
Hari ini adalah hari yang ditungggu-tunggu oleh byan. Di mana hari ini byan akan menikahi agatha. Akhirnya niat baik byan tercapai juga, setelah sekian kali mendapat penolakan dari agatha. Byan merasa sangat bahagia, meskipun pernikahan mereka dilakukan secara privat. Hanya keluarga inti dan rekan terdekat saja yang menghadirinya. Byan tak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting baginya agatha sudah mau menerimanya lagi itu sudah lebih dari cukup.
Namun, berbeda dengan agatha. Agatha nampak murung dan diam sejak MUA sedang memoles-moles wajah agatha. Ayu yang sedari tadi menemaninya pin nampak heran. Tak ada raut cerah yang terpancar di wajah agatha. Ayu sebagai asisten sekaligus sahabatnya sangat yakin jika agatha sedang tidak baik-baik saja.
Semua orang berbahagia menyaksikan pernikahan mereka berdua. Hingga semua orang disana mengucapkan kata SAH secara bersamaan.
Agatha menyalami tangan byan, dan byan membalas mengecup kening agatha. Byan nampak tersenyum namun agatha tak ada ekspresi apapun. Entahlah, tak ada yang tahu perasaan agatha saat ini. Ketika ditanyapun agatha hanya bungkam seolah tak menanggapi.
"Tha? are you ok??" Byan yang sedari tadi memperhatikan agatha tak seperti biasanya.
Namun agatha hanya menganggukkan lepalanya pelan.
"Kau perlu istirahat tha, bersihkanlah dulu tubuhmu." Lanjut byan.
"Iya mas. Aku akan mandi." Agatha patuh pada perkataan suaminya.
Setelah agatha selesai mandi, agatha langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang king size miliknya. Byan yang memperhatikan itu langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku adalah seorang wanita yang tak tahu diri..." Agatha berkata lirih, ia terus mengutuki dirinya.
Ia meneteskan airmatanya. Hingga tak terasa agatha pun langsung tertidur.
Hari pertama, byan memaklumi agatha..
Tak ada persiapan dari agatha, seperti menyiapkan pakaian ataupun memasak untuk byan seperti layaknya seorang istri. Agatha masih bersikap cuek pada byan.
Selama di jakarta, byan hanya bekerja dari rumah. Byan menerima semua laporan dari bawahannya melalui E-mail. Terkadang byan juga membantu abi malik di perusahaannya
Hari kedua, Sikap agatha pun masih sama. Dan byan memakluminya lagi.
Setiap kali pulang kerja agatha segera mandi kemudian tidur. Pagi harinya agatha berangkat kerja saat byan belum bangun.
Hari ketiga, Agatha masih seperti itu. Sikap agatha masih menunjukan ketidak peduliannya pada byan yang kini sudah menjadi suaminya. Namun byan masih mencoba sabar. Byan berfikir agatha masih butuh waktu.
Setiap hari berjalan seperti itu. Tak ada lagi obrolan ataupun sentuhan diantara mereka berdua. Byan selalu mencoba mendekatkan diri pada agatha namun agatha selalu menghindar.
Hingga malam keempat, byan sengaja tidur lebih dulu di kamar. Saat agatha pulang kerja ia melihat byan sudah tertidur di atas ranjang. Yang biasanya selama ini byan tidur di sofa.
Sehabis membersihkan diri, agatha melihat byan sudah duduk dipinggir ranjang.
"Kau sudah pulang?" Tanya byan membuka percakapan.
"Iya mas." Agatha memjawab singkat.
"Aku ingin bicara padamu tha.."
__ADS_1
"Aku lelah mas. Hari ini pekerjaanku banyak." Agatha meraih selimut dan menuju sofa. Agatha berbaring di sofa.
"Tha? mengapa sikap mu seperti ini? Kau bukan agatha yang ku kenal sebelumnya. Jika aku memiliki salah padamu, tolong maafkanlah aku tha. Kita sudah menjadi pasangan suami istri saat ini. Tak mungkin kita akan terus begini bukan? Karena tujuan pernikahan adalah...."
"Inilah aku mas, jika kau tak bisa menerimaku yang begini. Kau bisa pergi!" Agatha memotong ucapan byan. Agatha bangun dari tidurnya dan melangkah menuju keluar kamar.
Byan meremas kepalanya prustasi. Ucapannya belum selesai namun agatha sudah memotongnya.
Haruskah sikapmu seperti ini kepada ku? Apakah rumah tangga kita akan terus begini tha??
Byan mencoba meredakan emosinya. Ia memilih diam dan tak mengejar agatha. Ia takut agatha akan semakin marah padanya.
***
🍒Asmara
"Pagi pak arman..." Aku menyapa pak arman yang tengah duduk di kursi kerjanya. Tak biasanya pak arman datang sepagi ini.
"Pagi asramaaa, eh salah! Maksudnya asmara.." Pak arman menyambut ramah sapaanku dengan diiringi candaan.
"Loh, bapak pagi-pagi sekali tumben sudah datang?" Tanyaku berbasa-basi.
"Iya, hari ini boss besar mau datang. Kemari mara, bantu aku siapkan laporan kemarin." Pak arman memerintah sekaligus memberi tahu.
"Maksud bapak pak byan??" Sambung Hesty yang tiba-tiba sudah nongol di belakangku.
"Lalu siapa pak??" Hesty penuh tanya.
"Hesty, kerjakanlah tugas mu. Aku sedang sibuk." Pak arman berkata sedikit sinis.
Hesty pergi dengan mengerenyitkan bibirnya tak suka.
Pak arman hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah hesty.
"Mara, terimakasih sudah membantuku. Aku pergi ke ruangan pak byan dulu."
"Ya pak." Aku menjawab seadanya. Kulihat pak arman sedikit terburu-buru.
Namun ponsel pak arman tertinggal. Aku meraih ponsel itu dan berusaha mengejar pak arman. Aku berlari kecil mencari keberadaan pak arman yang tak terlihat lagi.
"Mara??" Sapa seseorang dibelakangku. Aku menoleh ke arah suara itu.
"Pak juna." Dia tersenyum padaku.
"Mencariku???" Tanya juna.
__ADS_1
"Tii..tidak. Aku tidak mencari bapak."
"Lalu mengapa wajahmu memerah? Kau memakai blush on?" Juna tersenyum sembari menutup mulutnya dengan tangan.
Plak!! Aku memukul bahu nya.
"Aduhh... Sakit mara. Ternyata kau galak juga."
"Berhenti meledekku." Aku mengerucutkan bibirku.
"Ekspresimu menggemaskan." Juna mengambil ponselnya lalu memotretku.
"Ih, pak juna!!!" Aku mulai membulatkan mataku.
"Aku akan menyimpannya dan menjadikannya kenangan suatu saat nanti."
"Kenangan di google?? Huh!!!"
Juna tersenyum tipis. Dan menyimpan ponselnya kedalam sakunya kembali.
"Ada apa mara? Kau nampak kebingungan?"
"Ini ponsel pak arman tertinggal, tolong berikan padanya pak. Tadi pak arman menuju keruangan boss." Aku menyerahkan ponsel pak arman pada juna.
"Baiklah mara. Akan aku berikan, tapi ada syaratnya?"
"Syarat?? apa syaratnya?"
"Makan siang nanti bersamaku."
"Baiklah, tapi.......ada syaratnya?" Aku memberi syarat pada juna.
"Kau pendendam sekali! Apa syaratnya nona asmara arsytanty??" Juna membulatkan matanya.
"Kau harus mentraktirku!" Jawabku membalas dengan membulatkan mata pula.
"Kau lucu. Baiklah aku terima tawaranmu! Akan kuhabiskan satu bulan gajiku jika perlu."
"Dasar pemborosan...!!" Aku mencubit tangan juna.
"Aw... Ini kekerasan mara??"
Aku tertawa besar, dam berlari kecil meninggalkan juna disana.
Juna tersenyum kecil sembari memegangi tangannya yang tadi dicubit oleh asmara.
__ADS_1
Perbincangan mara juga juna diperhatikan oleh sepasang mata. Tanpa diketahui oleh mereka berdua. Kini seseorang itu melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya yang telah lama ia tinggalkan.
🍒Terimakasih banyak buat semua pembaca karya aku yang masih terus setia buat nungguin thor up episode baru.. Jangan lupa tinggalin like dan komentarnya ya readers.. Biar thor makin semangat up nya..