaf jika ini menyakiti perasaanmu." Byan berbicara pelan. Sempat-sempatnya ia menyebutkan hal itu! Itu membuat hatiku semakin sakit dan hancur.
"Begitu istimewakah dia?" Aku begitu ingin tahu, meskipun hal ini menyakitiku.
"Sangat, dia sangat berarti bagiku mara." Jawab byan.
"Apa kurangnya aku mas? Mengapa dia begitu berarti bagimu?" Aku sungguh ingin tahu arti diriku bagi byan.
"Mara.. Agtha itu wanita yang berbeda. Dia pintar masak, dia smart, penyayang dan dia begitu pengertian dengan orang lain dan masih banyak kelebihannya yang lain." Byan menyunggingkan senyum tipisnya. Mungkin diotaknya kini sudah tergambar wajah agatha.
"Untuk kekuranganmu, kamu tidak memiliki kekurangan apapun. Kamu cantik, kamu masih muda, dan kamu berhak mendapatkan cintamu yang lebih baik diluar sana. Aku yakin mara, banyak pria yang menginginkanmu?" Byan melanjutkan kata-katanya.
"Tapi, aku hanya menginginkankanmu mas." Aku tetap menginginkannya.
"Mara, mengertilah kita tidak bisa memaksakan hati!" Byan menolakku lagi.
__ADS_1
"Mas, sebisa mungkin aku akan membuatmu mencintaiku lagi? aku yakin kamu bisa mencintaiku lagi?" Aku mencoba meyakinkan byan.
"Mara, aku tidak bisa! Hatiku sudah dimiliki agatha!" Byan kukuh pada pendiriannya.
"Mas, kenapa kau begitu menyukainya! padahal kau tahu dia adalah kakak iparmu! Begitu Rakusnya wanita itu, setelah kakakmu lalu dia akan mengambilmu?" Lanjutku. Kini suasana menjadi sedikit panas.
"Mara! Hentikan. Tidak bisakah kau menjaga ucapanmu!" Byan menjadi marah. Hingga mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Aku tahu, kamu mencintaiku mas. Aku yakin suatu saat kau juga akan sadar begitu tulusnya perasaanku untukmu..!" Aku mendekati byan, hendak ingin memeluknya. Namun byan menghindar dengan menepiskan tanganku.
"Sudahlah mara, lebih baik kamu kembali ke jogja." Byan hendak meninggalkanku, namun langakahnya terhenti.
"A..agatha??" Byan menyebutkan nama agatha.
Sontak akupun menoleh ke arah pandangan byan.
Ternyata disana ada seorang wanita cantik berdiri, entah sejak kapan dia berada disitu. Itukah agatha yang slalu disebut-sebut oleh byan?
Wanita itu? tampak tak asing. Sepertinya aku pernah melihatnya.
Byan segera mengarah menghampiri agatha disana. Meninggalkanku, tanpa kata. Sakit melihatnya, bahkan sangat sakit. Namun aku tahu inilah pilihan byan. Semoga kamu dengannya bahagia. Meskipun aku masih belum bisa merelakanmu.
Kulihat tampak mereka berdua berbicara, dan byan menarik tangan agatha untuk masuk kedalam rumah besar itu. Namun agatha sempat menoleh ke arah belakang melihatku. Dan kamipun saling bertatapan.
Aku menangis menyaksikan mereka berdua. Tangisanku pecah saat itu juga. Tak kusangka, ini kedua kalinya terjadi. Orang yang aku cintai, tapi mencintai orang lain. Apakah ini nasibku.,??
"Mari, sudah waktunya kita pulang mara..." Aku mengarah kesuara itu.
"Pak juna?" Aku mengangguk pelan.
"Ini... Hapuslah air matamu!" Juna meyodorkan sapu tangan dan aku langsung meraihnya.
"Terimakasih pak." Segera ku hapus bekas jejak air mata di pipiku.
Aku dan juna memasuki mobil dan mengarah keluar dari halaman rumah besar itu. Tak kusangka ini menjadi kisah yang pahit untukku.
Byan, semoga kamu bahagia...
__ADS_1