
Aku segera berlari kecil menuju apartement byan. Tak sabar hatiku ini ingin segera menemuinya, takut jika ia akan pergi lagi. Juna yang mengikutiku dari belakang sepertinya kewalahan. Karena juna harus membawa beberapa berkas ditangannya.
"Mara??" Byan membuka pintu apartementnya terkejut dengan kehadiranku.
"Mas? Apa kabar?" Aku menyunggingkan senyum sumringah dihadapannya.
"Maaf pak, saya sudah melarangnya tapi...."
"Kau boleh pergi juna. Terimakasih." Byan memotong ucapan juna yang belum selesai dan meraih berkas yang ada ditangan juna.
"Baik pak. Saya permisi." Juna segera meninggalkan byan dan juga aku.
"Silahkan masuk mara.." Byan segera masuk dan aku menyusulnya.
Aku tersenyum bahagia saat bertemu dengan seseorang yang beberapa hari ini begitu aku rindukan. Tak tahu keberanian dari mana ini, aku langsung memeluk erat byan dari belakang.
"Aku merindukanmu mas..." Lirih suaraku dapat didengar oleh byan. Namun byan hanya mematung tak ada reaksi apapun.
"Mas, Aku sungguh merindukanmu. Apa kau merasakan hal yang sama?" Semakin kueratkan lagi dekapanku terhadapnya, namun byan masih terus diam. Dapat ku dengar degupan jantungnya saja namun tak begitu kencang.
__ADS_1
Byan meraih tanganku dan mencoba melepaskan pelukanku. Byan membalikkan posisinya kearahku hingga kini kami saling berhadapan.
"Mara? maafkan aku. Aku harus pergi ke jakarta sekarang!" Byan menatap nanar bola mataku.
"Sekarang? Kenapa harus pergi mas?" Tanyaku membalas tatapannya.
"Mara, penerbanganku ke jakarta satu jam lagi. Aku harus segera ke bandara." Byan menjawab pertanyaanku, sembari menuju ke kamarnya aku terus mengikutinya. Byan merapihkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.
"Maass, apa aku bagimu???" Sontak pertanyaanku membuat byan berhenti.
"Mara? apa harus membahas ini sekarang? aku sedang terburu-buru." Jawab byan dan melanjutkan aktivitasnya lagi.
"Apa itu artinya aku tak berarti apa-apa?" Tanyaku lagi dengan mata yang sudah sedikit memerah.
"Mas, apakah aku yang harus terus-menerus mengerti keadaanmu? sementara dengan keadaanku? apa kau mau mengerti? Apakah kau tidak bisa melihat ketulusanku selama ini? Apa aku ini sungguh tak pantas untukmu?? Kenapa mas?? Tolong beri aku penjelasan!!" Aku sungguh tak tahan lagi. Ingin rasanya Unek-unek didalam hatiku ini tertumpah keluar.
"Hmmmmm....." Byan menarik nafasnya panjang. "Mara maafkan aku, aku sudah salah memperlakukanmu hingga membuatmu salah paham."
"Salah paham? maksudmu apa mas?" Aku sungguh kurang mengerti dengan ucapan byan.
__ADS_1
"Mara, aku memang peduli padamu. Tapi bukan berarti lebih dari itu. Aku harap kau paham." Byan mengarah mendekatiku. Diraihnya kedua tanganku dan menggenggam jemariku.
"Maafkan aku mara.. Aku harus pergi." Byan melepaskan genggamannya dan melangkah menuju keluar.
"Aku mencintaimu mas byan.. Sungguh mencintaimu..." Aku tak tahan lagi membendung air mataku. Hingga ku luapkan tangisanku disini. Namun byan begitu tak peduli. Byan terus saja dengan langkahnya.
Selang beberapa menit, juna datang menemuiku. Aku yakin juna diperintahkan byan untuk menjemputku. Seperti kejadian beberapa waktu lalu. Ketika byan mengejar wanita itu dan meninggalkanku begitu saja. Ya, wanita itu menang banyak. Dia selalu dikejar-kejar oleh byan. Padahal dia sudah meninggalkan byan dengan menikahi kakaknya, apa mungkin sekarang byan pergi meninggalkanku karena wanita itu lagi????
"Pak byan memintaku untuk mengantarmu pulang mara.." Juna mengeluarkan suaranya setelah beberapa menit berdiri diam didepan pintu.
"Terimakasih, tapi aku bisa pulang sendiri.."Aku berdiri dan melangkahkan kakiku menuju keluar. Namun juna menghalangiku, juna menarik lenganku hingga tubuhkupun berdekatan dengannya.
"Biar aku antar, aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja.."
Kurebahkan kepalaku didada bidang juna. Hingga aku melanjutkan tangisanku yang sempat tertunda tadi. Juna menepuk-nepuk pelan pundakku. Mungkin kali ini aku sungguh tak punya malu lagi, kurang lebih ada lima belas menit aku menangis hingga aku tersadar dan membenarkan posisiku.
"Sudah selesai??" tanya juna meyakinkanku.
"He'um.." Aku mengangguk pelan.
__ADS_1
Kami berduapun melangkah pergi keluar dari apartement byan.
Juna terus menuntunku menuju parkiran mobilnya. Kini kami sedang berada didalam mobil tanpa suara apapun. Hingga tak terasa aku memejamkan mata dan tertidur.